
Sudah seminggu Enzy dirawat di rumah sakit, dan siang ini ia sudah di perbolehkan pulang, bunda dan ayah mertuanya ikut menjemputnya. Ke empat orang tersebut berjalan menyusuri koridor rumah sakit, Enzy berjalan sambil menggandeng lengan suaminya, dan kedua mertuanya berjalan di depan mereka, di belakang di ikuti mang Diman selaku sopir Kenan, membawa koper milik Enzy.
Saat berdiri di lobi menunggu mang Diman mengambil mobil, mata Enzy menatap lurus pada seorang ibu muda yang baru saja keluar dan langsung masuk ke mobilnya, sepertinya wanita itu baru saja melahirkan, air mata Enzy terjatuh seketika, buru-buru ia menyekanya sebelum ada yang melihatnya, namun percuma saja ia menyembunyikan hal itu, karena Khay dan kedua mertuanya keburu melihatnya.
"Sayang, sabar ya !" Ucap Khay lembut mengusap punggung istrinya itu.
"Andai saja anak kita gak keguguran, mungkin suatu saat nanti, aku juga akan seperti wanita itu tadi." Ucap Enzy menatap kepergian mobil yang ditumpangi wanita yang membawa bayinya tadi.
"Sayang, bunda tahu bagaimana perasaan kamu, tapi mau tidak mau kamu harus mengiklankannya, sabar ya sayang !" Sahut Diva meraih tangan menantunya itu lalu ia usapnya dengan sangat lembut.
"Aku akan mencobanya Bun, mungkin saat ini aku belum bisa ikhlasin sepenuhnya, tapi perlahan-lahan insyaallah aku akan bisa." Ujar Enzy tersenyum samar.
"Iya sayang, ya sudah ayo, tuh mang Diman udah datang !" Ajak Diva setelah melihat mobi yang kendarai mang Diman sudah terparkir di depan lobi.
...----------------...
Ketikan sampai di rumah, Enzy langsung masuk ke kamar untuk beristirahat, karena kata dokter Enzy masih harus banyak istirahat.
Saat Khay keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya bersandar pada kepala tempat tidur, sambil memejamkan mata, Khay mengela nafas beratnya kemudian melangkahkan mendekat.
"Sayang, kamu gak mau bersihin badan kamu dulu ?" Tanya Khay pelan ikut duduk di samping istrinya.
Enzy yang merasakan keberadaan suaminya membuka matanya, lalu memandang sumainya dengan tatapan sayu, masih memikirkan kepergian anaknya yang belum sempat ia lahirkan kedunia ini, bahkan ia menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian anak mereka itu.
"Nanti aja, aku masih ingin istirahat sebentar." Jawab Enzy kemudian.
"Sayang, kamu harus bersihkan badan kamu dulu ya, setelah itu kamu balik istrirahat lagi." Ujar Khay masih dengan nada lembutnya.
Bukannya beranjak dari tempat tidur, tapi Enzy malah langsung memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, tangisannya pecah, yang sejak ia tahan.
"Sayang." Ucap Khay mengusap punggung istrinya lembut.
"Hiks...Aku sudah membunuh anak kita, kamu pasti sangat kecewa denganku kan, kamu pasti marah denganku kan ? Ujar Enzy.
"Sayang, aku memang sedih karena kehilangan anak kita, tapi aku tidak pernah marah, kecewa, ataupun menyalahkan mu, mungkin ini semua sudah takdir kita, mungkin kita belum dipercayakan Allah untuk memilikinya, makanya Allah kembali mengambilnya, tapi yakinlah Allah punya rencana jauh lebih baik lagi buat kita nantinya, percayalah !" Ujar Khay.
Khay melepaskan pelukannya beralih menangkup wajah istrinya itu, kemudian mengecup keningnya. setelah ia melakukan itu Khay kembali menarik Enzy masuk kedalam pelukannya, ia memberikan pelukan yang erat nan hangat.
"Berhenti menangis !" Seru Khay.
Di dalam pelukan Khay, Enzy masih saja menagis tak tertahankan.
