
Setelah mendengar kabar Sahabatnya mengalami kecelakaa, Diva dan teman-temannya langsung menuju rumah sakit, menggunakan mobil Jova, sedangkan Lani mengendarai motornya.
Karena bell masuk pun belum berbunyi, jadi mereka pergi begitu saja dengan izin kepada ketua kelasnya.
Selama perjalanan Diva dan teman-temannya terus berdoa semoga sahabatnya dan Sisi baik-baik saja.
Rafa kecelakaan saat ia menjemput Sisi untuk berangkat kesekolah. Rafa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, karena jalanan masih lenggang, dan Sisi juga harus secepatnya sampai kesekolah karena ada tugas yang harus dia kumpulkan. Saat Akan melewati mobil di depannya, tiba-tiba ada sebuah truk dari arah berlawanan, karena Rafa kaget dengan ditambah laju motor Rafa dengan kecepatan tinggi tidak dapat lagi ia hindari.
Braggg.....
Motor Rafa masuk ke kolong truk, bersama dengan Rafa untuk truk itu langsung berhenti jadi Rafa dan motornya tidak terlindas. Sedangkan Sisi terpental jauh tubuh Sisi tertabrak dengan mobil yang Rafa lewati.
Tak lama polisi dan ambulance segera mengevakuasi Rafa dan juga Sisi langsung membawa mereka kerumah sakit terdekat karena keduanya terluka parah dan sudah tak sadarkan diri, sedangkan motor Rafa hancur dibawah kolong truk.
Sekitar Empat puluh menit Diva dan kawan-kawan tiba dirumah sakit, dengan segera mereka masuk langsung menuju kemeja resepsionis.
"Sus, korban kecelakaan di jln.Sss dimana ?" Tanya Diva.
"Mereka diruang UGD masih dalam penanganan dokter." Jawab suster yang bertugas.
"Diva" Panggil Tante Dina saat melihat Diva dan kawan-kawan berjalan kearahnya.
"Tante bagaimana keadaan mereka?" Tanya Diva langsung memeluk Tante Dina.
"Masih ditangani dokter sayang." Jawab Tante Dina.
Tante Dina dan Diva memang sangat dekat seperti ibu dan anak, Tante Dina dan Bunda Hani selalu mengatakan kalau Rafa dan Diva saudara kembar.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Dokter Rian yang menangani mereka keluar dan memandang kearah mereka, disana juga sudah ada orangtua Sisi.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya" Teriak mama Sisi.
Sedangkan Diva terus menatap Dokter Rian menuntut penjelasan.
"Maaf nyonya, tuan, kami sudah melakukan semampu dan semaksimal yang kami bisa, namun Tuhan berkehendak lain, Pasien wanitanya tidak bisa kami selamatkan, Pasien mengalami luka dalam, dan bagian kepalanya sehingga pembuluh darah pecah." Terang Dokter Rian.
Seketika mama Sisi luruh kelantai, dengan perasaan sangat hancur kehilangan anak gadis satu-satunya. Papa Sisi memapah istrinya itu masuk melihat jenazah anaknya.
"Anak saya bagaimana dokter ?" Tanya Tante Dina.
"Maaf Nyonya, Anak ibu kritis, dan harus segera di operasi karena ada kerusakan bagian dalam cukup parah.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter." Sahut Pak Malik.
" Tentu kami akan melakukan yang terbaik tuan, ini sudah menjadi tanggung jawab kami, Mari silahkan ikut saya untuk menyelesaikan beberapa dokumen persetujuan operasi."
Pak Malik segera ikut keruangan dokter Rian untuk menyelesaikan semua administrasi yang diperlukan.
Kini Diva dan kawan-kawan beserta orangtua Rafa berada di depan ruang operasi, sedang menunggu jalannya operasi, mereka terlihat sangat khawatir, dan melafalkan doa-doa supaya Rafa selalu dalam lindungan Allah, dan akan baik-baik saja.
Tiba-tiba ponsel Diva berdering tanda panggilan masuk, dan yang menghubungi adalah Kenan.
📞 "Assalamualaikum by'." Ucap Diva
📞 "Walaikumsalam yank, Kamu sudah istirahat ?" Tanya Kenan.
📞 "Tidak by', ini aku lagi dirumah sakit." Jawab Diva.
