Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 52 Season 3 ( Next Generatoin )


"Maafkan aku, aku sungguh minta maaf." Enzy terus mengucapkan kata maaf, karena Khay tak juga meresponnya.


Khay yang sudah sadar, kalau itu bukan hanya sekedar mimpi.


"Kenapa kamu mesti minta maaf ?" Akhirnya Khay angkat bicara merasa bingung karena Enzy terus meminta maaf kepadanya, Khay takut kalau Enzy meminta maaf karena akan meninggalkannya.


"Aku ingin minta maaf karena aku pergi meninggalkanmu, dan minta maaf karena juga terbawa emosi, aku juga minta maaf soal foto itu." Ucap Enzy menjeda ucapannya.


Melihat Khay hanya diam, Enzy kembali berucap.


"Sebenarnya aku dan Baim sudah tak ada lagi hubungan apa-apa, sungguh !" Lanjut Enzy.


Khay sedikit lega mendengar kalau Enzy dan Baim sudah tak ada lagi hubungan apa-apa, tapi ia masih belum mengetahui alasan Enzy kembali, Khay terus diam ia ingin mendengar apa yang akan Enzy katakan selanjutnya.


"Saat aku pergi, aku terus teringat apa yang kamu katakan padaku waktu itu, yang mana kamu tidak akan lagi mau peduli padaku, dan kita mengurus urusan masing-masing, dan satu lagi kamu juga katakan kalau kamu akan kembali seperti Khay yang dulu." Enzy menghentikan ucapannya sejenak.


"Khay asal kamu tahu, saat aku melihatmu dengan wanita lain yang berbeda setiap harinya, itu membuatku sakit, benar-benar sakit, apalagi saat kamu pura-pura tak mengenalku, dan bergandengan mesra dengan wanita-wanita itu." Lanjutnya.


"Kenapa ? Tanya Khay masih membelakangi Enzy.


"Saat aku membayangkan kamu menyentuh wanita lain, itu rasanya akan membuatku gila.


"Kenapa Khay ? Kenapa aku bisa seperti itu, dipikiranku hanya ada kamu, dan kamu, bahkan saat aku pulang ke kota Z, aku merasa begitu kosong."


Enzy tak dapat lagi berucap, suaranya mulai serak karena sejak tadi ia menahan tangisannya, Khay yang mendengar istrinya mulai serak, ia menoleh kebelakang tanpa merubah posisinya.


"Apa kamu sungguh, tidak memiliki hubungan dengannya lagi ?" Tanya Khay.


Enzy hanya menggelengkan kepalanya, tak sanggup lagi berucap, air matanya perlahan mulai keluar, membasahi pipinya. Dengan cepat ia menghapusnya dengan kasar.


"Sungguh, aku dan dia sudah tak ada lagi hubungan seperti yang kamu pikirkan." Ucap Enzy setelah dirasa sanggup untuk bicara.


"Apa kamu mempercayaiku ? Aku sudah tak bisa lagi memiliki hubungan, dengan pria lain, karena aku...." Enzy menghentikan ucapannya ia merasa malu untuk mengakuinya.


Khay yang penasaran apa yang akan dikatakan Enzy, langsung mengubah posisinya menjadi terlentang, dan menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya sambil memeluk.


"Karena kamu apa ?" Tanya Khay.


Sejenak Enzy terdiam, melihat wajah pucat suaminya itu.


"Karena aku...Aku telah mencintai suamiku, aku mulai menyadarinya saat sebelum pesta kejutan di cafe, hanya saja aku terlalu gengsi untuk mengakuinya." Jelas Enzy bersungguh-sungguh.


"Apa karena kamu kasihan melihatku, makanya kamu melakukan ini, mengaku telah mencintaiku, aku tidak akan memaksamu untuk menerima dan mencintaiku, kalaupun kamu tak lagi menyukainya, mungkin di masa depan kamu akan bertemu dengan pria yang mencintaimu dan juga kamu cintai." Ucap Khay beralih menatap langit-langit kamarnya yang hanya di terangi lampu tidur.


"Tidak, aku benar-benar sudah mencintaimu, apa kamu tidak mempercayaiku, aku sangat yakin akan hal itu, dan tidak mungkin lagi ada pria yang aku cintai selain almahum papa dan juga dirimu, suamiku." Ujar Enzy mengeratkan pelukannya sambil menelusupkan wajahnya di bahu pria disampingnya itu.


"Jadi....


"Jadi, kamu berhasil membuatku jatuh cinta padamu, pria yang dulunya aku benci, dan sekarang menjadi pria satu-satunya di dunia ini yang aku sukai dan cintai." Sela Enzy mengangkat kepalanya menatap manik mata suaminya itu.