"Biarkan aku menangis seperti ini dulu, mungkin dengan cara seperti ini, rasa sakit karena kehilangan sedikit berkurang." Sahut Enzy.
Khay tak lagi berkata apapun, ia membiarkan istrinya itu menangis sampai dirasa puas, Khay terus mengusap punggung istrinya itu dengan sentuhan lembutnya, memberikan sedikit ketenangan, dan membiarkan kaos yang ia kenakan basah karena air mata Enzy.
Setelah beberapa menit mereka berpelukan tanpa sepatah katapun, Enzy mengakat wajahnya, menatap Khay yang masih setia memeluknya.
"Kamu beneran gak marah ?" Tanya Enzy menatap Khay dengan mata masih sedikit mengeluarkan air mata.
Khay menghapus air mata Enzy yang masih saja turun tanpa henti, kemudian tersenyum hangat.
"Sayang, buat apa aku marah, ini jelas bukan kesalahan kamu, jika saja aku tidak pernah bersahabat dengan yang namanya Priska, kamu tidak akan mengalami hal seperti ini, dan anak kita tidak akan pergi ninggalin kita, dan jika memang anak kita sudah di takdirkan untuk pergi sebelum ia dilahirkan pasti ada saja cara Allah untuk mengambilnya, jadi, aku mau kamu berhenti menyaahkan diri kamu sendiri, ok !" Jawab Khay panjang lebar.
"Tapi, aku masih benar-benar gak nyangka dia ninggalin kita." Ujar Enzy kembali memeluk Khay sangat erat.
"Sudah, sekarang ikhlaskan ya ! Kan kita bisa buat lagi." Sahut Khay persekian detik kemudian punggungnya di pukul sedikit keras oleh Enzy.
Enzy melepaskan pelukannya menatap tajam suaminya itu.
"Baru aja seminggu aku keguguran, dengan seenak jidat kamu buat lagi, kamu mau membunuhku !" Gertak Enzy kesal.
Khay terkekeh melihat kekesalan istrinya, setidaknya rasa sedih wanita yang ia cintai itu sedikit berkurang.
"Bercanda doang sayang." Ucap Khay menoel-noel pipi Enzy.
"Udah ya nangisnya ! Nanti kakak gak seneng mommynya nangis seperti ini terus, yang kakak tahu mommynya itu wanita kuat, gak cengeng seperti ini." Ucap Khay lagi merapikan anak rambut Enzy yang keluar dari cepolannya.
"Kakak ?" Enzy menatap Khay.
"Iya kakak, soalnya mau di bilang Abang kita kan belum tahu dia cowok atau cewek, makanya bilang kakak aja, lebih umum." Jelas Khay.
Enzy mengaguk-anggukkan kepalanya, kemudian beralih menatap perutnya yang kini sudah rata.
"Kak, jadi anak baik ya di surga, jangan buat Allah marah ya, tunggu mommy, daddy, doakan agar kami bisa berkumpul lagi disana, jika sudah tiba waktunya nanti." Ucap Enzy mengusap perut ratanya dengan mata kembali berkaca-kaca.
Khay yang mendengar ucapan istrinya juga sedikit merasa sedih, namun sebisa mungkin ia mempertahankan senyumannya.
"Gak aku bisa sendiri, aku gak percaya sama kamu." Ucap Enzy mendelik.
"Minggir !" Serunya lagi.
Khay pindah dari posisinya berjalan kearah sofa sambil terkekeh karena berhasil menggoda istrinya.
...----------------...
Beberapa bulan kemudian setelah Kia lulus seminggu lagi pernikahannya dengan Kavi akan segera di laksanakan, kini semua keluarga baik di pihak opa Salman juga dari opa Fikram berkumpul di kediaman Kenan di kota Xx.
"Jadi sudah sampai mana persiapannya ?* Tanya Oma Vivian.
"Sudah 95% Bun, tinggal dekorasinya gedungnya aja ya belum selesai." Jawab Diva.
