
Kenan terlihat sangat marah sambil memasuki rumahnya, Diva dan Enzy yang tengah duduk bersantai sambil mengobrol perihal kehamilan Enzy di ruang tengah di kagetkan dengan kedatangan Kenan dengan ekspresi wajah dipenuhi amarah.
"Yah, ada apa, apa terjadi sesuatu yang mengusikmu ?" Tanya Diva menghampiri suaminya yang kini berjalan menuju kearahnya.
"Segera bersiap kita akan ke kota Z sekarang juga !" Seru Kenan tegas mengabaikan pertanyaan dari istrinya.
"Tapi untuk apa yah, sekarang kehamilan Enzy sudah masuk lima bulan, tidak seharusnya kita meninggalkan dia sendirian disini, apalagi ke adaan kandungannya kembali lemah." Ujar Diva.
Ya sekarang sudah kurang lebih satu bulan, tapi Kenan baru mengetahui hubungan antara putrinya juga Kavi, dan lebih membuatnya marah adalah orangtua juga mertuanya sangat mendukung hubungan mereka.
"Disini masih ada Khay yang menjaga Enzy Bun, sekarang juga kita harus ke kota Z, hanya untuk sehari atau dua hari saja, kita akan menjemputnya putri kita kembali kesini lagi, bersama kita." Ucap Kenan membuat Diva semakin dibuat bingung oleh perkataan suaminya barusan, bukannya dulu suaminya itu kekeh ingin memindahkan Kia, kenapa sekarang malah ingin membawa kembali putrinya itu, bukannya Diva gak seneng tapi dia heran aja kenapa begitu tiba-tiba, ada masalah apa sebenarnya dengan pikiran suaminya ? Diva terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Tapi apa alasan ayah membawa kembali adek pulang kerumah, sebenarnya ada apa sih ?" Tanya Diva yang sudah mulai kesal dengan suaminya itu.
"Pokoknya bunda lebih baik siap-siap, jika kamu tidak ingin ikut ya sudah, biar aku yang kesana sendiri." Ujar Kenan kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya terlebih dahulu.
"Sayang kamu tunggu disini sebantar ya, bunda mau lihat ayah dulu, sepertinya ayah mertua kamu itu udah mulai pikun." Ucap Diva pada Enzy yang sejak tadi hanya terdiam melihat perdebatan kedua mertuanya.
"Ya Bun, bunda masuk saja." Sahut Enzy sembari tersenyum sambil mengangguk kepalanya.
Diva memasuki kamarku, di saat bersamaan Kenan juga akan keluar.
"Minggir Bun, aku mau lewat !" Seru Kenan pada Diva yang tengah menghalangi jalannya.
"Jelaskan dulu ada apa !" Seru Diva dingin menatap Kenan.
Kenan masih tak bergeming, ia malah balik menatap Diva dengan tatapan datar, ia malah meminta Diva agar tak menghalanginya.
"Jelaskan !" Seru Diva terus menatap Kenan sengit juga sedikit meninggikan suaranya karena suaminya itu masih tak bergeming.
Kenan yang di tatap seperti itu oleh Diva, mau tak mau harus menjelaskan terlebih dahulu, alasannya apa untuk segera ke kota Z.
"Bun, sekarang putri kita sudah menjalin hubungan dengan Kavi, dan apa kamu tahu ? Ayah, ayah Fikram dan yang lainnya sudah menyetujui hal ini, bahkan ayah sendiri yang membebaskan putri kita untuk menjalani hubungan tersebut, bahkan sudah satu bulan terakhir ini mereka bersama." Jelas Kenan.
"Ya sudah sih, jika para opa dan yang lainnya menyetujui, berarti mereka percaya dengan Kavi, kalau dia bisa menjaga putri kita, kamunya aja yang terlalu over protektif pada putrimu, apa kamu pernah memikirkannya perasaan putrimu bagaimana, kamu jangan egois lah Yah !" Seru Diva santai membuat Kenan tak habis pikir dengan perkataan istrinya tersebut.
"Bun, kamu juga mendukung mereka ?" Tanya Kenan.
"Ya apa salahnya, jika itu membuat putriku bahagia." Sahut Diva acuh tak acuh.
"Bun, kamu tahu betul kan, adek sendiri yang pernah mengatakan kalau dia tak menyukai Kavi ?" Seru Kenan.
"Yah kamu jangan naif, kamu tahu sendirikan putri kita selalu mendengar apa perkataan mu, dan selalu apa yang kamu ucapkan itu selalu benar, dan dia sendiri pernah mengatakan kalau ia tak mengerti dengan perasaannya, tapi ia juga selalu meyakinkan dirinya untuk menghindari Kavi, karena ia mengira pria itu benar-benar tidak baik untuknya, karena mendengar perkataan kamu, dia selalu berpikir apa yang menurutmu tidak baik maka hal itu pasti tidak akan baik." Ucap Diva panjang lebar kemudian memutar bola matanya malas.
"Terserah apa katamu, tapi kali ini aku benar-benar akan menjemput putriku, aku tidak ingin dia terluka karena ia bersama Kavi." Ucap Kenan seolah dibutakan oleh kekhawatiran yang berlebihan.
