Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 87 Season 3 (Next Generasi)


Setibanya di kamar Khay langsung berjalan menuju balkon kamarnya, menampakkan suasana malam dengan cuaca yang sejuk. Khay menumpuhkan kedua tangannya di pagar penghalang di balkon, dengan memandang bintang yang saat itu tidak terlalu banyak.


"Yank..." Ucap Enzy memeluk suaminya itu dari belakang, melingkarkan lengannya di bahu Khay, sambil menyandarkan kepalanya di punggung pria tersebut.


Khay menarik istrinya itu pergi kedepannya, lalu memeluknya dari belakang, mencium dalam-dalam aroma shampo yang tadi wanita itu gunakan.


"Yank, aku tahu, kamu tidak bermaksud membantah ayah tadi, dan ayahpun sebaliknya, aku yakin ayah tak sengaja membentakmu tadi." Ucap Enzy mengusap tangan Khay yang kini melingkar di perutnya, sesekali pria tersebut mengusap lembut perut Enzy yang mulai membuncit.


"Aku tahu sayang, aku hanya gak habis pikir kenapa ayah harus seperti itu, aku rasa ayah berubah sekarang." Ucap Khay menatap lurus kedepan sambil menumpuhkan dagunya di atas kepala Enzy.


Enzy menghela nafas pelan, kemudian memutar badannya menghadap suaminya itu, sambil melingkarkan tangannya di leher Khay sambil mendongakkan menatapnya, begitupun Khay yang menundukkan sedikit wajahnya ikut menatap manik mata istrinya itu.


"Yank, mungkin ayah hanya ingin melindungi Kia, ia ingin yang terbaik buat Kia, hal itu membuat ayah sedikit melenceng dari sikap dan sifat ayah yang seperti dulu." Ucap Enzy lembut.


"Sudahlah sayang, lebih baik kita tidak usah membahas ini." Sahut Khay.


"Sayang, bagaimana hari ini, capek gak, kamu gak rewelkan diperut mommy ?" Khay mengubah posisinya berjongkok dihadapan perut Enzy, kemudian mengajak calon anaknya itu sambil mengusap pelan perut Enzy, sesekali Khay juga menciumi perut istrinya itu.


"Mommy ?" Enzy mengerutkan keningnya menatap Khay dikalah mendengar Khay menyebutnya mommy.


"Iya sayang, aku ingin nanti anak kita manggil kita dengan sebutan Daddy dan mommy." Sahut Khay masih asik bermain di depan perut buncit Enzy.


"Terserah kamu aja deh, aku ikut aja." Sahut Enzy sambil mengusap lembut rambut suaminya itu.


...----------------...


Sedangkan dikamar Kia, terlihat Kia sedang duduk termenung di tempat tidurnya, besok ia tidak lagi pergi ke sekolah, karena lusa dia, bunda, dan ayahnya akan berangkat ke kota Z, entah kenapa ia tak ingin pergi dari kota tempat dimana ia dibesarkan.


Tiba-tiba air matanya kembali menetes mengingat semua apa yang telah terjadi, hatinya sangat sakit entah karena apa, yang jelasnya ia hanya merasakan sakit.


"Sayang, boleh bunda masuk ?" Teriak diva dari depan pintu kamarnya.


Kia buru-buru menghapus air matanya, kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka, agar tak terlihat kalau ia sedang menangis.


Setelah keluar dari kamar mandi, Kia membuka pintu untuk bundanya masuk.


"Kamu udah tidur ya dek ?" Tanya Diva.


"Enggak kok Bun, tadi aku habis dari kamar mandi." Jawab Kia.


"Boleh bunda bicara sebentar ?" Tanya Diva dan langsung mendapat anggukan dari putrinya itu.


Diva merangkul bahu putrinya itu masuk, dan duduk di sofa.


"Sayang, apa kamu benar-benar tidak keberatan dengan keputusan ayah, yang akan memindahkan mu, ke kota Z, tinggal bersama opa oma disana ?" Tanya Diva lembut sambil merapikan anak rambut Kia.


Bukannya menjawab Kia malah terdiam, sambil melihat ke arah lain.


"Dek, jika kamu tidak ingin pindah, bunda akan membujuk ayah, agar kamu tidak di pindahkan." Ucap Diva.


"Enggak kok Bun, adek gak keberatan dengan keputusan yang ayah buat, mungkin itu yang terbaik buat adek, aku hanya merasa sedih karena harus tinggal berjauhan dengan kalian nanti, dan juga meninggalkan teman-teman dan sahabat-sahabat aku disini." Ucap Kia setelah beberapa detik diam kemudian memberanikan menatap bundanya.


"Menurut adek, om Kavi bagaimana ?" Tanya Diva membuat Kia terkejut dengan pertanyaan Bundanya itu.


"Maksud bunda apa ? Adek gak ngerti." Kia malah balik bertanya karena bingung dengan pertanyaan bundanya yang tiba-tiba menanyakan soal Kavi.


"Maksud bunda, om Kavi di mata kamu bagaimana, apakah dia baik, atau bagaimana, yang jelasnya menurut kamu, gitu dek." Sahut Diva.


