Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 108 Season 3 (Next Generasi)


...❤️ HAPPY READING ❤️...


"Sayang kamu baik-baik ya disini, ingat kalau bawa motornya hati-hati, selalu telfon bunda !" Ucap Diva saat ia berpamitan pulang ke kota Xx sambil memeluk putrinya itu.


"Iya Bun, bunda tenang aja, bunda juga jaga kesehatan, jangan terlalu memikirkan aku di sini, disini sudah ada kedua opa dan oma, serta bang Aidan." Ucap Kia juga memeluk manja bundanya itu.


Kini giliran Kenan memeluk putrinya itu.


"Sayang ayah pulang dulu, nanti jika ayah ada waktu luang, ayah akan menyempatkan menjengukmu disini, kamu hati-hati disini, ok !" Ucap Kenan kemudian mencium pucuk kepala putrinya dengan sayang.


"Iya, yah aku boleh minta sesuatu enggak ?" Sahut Kia lalu mendongak menatap ayahnya itu.


Kenan mengernyitkan keningnya, mendengar putrinya itu akan meminta sesuatu darinya.


"Apa sayang, kami mau minta apa, ayah akan pasti memberikan untukmu jika ayah mampu." Tanya Kenan menarik gemas hidung gadis kecilnya itu.


"Yah, ada motor keluaran terbaru, ak.....


"Gak sayang, kamu baru saja ayah belikan motor saat baru pindah kesini, apa itu belum cukup, lagian motor-motor kamu di kota Xx kamu mau apakan ?" Sela Kenan menolak permintaan putrinya itu.


"Ya sudah jika ayah tidak mau, nanti aku minta saja sama opa, opa pasti mau membelikan itu untukku." Ucap Kia melepaskan pelukannya sambil memajukan bibirnya, pertanda ia sedang merajuk.


"Sudahlah Nan, kamu turuti saja permintaan anak kamu itu, atau kamu mau Kavi yang membelikan itu untuknya !" Timpal opa Salman yang sejak tadi memang berdiri disana bersama Oma Vivian juga bersama opa Fikram dan Oma Hani.


"Tapi yah, Kia sudah banyak mengoleksi motor, setiap ada keluaran terbaru iya pasti meminta itu, yah bukannya aku tidak mau, tapi yah, dia itu cewek, harusnya dia bersikap anggun, apalagi saat ini, dia...." Kenan menjeda ucapanya, ia merasa gengsi untuk melanjutkan ucapannya.


"Dia apa ?" Tanya mereka semua bersamaan.


Kenan gelagapan untuk menjawab seruan mereka.


"Dia sudah mau tunangan." Sahut Kenan cepat.


"Bilang gitu aja gengsi." Ejek opa Salman.


"Ya sudah yah, Bun, ayah Fikram dan bunda Hani, kalau begitu aku pamit dulu, takut metingnya gak keburu soalnya." Pamit Kenan kepada orangtua dan mertuanya, kemudian mencium punggung tangan mereka secara bergantian di ikuti Diva memeluk mereka bergantian tak lupa mencium kedua bunda kesayangannya.


"Kalian hati-hati, ingat kabari kami jika kalian sudah sampai !" Seru Oma Hani.


"Iya Bun,." Sahut Diva.


"Jangan lupa salam buat Enzy juga Abang disana." Sambung Oma Vivian.


Setelah kepergian keduanya, opa Fikram dan Oma Hani pamit untuk segera pulang kerumah mereka, begitupun Kia pamit untuk pergi ke sekolah, karena waktunya sekarang emang masih sangat pagi.


...----------------...


Sedangkan di kota Xx


Tampak Sita melamun di depan jendela kamarnya, mengingat semua kenangannya bersama Khay.


"Sita, dek...kakak sudah menyiapkan sarapan kita, segeralah keluar !" Teriak Alex sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Sita, dek apa kamu baik-baik saja di dalam ?" Alex kembali memanggil-manggil adiknya itu, sambil memutar knop pintu, namun sayang pintunya terkunci dari dalam.


Alex mulai khawatir, karena beberapa minggu terakhir ini ia selalu mendapati adiknya melamun sendirian, ia takut adiknya itu kembali depresi seperti dulu.


"Sita, Sit, kamu dengar kakak kan, atau kalau enggak kakak akan mendobrak pintunya." Teriak Alex mulai panik.


Saat Alex akan mencoba mendobraknya, Sita membuka pintunya.


"Dek, kamu kenapa ?" Tanya Alex khawatir.


"Tidak apa-apa kak, maaf pagi ini aku tidak menyiapkan sarapan untuk kita." Sesal Sita.


"Tidak apa-apa dek, kakak sudah menyiapkannya kok, sekarang buruan sarapan entar kita terlambat !" Seru Alex mengusap pelan rambut adiknya itu.


Sita hanya membalas perlakuan kakaknya itu dengan senyuman yang sangat jelas terlihat oleh Alex kalau senyuman itu di paksakan.


"Ada apa dengan kamu dek ?" Gumam Alex melihat punggung adiknya itu menuruni tangga.


...----------------...


"Sayang, kamu yakin mau ikut hangout bersama Priska ?" Tanya Khay tampak khawatir dengan rencana istrinya yang akan pergi bersama Priska walau itu hanya jalan-jalan ke mall dekat kampus mereka.


"Yakin, lagian aku juga bosan tinggal di rumah terus." Jawab Enzy meyakinkan suaminya itu.