"Terserah kamu, yang jelas aku tidak akan ikut bersamamu, aku tidak ingin melihat putriku merasa kecewa dan tersakiti oleh ayahnya sendiri." Sahut Diva kembali keluar dari kamarnya.
"Bun, bunda." Teriak Kenan pada istrinya yang meninggalkannya begitu saja, sembari mengikutinya sampai ruang tengah dimana Enzy masih berada disana, dan kini Khay juga sudah berada disana.
"Gak usah teriak-teriak, jangan menganggu ketenangan cucuku yang masih berada dalam kandungan !" Seru Diva menatap sinis pada suaminya itu.
"Ada apa sih ?" Tanya Khay penasaran melihat kedua orangtuanya secara bergantian.
"Tuh ayah kamu, sudah gila kali." Ucap Diva asal kemudian duduk disamping menantunya.
"Ya emang, jika kamu ingin pergi, pergi aja sana, gak usah ngajak-ngajak, sekarang aku lagi marah dan kesal banget sama kamu !" Ujar Diva cuek tak mau melihat ke arah suaminya itu.
"Kalian pada kenapa sih, ada apa ?" Khay semakin dibuat bingung oleh sikap kedua orangtuanya, apalagi melihat sang bunda yang sepertinya merajuk, mungkin ayahnya membuat kesalahan, kali. Pikir Khay.
"Tanya aja tuh sama ayah kesayangan kamu !" Sahut Diva.
"Yah ?" Khay beralih menatap ayahnya.
"Khay ikut ayah sekarang !" Seru Kenan tak menghiraukan pertanyaan putranya.
"Ikut kemana ? Awww jangan bilang kalian...mau berpisah terus aku ikut ayah, dan Kia..." Belum juga Khay meneruskan ucapannya tiba-tiba saja ayah dan bundanya kompak memukulinya, Kenan menyentil keningnya sedangkan Diva memukul bahunya, membuat sang empuh mengadu kesakitan.
"Jangan sembarang kalau ngomong !" Seru Kenan dan Diva bersamaan.
"Lagian, apa maksudnya ayah memintaku ikut bersama ayah, bukannya di sinetron selalu begitu, jika orangtuanya mau berpisah, mereka akan membagi anak-anak mereka." Oceh Khay membuat Enzy sudah payah menahan tawanya agar tidak keluar disaat sedang perang dingin begini saat melihat sikap b**"doh suaminya.
"Ckkk... kelamaan kamu ikut ayah sekarang !" Decak Kenan jengah kemudian menarik paksa tangan Khay agar segera ikut dengannya, disaat itu juga Diva berdiri menahan lengan Khay satunya lagi.
"Kamu tetap disini bersama bunda !" Seru Diva.
"Apa bener kalian mau Pi..."
"Sudah kukatakan itu tidak akan terjadi." Sela Kenan.
"Lalu ini ada apa ?" Seru Kenan terdengar prustasi kemudian mengehempas tangan kedua orangtuanya.
"Kamu ikut bersama ayah ke kota Z untuk menjemput adikmu." Terang Kenan.
"Buat apa ? Lagian setau aku Kia belum juga selesai sekolahnya bahkan belum libur, iya kan ?"
"Gak usah banyak tanya Khayran Delvin, sekarang juga kamu ikut ayah, nanti ayah akan jelaskan semuanya di perjalanan." Kenan sudah mulai habis kesabaran dengan sikap putranya itu.
"Gak akan, Khay kamu gak boleh ikut dengan ayahmu, kamu harus tetap berada disisi istri kamu, istri kamu sangat membutuhkanmu." Timpal Diva.
"Bener tuh kata bunda, alu tidak bisa meninggalkan istri aku yah, ayah tau sendirikan ke adaannya sekarang." Sahut Khay mengiyakan ucapan bundanya.
"Terserah jika kalian tidak ingin ikut, kalian membuang-buang waktu ku saja, bilang kek dari tadi jika kamu juga tidak ingin ikut !" Seru Kenan kesal.
"Dasar kakek tua pikun, kamu sendiri yang bikin lama kakek, kamu sendiri yang sejak tadi berbicara yang tak jelas pada putraku." Ejek Diva kemudian di lanjutkan gelak tawa dari Khay juga Diva sendiri mendengar Kenan dikatai kakek tua pikun, sedangkan Enzy hanya bisa tertawa namun tak sampai tergelek, membuat Kenan menatap tajam istrinya.
"Awas kamu nenek tua, tunggu aku kembali !!" Ancam Kenan kemudian pergi dari sana.
Bersambung......
Wkwkwkwk... nulis part ini sambil ngakak sendiri dengan tingkah absurt keluarga Kenan, dan maaf sebesar-besarnya jika alurnya sedikit ngeblank, author sengaja buat sedikit lebih santai sebelum kita tegang karena Kenan, dan perjuangan Kavi untuk meyakinkan calon mertuanya sekaligus sahabatnya itu agar mendapat restu untuk menjalin hubungan dengan putri sahabatnya sendiri...
JANGAN LUPAKAN KARYA AUTHOR YANG BARU RILIS DI AWAL BULAN MEY KEMARIN YANG BERJUDUL DENDAM MEMBAWA CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...