"Duh...masih gak nyangka ya, aku keduluan sama adik-adik aku." Ujar Raydan berpura-pura sedih.
"Makanya bang, jangan dingin-dingin amat, cewek pada jauh takut beku sama sikap abang." Ejek Kia yang kini duduk bersebelahan di lantai.
"Setuju Ki, muka kok datar kek tembok mana dingin pula kek es batu, mana ada cewek mau Deket." Timpal Khay.
"Berguru tuh bang sama si bangkhay, kalau soal cewek mah, dia punya banyak koleksi, siapa tahu aja ada yang nyantol." Ujar Kia dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Khay.
"Emmm bener tu bang ! Sahut Enzy membenarkan.
"Atau begini aja Ki, kamu suru dia buat list nama mantan abang kamu itu, terus kita undang mereka, udah pasti bejibun tuh, kalau satu bus mah kagak cukup pasti, ya ada bolroom nanti di penuhi sama mantan-mantannya." Lanjut Enzy menatap Khay sinis.
"Enggak kok sayank, gak sampai penuh juga kali." Ucap Khay melingkarkan lengannya pada pinggang Enzy lalu menumpuhkan dagunya pada bahu istrinya itu.
"Minggir kamu, aku gak kenal kamu sama sekali !" Seru Enzy menaikkan bahunya yang menjadi tumpuan Khay.
"Gara-gara kamu sih Ki." Kesal Khay pada adiknya itu.
"Kok aku sih bang ?" Sewot Kia.
"Lagian siapa suru punya banyak mantan, gak enakkan di cuekin istri." Lanjutnya lalu tersenyum mengejek melihat Abangnya itu.
"Dasar ! Makanya jangan buru-buru nikahnya, jadi kagak tau kan rasanya masa-masa indahnya remaja, mana nikahnya sama aki-aki pula itu." Cibir Khay dan langsung mendapatkan lemparan bantal sofa.
Saat Khay akan melempar balik, nyalinya langsung ciut ketika ia tahu orang yang melemparnya itu adalah ayahnya sendiri, apalagi saat ia melihat tatapan tajam sang Ayah.
"Maaf yah." Cicit Khay meletakkan bantal tersebut.
"Ayah mau tanya bang, bisa ?" Ujar Kenan dingin masih menatap tajam putranya itu.
"Bi...bisa yah." Sahut Khay takut-takut.
"Apa yang kamu dapat setelah menikmati masa-masa indah remaja yang kamu maksud itu bang ? Bahagia atau bagaimana ?" Tanya Kenan.
"Seneng Yah." Jawab Khay.
"Hanya seneng ?" Kenan bertanya menaikkan kedua alisnya.
Khay bingung harus menjawab apa lagi, ia bingung mendengar pertanyaan ayahnya.
"Bang, apa kamu lupa ayah sama bunda menikah di umur berapa ? Ayah belum sempat menikmati masa remaja ayah yang katamu indah itu, tapi ayah seneng dan sangat bahagia saat ayah menikahi bundamu, pacaran setelah menikah itu beda bang, menikmati masa remaja dengan yang sudah halal itu lebih baik dan indah bang." Ucap Kenan.
"Iya yah, maaf." Khay hanya bisa melontarkan kata itu.
"Syukurin, makanya jangan suka asal ceplos doang, Abang lupa ya, kak Enzy nikah sama Abang umur berapa, lagian Abang juga bisa dikatakan nikah mudah kan ?" Cibir Kia menjulurkan lidahnya.
"Sudah-sudah sekarang lebih baik kita makan siang dulu, makanan udah pada siap itu." Le ai Oma Hani dan di angguki semua keluarga.
Bersambung......
Sepertinya author bakal lanjut season 4, di Season 4 nanti author berencana menceritakan kehidupan Khay dan Enzy dalam menjalani kehidupan rumah tangganya yang hangat. Jika reader gak bosan tetap ikutin ya, insyaallah di season berikutnya sudah tidak bakal ada lagi konflik berat, hanya ada ke uwauaaannn pasangan Khay dan Enzy.
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...