📞 "Kok bisa dirumah sakit, kamu sakit Yank.?" Tanya Kenan terdengar sangat khawatir.
📞 "Aku baik-baik saja, Rafa tadi kecelakaan by'.
📞 "Ya sudah yank, kamu serlok aja sekarang kamu dimana, aku akan segera kesana"
📞 " Pertemuan kamu dengan klaiyen bagaimana ?" Tanya Diva.
📞 " Pertemuannya sudah selesai kok Yank." Ujar Kenan, sekarang kamu serlok, Assalamualaikum."
Setelah sambungan teleponnya terputus Diva segera mengirim alamat rumah sakitnya kepada Kenan.
Sedangkan jenazah Sisi sudah dibawa pulang oleh keluarganya, sebelumnya orangtua Rafa memberi ucapan bela sungkawa, dan meminta maaf karena Rafa, Sisi meninggalkan mereka semua.
Setelah kurang lebih dari dua jam, akhirnya operasinya selesai.
Dokter Rian mebuka pintu ruangan, dengan segera mereka mendekati dokter, Kenan dan beserta Bunda Hani juga sudah berada disana.
"Bagaimana operasinya dok, bagaimana keadaan anak saya ?" Tanya Pak Malik.
"Semuanya berjalan lancar Pak, pasien sudah bisa dipindahkan diruang rawat, tapi pasio belum sadar karena masih dalam pengaruh obat bius, mungkin nanti malam sudah sadarkan diri, Tapi kami akan tetap memantaunya dalam 1jam sekali." Terang dokter Rian dan pamit meninggalkan mereka.
Setelah Rafa dipindahkan Diva dan kawan-kawan pamit untuk pulang, karena mereka akan kerumah Sisi untuk mengantar kekasih sahabatnya ke peristirahatan terakhirnya.
Malamnya Diva, Kenan dan Arka kembali kerumah sakit sebelumnya Diva dan Kenan kembali kerumahnya untuk berganti pakaian setelah dari ke pemakaman Sisi.
"Emm ... Si ... si ..." Rafa bergumam memanggil nama Sisi, dan perlahan membuka matanya.
Tante Dina yang melihat Rafa sadarkan diri langsung menghampiri anaknya itu sambil mengusap pelan kepala Rafa yang berbalut perban.
"Ma, Sisi dimana, dia baik-baik saja kan.?" Sahut Rafa langsung menanyakan keadaan kekasihnya.
Semua yang berada diruangan itu, tampak bingung harus mengatakan apa.
Rafa melihat kearah orangtuanya bergantian kearah Diva.
"Sisi dimana ?" Rafa mengulangi pertanyaannya dengan suara masih lemah.
"Dia baik-baik Saja Nak, sekarang kamu istirahat dulu, atau kamu mau makan sesuatu." Ucap Tante Dina mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan sesuatu.
"Apa benar dia baik-baik saja Ma, kenapa perasaanku mengatakan kalau dia sedang tidak baik-baik saja." Ujar Rafa menatap kearah mamanya.
"Dia baik-baik saja, sekarang kamu istirahat." Ucap Tante Dina merapikan selimut anaknya itu.
Diva mendekat kepada sahabatnya, Diva duduk di kursi samping brankar sambil memegang tangan Rafa. setelah Tante Dina pindah kesofa.
"Elu cepat sembuh, sekolah tidak akan rame kalau kagak ada elu.
"Sekarang gue mau pulang dulu, lu istirahat Jangan Benyak gerak." Ucap Diva kepada sahabatnya itu.
Rafa hanya tersenyum dan mengangguk, Rafa masih memikirkan keadaan Sisi.
Arka dan Kenan pamit kepada Rafa, juga kepada kedua orangtua Rafa.
Selama perjalanan Diva hanya diam memikirkan bagaimana Rafa saat ia mengetahui kalau Sisi telah tiada.
Bersambung....
Assalamualaikum para readers maaf kalau Upnya agak lama, itu karena faktor jaringan tidak mendukung.
Dan satu lagi mohon pendapat, kritik dan saran dari kalian supaya Author bisa menulis lebih baik lagi, apalah arti Author jika tanpa kalian para pembaca setia.
mohon tinggalkan jejak
Like
Coment
Vote
Salam sayang dari Author
🤗🤗🤗❤️❤️❤️🙏🙏🙏