Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 92 Season 3 (Next Generasi)


Kavi langsung bergegas pulang kerumahnya terlebih dahulu untuk menyiapkan segala keperluan yang akan ia bawah ke Thailand.


Setelah mengambil beberapa barang pentingnya, Kavi langsung menuju ke bandara, di temani oleh salah satu sekertarisnya.


Kavi dan Bella sekertarisnya berjalan beriringan di koridor bandara.


"Tuan, setelah kita sampai disana, kita harus langsung mengadakan pertemuan, oleh beberapa penasihat hukum yang menangani kasus yang menimpa perusahaan kita disana pak." Jelas Sekertaris Kavi yang bernama Bella setelah mendapat pesan e-mail dari Thailand.


"Hufffftt, kapan saya harus istrirahat !" Keluh Kavi.


"Baiklah, apa hotel tempat kita menginap disana sudah dipersiapkan semuanya ?" Tanya Kavi kemudian.


"Sudah tuan, kebetulan pertemuannya juga diadakan di hotel dimana kita akan menginap." Terang Bella.


"Baguslah kalau begitu." Ujar Kavi kemudian keduanya sama-sama diam, memasuki arah keberangkatan menuju Bangkok Thailand.


...----------------...


Malam harinya di kota Z, Kia sedang bersantai di halaman belakang dikediaman opa Salman juga Oma Vivian, Kia bercanda gurau dengan Raydan yang tengah berkunjung, kini Raydan memilih tinggal di rumah opa Fikram karena tau sekarang Kia tinggal di kota tersebut.


Kia menceritakan perihal kenapa ayahnya sampai memindahkannya di kota tersebut, perihal Kavi yang terang-terangan mengatakan kalau om-om itu menyukainya. Awalnya Raydan menertawakan adik sepupunya itu karena disukai oleh om-om yang notabennya sahabat dari ayahnya.


"Berhenti menertawakan ku !" Seru Kia dibuat kesal karena Raydan masih saja menertawakannya.


"Ok..maaf...maaf... Terus bagaimana, apa kamu juga menyukai om-om itu ?" Tanya Raydan.


"Gak lah !" Sargah Kia cepat.


"Udah ngaku aja kalau kamu suka, wlaupun om-om tapi kelihatannya masih muda kok." Ujar Raydan melihat-lihat foto Kavi di Instagram. Raydan yang begitu penasaran dengan wajah om-om yang dibicarakan adik kesayangannya itu langsung membuka media sosial dan mencari akun medsos Kavi.


"Itu karena foto, sekarang banyak tuh aplikasi yang menipu banyak orang." Ujar Kia ketus.


"Jadi penasaran, Khay tau gak om Kavi ini ?" Tanya Raydan lagi membuat Kia jengah dengan kakak sepupunya itu, karena sejak ia menceritakan pria itu, Raydan tak henti-hentinya bertanya perihal Kavi.


"Tau, sekarang perusahaannya, mulai kerjasama dengan perusahaan om Kavi." Terang Khay.


"Lagian kamu tahu sendirikan om Kavi itu sahabat ayah, jadi otomatis bangkhay tau lah, hanya saja aku yang tak mengetahuinya, kalau saja itu om-om gak kerumah aku juga gak bakalan tau, kalau dia sahabat ayah." Tambahnya menjelaskan.


"Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba seorang bibi yang bekerja di rumah tersebut datang menghampiri Kia dan Raydan.


"Non, den, kalian di panggil tuan Salman untuk ke depan." Ucap bibi.


"Ngapain bi ?" Tanya Kia menatap bibi tersebut.


"Saya kurang tau juga nona, tuan hanya menyuruhku memanggil nona buat kedepan, disana juga ada mobil box." Jelas bibi.


Kia yang mendengar bibi itu mengatakan kalau di depan ada sebuah mobil box, gadis itu langsung berlari kedepan, meninggalkan Raydan kebingungan sendiri melihatnya, kemudian ia ikut menyusul.


"Wawww.... Motor gue, motor idaman gue..." Kia kegirangan saat tiba di depan dan melihat beberapa orang yang menurunkan sebuah motor sport berwarna hitam mengkilap turun dari mobil box tersebut, bukan hanya satu motor, tapi ada dua yang satunya jenis motor trail, tapi motor trail tersebut motor lama Kia yang ada di kediaman keluarganya yang ada di kota Xx.


"Seneng ?" Tanya opa Salman melihat cucu kesayangannya itu kegirangan.


"Seneng banget opa." Ucap Kia.


"Boleh aku saya coba gak ?" Tanya Kia kepada salah seorang yang mengantarkan motor tersebut.


