Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 05 Season 3 ( Next Generatoin )


Pagi itu terlihat mendung seakan mewakili perasaan orang-orang yang mengiri ke enam mobil ambulance yang membawa jenazah Rafa dan keluarganya ke salah satu tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman kawasan elit di kota Xx.


Di mobil Enzy terus menatap mobil yang ada di depannya yang membawa jenazah orangtuanya.


Sejak sadar dari pingsannya, air mata Enzy tak pernah mengering, bahkan matanya susah untuk terbuka karena membengkak akibat nangis terus-terusan.


Setelah hampir memakan waktu hampir satu jam akhirnya rombongan yang mengantar jenazahnya tiba di pemakaman, Enzy tak dapat lagi menopang tubuhnya, akhirnya Ray menyiapkan kursi roda, untuk digunakan mengantar kedua orangtuanya.


"Bang kamu bantu mendorong kursi roda Enzy !!" Seru Diva dan di angguki langsung oleh Khay.


Khay mendorong kursi roda Enzy menuju ke tempat penguburan jenazah.


Prosesi pemakaman kedua opa dan Oma Enzy selesai, dan kini giliran jenazah Rafa dan Hera yang dilakukan bersamaan, tangisan Enzy pecah saat melihat ke dua orangtuanya di turunkan di liang lahat.


"Papa, mama...." Lagi-lagi Enzy histeris memanggil kedua orangtuanya.


Enzy beranjak dari kursi rodanya, dan mendekat ke liang lahat, Khay spontan menahan tubuh Enzy yang hampir saja terjatuh ke liang.


"Sabar ! Kamu harus mengikhlaskan mereka, kamu enggak sendirian, kamu masih memiliki kami !!" Ucap Khay tanpa ia sadari air matanya juga ikut menetes.


"Lebih baik sekarang kita sedikit menjauh dari sini, biarkan mereka meneruskan pemakamannya." Ajak Khay memapah bahu Enzy agar berdiri, agar para petugas pemakaman dapat melanjutkan kembali prosesinya yang sempat terhenti.


"Silahkan lanjutkan lagi pak !" Ucap Khay.


"Sabar ya sayang !" Ucap Kiki setelah Enzy kembali duduk di kursi rodanya.


Karena semua sahabat-sahabat almarhum dan almarhumah, turut hadir mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Terakhir penaburan bunga dan pembacaan doa yang di pimpin oleh seorang ustadz.


"Selamat tinggal pa, ma, aku janji akan menjadi wanita baik seperti yang kalian inginkan, aku akan membanggakan papa, mama." Batin Enzy di depan pusaran orangtuanya.


"Raf, Ra, kalian yang tenang ya disana, kalian tidak perlu mengkhawatirkan putri kalian, dia bersama kami, kami akan memperlakukan dia seperti apa kalian memperlakukannya." Ucap Diva.


"Raf, Ra, walaupun aku tinggal jauh dengannya, tapi aku janji, aku akan menyayanginya, seprti anak aku sendiri." Ujar Kiki.


"Raf, Ra, kami akan selalu merindukan kalian, semoga kalian di tempatkan di tempat yang indah disana." Ucap Jova.


"Woi, Raf, Ra, kalian tidak usah khawatir, apa yang kamu sangat inginkan selama ini, akan segera terwujud, aku akan membujuknya agar mereka mau menuruti kemauan kalian selama ini, kalian tenanglah disana !" Ucap Lani.


Setelah pembacaan doa, semua meninggalkan tempat tersebut, dengan Khay yang masih setia mendorong kursi roda milik Enzy.


"Tante janji sayang, kamu akan bahagia setelah ini." Batin Lani menatap Enzy.


...----------------...


Setibanya dirumah, Enzy langsung masuk ke kamar, ia menatap lurus keluar jendela, mengingat semua kenangan saat ia bersama dengan kedua orangtuanya, Dimana saat ia bercanda bersama orangtuanya, di manjain papanya, di sayangi mamanya, dimana saat ia membuat keributan dan mendapatkan omelan mamanya, dan papanya yang selalu membelanya.


"Sayang, princess papa." Enzy langsung menoleh kebelakang saat mendengarkan suara kedua orangtuanya.


"Papa, mama, kalian disini, kalian enggak ninggalin aku kan, tadi itu hanya mimipikan pa, ma ?" Ucap Enzy menghampiri kedua orangtuanya yang duduk di sisi tempat tidur.


"Aku sayang kalian, aku tidak ingin kalian meninggalkan ku sendirian." Ucap Enzy memeluk erat papa dan mamanya.


"Sayang, kamu harus bertahan, kamu akan bahagia walaupun tanpa ada kami." Ucap Hera tersenyum manis merapikan anak rambut putrinya.


"Benar kata mama prinsessnya papa, kamu harus bahagia tanpa kami, kami harus pergi, dan papa ingin kamu menjadi wanita yang kuat, kami akan menjagamu dari tempat kami sekarang sayang." Ucap Rafa meraih Enzy masuk kepelukannya.


"Kami harus pergi sayang, berbahagialah !!" Ucap Hera dan Rafa.


"Papa, mama..." Enzy terus memanggil kedua orangtuanya.


"Enzy, sayang bangun nak, nak...!!" Seru Diva menepuk-nepuk lengan Enzy.


Tak lama Enzy membuka kedua matanya, ia memperhatikan di sekelilingnya, ia melihat ada ke empat tantenya berada disana.


"Nih minum dulu sayang !" Seru Kiki memberikan segelas air.


"Tan, tadi mama papa datang menemuiku, sekarang dimana mereka ?" Ucap Enzy mendongak menatap tante Kiki yang ada di samping kanannya menghiraukan air yang diberikan tantenya itu.


