Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 77


Satu minggu setelah acara perpisahan sekolah, Kenan, Diva, dan juga Ray akan kembali ke kota Xx, begitupun dengan Rafa juga sudah berangkat ke New York dua hari setelah acara perpisahan sekolah. Hera juga sudah berangkat entah kemana, di saat yang bersamaan dengan hari keberangkatan Rafa. Dua hari yang lalu Jova juga sudah berangkat ke Singapura.


Kini ke Dua pasangan suami istri dan tunangan itu sudah berada di bandara kota Z, yang akan berangkat menuju kota Xx kecuali Lani yang hanya mengantar ketiganya.


"Yank, harusnya kamu ikut kita aja sekarang, tidak harus menunggu apartemen kamu selesai di renovasi dulu, kamu bisa tinggal dirumah aku untuk sementara sampai semuanya selesai !" Ujar Ray saat akan masuk ke bagian keberangkatan.


"Tidak, aku harus menunggu apartemennya selesai, aku juga tidak mau tinggal dirumah kamu sebelum kita menikah, rasanya tidak enak dan tidak baik juga, nanti apa kata orang." Terang Lani.


"Lagian untuk mendaftar di universitas masih bisa lewat online." Sambung Diva saat tadi sempat menjedah ucapannya.


"Lu bisa tinggal di rumah kami, kalau lu tidak mau tinggal dirumah Ray !" Ajak Kenan.


"Tidak Nan, terimakasih, tapi gue akan nunggu sampai apartemennya selesai saja, lagian orangtua gue mau berangkat keluar negeri, untuk satu bulan kedepan, gue mau menghabiskan waktu sebelum mereka pergi." Lani kembali menolak ajakan Kenan.


"Bilang aja kalau lu mau menghabiskan waktu buat ngetrek sebelum berangkat ke kota Xx." Cibir Diva dengan sedikit lemas.


"Gue tampol juga tuh mulut, asal ngejemplak aja kalau ngomong." Kesal Lani dengan cibiran sahabatnya itu.


"Kan siapa tau, tidak ada yang liat juga kan." Ujar Diva.


"Awas aja kalau kamu sampai ngetrek, aku akan ke sini buat nyeret kamu Yank, kalau kamu sampai melakukannya." Ancam Ray.


"Diva kamu dengerin, yang ada kamu malah sesat." Ucap Lani melihat kesal kearah Diva.


"Emang gue Iblis bikin sesat." Ucap Diva tak terima dengan ucapan sahabatnya itu.


"Sudah-sudah, sekarang kita masuk aja 15 menit lagi pesawat kita akan berangkat." Lerai Kenan yang sudah jengah melihat perdebatan kedua sahabat bar-bar itu.


"Sayang aku berangkat dulu, kamu jangan ngelakuin hal yang macam-macam disini." Ray berpamitan kepada Lani dan membawanya kepelukannya.


"Iya, kamu juga jangan genit, Aku bisa lebih kejam dari ancaman Diva ke Kenan !" Ujar Lani membalas pelukan Ray.


"Emang kamu tau ancaman Diva yank ?" Tanya Ray melepaskan pelukannya kemudian memegang pundak tunangannya itu.


Lani menggunakan kepalanya kemudian mengatakan


"Diva mengancam masa depan Kenan."


"Iya aku tidak akan macam-macam, paling juga satu macam aja yank." Ujar Ray mengedipkan matanya.


"Woi, sampai kapan lu mau disini, pesawat akan berangkat." Ujar Kenan merangkul Diva berjalan masuk menuju pesawat mereka.


Ray kembali memeluk Lani sejenak, kemudian mencium keningnya sekilas, lalu menyusul pasutri muda itu yang sudah cukup jauh meninggalkanya.


Saat dalam pesawat Diva merasa sangat pusing, dan juga mual, Diva segera berlari menuju toilet, di ikuti Kenan tentunya.


"Yank, kamu kenapa, apa perlu kita batalkan saja keberangkatan kita, sebelum pesawatnya lepas landing." Ujar Kenan terlihat sangat khawatir sambil memijat pelan tengkuk Diva yang terus saja mual tapi tak mengeluarkan apapun.