"Maafkan aku, sekali lagi aku memohon maaf kepadamu, karena telah membohongimu, kalau aku tidak mencintaimu." Ucapnya lagi dengan sangat tulus, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang milik Khay.


Dengan perasaan berbunga dan bahagia mendengar pengakuan istrinya, Khay kemudian membalas pelukan istrinya itu, lalu mencium pucuk kepalanya.


"Istriku kamu tahu, kalau, aku tidak bisa marah kepadamu." Ucap Khay lalu kembali mencium kepala istrinya itu.


"Jadi, apa aku sudah bisa katakan kalau kamu, dan hatimu sudah menjadi milikku seutuhnya ?" Tanya Khay.


Enzy yang mendengar pertanyaan Khay, ia langsung mengangkat kepalanya melihat kearah suaminya yang juga sedang menatapnya dengan senyum mengembang.


"Emmm....Dan mulai saat ini dan seterusnya kamu juga adalah milikku seutuhnya, karena aku tidak akan membiarkanmu wanita-wanita itu mendekatimu lagi, kamu hanya milikku, pokoknya TITIK." Ujar Enzy penuh penekanan membuat Khay tersenyum senang lalu menarik kepala wanita yang ada di depannya itu lalu mencium keningnya.


"Percayalah padaku kalau aku hanya akan menjadi milikmu." Ucap Khay menangkup kedua pipi wanitanya.


"Emmm...." Sahut Enzy tersenyum manis, kemudian langsung mencium bibir pria yang ia cintainya, keduanya saling membalas ciuman dengan perasaan penuh cinta dan kebahagiaan, saling meluapkan rindu, setelah beberapa hari tak bersama.


"Apa ini caramu, untuk berbaikan denganku ?" Tanya Khay setelah melepaskan ciumannya, karena Enzy mulai kehabisan nafas, Enzy merasa sangat malu dengan pertanyaan suaminya itu, ia langsung menyembunyikan wajah memerahnya di celuruk leher Khay, dan hal itu membuat Khay semakin gencar menggodanya.


"Apa kamu mencoba menggodaku, Hem ?" Goda Khay.


Enzy sedikit menjauhkan kepalanya dari sana, lalu pindah di bagian lengannya, ia benar-benar sangat malu.


Khay yang melihat itu semakin gemas, lalu mengubah posisinya menindih istrinya itu, dan ingin segera memulai permainannya kembali, dan akan melakukan hal lebih dari sekedar berciuman.


"Jangan !" Cegah Enzy menahan dada Khay.


Khay mengernyitkan keningnya, karena Enzy mencegahnya.


"Kamu masih sakit, kata dokter kamu butuh istrirahat yang cukup." Jelas Enzy.


"Aku benar-benar sudah sembuh, dan sangat sehat karena obatnya cuma kamu, jadi please, jangan mencegahku, aku sudah sangat merindukan istriku." Ucap Khay.


Karena tak mendapatkan tanggapan dari istrinya itu, Khay anggap kalau Enzy setuju melanjutkan permainan mereka, Khay memulainya, dan melakukannya sampai berkali-kali, membuat Enzy sangat kelelahan, apalagi ia baru saja menempuh perjalanan jauh, dengan mengendarai mobil sendiri, karena sore tadi sudah tak ada lagi penerbangan menuju kota Xx, jadi ia memilih untuk mengendarai mobil peninggalan orangtuanya yang masih terawat dengan baik dirumahnya.


"Jadi, waktu itu saat aku mampir kesupermarket, tanpa sengaja aku bertemu dengan Baim, kemudian ia mengajakku untuk bertemu, ingin membicarakan sesuatu dan meluruskan kesalahpahaman aku, sampai aku memutuskan hubungan dengan sepihak, karena aku mengira dia menjalin hubungan dengan seorang yang sejak kecil mereka bersahabat. Awalnya ia tak menerima akan hal itu, dan mengakui kalau ia masih mencintaiku, tapi aku sudah katakan padanya kalau aku sangat mencintai suamiku, dan tidak bisa meninggalkannya." Jelas Enzy membuat Khay senyum-senyum mendengar kalau Enzy sangat mencintainya.


Saat ini setelah mereka melakukan permainan panas mereka, Enzy ingin menjelaskan semua kesalahpahaman antara keduanya. Khay bersandar di kepala tempat tidur, sambil memeluk pinggang Enzy dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengusap lembut rambut panjang istrinya itu. Sedangkan Enzy bersandar pada bahu kiri Khay sambil membuat pola-pola abstrak di dada polos pria yang ia cintainya, keduanya sama-sama polos hanya di tutupi dengan selimut.


