Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 54 Season 3 ( Next Generatoin )


Setelah selesai makan siang, keluarga tersebut berkumpul saling mengobrol satu sama lain, Kenan juga membicarakan perkembangan yang mulai Khay rintis di bidang olahraga, terutama di bidang olahraga sepak bola, Khay berencana ingin membuka sebuah club sepak bola. Di sela-sela obrolan mereka tiba-tiba ponsel Kia berdering tanda panggilan masuk.


📞 "Hallo Om." Ucap Kia setelah menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Kavi, Kenan mengerutkan keningnya mendengar putrinya, Kenan berpikir ada apa sahabatnya itu menelfon putrinya, padahal ini hari weekend.


📞 "Kamu dimana ?" Tanya Kavi terdengar dari seberang sana.


📞 "Saya lagi di apartemen Kakak saya om, lagi ngumpul bareng ayah sama bunda juga." Jelas Kia.


📞 "Emangnya ada apa om ?" Kemudian Kia bertanya.


📞 "Oh tidak ada apa-apa, tapi saya hubungi ayah kamu tapi enggak bisa tersambung, makanannya saya telepon kamu." Jelas Kavi.


Kia memberikan ponselnya kepada ayahnya.


"Om Kavi katanya mau bicara sama ayah, dia udah hubungi ayah tapi enggak nyambung " Terang Kia.


"Perasaan handphone aku aktif." Batin Kenan lalu mengambil ponsel putrinya itu.


📞 "Iya ada Vi ?" Tanya Kenan.


📞 "Emm... Ini Nan, saya mau membahas soal kontrak kerjasama kita yang baru."


📞 "Bukannya itu sudah kita bahas sebelumnya, dan udah beres semua kan." Sahut Kenan.


📞 "Oh, sudah ya, sepertinya saya lupa, ya sudah kalau gitu, saya tutup dulu telfonnya, maaf sudah mengganggu waktu kalian." Ucap Kavi langsung memutuskan sambungan teleponnya, membuat Kenan menautkan kedua alisnya, bingung dengan tingkah sahabatnya itu.


" Kenapa yah, Kavi kenapa ?" Tanya Diva melihat perubahan wajah suaminya itu, yang tiba-tiba terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Enggak ada apa-apa Bun." Sahut Kenan datar.


Diva yakin kalau suaminya itu sedang memikirkan dan mencemaskan sesuatu, apalagi Kenan sesekali melihat Kia yang sibuk merecoki kakaknya.


...----------------...


Hari ini Khay dan Enzy mulai melakukan aktivitas mereka seperti biasa, Khay sudah tidak setiap hari ia masuk kampus, hanya ada tiga kali dalam satu minggu, begitupun Enzy hanya ada mata kuliah empat kali seminggu. Hari ini Khay dan Enzy kembali berangkat bareng ke kampus, saat tiba di parkiran mereka bertemu Leo dan Doni yang sepertinya baru juga tiba.


"Hay bro, apa kabar ?" Doni menyapa sambil melambaikan tangannya.


"Hay, baik." Sahut Khay, sedangkan Enzy hanya tersenyum kepada kedua sahabat suaminya itu.


"Sepertinya udah lengket banget nih." Goda Leo melihat Khay membukakan pintu untuk Enzy saat akan turun dari mobil.


"Sirik aja lu." Sagita Khay.


"Oh iya parkir kalian jauh amat ?" Tanya Khay pasalnya kedua sahabatnya itu memarkirkan mobilnya di dekat gedung fakultas hukum, sedangkan fakultas mereka cukup jauh dari tempat tersebut.


"Biasalah, buat cuci-cuci mata." Sahut Leo.


"Kamu sendiri bagaimana." Timpal Doni.


"Ya gue kagak parkir disini, tapi gue nganterin tuan putri, habis itu gue balik lagi ke fakultas kita." Jelas Khay karena embah dia hanya mengantar Enzy, karena terlalu jauh harus berjalan kaki menuju fakultas masing-masing.


