
Mobil yang di kendarai Noval sudah memasuki gerbang sebuah rumah bergaya klasik modern berlantai dua yang cukup mewah. Tiba-tiba Kiki mengingat saat ia mendapatkan sepeda baru dari papanya, dan di ajari bersepeda di halaman tersebut. Semakin masuk ke halaman rumah sampai memasuki lapangan mini Kiki kembali mengingat saat dirinya dan kedua orangtuanya bermain kejar-kejaran juga bermain boneka, tampak mereka keluarga yang sangat bahagia dan harmonis. Tanpa Kiki sadari air matanya keluar membasahi pipinya.
"Ayo turun !" Ajak Noval saat sudah tiba tepat di depan pintu masuk rumah.
Kiki menghapus air matanya, kemudian mengangguk lalu keluar dari mobil.
"Kamu pasti teringat dengan masa laluku Ki, Maafkan keluargaku." Gumam Noval kemudian ikut keluar dari mobil.
"Ayo masuk, papa mama sudah nungguin kamu !" Noval berjalan mendahului Kiki, kemudian langsung membuka pintu yang tidak terkunci.
Kiki menarik nafas mencoba untuk menenangkan dirinya, mencoba melupakan kenangan bahagianya bersama dengan kedua orangtuanya di rumah itu, karena hal itu akan membuatnya semakin bersedih.
"Assalamualaikum.." Ucap Kiki saat sudah tiba di ruang keluarga.
Noval sudah duduk di samping kiri mamanya, yang memang berjalan duluan tadi.
"Walaikumsalam." Ucap semuanya.
"Sini sayang, kamu duduk dekat mama !" Panggil Ibu Anita menepuk sofa yang masih kosong di samping kanannya.
Kiki pun menuruti ibu Anita dan mendudukkan dirinya di tempat yang di tunjuk ibu Anita.
Ibu Anita meraih tangan Kiki ia genggam, tiba-tiba air matanya keluar membasahi pipinya, membuat Kiki menoleh ke wanita paruh baya itu namun terlihat masih cantik.
"Ki, Saya mohon maafkan semua kesalahanku juga keluargaku yang sudah menyakitimu juga mamamu." Ucap ibu Anita menunduk tak berani menatap wajah gadis sederhana di depannya itu.
Kiki masih terdiam masih mencerna apa yang di ucapkan ibu tirinya itu.
"Ki, saya mohon, kamu dan nenek kamu tinggalah di rumah ini, rumah ini milik kamu, bahkan sebagian aset yang di miliki papa kamu milik kamu, saya dan Noval tidak punya hak atas semua ini." Ibu Anita kembali melanjutkan ucapannya.
"Saya tidak bisa Tante." Tolak Kiki melepaskan tangannya dari genggaman ibu Anita.
"Saya sudah tidak membutuhkan itu semua ! Saya sudah lebih menikmati hidup saya yang sekarang. Lagian buat apa lagi saya memiliki itu semua ? percuma ! Mama saya tidak mungkin lagi untuk kembali menikmati haknya di rumah ini." Ucap Kiki meneteskan air matanya mengingat perlakuan ibu Anita di masa lalu saat ia mengusir mamanya dari rumah ini, bahkan memperlakukannya dengan sangat buruk, mendorong paksa mama Kiki, juga Kiki keluar dari rumah ini sambil melemparkan tas yang hanya berisikan beberapa lembar baju saja, bahkan perhiasan yang di kenakan Kiki dan mamanya, ibu dari ibu Anita mengambilnya secara paksa.
Sedangkan papanya saat itu hanya bisa melihatnya tanpa berniat untuk menolongnya, walaupun mama Kiki memohon-mohon, di kakinya. Malahan Pak Tito melepaskan tangan mama Kiki secara paksa.
Ibu Anita yang mendengar penolakan dari Kiki tiba-tiba saja berlutut di hadapan Kiki sambil memegang kakinya sambil menundukkan wajahnya di kaki Kiki yang sedang duduk di sofa.
"Ki, saya mohon maaf kan saya, walau sebenarnya saya tidak pantas mendapatkan maaf darimu, tapi saya mohon terimalah hak kamu kembali !" Ucap Ibu Anita menangis di hadapan kaki Kiki.
Kiki masih tak bergeming, ia membiarkan ibu Anita terus memohon di kakinya, rasa sakit hati yang ia rasakan sejak dulu belum bisa ia keluarkan dari hatinya yang terus membelenggu.
