
Kini kandungan Kia sudah memasuki bulan ke empat, rasa ngidam yang di alami sudah berkurang, ia tak lagi merasa mual dan pusing yang berlebihan, Kavi pun sudah kembali aktif menjalankan perusahaannya setelah beberapa bulan terakhir hanya bekerja di rumah, ia hanya akan ke kantor jika ada hal yang teramat penting.
Jika Kavi sudah tak lagi mengidam, tapi lain halnya dengan Kia, sekarang Kia lah yang mengidam, bahkan Kia mengidam sangat aneh menurut keluarganya. Contohnya hari ini Kia sangat menginginkan Kavi membotaki rambutnya, membuat Kavi uring-uringan.
"Sayang, ngidamnya ganti aja ya, masa aku di botakin." Bujuk Kavi pada istri kecilnya yang kini merajuk karena Kavi tak ingin menuruti keinginannya.
"Mana ada ngidam di tawar-tawar, ya sudah kalau mas gak mau, biar anaknya nanti ileran terus." Sahut Kia tak mau menatap Kavi yang berlutut di hadapannya.
"Tapi sayang, masa harus di botakin sih, yang ada nanti aku di ketawain orang-orang sayang, yang lain aja ya." Kavi masih tak menyerah untuk membujuk istrinya itu.
"Kenapa lagi isteri kamu Kav ?" Tanya Kenan yang baru keluar dari kamarnya dengan stelan kerjanya di ikuti Diva di belakang.
Saat ini Kavi dan Kia duduk di ruang keluarga yang tak jauh dari tangga, dan kamar Kenan dan Diva yang berada dilantai bawah.
"Yah, mas Kavi gak mau nurutin kemauan aku." Aduh Kia manja pada ayahnya tak lupa dengan mata yang berkaca-kaca.
Kenan menatap tajam menantunya itu. Kavi yang mengerti tatapan mertuanya itu angkat bicara.
"Yah, Kia mau aku di botakin, katanya ngidam." Jelas Kavi memelas berharap mertuanya itu membantunya untuk membujuk Kia.
"Ya kalau istri ngidam diturutin lah Kav, emangnya kamu mau anak kamu ileran, terus benci kamu saat lahir nanti ?" Bukannya membantu Kenan malah semakin mengompor-ngompori.
Kenan benar-benar senang melihat menantunya itu teraniaya dengan ngidam aneh-aneh Kia, ia merasa dendamnya terbalaskan karena saat Kavi mengidamkan Kavi kadang juga membuatnya kerepotan dengan alasan mengidam jadi mau tak mau Kenan menurutinya dari pada cucunya ileran, masa cucu seorang Kenan Al Fariziq seorang pengusaha tersohor ileran, pikir Kenan.
"Bunda..." Kavi beralih pada ibu mertuanya untuk meminta pembelaan.
"Bunda no komen." Sahut Diva cepat, lalu pergi menuju dapur untuk melihat apakah sarapan sudah siap.
"Mas, ayo !" Rengek Kia menarik lengan Kavi yang masih berlutut di depannya.
"Ayo kemana sayang ?" Tanya Kavi.
"Ke salon, aku udah gak sabar liat kamu botak."
"Tap...
"Udalah Kav buruan sana, emang kamu mau liat istri kamu yang lagi mengandung terus merengek seperti itu, dia sudah kesusahan dan menanggung semua rasa yang tidak enak saat mengandung, belum lagi melahirkan, kamu yang di suru botakin rambut aja gak mau." Kenan kembali berucap menyela ucapan Kavi, sambil tersenyum puas melihat nasib yang akan di rasakan menantunya itu.
"Sayang, kamu sudah sarapan ?" Tanya Kenan lembut beralih menatap Kia.
Kia menggeleng menjawab pertanyaan sang ayah, Kenan tersenyum melihat sikap manja putrinya itu yang ia sering perlihatkan sejak kehamilannya, apalagi padanya.
"Ya sudah, sekarang sarapan aja dulu ya, baru kesalonnya !" Seru Kenan.
"Gak yah, aku baru mau sarapan kalau mas Kavi sudah di botakin." Sahut Kia lagi-lagi membuat Kavi menhela nafas kasar.
