
Seorang laki-laki muda dengan dengan ketampanan di atas rata-rata, meletakkan sebuah bola di depannya, laki-laki itu akan menendang bola tersebut ke gawang lawan.
Dengan postur tubuh tinggi tegap memutar-mutar kaki kanannya untuk menendang bolanya dan.....
"Goooollllll." Teriak para penonton saat bolanya berhasil menerobos masuk ke gawang lawan, tendangan terakhir itu menjadi penentu kemenangan timnya, yang malawan kampus lain.
"Khay...Khay... Khay...." Sorak sorai para penonton yang menyebut nama laki-laki tadi.
Khay melambaikan tangannya menyapa para pendukungnya, dengan sesekali melemparkan ply kissnyq, membuat para gadis teriak histeris.
"Hidup gue sebagai mahasiswa tingkat kedua semuanya berjalan dengan baik, seperti yang gue inginkan, gue sebagai mahasiswa paling populer di kampus, karena ke tampanan yang gue warisi dari ayah gue, di tambah gue berasal dari keluarga pengusaha tersukses di Asia dan sangat di segani di negaranya. Gue di nobatkan sebagai penerus perusahaan keluarga gue, hal itu membuat banyak wanita di luaran sana banyak yang mengagumiku bahkan rela menjadi teman kencan sesaatku."
"Gue KHAYRAN DELVIN AL FARIZIQ putra sulung dari pasangan pengusaha tersukses di negara ini yaitu tuan KENAN AL FARIZIQ dan Nyonya ADIVA Al FARIZIQ*.
Khay menjalani kehidupannya dengan sempurna dengan latar belakang keluarganya, Khay juga sangat populer bukan hanya di kampus tapi bahkan di negara ini ia bisa di bilang hampir semua orang mengetahuinya, karena Khay sudah sering tampil di layar televisi ataupun di majalah-majalah bisnis bersanding dengan ayahnya apalagi visual keduanya sangat keren dan tampan.
"Selamat ya Khay kamu lagi-lagi berhasil memenangkan pertandingan ini." Ucap Priska sahabat perempuan Khay satu-satunya, sejak mereka duduk di bangku SMP.
"Bukan hanya gue Ris, ini kemenangan tim." Sahut Khay meneguk habis air mineralnya.
"Betul tuh Ris, harusnya bukan hanya ke dia kasih selamanya, tapi ke kita juga." Ujar Leo dan langsung di angguki Doni sahabat Kenan juga sejak duduk di bangku kuliah.
"Bro, bagaimana kalau malam ini, kita rayakan kemenangan kita !" Usul Doni.
"Bener, gue setuju." Timpal Leo semangat.
"Tapi kalau di tempat seperti itu gue enggak bisa, tau sendirilah bokap, nyokap gue gimana ?" Ucap Khay.
"Mereka enggak bakal tau, kalau elu kagak ngasih tau." Ujar Leo.
"Kamu lupa siapa bokap gue ?" Ucap Kenan.
"Iya juga sih, terakhir hukuman yang loh dapat credit card loh di blok sampai sebulan, dan hanya di berikan yang jajan seratus ribuan sehari." Ucap Doni mengingat betapa marahnya Kenan saat mengetahui putranya itu masuk ke bar.
"Bagaimana kalau kita ke cafe biasa aja ?" Usul Priska.
"Gue setuju kalau ke cafe mah." Ucap Khay.
"Ya elah... Enggak seru kali Khay, disana kagak ada cewek-cewek bohay." Ucap Leo yang tekenal sering gonta-ganti pacar di antara mereka.
"Cewek mulu yang ada di otak lu ! Noh Priska noh, dia ngagur sendirian." Ujar Doni memukul kepala bagian belakang sahabat playboynya itu.
"Gue... Gue Ama nih kutu...? Ogah !!" Sahut Priska memperlihatkan ekspresi ingin muntah.
"Emang siapa juga yang mau sama cewek kayak lu ini, elo bukan tipe gue." Ucap Leo sinis kepada Priska.
"Elo juga bukan tipe gue kali." Ucap Priska lagi tak mau kalah.
"Woi kalau elu berantem seperti ini, nanti gue bener-bener bawa kalian ke KUA, mau ?" Ucap Khay bermaksud melerai perdebatan Leo dan Priska yang memang jarang akur kalau sudah bertemu.
"Ngapain Khay ? Tanya Doni Telmi.
"Mau jualan sayur." Jawab Khay ngasal.
"Wah... Enggak nyangka seorang calon penerus D&KA corp's bakal jualan sayur di KUA, perusahaan orangtua elo bangkrut ?" Ucap Doni dan langsung mendapat pukulan dari ketiganya.
"Ngapa pada mukul gue sih, gue salah apa coba ?" Keluh Doni mengusap lengan dan kepalanya yang terkena pukulan dari sahabat-sahabatnya.
"Lagian elo ngadi-ngadi, seorang KHAYRAN lu bilang mau jualan sayur di KUA." Ucap Leo jengah.
"Tadi Khay sendiri kan yang ngomong kek gitu, kalian enggak budek kan ?" Ucap Doni.