"Tau, yang udah punya pawang, berterimakasih lah sama kami." Ujar Doni.


"Kenapa juga gue harus berterimakasih kepada kalian ?" Tanya Khay.


"Dasar ! Mentang-mentang udah baikan ama bininya, kita dilupain." Cibir Leo.


"Kalau bukan kita, bini kamu tidak akan balik ke kamu hari itu, kita yang telpon dia dan jelasin keadaan kamu." Jelas Doni.


"Sayang, beneran ?" Khay beralih menatap Enzy yang masih berdiri disampingnya.


"Iya, lain kali kalau kamu mabuk-mabukan lagi, aku bakalan biarin kamu mati sendirian." Ucap Enzy sinis.


"Kok gitu sih, emang kamu mau jadi janda muda ?" Goda Khay.


"Ya gak apa-apalah, toh gelar janda aku tuh enggak akan bertahan lama, aku masih muda, banyak kok laki-laki yang antri." Ujar Enzy, seketika tawa Leo dan Doni pecah mendengar perkataannya, pasalnya Khay yang terkenal playboy mendapat perkataan seperti itu, dan parahnya dari Istrinya sendiri, sedangkan Khay hanya bisa menatap kesal kedua sahabatnya yang menertawakannya.


"Sayang...."


"Sudah sana, mendingan kamu pergi, aku mau masuk kelas, takut telat." Seru Enzy cuek lalu pergi begitu saja meninggalkan ketiga pria tampan disana.


...----------------...


Setelah jam mata kuliah Enzy selesai, ia dan Raydan memutuskan untuk ke kantin, sambil menunggu jam mata kuliah berikutnya.


"Enzy, Rendra, kalian di panggil dekan keruangannya sekarang." Imbuh seorang mahasiswa saat keduanya baru keluar dari kelas.


"Ada apa dekan manggil kita segala ?' Tanya Rendra.


"Enggak tahu juga sih, pokoknya kalian dipanggil sekarang !" Sahut mahasiswa itu lalu pergi begitu saja.


Enzy dan Rendra saling tatap, kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan dekan.


"Tok...Tok...Tok..." Rendra mengetuk pintu bercat coklat tersebut bertuliskan ruangan dekan.


"Masuk !" Keduanya langsung masuk saat mendapat sahutan dari dalam.


"Duduk !" Seru pak dekan.


"Ada apa ya pak, bapak manggil kami ?" Tanya Enzy penasaran.


"Tapi pak, saya rasa masih belum pantas untuk menjadi salah satu perwakilan kampus kita." Ucap Enzy, sebenarnya cemas karena harus berpisah dengan suaminya.


"Kami sudah mempertimbangkan semuanya, dan kalian berdualah yang kami pilih." Terang dekan itu tegas.


"Berapa lama kita disana pak ?" Tanya Rendra.


"Sekitar dua mingguan." Jawab pak Dekan.


"Dan dua hari lagi kalian harus berangkat." Tambahnya.


Enzy mengehela nafas beratnya, mau tak mau ia harus menerima keputusan ini.


"Kalian tenang saja, tuan Kenan dan tuan Ray sudah menyiapkan tempat tinggal dan fasilitas lengkap untuk kalian berdua." Ucap pak Dekan.


"Apa pak, ayah saya tahu soal keputusan ini" Tanya Enzy kaget mendengar nama ayah mertuanya itu.


"Iya, kami sudah meminta persetujuan beliau setelah kami memutuskan kalau kalian yang akan menjadi perwakilan kampus, dan saat rapat soal pemilihan perwakilan tuan Ray juga ada disana." Jelas pak Dekan.


"Tapi kok papi gak pernah cerita sama saya ya pak, soal ini." Ucap Rendra kaget.


"Mungkin beliau belum sempat."


