
Sudah seminggu Diva berada di kota Xx, namun masalah perceraiannya pun belum Arka urus, karena Arka harus kembali ke kota Z karena sedikit ada masalah di perusahaannya, selama seminggu ini Dafa di minta Arka untuk menjaga mereka.
Hari ini Diva dan Abang Khay tampak bersiap-siap untuk pergi berbelanja kebutuhan dapur sekaligus kebutuhan dedek Kia. Dedek Kia ia titipkan pada bi Siti yang sudah datang dari kampung halamannya sejak dua hari yang lalu.
"Apa kalian sudah siap ?" Tanya Dafa yang sedari tadi menunggu mereka.
"Sudah ayo." Sahut Diva.
Dafa langsung membawa Khay ke gendongannya lalu mereka berjalan keluar apartemen menuju basemen dimana mobil Dafa berada.
Ini baru pertama kalinya Diva akan keluar dari apartemen, dalam perjalanan Diva hanya terdiam menatap jalanan yang ia lalui.
Setelah lima belas menit berkendara akhirnya mobil yang di kendarai Dafa masuk ke area supermarket yang tak jauh dari apartemen, bahkan bisa dikatakan masih di dalam kawasan apartemen.
"Daf, Abangnya tidak usah kamu gendong nanti dia kebiasaan seperti itu !" Seru Diva saat melihat Dafa menggendong Khay di atas punggungnya.
"Iya Om, atu mau tulun, nanti talau atunya di gendong telus atau tidak puas Cali mainan." Ucap Khay membuat Dafa gemes sendiri mendengarnya.
"Ok jagoan, om akan menurunkanmu." Ucap Dafa lalu menurunkan Khay dari gendongannya.
Ketiganya pun memasuki supermarket, Diva dan Dafa tampak sibuk memilih-milih barang apa yang akan di belinya, sedangkan Khay sibuk sendiri mencari mainan yang di inginkannya.
Tanpa Diva maupun Dafa sadari kalau Khay sudah tidak berada di dekatnya, karena pada saat melewati bagian mainan Khay tidak mengikuti kedua orang dewasa tersebut.
Khay yang baru sadar kalau dirinya kehilangan jejak bundanya juga Om Dafa, ia berusaha mencari keduanya, namun siapa sangka Khay malah keluar dari supermarket menuju jalan raya.
🍀🍀🍀
Di sisi lain Kenan masih belum ada perubahan yang signifikan, walaupun kata dokter ia sudah ada kemajuan karena sudah menunjukkan respon.
Sudah dua tahun Kenan terbaring tak berdaya di tempat tidurnya, membuat semua orang-orang terdekatnya menjadi sangat prihatin melihatnya, Kenan yang dulunya memiliki badan yang atletis badan yang tegap bahkan sangat di segani oleh karyawannya, kini ia terlihat sangat kurus tak berdaya di pembaringannya.
Bunda Vivian juga sudah terlihat tak terawat, setiap hari ia hanya menangisi keadaan putranya, walaupun sudah ada perawat untuk merawat Kenan, namun bunda Vivian selalu saja mengambil alih pekerjaan perawat tersebut seperti halnya mengelap badan Kenan, menggantikannya pakain.
"Sayang kapan kamu akan bangun, bunda sudah sangat ingin melihatmu kembali seperti dulu, bunda tahu kamu sangat menginginkan keberadaan istri dan anakmu Nak, tapi bunda mohon bangunlah, jika kalian emang benar-benar di takdirkan untuk bersatu kembali Allah pasti akan memberimu jalan, Nak bangunlah ayah dan yang lainnya terus berusaha mencari keberadaan mereka, jangan sampai jika Diva dan Abang Khay kembali mereka melihat keadaan kamu seperti ini, apa kamu ingin mereka melihatmu seperti ini, Hem ?" Ucap bunda Vivian terisak sambil membersihkan tubuh putranya itu.