"Sayang, lebih baik kamu sarapan ya, nanti aku hubungi pihak salonnya untuk kesini, ya ?" Ujar Kavi, pasalnya ia merasa malu jika ia harus pergi ke salon, lebih baik ia dibotakin di rumah dari pada ia kesalon, tentu saja di salon bakal banyak orang yang melihatnya.
"Gak, ya gak mas, aku maunya di salon." Tegas Kia.
"Sudahlah Kav, mending sekarang juga berangkat sana gih kesalon, saya tidak mau anak dan calon cucu ku kenapa-napa, karena terlambat sarapan !" Seru Kenan lagi-lagi memperlihatkan wajah mengejeknya kepada menantu laki-lakinya itu.
"Emmm, sepertinya ayah benar-benar puas melihatku seperti ini." Ucap Kavi kemudian beranjak dari hadapan Kia.
"Emang." Sahut Kenan tanpa dosa.
"Ayo mas !" Kia kemudian beranjak dari duduknya dengan semangat empat lima, lalu menarik lengan suaminya agar secepatnya berangkat.
"Sayang, kalau di botakin jangan lupa fotoin, lalu kirim ke ayah ya !" Teriak Kenan dan dengan cepat Kia menaikkan jempolnya tanpa menoleh pada sang ayah, membuat Kenan tertawa terbahak-bahak membayangkan nasib Kavi, sahabatnya yang kini menjadi menantunya.
"Puas banget." Ucap Diva tiba-tiba berada dibelakang Kenan.
"Iya sayang, anggap saja ini balasannya kalau selama Kavi mengidam dulu dia sangat menyusahkan ku." Sahut Kenan merangkul bahu istrinya itu.
"Ada-ada aja kamu by', sudah lebih baik sarapan, sarapannya sudah siap." Diva tak habis pikir dengan pikiran suaminya itu yang kekanak-kanakan.
...----------------...
Kini mobil Kavi tiba di pelataran sebuah salon ternama, salon langganan Kenan dan Khay saat akan memotong rambut atau hanya sekedar mengganti gaya rambut mereka.
"Sayang, model rambutnya di ruba aja ya, gak usah sampai botak." Kavi masih berusaha menwar.
"Gak mas, aku pengennya botak, aku gemes banget pen elus-elus kepala kamu yang botak." Kekeh Kia gemas sendiri menayangkan nya.
"Yang dibawah sana juga botak, kenapa bukan yang itu aja kamu elus sayang, kalau yang itu dengan senang hati aku." Ujar Kavi melihat ke arah bawa perutnya.
"Gak usah mesum mas, lagian aku gak mood lakuinnya." Sahut Kia memutar bola matanya jengah.
"Sayang...." Rengek Kavi.
"Apaansih mas, lebih baik buruan turun, di sini pengap, di dalam mobil terus sejak tadi."
"Janji apa ?"
"Janji kalau sebentar malam aku tengokin anak kita, daddynya lagi kangen." Jawab Kavi memelas, pasalnya semenjak ngidam itu pindah ke Kia, Kia tidak pernah ingin melakukannya, katanya Kia gak mood melakukannya.
"Liat nanti, siapa tau aja aku pas lihat kepala botak mas, aku jadi mood." Sahut Kia.
"Beneran ya ?" Todong Kavi.
"Aku bilang liat nanti." Sahut Kia kemudian membuka pintu mobil.
"Buruan turun mas !" Lanjutnya dan dituruti Kavi.
Kavi menghela nafas beratnya sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam salon tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucapnya kemudian masuk.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa kami bantu ?" Sapa salah satu pegawai salon kala melihat Kavi masuk, karena kebetulan salon tersebut khusus pria jadi tidak mungkin ia bertanya pada Kia.
"Saya mau potong rambut." Jawab Kavi.
"Ah baiklah, silahkan mas duduk di kursi siji." Tunjuk pegawai tersebut.
Kavi melihat beberapa pengunjung salon, tampaknya di sana sudah ramai, Kavi heran bagaimana bisa sepagi ini salon ini sudah ramai, salonnya memang tak mewah yang biasa ia datangi, tapi mendengar Kia, kalau ini salon langganan Khay dan Kenan, menurut mertua dan saudara iparnya itu hasil kerja mereka sangat bagus dan rapi.
