Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 81


Kenan tampak duduk termenung di sebuah kursi, depan jendela kamarnya, memperhatikan air hujan yang sedang turun dengan lebatnya.


Saat ini Kenan sudah berada dirumahnya, dia sudah diperbolehkan pulang, saat beberapa cairan obat telah diberikan lewat cairan infus.


"Ngapain Hmm ?" Tanya Diva tiba-tiba mengalungkan tangannya di leher Kenan dari belakang, sambil menopang dagunya di bahu Kenan.


"Tidak ngapa-ngapain Yank." Sahut Kenan kemudian menarik Diva untuk duduk di pangkuannya.


"Sudah mandi ?" Tanya Kenan balik.


Diva hanya mengangguk, kemudian kembali mengalungkan tangan kanannya di leher suaminya itu, sedangkan tangan kirinya mengusap rahang tegas Kenan.


Kenan meletakkan tangannya di atas tangan Diva yang sedang mengisap rahangnya.


"Kenapa, mau makan sesuatu ?" Tanya Kenan, dan dibalas gelengan kepala dari Diva.


Diva menyandarkan kepalanya di dada suaminya, tiba-tiba saja air matanya mengalir begitu saja.


Kenan yang merasa istrinya itu sedang menangis, langsung mengeratkan pelukannya, sesekali mencium pucuk kepala istrinya.


"Kamu kenapa nangis, kenapa jadi tambah cengeng aja sih, istri bar-bar aku ini." Ujar Kenan.


"By', aku takut kamu ninggalin kami." Ucap Diva mengeratkan pelukan di leher Kenan.


"Tidak sayang, aku janji akan berjuang demi kalian, asalkan kamu selalu di samping aku, dan juga selalu kuat untuk menguatkan ku Yank !" Ujar Kenan.


Di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba ponsel Diva berdering yang berada di atas nakas samping tempat tidur.


Diva segera beranjak dari pangkuan Kenan berjalan mengambil ponselnya.


📞 "Assalamualaikum Bun." Sapa Diva kepada Bunda Hani yang menelponnya.


Diva kembali menghampiri Kenan, Kenan menarik Diva untuk duduk di pangkuannya kembali.


📞 "Walaikumsalam, ini sayang Bunda mau kasih kabar kalau kak Vara sudah melahirkan." Ucap Bunda Hani.


📞 "Alhamdulillah, anaknya cowok apa cewek Bun ?" Tanya Diva antusias.


📞 "Cowok, kamu nggak kesini ?"


📞 "Maaf Bun, sepertinya saya tidak bisa, soalnya lusa, kami akan berangkat ke Singapore." Terang Diva.


📞 "Apa kalian jadi liburannya, terus bagaimana kehamilan kamu ?"


Diva yang mendengar pertanyaan Bundanya beralih menatap suaminya, menaikkan kedua alisnya seolah ia meminta persetujuan untuk menceritakan yang sebenarnya atau tidak perlu, Kenan yang sedikit mendengar pertanyaan mertuanya itu, hanya mengangguk.


"Ceritakan yang sebenarnya Yank." Bisik Kenan.


📞 "Halo Div, apa kalian baik-baik saja ?" Tanya Bunda Hani.


📞 "Maaf Bun, kami kesana tidak untuk liburan, kami kesana untuk mengantar Kenan buat berobat, mungkin kami tinggal untuk waktu yang lama." Terang Diva.


📞 "Maksudnya, Emangnya Kenan kenapa, kenapa harus ke Singapore ?"


📞 "Kenan sedang tidak baik-baik saja sekarang Bun." Diva menarik nafas kemudian mulai menceritakan keadaan Kenan yang sekarang.


📞 "Astagfirullah, terus sekarang Kenan di mana, Bunda mau bicara.!" Ujar Bunda terdengar khawatir.


📞 "Assalamualaikum Bun." Sapa Kenan.


📞 "Sayang, bagaimana keadaan kamu Nak ?"


📞 "Saat ini saya baik-baik saja Bun, Mohon doanya ya Bun !" Sahut Kenan.


📞 "Iya, Bunda pasti akan doakan, dan kami akan segera menyusul kalian, jika Vara sudah keluar dari rumah sakit."


📞 "Terimakasih Bun, dan sampaikan juga salam kami untuk kak Vara dan juga kak Arka !"


📞 "Iya sama-sama Nak, nanti bunda sampaikan. Kalian hati-hatilah, dan sampaikan salam Bunda kepada orangtua kamu. !" Kalau begitu Bunda tutup dulu, sepertinya Vara dan bayinya akan segera dipindahkan ke ruang perawatan !" Assalamualaikum.


📞 "Walaikumsalam." Jawab Kenan.


Setelah panggilan telponnya terputus Kenan meletakkan ponselnya di meja dekat kursi yang saat ini ia duduki. Diva ingin segera beranjak dari pangkuan Kenan, namun buru-buru Kenan menahannya.


"Mau kemana Yank ?" Tanya Kenan.


