Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 29


" Maaf tuan kami sudah berusaha semaksimal dan semampu kami, tapi Allah berkehendak lain. " Ucap Dokter Rian.


Kenan langsung masuk keruangan dimana Diva dirawat.


Seketika Kenan menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang tertutup kain putih, ia terus mendekat dengan berharap itu bukanlah istrinya.


Dengan tangan gemetar ia membuka kain penutup itu, Seketika tubuh Kenan lemas dan luruh jatuh kelantai dengan kedua lututnya yang menopang tubuhnya menggenggam erat tangan istrinya yang sudah terbaring pucat tak bernyawa.


" Ya....Yank....kamu sudah janji, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku Ya..nk. " Ucapan Kenan sangat lirih hampir tak terdengar.


" Yank, aku minta maaf, kamu boleh hukum aku, tapi aku mohon jangan seperti ini. " Ucap Kenan tidak bisa lagi menahan air matanya.



" Ya..nkk bangun, aku tau, kamu ngerjain aku kan yank, bangun, AKU BILANG BANGUN ADIVA..." ucap Kenan begitu lirih, dan kemudian berteriak, membuat semua orang yang diluar ruangan masuk menghampiri Kenan, namun belum sampai mereka didekat Kenan, ayah Salman menghentikan mereka semua, karena ia tidak ingin ada yang mengganggu Kenan untuk saat ini, ia ingin memberi waktu untuk putranya itu.


Kini semua orang yang berada disana menatap Kenan dengan penuh keprihatinan.


" Yank, bangun katanya, kamu mau keparis, yank bangun becandaan kamu tidak lucu sama sekali Yank. " Ucap Kenan mengusap lengan Diva.


Kenan menghentikan tangisnya, ia tersenyum melihat Diva sambil mencium seluruh wajah istrinya itu.


Kenan terus memeluk tubuh Diva, menenglamkan wajahnya dibagian leher Diva menangis tersedu-sedu, Kenan saat ini tidak ada bedanya dengan orang g**a.


" Kalau kamu tidak bangun aku beneran cari wanita lain loh Yank..." Ucap kenan masih posisi memeluk Diva.


Ayah Salman dan Bunda Vivian mendekati Kenan. Bunda Vivian menarik Kenan kepelukannya, mengusap lembut punggung putranya itu.



" Sayang kamu harus ikhlas dan tambahkan hatimu, kamu tidak boleh seperti ini. " sahut Bunda Vivian berusaha untuk menguatkan Kenan, walaupun sebenarnya ia juga merasa sangat sedih.


" Dia hanya bercanda Bun, dia hanya mau ngerjain aku, kalian pulang lah istirahat kalian pasti capek, nanti kalau Diva bangun aku kabari kalian. " Ucap Kenan melepaskan pelukan bundanya.


Kenan naik kesebelah istrinya, berbaring sambil memeluk tubuh Diva erat.


" Kamu istirahat yank, aku tidak akan gangguin kamu, kamu harus cepat sembuh, Kitakan mau keparis, kalau kita selesai ujian." ucap Kenan ikut memejamkan matanya.


seketika Kenan tersadar bahwa istrinya telah tiada, Kenan semakin memeluk tubuh Diva erat, kembali menangis sangat pilu, menenggelamkan wajahnya diceluruk leher Diva, Kenan terus terisak tanpa mengeluarkan suara.


Semua yang melihat keadaan Kenan ikut Menangis, termasuk salah-satu suster yang bertugas untuk melepas alat yang tadi terpasang ditubuh Diva.


Bunda Vivian yang melihat keadaan putranya, langsung memeluk suaminya, seketika tangisnya pecah dipelukan ayah Salman.


Arka saat ini berdiri di samping brankar adiknya itu, dengan Vara terus disampingnya, Arka terlihat menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya saja air matanya terus saja keluar, sesekali Vara menghapus air mata kekasihnya itu.


Arka



Rafa dan Ray sesekali terdengar isakan nya, yang berada di samping ayah Salman.