"Mau model seperti apa tuan ?" Tanya pegawai tersebut.
"Di botakin bang." Bukan Kavi yang menjawab melainkan Kia, pelanggan yang lainnya sontak melihat ke arah Kavi.
"Di botakin, sesuai permintaan isteri saya, istri saya sedang mengidam." Sahut Kavi dingin tak kalah pegawai itu menatapnya tak percaya, pasalnya melihat penampilan Kavi yang sepertinya bukan orang sembarangan, dan tidak mungkin mau ngebotakin rambutnya.
"Ehhh, istrinya ternyata saya kira ponakannya." Ujar seorang bapak-bapak di ujung sana membuat Kavi geram, namun sebisa mungkin ia tahan.
"Dia suami saya pak, sebenarnya dia masih muda, hanya saja wajahnya saja yang boros." Sahut Kia, awalnya Kavi merasa senang dikatai muda oleh istrinya namun saat mendengar kalimat terakhir istrinya kembali wajahnya masam.
"Buruan kerjakan, saya masih banyak kerjaan !" Seru Kavi dingin, ia sudah tak tahan berlama-lama di tempat tersebut.
Kavi menatap rambutnya sedih saat melihat rambutnya jatuh sedikit demi sedikit saat pegawai salon mulai mengukur rambutnya. Kavi memilih memejamkan matanya ia tak ingin melihat detik-detik kebotakannya, sedangkan sejak tadi seulas senyuman puas terpatri diwajah cantiknya.
...----------------...
Di tempat lain Kenan yang masih berada dalam perjalanan menuju kantornya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak kala ia menerima foto yang dikirim Kia putrinya yang menampilkan Kavi sudah di botak, namun masih di rapikan oleh salah satu pegawai salon yang Kenan kenal bernama Nino itu.
Mang Diman yang menyetir mengeryitkan keningnya, pasalnya jarang-jarang ia melihat bosnya itu tertawa seperti itu, selama ia bekerja bisa dihitung Kenan tertawa seperti itu, selama yang ia lihat hanya wajah dingin dan datar saja, apalagi saat Kenan sedang kesal akan sesuatu hal, bisa lebih dari itu Kenan terlihat sangat menyeramkan.
"Mang, mang Diman harus melihat ini !" Kenan memberikan ponselnya kepada mang Diman.
Mang Diman terbelalak melihat foto di ponsel bosnya itu.
"Maaf tuan, ini....
"Iya itu Kavi, sepertinya calon anaknya lagi mengerjainya." Jelas Kenan kalah melihat kebingungan mang Diman, maklum foto itu di ambil dari arah belakang, hanya sedikit memperlihatkan wajah Kavi di pantulan cermin, namun mungkin karena mang Diman sudah berumur jadi ia tak melihat wajah Kavi dengan jelas, apalagi dengan penampilan seperti itu, tentu saja tak mengenalinya.
"Astagafirullah, kasian tuan Kavi ya tuan." Ucap mang Diman.
"Itu balasannya, karena sudah durhaka sama saya mang, waktu dia mengidam, bapak tahu sendirikan bagaimana ia mengerjai saya." Ucap Kenan santai kembali ada posisi duduknya semula, dengan tawa menghiasi wajah tampannya walaupun sudah berumur.
"Kirim ke Khay, biar dia lihat bagaimana nasib iparnya, hehehe." Ucap Kenan sambil mengirim foto ke anak sulungnya melalui WhatsApp.
...Bersambung..........
...Sepertinya untuk melihat Kenan di kerjain saama Kavi author ganti, soalnya rasanya gak etis aja, biar Kavi yang merasakan kejam seorang istri yang mengidam, apalagi mengidam aneh seperti bumil kita Kia.......
...Tetap pentengin terus aja jalan ceritanya...
...Jangan lupakan kisah Khay dan Enzy di lapak author lainnya yang berjudul DAMBAAN, atau langsung klik aja profil authornya...
...Tetap dukung author dengan memberikan...
...LIKE...
...KOMENT...
...VOTE...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...