Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 44 Season 2


Seminggu telah berlalu, hubungan pertemanan antara Diva dan Calista semakin dekat, bahkan tak jarang Calista bertamu di rumah keluarga kecil Kenan, tapi tentu saja jika Kenan sedang barada di kantor, karena Diva tidak mau sampai Calista mencuri-curi kesempatan untuk memandangi suaminya.


Hari ini Diva dan Calista mengadakan pertemuan di salah satu Cafe tak jauh dari perusahaan milik suaminya, hari ini Diva sengaja menelfon Kenan bergabung untuk makan siang bersama.


📞 "Assalamualaikum by', Kamu sudah makan siang belum ?" Tanya Diva


📞 "Walaikumsalam, sudah emangnya kenapa ?" Sahut Kenan terdengar ketus. Diva sengaja meninggikan volume ponselnya agar Calista bisa mendengar percakapan mereka.


📞 "Kok kamu ketus begitu sih ? Kamu masih marah soal yang semalam, sudah aku jelaskan kalau dia cuma sahabat aku." Ucap Diva ikut kesal.


📞 "Sudahlah, bersenang-senanglah, kamu enggak usah pedulikan aku, pasti kamu juga lagi sama cowok kamu itu kan?" Ujar Kenan langsung mamatikan sambungan teleponnya secara sepihak, membuat Diva mengeram kesal.


Calista yang mendengar pertengkaran mereka lewat telpon tersenyum menyeringai, ia langsung kembali menormalkan ekspresinya saat Diva melihat ke arahnya.


"Sorry ya, suami emang seperti itu akhir-akhir ini, dia selalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan tak jarang ia pulang larut malam, karena alasan lembur, terus sampai rumah ia sensian aja kerjaannya, bahkan menurut aku sekarang ini dia benar-benar berubah, bahkan aku ketemu sama sahabat cowok aku aja dia besar-besarkan padahal ia tahu sendiri kalau kami cuma bersahabat." Diva menceritakan soal hubungan rumah tangganya kepada Calista tak lupa dengan mimik wajahnya terlihat sangat kesal.


"Eh... Maaf ya aku jadi curhat ke kamu, padahal kan rencana kita membahas soal proyek." Ujar Diva.


"Enggak apa-apa kok, kalau kamu butuh teman curhat, aku sebagai teman kamu aku bisa mendengarkan dan mencoba memberikan solusi kalau aku bisa." Ujar Calista.


"Terimakasih ya." Ucap Diva memegang tangan Calista.


"Kamu tidak perlu berterimakasih, sekarang kita kan teman." Calista kembali berujar.


"Baiklah Adiva, aku akan memanfaatkan kesempatan ini, buat memisahkan kalian." Batin Diva sambil tersenyum manis ke arah Diva dan tentu saja senyuman itu palsu.


Diva dan Calista makan siang bareng, setelah makan ia membahas masalah proyek di kota S, setelah sekitar 40 menit membahas masalah proyek, Diva pamit duluan untuk segera pulang, karena ia sudah terlalu lama meninggalkan putranya.


Setelah kepergian Diva, Calista pun ikut meninggalkan Cafe tersebut.


🍀🍀🍀


Diva kembali kerumahnya, saat baru saja masuk ke dalam rumah ia melihat Kenan sedang duduk di ruang tamu, sambil bersedekap dada dengan menatap tajam Diva.


"Dari mana saja kamu ?" Bentak Kenan.


"Kamu tahu sendirikan kalau aku ketemu sama Calista di Cafe." Sahut Diva acuh.


"Jangan bohong kamu ?" Kenan kembali membentak.


"Kok kamu bentak-bentak aku sih by' ? Salah aku apa ?" Tanya Diva bingung melihat Kenan tiba-tiba membentaknya, karena Kenan tidak biasanya bersikap seperti itu.


"Kamu mau tahu salah kamu apa, Hem ? Salah kamu, kamu sudah sudah berani jalan sama pria lain."


"Pria lain siapa ?" Diva masih bingung.


"Pria yang kamu bilang di telfon tadi, saat kamu di Cafe bersama wanita ular itu." Jelas Kenan lalu tertawa terbahak-bahak...


"Astagaaa by', aku kira kamu beneran marah-marah sama aku." Ujar Diva berhambur memeluk Kenan yang masih dengan sisa-sisa tawanya.


"Hahaha, bagaimana dengan Calista, apa dia benar-benar percaya dengan akting kamu tadi yank?" Kenan masih terdengar tertawa, namun tak sampai terbahak-bahak seperti sebelumnya.


"Sepertinya dia percaya, dan aku yakin dia merencanakan sesuatu deh." Tebak Diva.


