Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 09 Season 3 (Next generatoin )


Ke esokan harinya, Khay dan Enzy pindah ke apartemen milik Khay, yang berada tak jauh dari kediaman keluarga Kenan, Enzy sebenarnya ingin tinggal di apartemen miliknya yang sudah di siapkan papanya untuk ia tinggal saat kuliah, namun Tuhan berkehendak lain, karena orangtuanya pulang ke sang khalik, dan saat ini ia sudah berstatus sebagai istri dari Khairan Al Farizi.


"Apa kita harus tidut di kamar yang sama ? Aku lihat disini masih ada kamar lain." Ujar Enzy saat Khay membawa semua barang-barang mereka masuk di kamar utama.


"Hanya ini kamar yang kosong, kamar sebelah ruangan pitnes, sedangkan kamar yang dibawah ruang kerja." Jelas Khay.


"Ruang kerja ? Apa kamu juga kerja, atau ayah sering nginap kesini ?" Tanya Enzy bingung.


"Aku belum mau ikut kerja di perusahaan ayah, tapi disana enggak ada tempat tidur, hanya ada meja kerja, karena sewaktu-waktu ayah dan bunda menginap disini, dan ayah mengerjakan pekerjaannya diruangan itu." Khay kembali menjelaskan.


"Tapi kamu enggak akan macam-macam kan sama aku ?" Tanya Enzy memastikan, bukannya ia tidak mau menjadi istri sepenuhnya tapi ia masih ragu dengan Khay, ia tak akan melakukan kewajibannya sebelum ia benar-benar yakin dengan Khay.


"Aku tidak akan macam-macam sebelum kamu siap." Jawab Khay mulai membuka koper miliknya.


"Kecuali aku khilaf." Lanjutnya.


"Khay kamu jangan macam-macam, atau kamu akan....


"Akan apa ?" Sela Khay berdiri dan mendekai Enzy.


"Apa yang kamu lakukan, Khay jangan macam-macam kamu !!" Ucap Enzy gugup terus memundurkan langkahnya. Sementara Khay terus mendekati Enzy sampai Enzy mentok di dinding.


"Kenapa kamu gugup begitu, aku enggak akan macam-macam, aku hanya ingin mencium istriku, apa itu salah ?" Ucap Khay semakin mendekatkan wajahnya hingga wajah keduanya hanya berpaut beberapa senti saja.


Enzy memejamkan matanya, dengan jantung berdegup cepat seakan keluar dari tempatnya.


"Hahaha...." Tawa Khay pecah melihat Enzy seperti itu.


Enzy membuka matanya, dan menatap Khay dengan wajah memerah.


"Ka...kau jahat tau enggak !" Seru Enzy tiba-tiba saja air matanya keluar, ia merasa Khay telah mempermainkannya.


"Nzy, kamu kenapa nangis ?" Tanya Khay panik melihat Enzy tiba-tiba saja menangis, Khay berusaha untuk menyentuhnya namun Enzy menepisnya.


"Keluar ! Aku enggak mau kau berada disini, aku bukan wanita yang se enaknya saja kau permainkan, aku tahu aku wanita lemah, kau bebas mempermainkan ku, sebab aku sudah tak ada lagi yang bisa melindungi ku sekarang." Ujar Enzy tubuhnya merosot kelantai, menundukkan wajahnya dengan kedua lututnya menjadi tumpuannya, bahu terlihat bergetar hebat akibat menagis, namun tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Khay yang melihat itu merasa sangat bersalah, ia ikut duduk di depan Enzy, ia meraihnya masuk kedalam pelukannya, Enzy berusaha berontak namun kekuatan Khay masih kuat darinya.


"Maaf.... Aku enggak bermaksud mempermainkan mu." Ucap Khay mengusap lembut punggung gadis yang sudah bersatus istrinya itu.


Enzy hanya terus menangis dalam pelukan Khay tanpa membalasnya.


"Enzy aku minta maaf, aku tidak bermaksud mempermainkan mu, aku hanya ingin bercanda tadi." Khay mengulang permintaan maafnya.


Enzy melepaskan pelukannya, menghapus air matanya, kemudian menghembuskan nafas pelan.


"Sekarang kamu lebih baik keluar dulu, aku mau sendiri sekarang !" Seru Enzy tanpa melihat kearah Khay.


"Tapi Nzy, aku hanya bercanda tadi, aku minta maaf." Ucap Enzy.


"Aku sudah memaafkanmu Khay, tapi aku mohon keluarlah, aku butuh waktu sendiri."


Khay terdengar menghela nafas beratnya, ia merasa sangat bersalah dengan candaannya tadi, yang malah menyakiti hati wanitanya.


"Baiklah, aku keluar, tapi kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak, lebih baik kamu istirahat, kamu tidak perlu merapikan barang-barang nya, biar aku yang kerjakan nanti !!" Seru Khay kemudian keluar dari kamar.


...----------------...


Jam sudah menunjukkan jam dua siang, tapi Enzy tak juga keluar dari kamar, sedangkan Khay yang sedari tadi menunggu di ruang tengah menjadi khawatir, ia takut Enzy kenapa-napa didalam sana, ia juga ragu-ragu untuk masuk takut ia menganggunua.