"Nak apa kamu sudah tidak memikirkan bunda lagi, apa kau tega dengan bunda dan ayahmu ini, bunda dan ayah tak lagi memiliki siapa-siapa selain kamu, jadi bunda mohon bangunlah sayang." Tambah bunda Vivian.
Kenan yang sebenarnya bisa mendengar apapun yang ada disekitarnya merasa sangat sedih mendengar ucapan demi ucapan yang bundanya lontarkan, apalagi mendengar bundanya terisak seperti itu.
"Maaf kan aku Bun, Yah, aku masih ingin menunggu istri dan anakku, aku yakin mereka pasti akan kembali, aku akan menunggu mereka di sini sampai mereka menemuiku sampai kapanpun aku akan tetap menunggunya Bun, yah...Maaf..." Ucap Kenan dalam hati.
Di alam bawa sadar Kenan.
Di sebuah tempat dimana Kenan bertemu dengan Diva dengan membawa seorang putri kecil, Kenan terlihat duduk di bangku teman tersebut, Kenan terus menunggu kedatangan Diva seperti apa yang ia katakan saat Diva meninggalkan nya kala itu. Setelah sekian lama Kenan duduk di bangku taman tersebut akhirnya Kenan dapat melihat lagi seorang perempuan bergaun putih bersama seorang balita dan bayi perempuan di gendongannya.
Kenan ingin sekali memanggilnya namun suaranya tak bisa ia keluarkan saat ia ingin beranjak untuk mengejarnya lagi-lagi ia tak bisa. Kenan hanya terus melihat Diva berlalu hingga tak terlihat lagi hilang di balik kabut yang tebal.
"Kenapa kau pergi yank, bahkan aku sangat merindukan kalian, aku ingin sekali pergi bersama kalian, berkumpul dengan kalian, kenpa kau menghukum ku seperti ini ?" Batin Kenan memandang lurus kedepan sambil terus meneteskan air matanya.
🍀🍀🍀
Kembali ke dunia nyata.
Seminggu terakhir ini Kenan selalu memberikan respon dengan mengeluarkan air mata, hal tersebut membuat pak Salman, bunda Vivian, Ray juga Lani merasa sangat kasihan melihat keadaan Kenan sekarang, mereka merasa kasihan karena Kenan terlihat sangat menderita, mereka yakin kalau sebenarnya Kenan menunggu kedatangan istri dan anaknya namun sampai saat ini mereka belum juga menemukan keberadaan Diva.
Siang itu pak Salman sedang dalam perjalanan pulang, saat mobilnya tiba di depan kawasan apartemen, tiba-tiba saja pak Toni yang membawanya mengerem mendadak membuat pak Salman sedikit terhuyung kedepan.
"Ada apa pak ?" Tanya Pak Salman setelah memperbaiki posisi duduknya.
"Itu Tuan, ada seorang anak kecil yang hampir tertabrak." Sahut Pak Toni.
Pak Salman keluar dari mobilnya dan melihat keadaan anak kecil yang hampir di tabrak oleh sopirnya, Pak Salman berjongkok di dekat anak kecil tersebut.
"Kamu tidak apa-apa Nak ?" Tanya Pak Salman kepada seorang anak kecil laki-laki setelah ia membantu anak tersebut berdiri dan mendudukkannya di pangkuannya.
Pak Salman tersenyum melihat anak kecil tersebut, dan tiba-tiba ia teringat dengan Kenan waktu kecil, anak itu sangat mirip dengan Kenan, dari cara bicara sikap dan kepintarannya, bukan hanya itu wajahnya juga sangat mirip.
"Orangtua kamu mana Nak ?" Tanya pak Salman lagi.
"Bunda ada di lumah cama dedek, talau ayah kata bunda ayah lagi telja, tapi tidak pulang-pulang." Ocehnya.
"O iya nama kamu siapa anak pintar ?"
"Abang Khay Opa." Jawab Khay tersenyum.
Pak Salman kaget mendengar nama anak laki-laki tersebut karena namanya pun sangat mirip dengan cucunya bahkan menurutnya umurnya juga sama.