Diva hanya menggelengkan kepalanya kemudian mencuci mulutnya.


"Bagaimana apa sudah lebih baik ?" Kenan kembali bertanya sambil menyekah peluh di kening istrinya itu.


"Sudah lebih baik dari sebelumnya, mualnya juga sedikit berkurang." Jawab Diva merangkul lengan Kenan kemudian berjalan keluar dari toilet.


Setelah sampai di kursinya, Kenan menyandarkan kepala Diva di bahunya, sambil mengusap pelan punggung istrinya itu, supaya merasa sedikit lebih baik.


"Kamu tidur aja yank, nanti kalau sampai aku bangunin kamu !" Ujar Kenan lalu mengecup kening Diva sekilas, dan di balas anggukan oleh Diva.


Ray yang duduk di depan kursi Kenan dan Diva berbalik kearah mereka.


"Bagaimana keadaannya ?" Tanya Ray juga ikut khawatir melihat wajah pucat Diva.


"Dia terus saja mual dan pusing, mungkin dia masuk angin." Jawab Kenan.


"Elu yakin, kalau dia hanya masuk angin, bagaimana kalau istrimu itu sedang hamil ." Ujar Ray melihat kearah Diva, kemudian kembali beralih kepada sahabatnya itu.


"Hamil ?" Kenan mengulang ucapan Ray menaikkan kedua alisnya.


"Iya, itu sih baru tebakan gue aja." Jawab Ray.


Kenan tersenyum mendengar ucapan Ray, yang mengatakan kalau Diva hamil, Kenan sangat berharap kalau istrinya itu benar-benar hamil, jika saja itu benar maka dia tambah bersemangat untuk berjuang melawan penyakitnya untuk segera sembuh.


Setelah kurang lebih dari satu jam perjalanan, ketiganya sampai di Bandara kota Xx. Diva masih saja terlihat lemas dan sangat kelelahan.


Kenan berjalan sambil merangkul istrinya itu menuju lobi, dimana pak Urip sudah menunggunya.


Sedangkan Ray sibuk mendorong semua koper-koper Diva, layaknya seperti seorang asisten. Diva memang membawa banyak barang, karena dia akan tinggal atau menetap di kota Xx.


Setelah selesai Ray memasukkan semua koper-koper Diva dan Kenan dalam bagasi mobil, Ray pamit pulang, karena sopirnya juga sudah menunggunya.


Dalam perjalanan menuju kediaman Pak Salman, Diva kembali merasakan mual yang tak tertahankan lagi. Diva kembali memuntahkan cairan berwarna kuning, tepat di bagian perut Kenan. Karena sedari tadi Diva menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, akhir-akhir ini Diva sangat menyukai aroma tubuh suaminya.


"Maaf ... " Ucap Diva merasa sangat bersalah.


"Tidak apa-apa Yank, ini bisa diganti kok." Sahut Kenan mengusap kening Diva yang di penuhi keringat.


"Pak, tolong berhenti di pom bensin depan, saya mau ganti baju saya dulu, takut istri saya mual lagi jika mencium aromanya !" Ujar Kenan kepada Pak Urip.


"Baik Den, apa Non Diva sedang hamil ?" Tanya Pak Urip.


"Saya tidak tau juga Pak." Jawab Kenan.


"Coba di periksa dulu Den, atau mau saya antar langsung kerumah sakit dulu.!" Ujar Pak Urip mengusulkan.


Kenan sedikit berpikir, apa yang diusulkan pak Urip ada benarnya juga, kemudian menatap Diva. Diva mengangguk pertanda dia juga setuju dengan usulan Pak Urip, Sebenarnya Diva juga sangat penasaran, karena ia juga sudah tidak menstruasi selama sebulan ini.


"Baik pak, setelah dari pom bensin, langsung saja antarkan kami kerumah sakit !" Ujar Kenan dan langsung diangguki Pak Urip.


"Baik Den.


Di rumah sakit Kenan dan Diva duduk di kursi tunggu, di depan ruangan poli kandungan, untuk menunggu giliran.


"Kenan, sedang apa di sini ?" Tanya Dokter Bayu saat tak sengaja lewat depan Kenan dan Diva.