Khay memberanikan diri untuk masuk ke kamar melihat ke adaan Enzy, saat masuk Khay mendapati Enzy berbaring dengan posisi miring membelakangi pintu, saat mendekat Khay melihat Enzy tertidur dengan mata sembabnya, sesekali terdengar sesegukan.


Khay duduk di pinggir tempat tidur, menatap wajah istrinya, terlihat jelas wajah kesedihan disana, Khay merapikan anak rambut yang menutupi Enzy yang menutupi sedikit wajahnya.


Enzy perlahan membuka matanya karena merasa terganggu, ia melihat Khay duduk di dekatnya.


"Maaf aku ketiduran, aku akan masak." Ucap Enzy buru-buru memperbaiki posisi tidurnya, lalu bangun langsung turun dari tempat tidur lewat sisi lain tempat tidur.


"Kamu enggak usah masak ! Kita belum belanja buat kebutuhan dapur, lebih baik sekarang kamu bersih-bersih, aku akan memesan makanan." Ujar Khay kemudian beranjak lalu keluar dari kamar.


Enzy diam sejenak, kemudian mengambil pakaiannya yang masih berada di koper, lalu masuk ke kamar mandi.


20 menit kemudian, Enzy terlihat menuruni anak tangga, menggunakan pakaian rumahannya, tampak ia sudah sangat segar namun masih terlihat jelas mata sembabnya bekas nangis cukup lama tadi dan akhirnya tertidur. Khay yang melihatnya merasa sangat bersalah.


"Ayo makan ! Makanannya sudah siap !" Ajak Khay sibuk menuangkan air mineral ke dalam gelas.


Tanpa menjawab Khay, Enzy langsung menuju meja makan.


Keduanya menikmati makan siang mereka dengan hening, hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.


Setelah selesai makan, Enzy membereskan semuanya, membawanya ke dapur, kemudian mencuci bekas peralatan makan mereka.


Sekitar sepuluh menit, Enzy selesai merapikan piring dan sendok beserta gelas pada tempatnya semula, tanpa ada kata sepatah katapun Enzy melewati Khay yang duduk di depan TV begitu saja, dan langsung menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya.


"Apa dia benar-benar marah ?" Gumam Khay melihat sikap dingin Enzy sambil memperhatikan punggung Enzy yang semakin menjauh.


Khay mematikan TV, lalu mengikuti Enzy ke kamar. Saat masuk kamar, Khay mendapati Enzy menyusun pakaiannya kedalam lemari.


"Biar aku bantu !" Ucap Khay membuka koper lainnya, sedangkan Enzy hanya mengangguk menanggapi.


Khay mulai menyusun pakaiannya sendiri di disamping lemari milik Enzy, sesekali Khay melirik Enzy yang sibuk merapikan barang-barangnya.


"Apa kamu masih marah ?" Khay memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak." Jawab singkat Enzy sambil menyusun beberapa parfum dan alat make up seadanya di atas meja riasnya.


"Maaf..." Khay kembali mengucapkan permintaan maafnya.


"Maaf untuk apa ? Tanya Enzy dingin.


"Untuk sikap aku yang tadi." Jawab Khay mendekati Enzy yang duduk di depan meja riasnya.


"Aku sudah memaafkanmu." Sahut Enzy masih dengan sikap dinginnya.


"Enzy, aku tulus meminta maaf kepadamu, tapi kenapa kamu malah bersikap dingin kepadaku ?" Tanya Khay berdiri dibelakang Enzy, sambil melihatnya di pantulan cermin di depannya.


"Khay, kamu tahukan pernikahan kita ini karena apa ? Aku mohon beri aku waktu untuk menerima semuanya, dan akupun sebaliknya, aku tidak akan pernah menghalangimu atau menahanmu untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan kamu sebelumnya." Ucap Enzy menatap Khay lewat pantulan cermin di hadapannya.


"Tapi Nzy, aku akan belajar untuk memulai semuanya, dan aku akan mencoba untuk mengerti dan mengenalmu lebih lagi, begitupun sebaliknya." Sahut Khay tak terima dengan ucapan Enzy berusan.


"Jika itu mau kamu lakukan lah, tapi jujur aku masih belum bisa menerima semuanya Khay, bahkan aku masih belum bisa melupakan kejadian yang menimpaku belakangan ini." Ucap Enzy matanya kembali berkaca-kaca.


"Terserah bagaimana mau kamu, aku akan mengikuti keputusanmu." Ucap Khay kesal langsung meninggalkan kamarnya.


Sedangkan Enzy hanya bisa menatap dirinya di cermin, ia mencoba menetralkan kembali emosinya, setelah dirasa sudah lebih baik, ia kembali merapikan semua barangnya, bahkan ia juga melanjutkan merapikan barang-barang milik Khay.


Sedangkan di ruang tengah Khay, membaringkan badannya di sofa, sambil menutup matanya menggunakan lengan kanannya, sedangkan lengan kirinya ia letakkan di atas perutnya.


Bersambung......


Jangan lupa LIKE, KOMEN, DAN VOTE....


TERIMAKASIH 🙏🙏🙏❤️❤️❤️🤗🤗🤗