Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 99


Setelah kembali dari supermarket, Kenan langsung memberikan belanjaannya kepada Bunda Vivian, kemudian masuk ke kamarnya untuk mengecek keadaan anak dan istrinya. Karena kata Bunda baby Khay belum juga bangun, setelah Bunda Vivian berapa kali masuk ke kamarnya untuk mengeceknya.


Saat Kenan mambuka pintu kamarnya, ia tidak melihat keberadaan Diva, hanya melihat baby Khay masih asik dengan mimpi indahnya.


Kenan melangkahkan kakinya masuk, dan mendekat ke box babynya, Kenan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Kenan sedikit memperbaiki selimut baby Khay kemudian berjalan kearah sofa, dekat jendela kamarnya.


Lima menit kemudian Diva keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang sudah segar, Diva hanya menggunakan handuk yang melilit di bagian dadanya, sampai di atas lututnya, dengan handuk kecil yang membungkus rambutnya yang basah.


Diva yang melihat Kenan duduk di sofa langsung berjalan mendekatinya, sambil melepaskan lilitan handuk pada kepalanya.


"By'..." Pekik Diva saat Kenan tiba-tiba menarik pinggang Diva, mendudukkan nya pangkuannya.


"Kenapa harus mandi ? Kamu itu kurang sehat." Ucap Kenan sambil mencium leher Diva.


"Malahan aku lebih segeran setelah mandi, lalu keramas." Sahut Diva sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil tadi.


"By', kamu dari mana ?" Tanya Diva.


"Dari supermarket, di suruh Bunda buat beli alat memompa ASI sama botol susu, sekalian beberapa perlengkapan baby Khay yang sudah mulai habis." Jawab Kenan namun masih menciumi leher Diva, sesekali turun pada pundaknya.


"Pompa ASI ?" Diva menautkan alisnya melihat kearah Kenan.


"Iya, Kata bunda agar kamu bisa menyetok ASI, kemudian kamu bisa istirahat, dan tanpa harus mengganggumu saat baby Khay haus." Terang Kenan mengeratkan pelukannya di pinggang Diva.


"Tapi aku sudah lebih baik, dan sudah tidak pusing lagi."


"Kalau begitu, ayo kita kencan." Ajak Kenan.


"Terus baby Khay, siapa yang jagain ? Kamu ada-ada saja by' !" Ujar Diva.


"Kan ada bunda." Sahut Kenan.


Diva melingkarkan lengannya di kedua sisi bahu Kenan.


"Bunda juga butuh istirahat by', lagian aku juga nggak enak sama Bunda, kita bersantai di luar, kemudian bunda kerepotan mengurus baby Khay, kamu tau sendiri kan kalau baby Khay suka rewel." Ucap Diva menatap mata suaminya.


"Bunda Hani juga kan ada buat bantuin bunda Vivian, lagian Kak Arka beserta anak dan istrinya juga keluar jalan." Ujar Kenan.


Diva terdiam memikirkan apakah dia harus keluar mengikuti keinginan suaminya, dia juga merasa berat untuk meninggalkan baby Khay, di sisi lain ia juga sangat menginginkan jalan berdua dengan suaminya, sudah lama mereka tidak keluar bersama.


"Yank...." Rengek Kenan dengan wajah memelas.


"Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu." Sahut Diva ingin segera beranjak dari pangkuan Kenan, Tapi buru-buru Kenan menahan pinggangnya.


"Apa lagi by'?"


Kenan langsung menciumi bibir Diva sekilas, kemudian melapaskan pelukannya dari pinggang istrinya itu.


Diva hanya menggelengkan kepalanya kemudian beranjak dari pangkuan suaminya itu.


"Kamu nggak mandi By' ?" Tanya Diva, karena Diva yakin suaminya itu belum mandi, karena masih menggunakan pakaian yang ia gunakan sholat subuh tadi.


"Mandi dong, soalnya aku mau kencan." Sahut Kenan beranjak dari duduknya, kemudian mengambil handuknya di lemari.


"Yank, sekalian baju aku siapin juga !" Seru Kenan kemudian masuk ke kamar mandi.


Setelah bersiap-siap, dan menyiapkan pakaian Kenan, Diva keluar dari kamarnya, tanpa menunggu Kenan yang masih mandi.


