
Satu bulan kemudian.
Keadaan Rafa masih sama, Rafa sepertinya sangat betah akan tidur nyenyak nya, seolah-olah dia tak ingin bangun dari mimpi indahnya.
Diva dan teman-temannya setiap hari mengunjunginya di rumah sakit, mengajaknya bicara, menceritakan apa yang mereka lakukan disekolah, walaupun mereka tau jika Rafa tidak meresponnya tapi mereka tau kalau Rafa mendengarnya.
Seperti hari ini Diva dan teman-temannya kembali mengunjungi Rafa.
"Raf, sampai kapan elu mau seperti ini terus?" Ujar Diva duduk di samping brankar Rafa.
"Sampai kapan kau akan tidur seperti ini, aku tau kau mendengar semua apa yang kami katakan, jadi kami mohon bangunlah.
"Ok, jika kau tidak mau hidup karena dirimu sendiri, maka hiduplah demi orangtuamu, pikirkan keadaan orangtuamu, Sekarang Tante Dina sering sakit-sakitan karena terus memikirkan mu." Ujar Diva menggenggam tangan sahabatnya itu.
Saat Diva ingin melepaskan tangannya, tiba-tiba tangan Rafa bergerak. Diva langsung beralih melihat Rafa ternyata Rafa sudah membuka matanya perlahan. Diva yang melihat itu langsung memanggil Tante Dina dan teman-temannya yang duduk disofa. Mereka semua segera mendekat ke brangkarnya Rafa.
"Gue akan panggil dokter." Sahut Lani segera berlari keluar dari ruangan.
"Sayang, kau sudah sadar Nak." Ucap Tante Dina menangis sambil memeluk putranya kemudian beralih mencium keningnya.
Tak lama Dokter Rian pun datang di ikuti Lani dibelakang. Dokter Rian menghela nafas leganya, saat selesai memeriksa keadaan Rafa.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" Tanya Tante Dina.
"Dia sudah lebih baik, tapi dia harus menjalani terapi selama beberapa hari kedepan, agar otot-ototnya yang lalu kembali normal." Terang Dokter Rian.
"Apa harus terapi Dok?" Iya Bu, biasanya orang yang sudah mengalami koma, apalagi diwaktu yang cukup lama, biasanya otot-ototnya jadi kaku karena lama tidak bergerak.
"Baik Dokter lakukan apa yang menurut dokter baik." Ucap Tante Dina.
Setelah kepergian dokter Tante Dina beralih menatap putranya.
"Nak, kenapa kamu nekat seperti ini." Ujar Tante Dina.
"Ma, Sisi mana?" Tanya Rafa menatap lurus kedepan.
"Nak, kamu harus bisa menerima ini semua, dia sudah tenang di sana." Ujar Tante Dina mengusap pelan punggung tangan Rafa.
"Nggak Ma, Sisi masih hidup, dia selalu menemaniku." Ucap Rafa. Kemudian Rafa kembali terdiam, lalu tak lama ia menangis menundukkan kepalanya, tubuh Rafa bergetar karena menangis sangat pilu.
Tante Dina yang melihat Rafa seperti itu, langsung memeluk putranya, Ia ikut menangis.
"Raf, Kau yang sabar, kau harus bangkit masa depan kamu masih panjang." Ujar Kiki.
Rafa terus saja menangis apalagi saat ia mengingat, kalau karena dirinya lah, kekasihnya meninggal.
"Gue tidak bisa memaafkan diriku sendiri, ini semua gara-gara gue, kalau saja gue bawa motornya hati-hati dia tidak akan meninggalkan ku." Batin Rafa terus menyalahkan dirinya sendiri.
Dua Minggu kemudian
Setelah Rafa melakukan serangkaian terapi, Ia sudah lebih baik dan sudah bisa berjalan sendiri, Tampa menggunakan tongkat. Rafa juga sudah kembali kerumah, Tapi Rafa sudah tak seperti dulu lagi, Rafa yang ceria, konyol, bahkan selalu menjahili teman-temannya sudah tidak ada lagi, Sekarang Rafa lebih banyak diam, dan selalu mengurung diri dikamar.
Pagi-pagi Diva dan teman-temannya berkunjung kerumah Rafa, karena hari ini mereka libur.
Mereka semua berkumpul diruang tegah duduk melantai di alasi karpet tebal, sedangkan Rafa berbaring disofa dengan tatapan yang kosong menatap lurus kedepan.
Rafa tidak pernah berbicara, Rafa hanya sesekali tersenyum samar saat Diva dan Lani sengaja membuat lelucon. Namun senyumannya tidak bertahan lama, lalu ia kembali melamun.
"Kenapa Rafa berubah seperti itu, Rafa yang dulu ceria, konyol, bahkan selalu ngejahilin kita, seakan itu semua ikut bersama dengan Sisi." Sahut Jova menatap Rafa dan diangguki teman-temannya.
"Raf, melamun aja lu." Ujar Diva melempari Rafa menggunakan bantalan sofa. Diva mencoba untuk mengajak Rafa untuk bercanda agar Rafa tidak seperti itu.
Sedangkan Rafa yang mendapat lemparan dari Diva, dia hanya menoleh dan tersenyum.
"Raf, kenapa sih kau seperti ini terus, sekarang kau harus memikirkan masa depanmu, kau harus ikhlas dan melupakan kejadian yang sudah lalu." Ujar Hera.
