Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 118 Season 3 (Next Generasi)


"Bagaimana, kapan rencananya kamu akan membawa keluargamu datang untuk membicarakan soal rencana kamu untuk melamar putriku, Kav ?" Tanya Kenan kepada Kavi.


"Rencananya tiga hari lagi paman dan bibi saya akan datang dari luar negeri, karena hanya mereka keluarga terdekat saya." Jelas Kavi.


Ya, kini Kenan dan Kavi duduk di salah satu Cafe yang ada di kota Z, setelah Kenan mengecek cabang perusahaannya yang berada di kota Z, saat Kenan akan pergi ke salah satu outletnya yang bermasalah, tak sengaja ia bertemu dengan Kavi di depan Cafe yang berdekatan outlet Kenan.


"Kav..." Panggil Kenan, raut wajahnya kini berubah benar-benar serius menatap Kavi, begitupun Kavi menatapnya.


"Saya harap, setelah kamu menikahi putri saya satu-satunya, kamu tidak akan pernah menyakitinya, perlakukanlah dia bagaimana saya memperlakukannya, sayangi, cintai dia dengan sepenuh hatimu, jika kamu sudah merasa jenuh dengannya, ataupun merasa sudah tak lagi mencintainya, tolong jangan pernah sakiti dia, lebih baik kamu pulangkan dia kepadaku secara baik-baik sebagaimana kamu memintanya saat kamu ingin memperistrinya, dengan begitu saya tidak akan merasa di kecewakan, dan saya berjanji tidak akan mempermasalahkan hal itu." Ucap Kenan dengan penuh permohonan, tidak ada Kenan yang tegas dan dingin saat mengatakan itu.


"Kamu jangan khawatir soal itu Nan, kamu kenal saya sudah lama bukan, dan saya juga telah banyak belajar darimu, saya banyak belajar bagaimana kamu memperlakukan istri dan anak-anakmu, bagaimana kamu menyayangi, mencintai mereka dengan setulus hatimu, tidak hanya itu, saya juga sudah banyak belajar soal tanggungjawab mengenai keluarga, itu juga darimu, semenjak saya menyadari perasaanku terhadap Kia, saya sudah berjanji akan akan memberikan hatiku sepenuhnya untuknya." Ucap Kavi bersungguh-sungguh.


"Kamu jangan belajar dengan saya mengenai menjaga atau mencintai istriku Kav, saya bukanlah suami yang baik." Sahut Kenan sendu, lagi-lagi Kenan mengingat kebodohannya, dimana ia melukai hati istrinya dulu.


"Tapi kenapa ? Saya lihat kamu adalah suami bahkan ayah yang sangat menyayangi dan melindungi mereka, kamu benar-benar sosok suami dan sekaligus ayah yang sangat baik." Ujar Kavi.


"Itu yang kamu lihat, tapi kamu tidak mengetahui bagaimana saya dulu pernah menjadi suami sekaligus ayah yang sangat brensek, bahkan saya tidak mengetahui kalau Diva mengandung anak kedua kami yaitu Kia, bahkan saat Kia lahirpun saya tidak mengetahuinya." Jawab Kenan, mata pria itu mulai berkaca-kaca, Kenan menundukkan sedikit wajahnya berusaha menahan air matanya agar tak keluar, setelah dirasa lebih baik ia kembali mengangkat wajahnya seperti biasanya, datar, namun matanya masih terlihat memerah.


"Apakah saya bisa mengetahuinya, bagaimana ceritanya ? Maaf jika saya terlalu banyak ingin tahu." Ujar Kavi merasa tak enak karena kepo dengan masa lalu Kenan yang belum ia ketahui, Kavi merasa sedikit terkejut pasalnya ia sudah merasa sudah mengetahui semua tentang Kenan.


"Tidak apa-apa, tapi saya harap setelah kamu mendengar ceritanya, kamu tidak akan belajar dari saya, karena itu akan membuatmu menyesal, sama seperti saya.!" Seru Kenan dan di angguki Kavi.


Kenan sejenak terdiam, lalu ia mengambil nafas dalam-dalam, lalu menhembuskannya juga secara perlahan.


"Saat Khay berumur sekitar kurang lebih dua tahun, saya melakukan kesalahan yang sampai saat ini saya masih menyesalinya mungkin penyesalan saya ini akan saya rasakan sampai saya tidak lagi di dunia ini (Kenan pun menceritakan semua masalalunya dimana ia bekerjasama dengan Sarla untuk melindungi Diva dari kejahatan Clarisa juga dengan Disti, kedua wanita bersepupu itu, sampai Diva meninggalkannya membawa Khay dalam ke adaan sakit waktu itu, sampai Kenan koma sampai dua tahun.)


"Tapi itu demi melindungi kak Diva, dari kedua wanita itu." Sahut Kavi setelah Kenan menyelesaikan ceritanya.


"Benar, tapi tidak saya lakukan sangat keterlaluan, sampai beberapa kali bahkan hampir setiap hari saya melukai hati dan perasaan istri saya, bahkan saat Khay sakit saya seolah-olah tidak mempedulikan mereka." Jawab Kenan air matanya lolos terjatuh, buru-buru Kenan mengusapnya kasar, menggunakan jempolnya, sambil tersenyum miring.


"Maka dari itu, apapun yang kamu lakukan cobalah untuk jujur dengan pasangan kamu, apapun alasannya !" Seru Kenan menatap Kavi yang kini juga menatapnya.


Kavi malah semakin mengagumi sosok pria dihadapannya itu, ia tak salah pilih sahabat atau lebih tepatnya guru baginya, yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.


"Baik ayah mertua, saya berjanji akan dan percayakan Kia bersamaku, aku akan menjaganya seperti ayah menjaga dan menyayanginya." Ucap Kavi sedikit bernada candaan, karena ingin mencairkan suasana, karena melihat Kenan sejak tadi menahan tangisannya.