Saat keluar Diva melihat Bunda Vivian dan juga bunda Hani berada di ruang tengah sambil mengobrol, Diva langsung menghampiri kedua bundanya tersebut, dan langsung duduk di samping Bunda Hani.


"Bagaimana keadaan kamu sayang, kata bunda Vi, kamu kurang sehat ?" Tanya Bunda Hani.


"Aku sudah baikan Bun, aku kurang tidur aja, makanan tadi sedikit pusing." Jawab Diva.


"Terus kamu mau kemana, sudah rapi begini ?" Bunda Hani kembali bertanya.


"Ini Bun, Kenan ngajak aku keluar, boleh tidak aku nitip baby Khay sama kalian ?" Ucap Diva melihat kedua bundanya.


"Iya kalian pergi saja, biar baby Khay kami para Oma yang jaga, tapi sebelum pergi kamu stok ASI dulu sayang !" Sahut bunda Vivian.


"Baiklah Bun, terimakasih sebelumnya." Ucap Diva.


"Itu alat dan botolnya, ada di dapur, sudah bunda cuci tadi ! Tapi kamu tau kan cara pakainya gimana ?"


"Aku nggak tau Bun." Sahut Diva.


Bunda Vivian baranjak dari duduknya, berjalan kearah dapur, untuk mengambil alat pemompa ASI, Diva mengikuti Bunda mertuanya itu menuju dapur.


"Kita di kamar aja ya, sayang pompanya, enggak enak kalau di ruang tengah, siapa tau nanti yang lain datang tiba-tiba !" Ujar bunda Vivian.


"Iya Bun." Sahut Diva.


"Bun, Bunda nggak ikut masuk ?" Tanya Diva kepada bunda Hani.


"Nggak usah sayang, bunda di sini saja, nanti baby Khay kebangun jika kita ramai-ramai masuk kekamar.


🍀🍀🍀


Saat sedang memompa ASI, Kenan baru keluar dari kamar mandi, Kenan melihat Diva meringis, seperti menahan sakit, Kenan langsung menghampiri Diva dan bundanya yang sedang berada di sofa.


"Yank, kamu kenapa ?" Tanya Kenan, belum menyadari jika Diva sedang memompa ASInya untuk stok untuk baby Khay, karena Diva menutupi dengan kain.


"Ini lagi nyetok Asi, kalau pertama memang berasa sakit, tapi lama-lama sudah tidak." Sahut bunda Vivian.


"Ya sudah kalau gitu, nggak usah banyak-banyak, kasian Diva kesakitan tuh !" Ujar Kenan mengusap punggung istrinya.


"Botolnya penuhin dulu lah bang, mana cukup baby Khay minum hanya segini." Sahut Bunda Vivian memperlihatkan botol yang masih seperempat.


"Aku nggak apa-apa by', lebih baik pakai baju kamu, aku sudah siapin di atas tempat tidur !" Ujar Diva.


"Sekarang udah nggak sakit kok by', awal-awalnya aja tadi sakit." Sahut Diva.


"Lagian buat apa beli sufor, ASInya aja banyak kok !" Tambah Diva.


"Ya sudah, terserah kamu saja Yank, aku hanya tidak mau kamu kesakitan." Ucap Kenan kemudian masuk ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya, karena tidak mungkin memakainya di situ, sedangkan di sana ada bunda Vivian juga.


Setelah merasa cukup banyak, Diva segera menyelesaikan aktivitasnya, bertepatan Kenan selesai bersiap-siap.


Diva berjalan melihat keadaan babynya, karena sedari tadi pagi, baby Khay belum juga terbangun, padahal sekarang sudah menunjukkan jam 10 pagi.


"Bun, baby Khay kok belum bangun juga ? sepertinya tidurnya nyenyak banget." Ujar Diva masih berdiri di samping box baby Khay sambil merapikan kembali selimutnya.


"Sebagian bayi biasanya seperti itu, dia akan tidur nyenyak saat siang hari, dan akan terjaga saat malam hari, seperti baby Khay termasuk bayi yang seperti itu." Terang Bunda Vivian.


"Apa tidak apa-apa Bun?" Tanya Diva sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa, Kenan dulu waktu masih seumuran baby Khay seperti itu, dan itu wajar-wajar saja." Sahut Bunda.