"Elu tidak tau bagaimana hancurnya gue Ra, gue tersiksa, gue merasa sangat bersalah, Mungkin setelah kita lulus gue bakal pindah, gue akan tinggal di luar negeri, mencoba untuk melupakan semua kenangan gue bersamanya." Sahut Rafa dengan posisi masih sama.
"Tapi kenapa elu, harus keluar negeri Raf, elu mau ninggalin kita semua." Kali ini Diva yang bertanya, Diva merasa sedih dengan keputusan Rafa.
"Kalau gue di sini, gue tidak akan sanggup Div, hati gue belum bisa menerima ini semua." Jawab Rafa beralih menatap sahabatnya itu.
"Sekarang elu sudah ada Kenan yang selalu ada buat elu, dia akan selalu menjagamu." Lanjut Rafa lalu bangun memeluk sahabatnya itu, begitupun Diva yang langsung membalas pelukan sahabatnya, sahabat yang sudah ia anggap saudara. Diva terus menangis dalam pelukan Rafa. Rafa melepaskan pelukannya kemudian menghapus air mata Diva menggunakan ibu jarinya.
"Tapi Kamu harus janji, kau harus bisa melupakan dan mencoba untuk ikhlas." Ujar Diva.
"Aku akan berusaha." Ucap Rafa tersenyum.
Mereka semua berpelukan, para teman-teman Rafa sudah merasa bahagia, karena Rafa mencoba untuk menerima semuanya, walaupun mereka harus berpisah.
"Gue nggak ada temen dong yang bawa motor." Sahut Lani setelah pelukan mereka lepaskan.
"Soulmate lu kemana Div?" Tanya Rafa.
"Kenan tidak mau elu kenapa-napa Div, sekarang gue rasain, apa yang Kenan dulu rasakan saat elu dikatakan sudah tiada." Ucap Rafa tersenyum di paksakan.
"Sudahlah Raf, nggak usah ingat-ingat kejadian yang melow-melow dulu, sekarang kita senang-senang dulu." Ujar Lani mencoba mengalihkan perhatian Rafa.
"Ok, bagaimana kalau kita bermain TOD." Sahut Jova dan di angguki semuanya.
Mereka pun bermain walaupun Rafa belum seceria seperti dulu.
Di Kota Xx
Kenan sedang mengunjungi salah satu outletnya tidak jauh dari Office. Tanpa sengaja Ia bertemu dengan Disti. Sebenarnya Kenan malas bertemu dengannya, Kenan berusaha untuk menghindarinya, Namun Disti terlanjur melihatnya dan menyapanya.
"Pak Kenan sedang apa Anda di sini.?" Tanya Disti basa-basi.
"Saya sedang memantau keadaan outlet di sini, kebetulan juga saya ada keperluan." Jawab Kenan datar.
"Maaf saya lupa, jika ini outlet Anda." Ucap Disti.
"Maaf Pak, ini pesanan yang bapak mau, tolong diperiksa kembali." Ucap manager outlet memberikan kotak jam tangan.
"Kira-kira apakah ini cocok dengan ISTRI saya.?" Tanya Kenan sengaja menekan kata istri, karena sedari tadi Disti selalu memperhatikannya, dengan tatapan tak biasa.
"Saya yakin Pak, Ibu pasti cocok menggunakan ini, apalagi modelnya, sesuai umur ibu yang masih muda." Jawab Manager.
Kenan terus memperhatikan jam tangan couplelan yang ia pegang sekarang.
"Katanya ini hanya ada 15 buah yang tersebar di beberapa outlet." Terang pak manager kembali.
Distro Kenan Termasuk Distro yang besar, dan tidak hanya menjual pakaian saja, tapi seperti Jam, sepatu, tas dan outfit-outfit lainnya, dan juga menyediakan beberapa dari brand-brand ternama.
Sedangkan Disti tampak syok tidak percaya mendengar kalau Kenan sudah beristri, karena ia tau Kenan masih berstatus pelajar.
"Apakah bapak akan ke kota Z?" Tanya Pak Manager.
"Mungkin dalam waktu dekat ini saya tidak kesana, karena sebentar lagi saya ujian." Jawab Kenan kembali memberikan kotak jam tersebut kepada Pak Manager.
" Tolong ini di bungkus ya Pak, kemudian antarkan langsung ke office, saya masih ada keperluan lain." Ucap Kenan.
Setelah Pak Manager itu pergi, Kenan beralih kearah Disti yang masih berada di dekatnya.
"Maaf saya harus pergi sekarang, saya masih ada keperluan lain." Ucap Kenan berlalu meninggalkan Disti.
Disti terus menatap punggung Kenan yang semakin jauh, sampai Kenan keluar dari outlet.
"Sepertinya istri Kenan tidak tinggal di kota ini, gue punya kesempatan buat dekatin dia, Kenan harus jatuh ke pelukan gue." Batin Disti menampilkan senyum smirknya.
Outlet Distro Kenan
Lantai satu Aksesoris dan Outfit Pria
Lantai Dua Outfit Wanita
Bersambung.....
Untuk hari ini Upnya satu Episode aja para readers, soalnya Author lagi kurang sehat.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Like
Coment
Vote
salam sayang dariku
🙏🙏🙏🤗🤗🤗