"Terus" Tanya Khay penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


"Terus aku katakan, jika kamu mencintaiku cintai aku sebagai sahabatmu, biarkan aku bahagia dengan pria yang aku cintai." Jelas Enzy.


"Terus apa lagi ?"


"Walaupun berat, ia akhirnya menerima keputusanku, dan berjanji tidak akan menganggu kehidupan kita, saat ia ingin pulang, ia memintaku untuk mengijinkannya untuk memelukku untuk yang terakhir kalinya, karena besoknya ia akan berangkat ke Inggris dan menetap disana." Jelas Enzy, semuanya ia ceritakan soal pertemuannya dengan Baim di cafe waktu itu.


"Apa kamu akan tahan punya suami yang tampan, dan digilai banyak wanita seperti ku i ini.?" Tanya Khay membanggakan dirinya.


"Setelah aku pikir-pikir, aku sama sekali tak ada masalah soal itu, tapi....." Enzy langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Khay mengerutkan keningnya, melihat tatapan istrinya itu, yang tiba-tiba berubah.


"Tapi apa, sayangku, Hem ?" Tanya Khay penasaran, memegang tangan wanita dihadapannya itu.


"Apa aku boleh kenalan dengan kucing kamu, aku sangat penasaran bagaimana rupanya, karena sejak kita tinggal bersama, dan saat dirumah utama sama sekali aku tak melihat seekor kucing disana." Ujar Enzy.


"Kucing apaan sih ? jangan mengada-ada sayang ! Lagian kapan aku bilang punya kucing ?" Tanya Ujar Khay tambah bingung, karena sepertinya pria itu sudah lupa kalau pernah mengatakan hal tersebut kepada seorang wanita yang ia kencani saat di mall.


"Dasar buaya, buaya emang enggak pernah berubah jadi kucing." Cibir Enzy lalu menatap jengah suaminya itu, sedangkan yang dikatai tak hanya bisa tertawa, lalu menarik istrinya itu masuk kedalam pelukannya


"Apa si kembar gesrek itu, yang cerita kalau aku pelihara kucing ? Kamu jangan percaya sama mereka, nanti kamu ikut sesat sayang !" Imbuh Khay masih disisa-sisa tawanya.


"Terus aku harus percaya kamu gitu ? Yang ada aku malah makin sesat." Ucap Enzy bersandar pada dada bidang suaminya.


"Kok gitu ?" Tanya Khay menusukkan kepalanya menatap Enzy.


Enzy bangun dan kembali duduk lalu mulai cerita.


"Kamu lupa, kalau kamu pernah cerita sama pacar kamu di mall ( Enzy menceritakan saat ia melihat dan mendengar Khay bersama salah satu teman kencannya waktu di mall )


"Hahahaha..." Seketika tawa Khay pecah saat mendengar cerita istrinya itu, dan hal itu membuat Enzy meberenggut kesal.


"Kucing yang kamu maksud itu, pasti aku kan ?" Tanya Enzy menatap jengah kepada suaminya itu yang masih saja tertawa terbahak-bahak.


"Emang kamu kucing ?" Tanya balik Khay di sela-sela tawanya, sambil memegangi perutnya karena sakit akibat terlalu banyak tertawa.


"Bukanlah." Jawab Enzy makin kesal sambil memajukan bibir bawahnya.


"Yasudah berarti itu bukan kamu." Sahut Khay santai, karena sikapnya itu ia langsung mendapatkan serangan mendadak berupa cubitan keras diperutnya, yang mana meninggalkan bekas yang sangat merah.


"Sayang, sakit loh ini." Ringis Khay mengusap bekas cubitan istrinya.


"Biarin !" Sahut Enzy kesal lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Khay, lalu menutupi tubuhnya sampai batas leher.


"Sayang, madep sini dong !" Seru Khay lalu memeluk Enzy dari belakang.


Enzy memejamkan matanya dan mencoba untuk tak mempedulikan pria menyebalkan itu.


"Sayang, lanjut yang tadi yuk, nih si junior tegag lagi nih." Bisik Khay tepat di dekat telinga Enzy.


karena perbuatannya itu, Khay lagi-lagi mendapatkan serangan, kali ini ia mendapat sikuan yang cukup keras pada perutnya.


"Mesum !!" Ujar Enzy menoleh kebelakang menatap tajam pria yang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Enzy kembali membelakangi Khay.


"Sayang." Rengek Khay ingin memeluk tubuh istrinya, namu baru saja Khay menyentuh bahunya, Enzy kembali berucap.