"Apa dia tidak kelaparan ? Masalahnya dia hanya Mimi asi, saat subuh tadi Bun." Ujar Diva.


"Kalian pergi saja dulu, nanti bunda bangunkan dia buat minum ASInya !" Seru Bunda.


"Sudahlah yank, dia tidak apa-apa, ada kedua Omanya yang menjaganya." Sahut Kenan dan di angguki Diva.


"Bun, kami titip baby Khay dulu, kami mau pacaran dulu." Pamit Kenan kepada Bundanya, kemudian keluar dari kamar sambil merangkul pinggang istrinya.


"Kalian sudah mau berangkat ?" Tanya Bunda Hani.


"Iya Bun, Bun kami titip baby Khay ya !" Ujar Diva kemudian pamit kepada bunda Hani begitupun dengan Kenan.


"Iya kalian tenang saja, selamat berpacaran." Canda bunda Hani.


"Terimakasih Bun." Ucap Kenan.


"Iya, kalian hati-hati !" Sahut bunda Hani tersenyum melihat pasangan suami istri muda itu.


Kini Kenan dan Diva dalam perjalanan, Diva bersandar di bahu Kenan, sedangkan Kenan sibuk dengan kemudinya.


Diva mengangkat kepalanya melihat kearah Kenan.


"By', kita cari makan dulu yuk, aku laper sedari tadi aku belum sarapan !" Ajak Diva.


"Kalau begitu kita makan di kedai-kedai pinggir jalan yuk Yank, sepertinya di sana suasananya enak, soalnya kedai pinggir jalan di sini nggak seperti di Indonesia, kalau di sini lebih tertata rapi, dan seperti cafe-cafe gitu Yank." Usul Kenan.


"Terserah kamu saja by', yang penting makan, soalnya, aku udah laper banget." Sahut Diva.


"Duh .... Kasian banget sih bundanya baby Khay." Ucap Kenan mengacak rambut istrinya.


Setelah beberapa menit, Kenan tiba di parkiran khusus untuk pengunjung kedai-kedai yang berjejer di pinggir jalan.


Kenan dan Diva kemudian berjalan menyusuri kedai-kedai makanan, banyak macam makanan khas negara tersebut, dan juga makanan lainnya.


Setelah mendapat meja, Diva langsung memesan makanan, sedangkan Kenan hanya memesan capuccino karena masih merasa kenyang. Sambil menunggu makanan Diva, Diva mencoba capuccino Kenan sedikit, karena pesanan Kenan cepat di sediakan.



Tiba-tiba ponsel Diva berbunyi tanda notif pesan masuk. Dan itu pesan dari Rafa.


...💬 " Kalian masih di Singapore kan, besok aku sama Hera nyusul ke sana."...


"Siapa Yank ?" Tanya Kenan.


"Ini By', Rafa dia bertanya, apakah kita masih di Singapore, soalnya besok dia akan nyusul kita kesini bareng Hera." Terang Diva sambil mengetik balasan pesan untuk Rafa.


...💬 "Iya, kami masih di Singapore, kebetulan Ray sama Lani juga di sini....


Tidak lama notif pesan kembali masuk ke ponsel Diva, tapi kali ini bukan berisikan pesan, namun sebuah foto yang Rafa kirim, dengan pemandangan di atas gunung.


dengan capsion.


...Di fotoin dengan seseorang special, pasti hasilnya keren banget 😊😊...



Diva yang melihat capsion yang dikirim Rafa penasaran, siapa orang special yang di maksud sahabat yang suada ia anggap saudara itu.


Diva kembali mengetik sebuah pesan untuk Rafa.


...💬 "Orang special nya siapa ???? Kirim juga dong fotonya !!!"...


Namun Rafa tidak lagi membalas pesan yang Diva kirim, Diva sangat penasaran dengan orang special yang di maksud Rafa, Diva juga merasa bersyukur jika sahabatnya itu, sudah bisa bangkit kembali dari keterpurukannya.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian reader tersayang.


...Like...


...Coment...


...Vote...


...Favorit...


...Rate...


Terimakasih 🙏🙏🙏❤️❤️❤️🤗🤗🤗