"Ohhh, Om Kavi menurut aku sih baik Bun, tapi karena dia mengaku menyukaiku, aku jadi menghindarinya." Ucap Kia polos.


"Apa kamu membencinya ?" Tanya Diva lagi.


"Benci ? Tanya Kia dan dijawab anggukan boleh Diva.


"Iya, sejak om Kavi mengajar disekolah aku, aku jadi suka kesal melihatnya, dia selalu saja mencari-cari kesalahan aku, kemudian memberiku hukuman." Jelas Kia.


"Oh iya ?" Tanya Diva


"Terus ?


"Aku pergi ke kantin, dan saat jam pelajaran selesai aku kembali ke kelas, tapi aku bertemu kembali, dan memberitahukan kalau pertemuan besok ada tugas dan harus selesai.


"Ke esokan, sialnya lagi, aku menjatuhkan buku tugas aku itu, dan lagi-lagi dia menghukummku, karena tidak mengumpulkan tugas, dan dia menghukummku membersihkan ruangannya, tapi aku tolak, dan tidak memenuhi hukuman yang dia berikan." Jelas Kia panjang lebar.


"Apa dia gak marah kalau kamu tidak menjalankan hukuman yang di berikan ?


"Enggak tahu juga sih Bun, soalnya aku langsung pergi dari sana."


"Adek pernah ada perasaan suka gak sama om Kavi ?" Tanya Diva berhasil membuat Kia lagi-lagi terkejut mendengar pertanyaan bundanya.


"Suka bagaimana maksud bunda ?"


"Suka, layaknya seorang perempuan terhadap laki-laki." Jawab Diva.


Kia diam sejenak mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamarnya.


"Tidak Bun, adek tak pernah memiliki perasaan suka yang seperti bunda katakan." Jawab Kia.


"Dari pertama aku kerja atau jadi asisten om Kavi, aku hanya mengganggap om Kavi sebagai sahabat ayah dan menghormatinya selayaknya om buat aku, itu aja gak lebih." Kia beralih menatap bundanya itu.


"Ya sudah, kalau begitu kamu sekarang istrirahat ya, bunda juga mau istirahat.!" Seru Diva kemudian mengecup kening putrinya itu.


Setelah kepergian Diva tiba-tiba air mata Kia kembali keluar, entah karena apa, Kia menangis seperti itu, ia memegang dadanya, seolah dihimpit batu besar.


...----------------...


Hari ini, Kia dan kedua orangtuanya akan berangkat ke kota Z, Kenan sengaja membawa mobil sendiri, ia ingin menikmati perjalanan yang cukup menyenangkan menuju kota Z, dengan disuguhi pemandangan perbukitan dan pegunungan yang sejuk.


Sebelum berangkat Diva terus mewanti-wanti Khay agar menjaga Enzy, karena dalam keadaan hamil muda.


"Ingat bang, jaga istri kamu, jangan membuatnya stres dan kecapean." Ucap Diva entah kesekian kalinya.


"Iya Bun, ini sudah kesekian kalinya bunda mengatakan itu, tanpa bunda surupun aku pasti ngelakuin itu." Ucap Khay.


"Dek, kamu jaga diri baik-baik ya disana, kalau aku sempet aku akan kesana." Ucap Khay beralih pada Kia.


"Gak usah, gue gak butuh dijenguk orang kek kamu itu bang." Sahut Kia.


"Ya Allah, Yah, Bun gini amat aku punya adek, Bun, Yah bisa tukar tambah aja gak ?" Khay beralih pada kedua orangtuanya.


"Enteng banget tuh mulut ngomong, yang ada kamu yang mau ditukar tambah, ngeselin dasar bangkhay." Seru Kia tak mau kalah.


Keluarga tersebut terlihat sangat harmonis, di tambah Kedua kakak beradik itu tak pernah akur.


"Ya sudah kalian berdua ayah tukar tambah aja, sepertinya kalian berdua cukup aku tukar dengan mobil klasik tua yang selama ini ayah inginkan." Sahut Kenan membuat kedua putra dan putrinya itu memekik kesal, seketika itu juga Kenan tertawa, sedangkan Diva hanya bisa geleng-geleng Kepala.


"Sudah ! Ini jadi pergi gak sih, kalau gak jadi lebih baik aku pergi cari gedung." Timpal Diva.


"Buat apa gedungnya Bun ?" Tanya Kenan, kgayvdan Kia hampir bersamaan.


"Buat buka showroom, bunda mau jual koleksi-koleksi mobil dan motor kalian." Ucap Diva enteng.


"Duhhh, kira-kira bunda dapat berapa banyak duit ya, Nzy kamu ikut bunda ya !" Lanjut Diva seolah-olah ia membayangkan banyaknya yang ia dapat jika menjual koleksi milik anak-anak dan suaminya itu, kemudian beralih pada Enzy yang sejak tadi hanya diam sambil senyum-senyum mendengar ucapan mereka.


Bersambung..........


Jangan lupa terus berikan LIKE KOMEN dan juga VOTE, dan mohon kritikan dan sarannya, maohon maaf jika alurnya membosankan, tapi inilah alurnya,,,,,,,,,


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...