Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 90 Season 2


Hari ini Dafa sudah kembali dari kota Xx, dan kini ia sudah tiba di bandara kota Z, Dafa sudah terlihat keluar dari arah kedatangan beriringan dengan penumpang lain. Dafa berjalan menyusuri koridor sambil membawa tas di punggungnya, tak lupa dengan kaca mata hitam yang bertengkar di atas kepalanya.


Setibanya di lobi Dafa langsung di sambut oleh sopir dari perusahaannya yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Tuan kita langsung keperusahaan atau langsung pulang ? Tanya pak sopir setelah membukakan pintu mobil untuk Dafa.


"Langsung ke perusahaan saja pak." Jawab Dafa ramah.


Setelah mendapat jawaban dari Dafa pak sopir langsung menyusul masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya ia menutup kembali pintu mobil bagian belakang, dimana Dafa duduk.


Sekitar hampir satu jam perjalanan dari bandara kini mobil yang membawa Dafa tiba di salah satu perusahaan terbesar di kota Z.


"Selamat siang tuan." Sapa salah satu security yang berjaga di pintu masuk sambil membukakan sedikit badannya setelah melihat Dafa keluar dari mobil.


"Selamat siang." Sahut Dafa menampakkan senyum ramahnya kemudian melangkahkan kakinya masuk, di lobi banyak karyawan dan karyawati yang menyapanya sampai ia tiba di dalam lift khusus.


Dafa memang berbeda dari pimpinan-pimpinan lainnya yang selalu terlihat datar dan dingin kepada bawahannya, tapi Dafa selalu terlihat ramah juga humoris dan bahkan dia biasa menyapa karyawannya terlebih dahulu, tapi walaupun ia bersikap seperti itu ia masih terlihat sangat beribawah dan tegas setiap ada kesalahan sekecil apapun dalam perusahaan yang ia pimpin sekarang.


"Selamat siang dan selamat datang pak Dafa." Sapa Kiki sedikit menundukkan badannya setelah Dafa tiba dihadapan meja kerjanya yang berada di depan ruangan Dafa sendiri.


"Selamat siang juga sekertaris baru." Balas Dafa sedikit memberikan candaan.


"Bagaimana ? Apa sudah kamu siapkan semua berkas-berkasnya ?" Tanya Dafa kemudian.


"Sudah pak bos." Sahut Kiki memberikan tanda hormat.


"Baiklah, bawa semuanya keruangan saya, sekarang juga !" Seru Dafa.


Setelah mengatakan itu, Dafa langsung masuk keruangannya sambil memasukkan tangannya di saku bagian kirinya.


Sedangkan Kiki ia segera beranjak dari kursinya, karena sejak tadi Kiki hanya duduk saat menyapa pimpinannya itu.


Kiki mengambil beberapa map berisikan berkas-berkas yang harus di tandatangani Dafa dan juga ada beberapa pembahasan antara kerjasama dengan perusahaan lain, yang sudah ia siapkan sejak tadi, kemudian menyusul masuk keruangan atasannya itu sekaligus teman sekolahnya dulu.


"Ini pak berkas yang bapak minta !" Seru Kiki meletakkan beberapa map tadi di atas meja kerja Dafa.


"Duduk !! Apa kamu tidak cepek berdiri terus di hadapanku, sengaja kursi di taro disitu untuk diduduki bukan untuk jadi pajangan." Seru Dafa mengambil salah satu map yang di berikan Kiki.


"Satu lagi, bukannya sudah ku katakan sejak dulu, jika hanya ada kita berdua jangan pernah berbicara formal denganku." Tambah Dafa tanpa beralih dari berkas yang ia periksa.


"Tapi ini kantor, saya merasa tidak enak dengan karyawan atau karyawati lainnya." Sahut Kiki setelah mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada didepan meja kerja Dafa.


"Apa yang membuatmu tidak enak ? Bukannya aku bilang jika hanya ada kita berdua ?" Sargah Dafa mentap wanita di hadapannya itu.