"Khay, kalau gue bunuh nih orang, kira-kira Om Kenan bakal bantuin gue keluar dari penjara enggak ?" Tanya Leo bersiap untuk mencekek Doni.
"Iya Khay, kali ini gue setuju dengan Leo." Timpal Priska gemes ingin mencekek Doni juga.
"Iya, gue bakal bilang ke bokap gue, bunuh aja ! Kalau perlu kamu langsung aja bawa ke kandang singa." Ujar Khay berdiri dari duduknya.
"Mau kemana lu Khay ?" Ujar Doni.
"Ganti baju." Jawab Khay berjalan masuk ke kamar yang ada di ruang ganti tersebut.
"Selamat lu hari ini." Ucap Leo kemudian menyusul masuk untuk mengganti pakaiannya, begitupun dengan Doni. Sedangkan Priska keluar dari ruang ganti tersebut, ia lebih memilih untuk menunggu diluar.
Setelah beberapa menit ketiga laki-laki tampan tersebut keluar menghampiri Priska. Mereka pun berjalan menuju parkiran untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
"Nanti malam jadi kan ?" Tanya Leo.
"Jadi, di cafe biasa." Jawab Khay.
Baru saja Khay dan ke tiga sahabatnya tiba di parkiran dimana mobil-mobil sport mereka terparkir rapi disana, tiba-tiba suara yang sangat tidak asing di pendengaran Khay sedang memanggilnya.
"Baangggggg !!" Teriak seorang gadis berseragam SMA menghampirinya.
Kenan menoleh ke arah asal suara, tiba-tiba raut wajah Khay berubah malas.
"Apaan ?" Tanya Khay malas saat gadis itu tiba di hadapannya.
"Bang, kecut banget tuh muka, lupa ngasih gula baru keluar tadi ya ?" Ujar Kia adik semata wayang Khay.
"Napa lu ?" Tanya Kenan tak menanggapi ucapan Kia.
"Gue mau nebeng Abang pulang, soalnya ban motor gue bocor." Ucap Diva langsung masuk ke mobil tanpa menunggu persetujuan kakaknya terlebih dahulu, sebelumnya Khay sudah membuka kunci mobilnya.
"Dedek Kia enggak mau bareng Abang Leo aja ?" Ujar Leo kepada Kia saat Kia menurunkan kaca jendela mobil.
"Ya elah calon kakak ipar galak amat." Ucap Leo kemudian bergegas masuk mobilnya sebelum ia mendapat pukulan dari sahabatnya itu.
"Jangan lupa entar malam lu !!" Ucap Doni menepuk punggung Khay, dan di balas anggukan Khay.
"Ris gue duluan" Ucap Doni kepada Priska, lalu berjalan menuju mobilnya.
"Hati-hati loh !! Seru Priska.
"Khay gue juga balik, sampai ketemu entar malam." Pamit Priska juga berlalu ke mobilnya yang terparkir di sebelah mobil Khay.
Khay pun masuk ke mobilnya dan mulai menjalankannya.
"Rendra Ama si Nendra emang pada kemana, kenapa enggak bareng mereka, biasanya kalau ada apa-apa kamu lebih milih sama mereka ?" Ucap Khay tanpa beralih pada adiknya itu.
"Gue enggak mereka, dari tadi gue cariin tapi enggak ketemu, pas gue mau keluar ke halte, kebetulan gue liat Abang, dari pada gue naik bus, ya... mending ikut sama Abang." Terang Kia santai sambil memasang earphone di telinganya.
Karena sebenarnya Kia sudah bersahabat dengan si kembar yaitu putra dari sahabat ayah dan bundanya yaitu Ray dan Lani, makanya setiap dia ada apa-apa pasti Kia mencari si kembar dari pada abangnya sendiri.
"Bang, kalau udah sampai bangunin gue ya !!" Ujar Kia menyandarkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya, Kenan menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu.
Saat ini Kia duduk di bangku SMA kelas sembilan, sedangkan si kembar semester awal di universitas yang sama dengan Khay.
Sekolah tempat Kia sekolah, dengan universitas adalah yayasan yang sama yaitu milik keluarga Ray, yayasan tersebut di mulai dari tingkat Taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, yayasan yang dimiliki keluarga Ray ini adalah yayasan elite, makanya jangan heran jika orang-orang yang mempuh pendidikan di yayasan tersebut adalah rata-rata dari kalangan berduit semua, terlihat dari kendaraan-kendaraan mewah yang di miliki siswa-siswi disana.
Kia tumbuh menjadi gadis periang dan tomboi, hobinya mengoleksi jenis-jenis motor sport, tak beda jauh dari sifat bundanya dulu, namun bedanya Kia tak memiliki komunitas ataupun ikut balapan, di samping itu karena Kenan yang selalu mamantau putrinya agar tak ikut hal-hal seperti itu, Kenan takut apa yang pernah menimpa istrinya saat kecelakaan diarena balap, juga menimpah putri kesayangannya.