"Ya sudah, yang penting saat kamu dekat dengannya kamu harus hati-hati, yuk ke kamar !!" Kenan merangkul lengan Istrinya itu lalu keduanya berjalan menaiki tangga menuju kamar.


"Kamu baru saja dari luar, lebih baik kamu bersihkan badan kamu terlebih dahulu !" Ujar Kenan mengedipkan sebelah matanya.


"Ish.... Awas aja kalau kamu macam-macam, lagian ini setengah tiga sore tumben-tumbennya sudah di rumah ?" Diva membuka pintu kamarnya lalu masuk bersama Kenan yang masih merangkulnya.


"Aku mau makan siang." Ujar Kenan.


"Tapi kata kamu tadi, kamu sudah makan ?" Ujar Diva meletakkan tasnya di atas meja dekat sofa, lalu berjalan ke arah walk in closed.


"Makan kamu belum yank." Sahut Kenan mengikuti Diva dan langsung memeluknya dari belakang.


"Aishh...." Enggak ada jatah sore hari ini, aku capek by'." Ujar Diva, ia mengerti maksud perkataan suaminya yang ingin memakannya.


"Sebentar aja yank, satu rakaat deh..." Kenan terdengar memelas sambil menciumi tengkuk Diva.


"Enggak ada, kamu biasanya bilang satu rakaat, tapi jadinya berakat-rakaat mengalahkan sholat yang biasanya empat rakaat." Tolak Diva melepaskan tangan Kenan yang melingkar di perutnya.


"Yank, aku bela-belain loh, ninggalin kerjaan aku yang menumpuk, demi cepat pulang dan mengais pahala sama kamu Yank." Ujar Kenan masih belum menyerah membujuk istrinya agar Diva mau melakukan sunnah nabi yang janjinya hanya satu rakaat kata Kenan.


"Siapa suru juga kamu pulang cepat ! Biasanya juga pulang paling cepat jam lima sore." Acuh Diva menyiapkan pakaiannya juga pakain untuk Kenan kenakan di rumah.


Kenan mengeram sambil mengusap wajahnya kasar karena Diva mengabaikan permintaannya.


Diva berjalan ke arah kamar mandi, saat Diva akan menutup pintu kamar mandi, dengan cepat Kenan menahannya, lalu ikut masuk secepatnya.


"By ngapain ikut masuk ?" Pekik Diva saat Kenan menyenderkan badannya di pintu agar Diva tak bisa membukanya kembali dan lari ke kamar Abang Khay.


"Aku mau mandi yank, mandi bareng pasangan kita juga dapat pahala loh yank, apalagi kita ambil satu rakaat pahalanya berlipat ganda yank." Ucap Kenan melepaskan kemeja kerjanya.


"Astagaaaa ya Allah suami aku kok tambah mesum aja ya?" Ujar Diva menaikkan kedua tangannya lalu menengadah ke atas.


"Sudahlah punya suami mesum juga kamu menikmati yank, ayo kita mandi." Kenan menarik tangan Diva lalu masuk ke bathup lalu mengisinya dengan air hangat dan beberapa aromaterapi, kini Kenan hanya menggunakan bokser, sedangkan Diva hanya memakai daleman.


Mau tak mau Diva terpakda mandi bareng dengan Kenan, dan sudah pasti mengambil beberapa rakaat jatah pahala yang di maksud Kenan, benar kata Diva, Kenan pasti bukan hanya mengambil jatah rakaatnya satu rakaat saja, tapi beberapa rakaat, hingga keduanya mandi sampai sejam lebih.


"Sudah yank, enggak usah cemberut gitu, kamu juga nikmatin kan ? Ujar Kenan sambil membantu Diva mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


"Kamu sih, bilangnya satu rakaat doang, tapi sampai enggak tahu deh Samapi rakaat keberapa." Omel Diva.


"Kamu sih, bikin nagih jadinya aku enggak tahan jadi kebablasan sampai beberapa rakaat." Sahut Kenan lalu mencium pucuk kepala istrinya.


"Nih sudah kering rambutnya !" Ucap Kenan lalu membereskan kembali hairdryer milik Diva pada tempatnya.


"Ya sudah, aku mau liat Abang dulu." Diva beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar kamar.


"Ikut yank." Kenan menyusul istrinya untuk menemui putra kesayangan mereka.


Bersambung....


Budayakan like, komen, dan juga vote sebanyak-banyaknya, agar Authornya tetap semangat buat nulis, maaf sedikit lambat buat up, soalnya aku lagi up novel yang lain, klik profil Author dan mampir ke karya aku lainnya, di jamin tak kalah seru.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️