"Tap...."


"Tidak ada tapi-tapian, atau gaji kamu aku potong 25% untuk bulan ini." Ancam Dafa dengan cepat menyela ucapan Kiki, kemudian kembali memeriksa berkas-berkasnya.


"Iya...Iya.... Kejam banget jadi bos, perkara berbicara formal atau informal saja pakai ancam-mengancam segala." Gerutu Kiki kesal membuat Dafa tersenyum penuh kemenangan, namun Kiki tak dapat melihat hal tersebut karena Dafa sengaja menutup wajahnya dengan map yang Ia pegang.


"Daf, gaji aku enggak bakal kamu potong kan ?" Tanya Kiki.


"Tidak, tapi ingat jika masih saja berbicara formal kepadaku di saat hanya ada kita, tanpa memberitahumu lebih dulu gaji kamu terpotong secara otomatis, jadi kamu harus hati-hati, dan terus mengingat akan hal ini !!" Jelas Dafa menatap Kiki sambil tersenyum lebar, sayang senyuman itu di anggap menyebalkan oleh Kiki sampai Kiki mendengus kesal melihatnya.


"Apa tidak ada toleransi sedikit pun, jika saja aku lupa ?" Ujar Kiki.


"Tidak !!" Jawab Dafa tegas.


"Ya sudah, kalau begitu aku permisi keluar." Pamit Kiki segera beranjak dari duduknya, namun dengan cepat Dafa mencegahnya.


"Sebentar ! Masih ada yang ingin aku tanyakan padamu." Cegah Dafa.


"Ya sudah apa yang ingin kau tanyakan ?" Tanya Kiki tanpa mendudukkan dirinya kembali.


"Ya sudah kamu mau menanyakan apa lagi, bukannya disitu sudah sangat jelas semua." Ujar Kiki mendudukkan dirinya sambil menampakkan wajah kesalnya.


"Jangan sering-sering berwajah seperti itu, nanti kamu makin keriput !" Seru Dafa terlihat sangat menyebalkan.


"Kamu mau bertanya atau tidak sih Daf, bukannya kamu bertanya malah menghujatku." Ujar Kiki.


"Jadi jam tiga sore nanti kita harus bertemu dengan klaiyen ini ?" Tanya Dafa membuat Kiki semakin mendengus, karena pertanyaan Dafa itu sama sekali tak penting, tanpa ia tanyakan pun ia juga sudah tau karena sebelumnya Kiki sudah memberitahunya akan hal itu, dan karena itu juga Kiki menyuruhnya pria yang menurutnya menyebalkan itu segera kembali dari kota Xx karena klaiyen itu harus pergi ke luar negeri, dan membutuhkan waktu lebih lama lagi baru bisa bertemu.


"Pertanyaan macam apa ini Daf ? Bukannya semuanya sudah jelas ya kemarin, bahkan di situ ada catatan jadwal pertemuannya." Ujar Kiki.


"Oh sorry, aku lupa soalnya." Sahut Dafa santai.


"Apa sudah tak ada lagi, aku mau keluar." Ujar Kiki.


"Kamu disisi aja kenapa sih Ki ?, Aku juga enggak bakal ngapa-ngapain kamu, aku hanya ingin ditemani ngobrol, soalnya kalau tidak ada yang menemaniku disini, aku takut aku akan mati kebosanan di ruangan ini sendirian." Ujar Dafa.


"Biasanya juga enggak ada yang temani kamu kan Daf, dan sampai sekarang kamu berada disini, enggak mati kebosanan juga, seperti yang kamu katakan tadi, iya kan ? Dasar aneh !!" Seru Kiki.


"Tapi sekarang aku ingin seperti itu Kiki sekertaris yang cantik." Goda Dafa menaik turunkan alisnya, membuat Kiki menaikkan kedua bahunya bingung melihat sikap Dafa yang menurutnya aneh.