Kenan menatap Kavi, sedangkan yang di tatap hanya menampilkan cengirannya.


"Kok saya geli ya, kamu menyembutku ayah mertua." Ujar Kenan.


"Sepertinya ayah mertua harus membiasakannya dari sekarang !" Kavi tambah menjadi-jadi.


"Ya Allah, apa salah hamba di kehidupan sebelumnya, sampai saya mendapatkan menantu seperti dia ini." Ucap Kenan di balas tawa oleh Kavi.


...----------------...


Hari ini Enzy sudah di perbolehkan untuk keluar dari rumah sakit setelah dua hari dirawat, Khay sibuk mengemasi barang-barang mereka ke dalam ransel, kebetulan pakaian mereka tidak terlalu banyak.


"Sayang, kamu tunggu disini sebentar ya ! Aku urus administrasi dulu." Seru Khay mengusap lembut rambut Enzy.


"Iya, tapi cepatlah, aku sudah sangat bosan disini, aku muak mencium aroma obat-obatan." Sahut Enzy.


"Iya sayang, aku pergi dulu ya, ummuaaa.." Pamit Khay kemudian mendaratkan ciuman dikening istrinya itu.


Setelah mendapat anggukan, Khay keluar dari ruangan tersebut, Enzy menatap punggung suaminya itu sampai tak terlihat.


Tak lama Khay kembali ke ruangan Enzy, benar hanya lima belas menit pria itu sudah kembali.


"Mari sayang, kita pulang !!" Ajak Khay membantu Enzy turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati, sambil melingkarkan lengannya di pinggang istrinya itu.


"Gak usah kamu pegang gini, aku sudah gak apa-apa kok !" Seru Enzy.


"Gak apa-apa sayang."


"Tapi kamu kerepotan, kamu juga bawa ransel lumayan berat loh itu."


"Ya sudah ranselnya taro aja dulu sini, nanti setelah kamu sampai di mobil, aku balik lagi kesini buat ambil ranselnya." Ujar Khay.


"Sayang, kamu dengar aku dong, akutuh khawatir banget sama kamu, sama calon baby kita juga, sudah ya ! Kamu gak usah membantah kali ini." Ucap Khay lembut namun menekankan kata-katanya.


"Ya sudah deh." Pasrah Enzy.


Saat sampai di basemen rumah sakit, dimana mobil Khay ia perkirakan, Khay sangat hati-hati membantu Enzy masuk ke dalam mobil, sampai joknya ia atur agar Enzy bisa duduk dengan nyaman.


Baru saja Khay menyalakan mesin mobilnya tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk, Khay ingin mengabaikan namun Enzy menyuruhnya untuk menjawab terlebih dahulu.


"Dari bunda sayang." Ucao Khay melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.


"Angkat aja dulu, siapa tahu penting !" Seru Enzy.


"Aku sambung ke bloototh di mobil aja deh sayang, agar kita bisa sambil jalan juga." Ujar Khay menekan salah satu pada layar yang ada pada audio mobilnya, tak lama panggilan mereka terhubung.


📞 "Assalamualaikum Bun." Ucap Khay sambil mulai menjalankan mobilnya.


📞 "Walaikumsalam bang, kamu lagi dimana, terus ke adaan mantu saya gimana ?" Tanya Diva diseberang sana.


📞 "Ini lagi dijalan Bun, kami baru mau pulang dari rumah sakit, menantu bunda udah lebih baikkan sekarang, hanya masih butuh banyak istirahat." Jelas Khay.


📞 "Oh begitu ya ?


📞 "Iya, Emang ada Bun ?"


📞 "Ini, weekend nanti, keluarga om Kavi bakal datang untuk melamar adik kamu, sekalian membicarakan kapan acara pertunangannya dilangsungkan."


📞 "Terus ?


📞 "Lah kok terus sih bang ?"


📞 "Maksud Abang bagaimana lagi ?"


📞 "Ohh, ini kamu sama Enzy bisa datang gak kesini, soalnya acaranya rencananya akan dilangsungkan disini."


📞 "Weekend ini ya Bun, berarti dua hari lagi dong, Enzy masih butuh istrirahat, sepertinya untuk acara lamarannya aku dan Enzy gak bisa datang deh, tapi untuk acara pertunangannya aku usahakan untuk datang deh Bun." Ujar Khay.


"Aku udah bisa pergi kok, aku udah gak apa-apa." Bisik Enzy.


"Gak sayang, aku tidak ingin kamu kenapa-napa juga calon baby kita." Tegas Khay Enzy hanya mengerucutkan bibirnya.


📞 "Bang, kamu masih disitu gak ?" Tanya Diva diseberang telepon.


📞 "Iya Bun, maaf...


📞 "Ya sudah, kamu jaga mentantu Bunda, jika terjadi sesuatu kamu yang akan kuberi pelajaran, mengerti ? Seru Diva mengancam.


📞 "Iya Bun, tanpa bunda ancam-ancam pun aku pasti menjaganya, dia kan istri aku Bun." Jengah Khay.


📞 "Bagus ! Kamu bunda tutup dulu telponnya, ingat bawa mobilnya pelan-pelan !" Peringat Diva.


📞 "Iyya bun."


📞 "Assalamualaikum." Ucap Diva.


📞 "Walaikumsalam." Balas Khay kemudian sambungan keduanya pun terputus.


Bersambung.....


Maaf baru bisa up lagi, dan maaf jika alurnya sedikit ngebelnk soalnya author semoat-sempatin buat up, soalnya author masih di luar daerah acara kawinan kemenakan....


...Terimakasih masih mengikuti ceritanya...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...