
Setelah makan malam seperti biasa, keluarga Al Fariziq berkumpul di ruang keluarga, hanya sekedar bersantai atau saling bertukar pendapat mengenai kedepannya, hal ini wajib di lakukan atas dasar kemauan Kenan tentunya, alasannya untuk menambah kehangatan dan kedekatan kekeluargaan mereka, karena jika pagi hingga sore mereka tidak sempat berkumpul seperti ini, karena kesibukan masing-masing, tau sendirilah kesibukan mereka seperti apa terutama Kenan dan Kavi sebagai CEO perusahaan terbesar no satu dan dua di negeri tersebut.
"Kav, dengar-dengar produksi salah satu film yang tayang di stasiun kamu di tolak untuk di fublik ? Apa itu benar ?" Tanya Kenan sudah mendengar isu tersebut.
"Benar ya, tapi team produksi sudah merubah sebagian scan yang ada di film tersebut." Jawab Kavi.
"Apa bisa seperti itu ?" Tanya Kenan karena ia kurang mengerti di bidang pertelevisian.
"Bisa yah, mungkin filmnya bakal di rubah sampai 60% dari cerita dan beberapa scan, ada pula beberapa adegan yang di hilangkan." Jelas Kavi.
"Pasti membutuhkan biaya lebih lagi jika seperti itu ? Apa tidak merugikan ?"
"Benar yah, soal biaya produksi sudah pasti kita menambahkan biaya lebih lagi, tapi film sebelumnya dapat di terima di sebagian negara, dan dari situlah kita mendapatkan keuntungan dan bisa menutupi produksi yang akan dirubah itu untuk penayangan khusus di negara kita." Jelas Kavi membuat Kenan mengangguk mengerti.
Kenan tidak pernah meragukan kemampuan menantunya itu soal berbisnis, Kenan akui Kavi benar-benar berbakat di dunia tersebut, apalagi di dunia bidang bisnis pria tersebut.
"Andaikan Khay mau membantu ayah di perusahaan pusat pasti aku tidak terlalu kerepotan, tapi sepertinya anak itu lebih fokus pada club olahraga yang ia jalankan sekarang." Ucap Kenan.
"Ayah coba bicarakan lagi dengan sungguh-sungguh !" Saran Kavi.
"Sudah Kav, tapi anak itu tetap aja ngeyel, katanya ia belum sanggup untuk mengelola semuanya, apalagi saat ini ia juga sudah menjalankan perusahaan peninggalan mertuanya." Jelas Kenan.
"Maaf yah, aku juga belum bisa banyak membantu, mungkin setelah beberapa permasalahan kecil di perusahaan ku selesai, aku baru bisa." Ucap Kavi sedikit tak enak hati, karena Kenan juga sudah memintanya untuk membantunya tapi untuk sekarang ia belum bisa menghedel semuanya, walaupun sesekali Kavi menggantikan ayah mertuanya itu untuk menemui klaiyen.
"Emmm tidak apa-apa, aku mengerti." Sahut Kenan.
"Ayah kenapa sih sebenarnya, pengen banget kayaknya anak dan menantumu itu membantumu." Timpal Diva yang sejak tadi sibuk melihat-lihat beberapa pakaian dan perlengkapan lucu untuk bayi lewat situs media sosial.
"Sebenarnya aku sudah ingin pensiun yank, aku ingin keliling dunia untuk menikmati masa tua kita." Jawab Kenan menjelaskan apa yang sebenarnya ada di pikirannya.
"Yang ngaku udah tua." Ejek Kia mendengar penuturan ayahnya.
"Ckk...maksud ayah, ayah ingin menikmati kehidupan pernikahan ayah dengan santai, tanpa ada kesibukan pekerjaan, karena dari ayah menikah ayah sama bunda tidak pernah merasakan kehidupan tanpa pekerjaan, jadi berhubungan anak-anak ayah sudah dewasa ayah ingin seperti opa Salman menikmati pensiun dini, menyerahkan semua tanggung jawab pekerjaan kepada kalian." Jelas Kenan.
"Tapi sepertinya ayah masih harus menunggu itu akan terjadi." Lanjutnya.
"Ayah tenang saja, lagian ayah belum tua-tua amat." Ucap Kia.
"Bener itu, sepertinya ayah masih kuat." Timpal Kavi menaok turunkan alisnya menggoda mertuanya itu.
Kenan yang mengerti maksud perkataan menantunya itu dengan cepat membenarkan nya.
"Ya jelas, jika bisa, ayah masih bisa membuatkan istrimu itu adik sampai empat atau lima lagi." Sahut Kenan.
"Enak saja, emang aku ini kucing." Sahut Diva mendengar perkataan suaminya yang nyeleneh itu.
"Iya, lagian kenapa gak bisa sih yah !" Tanya Kia pasalnya ia tidak tahu kenapa ayah nya mengatakan "Jika bisa" ?"