Awalnya Kenan menentang keras hobi putri semata wayangnya itu, namun bukan Kia namanya jika ia tak bisa meluluhkan hati ayahnya, di tambah lagi dukungan dari bundanya, mau tak mau Kenan mengizinkan putrinya untuk mengoleksi motor-motor sport juga trail, tapi dengan syarat tak tidak boleh turun ke arena balap.
...----------------...
Tak lama mobil Khay tiba di depan gerbang rumahnya yang menjulang sangat tinggi, pak satpam yang bertugas di rumahnya dengan segera membuka pintu gerbang, saat melihat mobil yang di kendarai tuan mudanya.
"Terimakasih Pak." Ucap Khay kepada pak satpam, Khay sengaja menurunkan kaca mobilnya untuk menyapa pak Mus satpam rumahnya.
"Sama-sama tuan muda."Balas pak Mus tersenyum.
Khay langsung memarkirkan mobilnya di garasi, yang tak jauh dari pintu utama rumahnya, garasi milik Khay memang terpisah dengan koleksi milik ayahnya juga garasi milik Kia adiknya.
"Woi... Dek, bangun woi, kita udah sampai !!" Khay membangunkan Kia yang tertidur pulas.
"Apaan sih bang, ganggu aja !!" Ucap Kia bukannya bangun, ia malah memperbaiki posisi tidurnya.
"Ckkk... Kebo banget sih lu, kita udah sampai, kamu enggak mau masuk ? Ya sudah gue tinggal masuk duluan." Ucap Khay jengah melihat adiknya lalu benar meninggalkan Kia tertidur di mobilnya.
Khay berjalan memasuki rumahnya sambil menyelampirkan ranselnya di bahu kirinya. Khay berjalan santai sambil bersiul dengan kunci mobilnya ia mainkan di telunjuknya.
"Assalamualaikum bang." Ucap Diva saat melihat putranya masuk tanpa mengucapkan salam."
"Hehehe, Bunda..." Ucap Khay.
"Assalamualaikum bundaku yang cantik." Lanjut Khay kemudian mencium kedua pipi bundanya itu.
"Kebiasaan kamu bang." Ucap Diva geleng-geleng kepala, lalu melanjutkan membaca majalah.
"Oh iya bang, kamu ketemu adik kamu enggak ? Tumben-tumbennya jam segini dia belum pulang." Ucap Diva.
"Noh..Di mobil Bun, lagi ngebo." Ucap Khay santai meminum minuman bundanya yang ada di atas meja.
"Astagafirullah, anak itu." Ucap Diva tak habis pikir dengan putrinya.
"Bun, kalau gitu aku ke kamar dulu, udah gerah banget soalnya." Pamit Khay berdiri dari duduknya setelah mendapat anggukan dari bundanya.
Diva pun segera memanggil bibi yang bekerja di rumahnya, agar membangunkan Kia yang katanya tertidur di mobil.
"Bi...Bibi...."
"Assalamualaikum.... Yank, ngapain teriak-teriak sampai kedengaran loh di luar?" Ucap Kenan yang baru masuk bersama dengan Kia yang memeluk pinggangnya.
"Walaikumsalam by', ini aku mau minta tolong kepada bibi untuk bangunin adek di mobil Abang, katanya dia tidur di mobil." Terang Diva menghampiri suaminya langsung mencium tangannya dan meraih tas kerjanya.
"Kamu juga dek, kalau mau tidur tau tempat lah, bukannya malah ngebo dikamar !" Oceh Diva
"Enggak usah ngomel-ngomel gitu, kasihan anak kamu, dia baru juga masuk langsung di omelin." Ucap Kenan menuntun istrinya duduk di Sofa.
"Enggak usah ngebelain, kamu juga terlalu memanjakan dia, makanya seperti itu, lagian dia itu anak gadis loh by', kok kelakuannya seperti cowok." Ucap Diva masih terus mengoceh.
"Dia turunan emaknya yank." Ucap Kenan tersenyum kepada putrinya yang duduk di Sofa depannya.
Diva pun memutar matanya malas, selalu saja suaminya itu membela anak-anaknya jika ia mengomel, yang parahnya lagi Kenan selalu membawa-bawa masa lalunya jika Kia bersikap seperti, misalnya bersikap seperti tadi.
"Dek, lebih baik sekarang kamu ganti baju kamu, sebelum macannya ngamuk-ngamuk !!" Seru Kenan kepada putrinya, setelah mengatakan itu Kenan pun dengan cepat kabur dari sana sebelum dia mendapatkan amukan dari sang istri karena perkataannya. Dan benar saja suara Diva menggelegar di diruangan itu, meneriaki Kenan.
"Dasar !!! Tua Bangka...." Ucap Diva mengumpati suaminya itu.
Bersambung.......
Jangan lupa terus berikan dukungan buat Author, agar authornya tetap semangat menciptakan alur-alur yang lebih baik dari season sebelumnya....
Like, Komen dan vote.... Jika berkenan tidak ada salahnya jika ingin menyumbangkan sedikit hadiahnya buat Author.
Terimakasih.... 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️