"Kamu istirahat dulu by', dari tadi pulang dari rumah sakit, kamu belum istirahat !" Ujar Diva.


"Tapi aku mau mengepak barang-barang kita by', buat di bawah ke Singapore."


"Besok saja, kamu juga butuh istirahat !" Ucap Kenan melepaskan pelukannya dari pinggang Diva kemudian beralih mengusap perut Diva yang sudah terlihat membuncit.


"Baby kamu doain Ayah ya, supaya ayah segera pulih kembali !"Ujar Kenan.


"Iya Ayah, Baby pasti akan doakan Ayah, agar Ayah cepat sembuh sebelum aku lahir." Ucap Diva menirukan suara anak kecil.


Kenan memeluk Diva kemudian menyandarkan kepalanya di dada Diva.


"Yank, bagaimana jika pengobatan aku gagal, dan aku meningg....


Diva langsung membungkam mulut Kenan dengan tangannya.


"Tidak, pokoknya kamu harus bisa melawan ini, aku tidak mau kamu meninggalkan kami !" Ujar Diva dengan suara sumbang menahan tangisnya, sambil mengusap kepala bagian belakang suaminya itu.


"Tap...


"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus bisa sembuh, TITIK !" Diva kembali menyelah ucapan Kenan dengan penuh penekanan dan terlihat seperti memohon.


Diva merengkuh Kenan sambil terisak, kenan yang mendengar ucapan permohonan istrinya itu tidak tau lagi harus mengatakan apa, dia sadar dengan penyakitnya, hanya butuh beberapa persen untuk bisa sembuh, di lihat dari banyaknya kasus seperti yang ia alami.


Kenan ikut mengeratkan pelukannya, tanpa dia sadari air matanya ikut keluar.


Setelah cukup lama berpelukan, keduanya melepaskan pelukan masing-masing, dengan segera Kenan menangkup wajah sembab istrinya, dan mengusap air matanya yang masih tersisa, begitupun Diva menghapus air mata suaminya. Kemudian saling menpelkan kening mereka.


"Yank aku minta, ini terakhir kalinya aku melihat kamu menangis karena keadaan ku, aku hanya ingin melihat kalian menangis haru saat aku berhasil sembuh nanti !" Tapi... Kenan mengantungkan ucapnya menatap dalam manik mata istrinya.


"Tapi, jika nanti tuhan berkehendak lain, aku harus meninggalkan kalian, aku mohon jangan larut dalam keterpurukan, bangkitlah demi anak kita !" Ucap Kenan mengusap perut Diva.


Diva tidak menanggapi ucapan Kenan, dalam hatinya Diva hanya terus berdoa dengan kesembuhan suaminya, dan hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.


"Sekarang kamu istirahat by', Aku mau ke dapur sebentar !" Ujar Diva turun dari pangkuan Kenan, dan segera melangkah keluar dari kamar tanpa melihat suaminya.


Kenan menghela nafas panjang, memperhatikan punggung Diva yang semakin menjauh sampai akhirnya tidak terlihat karena pintu kamar kembali Diva tutup saat dia keluar.


"Ya Allah, hanya satu permohonan hamba saat ini ya Allah, mohon angkatlah penyakit hamba ini, hamba tidak sanggup melihat kesedihan di wajah orang-orang yang amat gambah sayangi, terutama kepada istri hamba." Ucap Kenan lirih, menengadah keatas.


🍀🍀🍀


Saat ini Keluarga Salman sudah berada di bandara Kota Xx, Menunggu jadwal keberangkatan mereka menuju Singapore. Sedangkan Dokter Bayu akan menyusul besok, karena hari ini ada pasien darurat yang harus menjalani operasi.


Ayah Salman sudah menyiapkan sebuah apartemen mewah, lengkap dengan asisten rumah tangga, demi kenyamanan keluarganya, saat mereka berada di negara Singapore, terutama untuk menantunya yang sedang hamil.


Apartemen tersebut juga sangat dekat dari rumah sakit tempat Kenan menjalani pengobatan.


Setelah melakukan perjalanan udara selama hampir 2 Jam, akhirnya keluarga Salman tiba di Bandara SINGAPORE CHANGI AIRPORT.





Mereka segera keluar dari Bandara menuju lobi, dimana sebuah mobil beserta sopir yang sudah menunggu kedatangan mereka, itu juga sudah di siapkan ayah Salman, untuk memudahkan Keluarganya, jika akan bepergian.


"Kapan kita akan memulai pemeriksaan nya Yah ?" Tanya Kenan saat mereka sudah di jalan menuju apartemen.


"Mungkin lusa baru kita menemui Dokter yang akan menanganimu, kita akan menunggu Dokter Bayu terlebih dahulu !" Terang Ayah Salman.


"Baiklah Yah." Sahut Kenan, kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Sedangkan Diva sudah tertidur saat baru naik ke mobil karena merasa mual, dan kelelahan.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian


Like


Coment


Vote


TERIMAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGAN DARI KALIAN 🙏🙏🙏❤️❤️❤️


🙏🙏🙏🤗🤗🤗