"Jangan sentuh ! Aku mau istrirahat, capek !" Ucap Enzy dingin penuh penekanan.


"Istrirahat saja, aku cuma peluk doang kok." Ujar Khay.


"Itu sama saja sentuh KHAYRAN DELVIN AL FARIZIQ." Geram Enzy.


"Peluk doang kok sayang, aku enggak akan macam-macam kalau enggak khilaf." Ujar Khay memelas.


Enzy mengubah posisinya menghadap Khay, sambil menatapnya tajam.


"Awas aja kalau kamu khilaf, kamu akan tidur diluar selama seminggu." Ancam Enzy.


"Kok pake ancam segala sih sayang ? Mana serem lagi ancamannya, lebih baik aku di bawa ke kandang buaya deh sayang, dari pada aku harus tidur kepisah sama kamu, akutuh enggak bisa jauh-jauh dari kamu, aku enggak akan bisa tidur tanpa meluk kamu juga, mana ancamannya lama banget lagi sampai seminggu." Oceh Khay sambil memeluk tubuh istrinya itu, namun karena ocehannya itu membuat Enzy malah semakin kesal karena ia sangat terganggu.


"Kamu bisa diam enggak, aku capek tau enggak, lagian mana mau buaya makan buaya, apalagi buayanya seperti kamu, alot." Ucap Enzy mendongak menatap suaminya itu.


"Enak aja alot, kamu mau coba enggak ? Lagian kamu enggak bisa istirahatkan, bagaimana kalau kita lanjut yang tadi aja yang, sekalian kamu cobain, aku alot apa enggak." Usul Khay membuat Enzy mengeram kesal melihat ketengilan dan kemesuman suaminya itu.


"Khay...Kamu nyebelin tau enggak." Seru Enzy sekesal-kesalnya.


"Nyebelin tapi kamu cinta kan ?"


"Enggak jadi aku cinta sama kamu."


"Ada ya, enggak jadi cinta, aneh kamu sayang."


"Kamu yang aneh."


"Aneh tapi tampan kan, mana duit aku banyak lagi." Khay semakin tengil, apalagi jika sudah menyombongkan dirinya seperti itu.


"Khay, tidur sekarang enggak, atau kamu mendingan keluar dari sini." Imbuh Enzy langsung duduk dan menunjuk keluar, sambil menatap tajam pria tengil dihadapannya itu.


"Ok....Ok....Aku bobo sekarang, jangan usir aku ya sayang ! Sini, sini bobo lagi, biar aku peluk, biar enggak kedinginan, agar tidurnya nyenyak juga." Ucap Khay menarik lengan Enzy agar tidur kembali disampingnya, Khay langsung memeluk erat dan menenggelamkan wajah Enzy di dadanya membuat Enzy kesulitan bernafas.


"Khay..." Seru Enzy mendorong kuat bahu Khay agar pelukannya ia lepas.


"Katanya mau bobo, atau kamu berubah pikiran, mau lanjut yang tadi ?"


"Buang pikiran kotormu itu ! Aku enggak bisa nafas, kamu peluk seprti itu, kamu mau bunuh aku, hah ?" Kesal Enzy memutar bola matanya malas.


Enzy kembali berbaring lalu membelakangi suaminya itu.


"Jangan sentuh !!" Seru Enzy cepat saat Khay akan memeluknya dari belakang.


"Galak amat punya bini, untung sayang." Gerutu Khay, menatap punggung polos istrinya itu.


Kemudian Khay tersenyum bahagia, karena akhirnya ia berhasil meluluhkan hati istrinya, dan mendapatkan cinta dari seorang wanita yang kini menjadi istrinya dan tentunya yang sangat ia cintai itu.


"Good night sayang, happy nice dream..." Ucap Khay kemudian ikut memejamkan matanya tak lama ia pun ikut tertidur, mungkin karena kelelahan juga, dan rasa sakit yang ia rasakan sejak tadi pagi, sudah tak lagi ia rasakan.


Bersambung.....


Maaf ya readers kalau ceritanya mungkin membosankan, dan banyak kekurangan, tapi inilah karya author, aku masih banyak belajar, dan episode ini, episodenya terpanjang, sampai lebih dari 2000 kata.


Jika masih banyak kekurangan, mohon berikan kritik dan saran, author merasa sangat senang dan menghargai atas kritikan dan saran yang diberikan


Terimakasih telah mendukung author selama ini, setia mengikuti jalan ceritanya hingga bisa sampai di sesoan 3 ini, ini semua berkat antusiasme readers. selalu memberikan LIKE KOMENT DAN VOTENYA. Sekali lagi author benar-benar berterimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