Setelah membicarakan ini, Enzy dan Rendra keluar dari ruangan tersebut, dengan langkah tak bersemangat keduanya menuju kantin.


"Kalian kenapa, cacingan" Ledek Nendra yang sudah menunggu mereka sejak tadi di kantin.


"Br***k lu, kita habis dari ruangan dekan." Ucap Rendra menduakan dirinya kasar dikursi samping kembarannya itu.


"Ngapain ?" Tanya Nendra.


"Kami jadi perwakilan pertukaran pelajar ke Malaysia." Sahut Enzy tak bersemangat.


"Apa ? Kaget Nendra.


"Iya, dan lebih parahnya papi sudah tau soal ini, bahkan saat rapat putusan papi ada disana." Kesal Rendra pada papinya.


"Wahhh papi, sepertinya dia bener udah bosan liat kamu Rend, makanya papi ngirim kamu kesana." Nendra sengaja memanas-manasi kembarannya.


"Sepertinya bukan cuma papi aja yang bosan, tapi kamu juga, benar-benar kagak ada akhlak kalian, kalian sudah tak lagi menganggapku." Ucap Rendra mendramatisir keadaan, membuat Nendra menertawakan nasib kembarannya.


Sedangkan Enzy hanya diam sedari tadi, ia memikirkan Khay, dan ia tak bisa jauh dari suaminya itu, apalagi di waktu yang cukup lama.


"Terus berapa lama kalian disana ?" Tanya Nendra lagi.


"Dua Minggu." Jawab Rendra malas.


"Bakalan ada yang dilanda rindu berat nih." Ejek Nendra melihat ke arah Enzy.


"Enggak, biasa aja perasaan." Sahut Enzy.


"Biasa aja kenapa, Hem ?" Tiba-tiba Khay datang langsung merangkul bahu Enzy dari belakang.


Enzy menoleh kebelakang, lalu tersenyum sedikit ia paksakan.


"Ada apa, kalian lagi bahas apasih, pada enggak semangat gitu ?" Tanya Khay duduk di samping Enzy, kemudian memperhatikan raut wajah istrinya itu bergantian dengan Rendra.


"Istrimu juga Rendra menjadi perwakilan pertukaran pelajar, selama dua Minggu.


"Ohh..." Sahut Khay santai meminum minuman Enzy yang sebelumnya sudah dipesan Nendra.


"Apa ?" Kemudian Khay kaget dan menyemburkan minumannya di wajah Nendra yang duduk dihadapannya.


"Khay..." Pekik Nendra kesal lalu mengambil tisu di depannya, kemudian menyeka sisa-sisa semburan Khay.


"Sayang, bener kamu akan pergi" Tanya Khay menoleh kepada Enzy, sedangkan yang ditanya hanya mengangguk.


"Uncle Ray tahu soal ini ?" Tanya Khay melihat keduanya saudara kembar dihadapannya.


"Iya tahulah, karena pas rapat putusan papi disana juga." Jelas Nendra di angguki Rendra.


"Gue harus telpon ayah nih, suru batalin suru cari yang lain aja yang penting bukan bini gue yang kesana, kalau Rendra mah kagak apa-apa, walaupun dia mau tinggal disana gue mah enggak peduli." Ucap Khay mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya, berniat ingin menelpon ayahnya.


"Percuma, ayah juga tahu soal ini." Ucap Enzy membuat Khay mengurungkan niatnya.


"Kok ayah gitu sih, kagak ada pengertiannya sama sekali." Kesal Khay.


"Om Kenan juga udah nyiapin tempat dan fasilitas lengkap buat kita disana." Sahut Rendra.


Khay mengacak rambutnya prustasi, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran ayah dan uncle nya itu.


Bersambung.......


Jangan lupa LIKE, KOMENT, DAN VOTE.....


Kasian bangkhay baru juga baekan harus kepisah lagi 😁😁😁😁


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏


Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