Kenan terdengar kembali berbicara dengan sangat lirih penuh kepiluan dan rasa sakit yang amat dalam.


" Yank, sa...yang, bangun kumohon bangunlah, aku tidak sanggup hidup tanpa kamu Yank. " Sahut Kenan.


" SAYANG.... teriak Kenan histeris, mengguncang tubuh Diva.


" Sus, tolong siapkan administrasi nya, kami akan segera membawa jenazah menantuku, untuk mengurus pemakamannya. " Ucap pak Salman.


" Baik Pak, silahkan ikut saya, anda harus melengkapi administrasinya terlebih dahulu." jawab suster yang sedari tadi berada di ruangan itu.


" Nak, sebaiknya kita pulang, biarkan istrimu istirahat dengan tenang. " Ucap ayah Salman mengusap lembut punggung anaknya.


" Yah.." sahut Kenan lirih.


"Ada apa Nak ?" Tanya ayah Salman menatap senduh putranya.


Kenan langsung memeluk ayahnya.


" Apa Kenan juga harus pergi yah, aku mau menyusulnya, aku tidak bisa hidup tanpa Diva, Yah. " Ucap Kenan begitu sangat pilu, dipelukan ayahnya.


" Apa yang kau katakan Nak, ini sudah takdir, mungkin ini jalan yang Allah tentukan untuk kalian, kami tidak bisa melawan takdirnya Nak, kami sebagai umatnya harus selalu tabah, dan ikhlas menerima apa yang ia kehendaki, Allah mungkin lebih menyayangi istrimu. " Ucap ayah Salman, berusaha untuk menenangkan putranya.


Arka duduk disamping jenazah Diva, menggenggam tangan adiknya itu.


" Dek, ku mohon bangunlah, apa kamu tidak kasihan dengan keluargamu, sahabatmu, Bagaimana kalau Ayah dan Bunda sampai dan melihatmu, sudah meninggalkan nya. " Ucap Arka lirih dengan air mata terus mengalir di pipinya, dan sesekali mencium tangan adiknya itu.


" Lihatlah suamimu, saat ini, dia tampak seperti orang tidak waras dek, jadi kumohon....Kem...balilah.." Ucap Kenan dengan suara yang sulit untuk ia keluarkan karena nangis.


Arka mengusap wajah adiknya, dan mencium keningnya lama, Vara mengusap pelan punggung Arka, yang terlihat bergetar karena menangis.


" Ka, sebaiknya kita bawah pulang jenazahnya, dan segeralah kabari ayah dan Bunda. " Ucap Vara.


Arka melepaskan ciumannya dikening adiknya itu, dan sedikit menjauh.


Kenan duduk dilantai bersandar pada dinding, dengan tatapan kosong.



" Sayang Ayo kita pulang, Kamu harus kuat sayang. " Sahut bunda Vivian duduk didepan putranya.


Kenan segera berdiri dan berjalan kearah brankar istrinya, sekali lagi Kenan mengusap wajah istrinya itu, dan mencium keningnya


" Yank, kali ini aku sangat sangat memohon, kembalilah, jika kau tak kembali maka tunggulah aku, aku akan segera menyusulmu." Ucap Kenan didepan kening istrinya.


" Ya Allah, ku mohon kembalikan istriku, Jika kau mau membawanya, maka aku juga harus cari jalan supaya kau juga membawaku pergi bersamanya, aku tidak sanggup hidup tanpa dia disisiku ya Allah. " Ucap Kenan terdengar sangat pilu, duduk bersimpuh dilantai menundukkan kepalanya.


Rafa yang kebetulan menoleh kearah Diva, Ia melihat tangan Diva bergerak sedikit demi sedikit.


" Om, Tante, kak Arka, tangan Diva bergerak. " Sahut Rafa.


Bersambung.....


Jangan lupa


like


coment


vote


maaf ya readers kalau alurnya sedikit berantakan, soalnya sedikit ngeblank.


maklum masih penulis amatiran.


pantengin terus ya readers


salam kenal


🤗🤗🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