Tante Kiki meletakkan gelas air minumnya di atas nakas.


"Sayang, kamu yang ikhlas ya nak, mungkin sekarang mereka sudah bahagia disana, kamu tidak boleh terus-menerus seperti ini, apa kamu ingin mereka tersiska disana, melihat kamu seperti ini, Hem ?" Ucap tante Kiki lembut lalu membantu Enzy bangun.


"Benar sayang, mulai sekarang kami lah orangtua kamu, Tante ingin kamu menaggap kami ini orangtua kamu." Timpal Lani.


"Sekarang kamu minum ya sayang, kemudian kamu makan dari kemarin kamu belum makan apa-apa, kamu juga harus meminum obat." Seru Jova.


"Enzy hanya bisa menggunakan kepalanya, ia sangat bersyukur memiliki keluarga seperti sahabat-sahabat kedua orangtuanya, walaupun mereka tidak ada hubungan darah, tapi keluarga dari sahabat orangtuanya itu, menganggapnya seperti keluarga bahkan mereka memperlakukannya seperti anaknya mereka sendiri, terlebih tante Diva terlihat sangat menyayanginya.


...----------------...


Malam harinya semua kolega-kolega Kenan mulai berdatangan kembali, untuk acara tahlilan.


Acara tahlilan malam ini, Enzy tak pernah keluar dari kamar, karena kondisinya yang tidak memungkinkan, Enzy selalu mengeluh sakit di bagian kepalanya, mungkin karena akibat lukanya karena benturan keras saat kecelakaan.


"Kak Enzy..." Panggil Kia yang tiba-tiba masuk berbarengan dengan Rendara dan Nendra.


"Kia, Ren, Nen." Enzy balas menyapa mereka.


"Apa kami ganggu kak ?" Tanya Kia karena melihat Enzy yang berbaring.


"Enggak kok, mari masuk !" Enzy bangun lalu bersandar di kepala tempat tidur.


"Nzy, bagaimana keadaan kamu ?" Tanya Nendra basa-basi setelah ketiganya ikut duduk ditempat tidur.


"Aku udah lebih baikan kok Nen, kamu apa kabar ?" Sahut Enzy lalu balik bertanya mencoba untuk tersenyum.


"Aku juga baik Nzy."Jawb Nendra


"Kak, kak Enzy tau enggak ? Kalau si Bangkai....


"Maksud kamu Abang Khay ? Kok jadi Bangkai sih Ki ? Tanya Rendra menyela ucapan Kia.


"Iya siapa lagi, lagian siapa yang bilang bangkai sih Ren, maksud gue itu bang Khay jadi terdengar kalau aku gue bilang bangkai.


Rendra sama Nendra tertawa mendengar penjelasan Enzy, saat mereka tertawa tiba-tiba mereka mendengar deheman seseorang.


"Bangkai.....Ucap mereka kecuali Enzy karena sudah melihat kedatangan Khay sejak tadi.


"Kalian coba ulangi ! Ngomong apa kalian ?" Ucap Khay dengan ekspresi menyeramkan.


"Bang.... Khay, maksudnya itu bang." Ucap Nendra.


"Kalau aku bilang bangkai ada masalah, ha, emang itu nama panggilan Abang kan ?" Tantang Kia.


"Dasar, adik kurang ajar kamu, sini kamu !" Ucap Khay kesal lalu mengejar adiknya itu, akhirnya di kamar tersebut jadi gaduh akibat ulah adik kakak itu yang jarang sekali akur jika ketemu.


"Bang, aku bilangin bunda nih !" Ancam Kia saat Khay tak ada hentinya menggelitik Kia yang berhasil ia tanggkap, dan Khay bergelut di karpet berbulu yang ada di samping tempat tidur.


"Ok, Abang akan lepasin, tapi....


"Ayah, bunda...." Khay membekap mulut adiknya menggunakan tangannya.


"Lepasin, bang !!" Gumam Kia, masih posisi mulutnya di bekap.


"Ok ! Tapi kamu harus minta maaf ke kakak kamu yang tampan ini "Ucap Khay membanggakan dirinya,. Kia mengaguk menyetujui permintaan kakaknya itu.


Sedangkan Enzy merasa terhibur melihat tingkah adik kakak itu yang jarang sekali akur, namun terlihat jelas kalau mereka saling menyayangi.


...----------------...


Setelah selama satu minggu mengadakan tahlilan dikediaman milik keluarga Kenan, hari ini Keluarga pak Salman dan pak Fikram pamit untuk pulang ke kota Z.


"Sayang Oma pulang dulu ya, kamu baik-baik disini, kamu harus ikhlas dengan ini semua, Nak !" Ucap Oma Hani meraih Enzy masuk kepelukannya.


"Iya Oma, terimakasih, aku juga merasa ingin sekali pulang ke kota Z, tapi percuma juga, aku sudah tak memiliki siapa-siapa disana." Ucap Enzy terisak sambil membalas pelukan Oma Hani dengan sangat erat.


"Kamu jangan lupa nak, kami masih ada disana buat nunggu kamu jengukin kami, kamu juga keluarga kita Nak!" Timpal Oma Vivian mengusap punggung Enzy yang masih berada diperlukan Oma Hani.


"Iya Oma." Sahut Enzy.


"Ya sudah kami pamit ya sayang, Nan, Diva kamu jaga anak-anak, dan ingat apa yang telah kita bicarakan semalam, kamu pikirkan itu baik-baik." Ucap Oma Vivian menegaskan.


"Iya bunda." Sahut Kenan dan Diva bersamaan.


Setelah semuanya sudah berpamitan, rombongan besan itu meninggal rumah Kenan.


Bersambung......


Jangan lupa like, komen, dan juga dukungan lainnya.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️