"Saya mengantarkan istri saya untuk cek kandungan Dokter." Jawab Kenan.


"Oh ... Jadi kamu sudah menikah, dan segera memiliki anak, selamat ya atas kehamilannya." Dokter Bayu sedikit kaget mendengar Kenan sudah menikah, setahunya pasiennya itu masih pelajar, tak lupa juga memberinya selamat kepada pasutri muda itu.


"Iya saya sudah menikah, dari hampir setahun yang lalu Dok, dan kami baru akan mengecek apa istri saya benar-benar hamil." Jawab Kenan tersenyum.


"O iya bagaimana keadaan kamu, kamu tidak pernah terlambat meminum obat yang saya resepkan kan ?" Tanya Dokter Bayu.


"Alhamdulillah saya lebih baik sekarang dokter." Jawab Kenan sedikit khawatir, jangan sampai Dokter Bayu membicarakan penyakitnya saat ini, karena saat ini ia sedang bersama Diva.


Kenan sangat berharap ada yang bisa menolongnya untuk segera pergi dari hadapan Dokter tersebut.


"Baiklah kalau begitu, dua hari lagi waktunya kamu menjalani serangkaian Kem.....


"Maaf Dokter istri saya sudah di panggil untuk masuk, nanti saya akan menghubungi Dokter." Dokter Bayu tidak dapat melanjutkan ucapannya karena buru-buru Kenan menyelanya, karena kebetulan seorang suster memanggil nama Diva untuk segera diperiksa.


Dalam hati Kenan merasa sangat berterimakasih kepada suster tersebut, sudah menyelamatkan dirinya dari keadaan ini.


Kenan segera merangkul Diva masuk keruangan poli kandungan tersebut, yang sebelumnya ia pamit kepada Dokter Bayu.


"Jadi apa keluhannya ?" Tanya dokter wanita yang bernamrtag Dokter Melisa.


"Saya sering pusing dan mual Dok " Jawab Diva.


"Sudah berapa lama ?"


"Sudah tiga hari terakhir ini Dok."


"Jadi kamu sudah seperti ini selama tiga hari, dan kamu tidak memberitahu ku Yank." Ujar Kenan sedikit meninggikan suaranya.


"Ckkk.... pelankan suaramu by', ini rumah sakit !" Decak Diva.


"Maaf Dok, suami saya memang suka lebay." Ucap Diva tak enak kepada dokter tersebut.


Dokter Melisa hanya tersenyum menanggapi, dan merasa lucu melihat pasangan muda tersebut.


"Kapan menstruasi terakhir kalinya." Dokter Melisa melanjutkan pertanyaannya.


"Sudah sebulan ini saya tidak menstruasi Dok." Jawab Diva seadaanya.


"Baiklah, kalau begitu kita lakukan USG, supaya lebih jelas."


"Sus, tolong persiapkan peralatan USG nya." Pinta Dokter Melisa kepada salah satu suster.


"Mari ikut saya !" Ujar Dokter Melisa mengajak Diva untuk segera berbaring diatas brankar.


Diva segera berbaring, begitupun Kenan yang mengikuti Diva duduk di sebelah kiri Diva sambil terus menggenggam tangan istrinya itu.


Dokter Melisa mengoleskan jel yang terasa dingin diperut Diva kemudian meletakkan alat USG di permukaan perut Diva sambil menggerakkan ke kanan dan kiri perut Diva.


"Selamat Kalian akan menjadi orang tua muda." Ujar Dokter Melisa saat melihat di monitor.


"Maksudnya, istri saya benar-benar hamil Dok ?" Tanya Kenan antusias.


"Iya, usia kehamilannya sudah 3 Minggu, dan coba liat yang mirip dengan kecambah ini, ini gumpalan darah yang akan menjadi buah hati kalian." Jelas Dokter Melisa panjang lebar, sambil menunjuk arah monitor.


Kenan yang mendengar penjelasan Dokter, tidak henti-hentinya mencium seluruh wajah Diva, tanpa rasa malu kepada Dokter Melisa dan seorang suster yang berada di dekat mereka.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian, dengan cara


Like


Coment


Vote


Salam sayang dan terimah kasih atas dukungan kalian....


🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️