"Nama bunda kamu siapa sayang, terus kamu tinggal dimana ?" Tanya pak Salman antusias ia yakin kalau anak kecil yang ia temui itu adalah cucunya.
"Atu cama bunda tidak tinggal dicini opa, atu cama bunda, cama dedek juga di bawah kecini cama papi Alka, kata bunda, ada ulasan." Jelas Khay.
Pak Salman mendengar Khay menyebutkan nama Arka, walaupun tidak jelas penyebutannya tapi ia yakin ia menyebutkan itu. Pak Salman langsung memeluknya dengan sangat erat lalu menciumi seluruh wajah Khay, membuat Khay sedikit berontak.
"Lepasin opa ! Kata bunda atu tidak boleh dekat-dekat olang lain." Khay sedikit mendorong wajah pak Salman yang sangat dekat dengannya.
"Aku bukan orang lain sayang, aku juga opa kamu, sekarang kamu ikut dengan opa ya, kita ketemu dengan ayah kamu, Ok !!" Ajak Pak Salman.
"Benelan opa mau bawa aku ketemu cama ayah ? Atu cudah lama ingin ketemu ayah." Ujar abang Khay kegirangan dengan mata berbinar.
"Iya sayang, kamu ikut opa ya ! Pak Salman menganggukkan kepalanya cepat lalu membawa bocah laki-laki itu kegendongannya kemudian masuk kedalam mobil.
Dalam perjalanan pak Salman tidak membiarkan Khay turun dari pangkuannya, ia yakin bocah laki-laki itu benar-benar cucunya.
"Opa bagaimana jika bunda malah, atu pelgi tidak membelitahunya ?" Ucap Khay mendongakkan kepalanya melihat pak Salman.
"Tidak sayang, bundamu tidak akan marah nanti opa yang akan mengantarkan kamu pulang untuk bertemu bunda, dan menjemput kalian kembai bersama ayah.
"Yesss.... atu udah tidak cabal ketemu dengan ayah, dedek Kia juga oasty seneng Opa." Khay kegirangan ingin bertemu ayahnya.
"Dedek Kia, siapa itu ?" Tanya pak Salman bingung pasalnya ia tidak pernah mengetahui kehamilan menantunya.
"Dedek Kia itu adeknya atu Opa, anak bunda juga." Jelas Khay membuat pak Salman mengerutkan keningnya.
"Ia segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di sampingnya lalu menghubungi Pak Anton.
📞 "Ada apa Tuan ? Terdengar suara Pak Anton bertanya setelah menjawab panggilannya.
📞 "Coba cari tahu keberadaan Diva di kawasan apartemen daerah H !!" Seru pak Salman.
📞 "Apa tuan sudah menemukan jejak nona Diva tuan ?"
📞 "Saya bertemu dengan bocah laki-laki yang sangat mirip dengan Khay, bahkan namanya saja sama, dia juga menyebutkan nama Arka dengan sebutan papi. Pak Salman pun menceritakan soal pertemuannya dengan Khay juga pembicaraannya dengan bocah pintar itu.
📞 "Baiklah tuan, sekarang juga saya dan anak buah saya segera kesana.
📞 "Tapi ingat kamu hanya perlu mencari tempat ia tinggal, dan satu lagi selidik soal bayi perempuan yang bersama Diva, yang Khay sebut sebagai dedek Kia." Seru pak Salman.
📞 "Baik pak, secepatnya saya kabari." Sahut pak Anton.
sambungan keduanya pun terputus, Mobil yang di kendarai pak Salman pun tiba di rumah.
Bersambung.....
Maaf kalau Upnya agak lama soalnya akhir-akhir ini pekerjaan di kantor masih saja banyak alias menumpuk. jadi mohon di maklumi ya gaesss 🙏🙏🙏
Author tetap minta keikhlasan like,Koment, dan vote dari readers 🤭🤭🤭
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️