"Tapi kamu harus ingat ya sayang, kamu jangan kecapean, kalau kamu capek, minta Priska untuk beristirahat atau langsung pulang saja !" Seru Khay mengingatkan.


"Iya sayang." Sahut Enzy bergelayut manja pada lengan suaminya itu.


"Ya sudah ayo aku antar kamu ke tempat Priska menunggumu !" Ajak Khay lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya itu, kemudian menuju parkiran fakultas manejemen bisnis, dimana Priska sudah menunggu.


"Tenang gue akan menjaga istri kamu, gue tidak akan membiarkan ponakan gue kenapa-napa." Sahut Priska.


"Awas aja kamu ! Dan satu lagi ingat jangan mengajak istri gue makan makanan cepat saji, kalaupun kalian ingin makan, makanan yang dimakan istri gue harus makanan sehat, ingat itu baik-baik !" Kecam Khay mewanti-wanti.


"Siap pak bos." Sahut Priska memberikan tanda hormat pada pria bawel di depannya itu, sedangkan Enzy hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keposesifan suaminya tersayangnya itu, namun Enzy benar-benar sangat bersyukur mendapatkan pria seperti Khay, yang tulus mencintainya, apalagi kedua mertua dan seluruh keluarga suaminya sangat menyayanginya.


"Kamu kenapa senyum-senyum ?" Tanya Khay saat melihat istrinya itu senyum-senyum sendiri.


"Khay jangan-jangan Enzy kesurupan lagi ?" Tebak Priska membuat Khay langsung panik.


"Woi, siapapun kamu yang merasuki istriku segeralah keluar sebelum aku membacakan doa-doa ampuh untuk mengusirmu !" Ucap Khay terlihat sangat lucu apalagi memegangi kening Enzy layaknya seseorang yang berusaha mengeluarkan makhluk halus dalam tubuh seseorang, Enzy yang melihat tingkah absurt suaminya tak bisa menahan tawanya sampai ia tertawa terbahak-bahak.


"Khay, beneran Khay Enzy benar-benar kesurupan, gawat ini Khay !" Panik Priska.


Khay tampak komat-kamit membacakan ayat kursi yang sulit ia selesaikan saking paniknya, membuat Enzy semakin tertawa.


"Keluar gak, atau aku panggilkan seorang ustadz untuk mengeluarkanmu !" Seru Khay meniup ubun-ubun istrinya setelah berhasil membacakan ayat kursi dengan benar.


"Sayang, Hay...aku gak apa-apa kok, mana ada aku kesurupan." Ucap Enzy masih disisa-sisa tawanya sambil memegangi perutnya yang sedikit sakit karena kebanyakan tertawa.


"Beneran kamu gak kesurupan, ini beneran istri saya Enzy kan, ini yang berbicara bukan hati kan ?" Tanya Khay terdengar sangat konyol.


"Iya, kamu beneran Enzy kan, kamu bukan hantu kan ?" Timpal Priska.


Sebelum Enzy menjawab kedua sahabat Khay juga Priska datang, yaitu Doni juga Leo.


"Khay, Pris, ada apa ? Kenapa kalian terlihah panik gitu, terus Enzy kamu kenapa tertawa begitu sedangkan yang lainnya pada panik gitu ?" Tanya Doni di angguki Leo.


"Ini Din, Ray, Enzy kesurupan." Jawab Priska.


"Apa ?" Kaget Doni dan Leo bersamaan.


"Eta Saha, keluar eiii ?!" Seru Doni meletakkan tangannya tepat di ubun-ubun Enzy sambil komat-kamit entah apa yang dibacakan pria itu.


"Keluar !" Seru Doni meniup wajah Enzy.


"Kalian pada kenapa sih, yang kesurupan itu siapa ? Dasar konyol !" Ujar Enzy setelah sudah mampu meredakan tawanya.


"Sayang, kok kamu enggak tertawa lagi ? Sepertinya istri gue benar-benar kesurupan nih !" Tanya Khay lalu berujar pada sahabat-sahabatnya tentu saja ketiga orang itu mengangguki ucapan Khay.


"SSSTTOOPPPP....!!!" Teriak Enzy membuat ke empat orang itu langsung diam menatapnya.


"Aku bilang aku gak kesurupan, kenapa sih kalian ?" Seru Enzy kesal.


"Beneran kamu gak kesurupan sayang ?" Tanya Khay memeriksa seluruh tubuh istrinya.


"Gak !" Sahut Enzy malas.


"Alhamdulillah." Ucap ke empatnya bersamaan.


"Ya sudah ayo Pris kita pergi !" Ajak Enzy.


"Iya ayo." Sahut Priska.


"Sayang aku pamit dulu ya, hati-hati ke kantornya, ingat gak usah genit juga tebar-tebar pesona sama karyawan kamu !" Pamit Enzy mencium punggung tangan Khay lalu memperingati suaminya.


"Astaga sayang siapa juga yang genit sama caper, aku tuh cuma perhatian sama capernya cuma kamu doang kok, sumpah deh !" Ujar Khay lalu mencium kening Enzy.


"Dan ingat perkataan aku tadi, jangan terlalu kelelahan." Khay kembali memperingatkan.


"Iya, bay sayang." Ucap Enzy kemudian menyusul masuk ke mobil Priska.


Bersambung.......


Jangan lupa


LIKE


KOMENTAR


VOTE


Mampir juga yukkkk ke cerita baru aku berjudul DENDAM MEMBAWA CINTA.


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...