"Bunda sudah tidak memiliki rahim sayang, rahim bunda di angkat saat melahirkan kamu dulu." Jelas Diva sendu mengingat ia tidak bisa memberikan keturunan lagi buat suaminya.
"Maaf Bun, aku tidak tahu, maaf jika aku membuat bunda bersedih, dan maaf juga gara-gara ngelahirin aku bunda sampai kehilangan rahim." Ucap Kia memeluk bundanya sambil menangis.
"Sudah sayang, kamu tidak perlu meminta maaf apalagi menyalahkan dirimu sendiri, bunda tidak pernah menyalahkan siapapun karena rahim bunda di angkat, dengan memiliki putra dan putri seperti kamu dan juga Abang kamu, bunda sudah sangat bersyukur dan bangga, dan perlu kamu ingat, ini semua takdir yang sudah di tetapkan Allah untuk bunda, dan apapun yang Allah tetapkan untuk kita itu adalah hal yang terbaik untuk kita.." Ucap Diva mengelus punggung Kia yang memeluknya erat dari samping.
"Iya Bun." Sahut Kia.
"Sekarang nangisnya udahan, apa kamu tidak malu nangis seperti ini di depan suamimu, mana putri bunda yang dulu, putri bunda yang kuat dan tidak cengeng yang tidak gampang nangis, bunda tidak ingin melihat putri bunda ini lemah dan cengeng, apalagi sekarang kamu sudah mulai dewasa sayang, bahkan sudah ingin menjadi ibu." Ujar Diva.
Di kamar pasangan lawas siapa lagi kalau bukan tuan Kenan dan nyonya Kenan.
"Yank..." Panggil Kenan sambil berjalan mendekati Diva yang sibuk melakukan perawatan wajah sebelum ia tidur di meja riasnya.
Diva hanya berdehem menanggapi suaminya itu yang sudah berdiri di belakangnya sambil memegang bahunya, Diva menatap suaminya itu lewat pantulan cermin seolah ia bertanya ada apa ? Pasalnya Diva tidak ingin berbicara takut masker di wajahnya mengkerut.
"Yank, masih lama gak ?" Tanya Kenan kemudian menumpukan dagunya di atas kepala Diva.
"Sedikit lagi." Jawab Diva hanya terdengar seperti gumaman.
"Cepetan dong yank !" Seru Kenan.
Diva memutar bola matanya malas, ia tahu maksud dari suaminya itu menyuruhnya cepat-cepat.
Karena dirasa cukup Diva melepaskan maskeran diwajahnya, kemudian beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju tempat tidur di ikuti Kenan yang sejak tadi tak mau jauh darinya.
"Yank." Kenan menenggelamkan wajahnya di dada istrinya itu setelah mereka berbaring dengan selimut menutupi tubuh mereka hingga batas pinggang.
"Ada apa by', lebih baik kamu tidur, ini sudah mau larut, besok kamu ada rapat !" Seru Diva sudah memejamkan matanya sambil mengusap pelan rambut suaminya.
"Yankk, kangen." Ucap Kenan semakin mengeratkan pelukannya.
"Setiap hari juga ketemu by', Mada kangen ?"
"Bukan kangen seperti itu yank, aku kangen buat makan kamu, rasanya sudah lama gak makan kamu Yank." Ujar Kenan.
"Lama kamu bilang by' ? Perasaan baru dua malam yang lalu kita ngelakuin itu." Diva membuka matanya mendengar penuturan suaminya.
"Itu lama menurut aku yank, yank kita lakuin lagi yuk !" Kenan mendongak menatap istrinya dengan tatapan penuh gairah.
"Astagafirullah by', ingat umur !" Seru Diva.
"Kita masih muda yank."
"Muda dari mana ? kita aja udah mau punya cucu." Ujar Diva.
"Kita masih muda yank, baru juga umur 40, lagian kita mau punya cucu karena anak kita aja yang nikahnya kecepatan." Ujar Kenan kemudian tanpa persetujuan dari Diva Kenan langsung membungkam mulut Diva dengan mulutnya saat Diva akan kembali berujar, Kenan me***mat bibir istrinya dengan lembut namun mampu menggetarkan perasaan Diva, Diva benar-benar tidak bisa menolak dengan belaian dan perlakuan lembut suaminya saat melakukan hubungan intim, Kenan selalu memperlakukannya dengan sangat hati-hati, selalu memuja tubuhnya dengan perasaan sayang dan cinta, sehingga membuat Diva merasa sangat disanjung dan di hargai banget oleh suaminya tersebut.
Bersambung......
...Hay... Hay.... Readers Author balik lagi, maaf karena beberapa hari belakangan gak update, soalnya author drop sampai dirawat beberapa hari, dan sekarang Alhamdulillah Author sudah sedikit mendingan, dan sebisanya Author sempatkan untuk Update, sekalian memberi kabar buat readers setia ku.......
...Sekali lagi mohon maaf, dan doa kan Author secepatnya pulih kembali.......
...JANGAN LUPA...
...LIKE...
...COMENT...
...VOTE...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...