"Dasar bos aneh..." Cercah Kiki.


"Aneh tapi tampan dan keren kan ?" Lagi-lagi Dafa memperlihatkan tingkat kepedean nya.


"Cihh.... PD, kalaupun emang kamu tampan dan keren seperti yang kamu bilang itu, kamu enggak akan jomblo akut seperti saat ini." Cibir Kiki tersenyum mengejek kearah Dafa.


Dafa yang melihat itu, tanpa ia sadari terus menatap Kiki tanpa berkedip sedikitpun membuat Kiki mengernyitkan keningnya bingung melihat sikap Dafa yang aneh akhir-akhir ini, bahkan tambah aneh sejak kepulangannya dari kota Xx.


"Jujur kamu sangat cantik Ki, entah sejak kapan perasaan yang berbeda ini timbul terhadapmu, tapi akhir-akhir ini kita menjalin hubungan antara pimpinan dan sekertaris aku telah merasakan perasaan lebih terhadapmu, bahkan kamu mampu membuatku melupakan perasaanku terhadap sahabat kamu Diva. Aku juga merasa tak ingin jauh-jauh darimu Ki, serasa ada yang kosong di diriku, aku baru menyadari akan hal itu saat aku berada di kota Xx selama beberapa hari, Apakah mungkin kamu akan membalas perasaanku atau apa kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku ???" Batin Dafa masih terus memperhatikan Kiki dalam-dalam.


"Woyyy Daf....Dafa... Bapak Dafa yang terhormat, apa kamu baik-baik saja, woyy....!!!" Kiki terus mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajah Dafa.


Karena tak juga mendapatkan respon, Kiki memajukan sedikit wajahnya agar lebih dekat.


Wajah keduanya sudah sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti saja, bahkan hidung mancung keduanya hampir bersentuhan, keduanya pun saling tatap-tatapan, Kiki memperhatikan kedua manik mata berwarna hitam milik Dafa, begitupun Dafa memperhatikan manik mata Kiki yang sedikit berwarna kecoklatan.


"Cantik...." Ucap Dafa membuat Kiki tersadar dengan posisi keduanya saat ini, begitupun dengan Dafa kembali sadar dari lamunannya.


Seketika ruangan tersebut jadi hening, keduanya menjadi canggung dan sedikit salah tingkah, jangan tanyakan lagi soal Kiki, kini wajahnya sudah sangat memerah karena malu.


"Ma...Maaf..." Ucap Dafa lebih dulu angkat bicara sedikit memperbaiki posisi jasnya yang sama sekali tak berantakan sedikit pun.


"Ti...Tidak apa-apa, ka.. kalau begitu aku pamit keluar." Ujar Kiki tak kalah gugup, degup jantungnya seakan lari maraton.


Tanpa menunggu jawaban dari Dafa Kiki langsung ngacir keluar dari ruangan Dafa, karena sikap Kiki barusan membuat Dafa melebarkan senyumnya karena menurutnya Kiki sangat lucu dan imut jika gugup seperti itu, di tambah lagi dengan wajahnya yang memerah bak kepiting rebus.


"Aku sayang kamu Ki." Gumam Dafa masih dengan senyum mengembangnya.


Bersambung......


Maaf readers jika baru Up, soalnya dua hari belakangan aku sedikit sibuk karena anakku lagi sakit, di tambah pekerjaan juga banyak....


Maaf mungkin beberapa episode sedikit menceritakan antara Dafa dan Kiki, mungkin saja nanti aku buatkan cerita sendiri untuk Dafa dan Kiki, setelah menyelesaikan pertengahan cerita antara Rafa & Hera di Cinta yang Kunantikan.


Jangan lupa terus dukung Author dengan memberikan like, Koment dan vote, dan beberapa hadiahnya. 🙏🙏🙏


Terimakasih sudah terus mengikuti cerita-cerita kehaluan authornya.....


🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️😘😘😘😘