"Benar yang Tante ucapkan ! Kalau Tante tidak pantas untuk di maafkan, saya benar-benar tidak bisa memberi Tante maaf, dan perlu Tante ketahui jangan sampai tante salah paham atas kepedulian saya waktu di rumah sakit, itu hanya rasa balas budi saya karena Tante sudah menyelematkan saya dari kecelakaan itu, saya sangat berterimakasih." Jelas Kiki kemudian ingin beranjak dari duduknya namun Ibu Anita menahan kakinya, terus memohon kepada Kiki.
"Tapi setidaknya kamu terimah hak kamu, itu membuat rasa bersalah ku sedikit berkurang walau tak sebanding apa yang telah kami perbuat terhadapmu dan juga mama mu." Ujar ibu Anita.
Pak Tito ikut berlutut di hadapan putrinya itu, membuat Kiki merasa risih, dan sangat berdosa membuat papanya berlutut di hadapannya memohon maaf darinya.
Kiki masih dengan keras kepalanya, masih tak bergeming mendengar keduanya memohon.
"Jangan Kiki, ingat waktu mereka menyakitimu juga mama kamu, ingat kesulitan kamu dan mamamu, bahkan gara-gara mereka mamamu kecelakaan Sampai meninggalkan." Bisik Devil di telinga kiri Kiki.
"Ki, Kamu tidak boleh terus-terusan larut dalam masa lalu, biar bagaimanapun papamu itu orangtua kandungmu, apa kamu ingin menjadi anak durhaka, dengan membuat ayahmu sendiri berlutut memohon di hadapanmu seperti itu." Bisik Angle di telinga kanan Kiki.
"Sudah lepaskan, akan saya pikirkan !!" Kiki melepaskan tangan keduanya dari kakinya, kemudian berjalan keluar meninggalkan rumah itu, juga Pak Tito dan ibu Anita tertunduk menatap lantai dengan deraian air mata penyesalannya.
"Sudah Pa, Ma, biar Noval bantu untuk menyakinkan Kiki untuk menerima semuanya, lebih baik kalian istirahat di kamar !!" Ucap Noval membantu papanya berdiri, kemudian mamanya naik ke kursi rodanya yang berada di samping sofa.
"Ma, aku antar ya ke kamar !" Noval mendorong kursi roda mamanya masuk ke kamar setelah mendapat anggukan dari ibu Anita. Sedangkan pak Tito duduk di sofa menyandarkan dirinya sambil menengadah ke atas mengingat semua kesalahan yang pernah ia perbuat kepada Kiki dan mamanya dulu, hanya karena rasa cinta yang sangat besar kepada ibu Anita.
"Kiki maafkan papa." Gumam pak Tito masih memejamkan matanya dengan air mata yang terus keluar membasahi wajahnya.
🍀🍀🍀
Kiki menyusuri jalan dengan air mata terus membanjiri pipinya, Kiki menghentikan kang ojek.
"Kang ke TPU taman anggrek !" Ucap Kiki.
Setelah setengah jam perjalanan dengan air mata yang terus keluar tanpa henti, membuat kang ojek sedikit merasa kasihan juga bingung melihatnya.
Saat tiba Kiki membayar kang ojek tanpa menunggu lagi kembalian uangnya.
"Mamaaaa." Kiki sedikit berteriak di depan makam mamanya sambil memeluk nisan mamanya.
"Mama, kenapa mereka kembali ke kehidupan ku, kembali mengingatkan ku luka yang telah ia torehkan ke kita dahulu." Kiki terus terisak di makam mamanya.
"Ma, aku ingin pergi saja bersamamu, bawa aku ikut denganmu ma, aku sudah tidak sanggup lagi !!" Kiki semakin mempererat pelukannya di nisan mamanya samapai suara petir terdengar hingga turun hujan yang sangat deras.
Kiki terus saja menumpahkan kesedihannya di samping makam mamanya, ia tidak peduli dengan guyuran hujan yang membasahinya sehingga membuat pakaiannya kotor karena terkena tanah makam.
"Kiki...."Ucap seseorang memayunginya, sambil berdiri di samping Kiki.
Kiki kaget melihat orang tersebut...
Bersambung....
Kira-kira siapa pria tersebut hayoooo....
Jangan lupa tinggalkan LIKE, COMENT, VOTE....
TERIMAKASIH 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️