"Silahkan nona !" Sahutnya.


"Dek, besok aja di cobanya, ini sudah malam." Sahut Oma Vivian.


"Tapi aku udah gak sabar Oma, aku janji hanya disekitar kompleks doang kok." Kia memperlihatkan wajah memelasnya.


"Pantas aja gue di tinggal gitu aja tadi, rupanya ada yang punya motor baru nih, langsung dia lagi." Timpal Raydan yang baru tiba, karena Raydan terlebih dahulu mampir ke toilet karena kebelet buat buang air kecil.


"Iya dong bang." Sahut Kia.


"Bang mari kita coba motor baru aku, abang pakai yang trail !" Ajak Kia.


"Pak kuncinya mana ?" Kia menerima kunci motor dari bapak yang mengantar motornya itu kemudian dengan tidak sabaran menaiki motor barunya.


"Oma tenang aja !" Sahut Kia kemudian mulai menjalankan motornya keluar dari pekarangan kediaman opa Salman tersebut.


"Opa, Oma aku ikutin Kia ya." Pamit Raydan juga ikut menunggangi motor trail yang baru juga turun.


"Iya kalian hati-hati !" Sahut opa dan oma hampir bersamaan.


Sekitar 15 menit Kia dan Raydan kembali, orang-orang yang mengantarkan motor-motor Kia juga sudah tidak ada disana, sedangkan opa Salman dan Oma Vivian masih setia berdiri di halaman depan rumah mereka menunggu kedatangan cucu-cucunya, mereka sangat mengkhawatirkan keduanya.


"Bagaimana ?" Tanya opa Salman.


"Sangat keren opa." Sahut Kia turun dari motornya begitupun dengan Raydan.


"Ya sudah lebih baik sekarang kalian masuk, ini sudah mulai larut !" Seru Oma Vivian.


"Baik Oma." Sahut Kia dan Raydan berbarengan.


"Oma, bolehkan aku nginap disini ?" Raydan meminta ijin kepada Oma Vivian.


"Boleh dong, mau tinggal disini juga Oma setuju, malah Oma makin senang." Jawab Oma Vivian mengusap lengan Raydan yang juga sudah ia anggap seperti cucunya sendiri.


"Terimakasih Oma." Ucap Raydan memeluk wanita paruh baya tersebut.


...----------------...


Pukul delapan malam waktu Bangkok Thailand, Kavi dan Bella baru saja mendarat, dan langsung menuju lobi dimana disana sudah di siapkan sopir untuk menjemputnya.


"Apa berkas sudah kamu siapkan semuanya ?" Tanya Kavi tanpa beralih dari jalanan kota Bangkok.


"Sudah tuan, apa tuan akan langsung ke kamar tuan terlebih dahulu untuk mengganti pakaian atau mau langsung saja menemui penasehat tersebut ?" Tanya Bella.


"Kita langsung saja menemui penasehat tersebut, saya tidak ingin buang-buang waktu !" Jawab Kavi datar.


"Baik tuan." Sahut Bella.


Sekitar satu jam perjalanan, malam semakin larut tapi tak mengurungkan niatnya untuk menemui penasehat yang akan menangani masalah perusahaannya yang ada di kota tersebut, perusahaan mamanya yang bergerak di bidang investasi.


Sebenarnya Kavi adalah keturunan Bangkok, mamanya berasal dari Thailand Bangkok, sedangkan ayahnya asli orang Indonesia tepatnya di kota Xx. Tapi walaupun mamanya keturunan Bangkok Thailand tapi agamanya tetap menganut agama Islam.


"Maaf tuan kami membuat tuan menunggu terlalu lama." Ucap Bella setelah mereka bertemu dengan pak Jey sebagai penasehat.


"Ah... Tidak apa-apa nona, saya mengerti, silahkan duduk !" Ucap pak Jey, kemudian mempersilahkan Bella dan Kavi untuk duduk, sebelumnya mereka sudah saling sapa dan bersalaman.


"Karena sudah larut malam, bagaimana kalau kita langsung to the poin saja tuan !" Ucap Kavi.


"Ah baiklah tuan, begini menurut saya, soal investasi yang menjerat perusahaan kita ini, saya berpikir bagaimana kalau kita mengaudit ulang seluruh laporan mulai dari tahun kemarin, karena dari tahun situlah kami mendapatkan kejanggalan." Jelas pak Jey.


"Maksudnya ? Apa ada seseorang di perusahaan ini mencoba untuk berbuat curang ?" Tanya Kavi dan di angguki pak Jey.


"Sepertinya begitu tuan, setelah saya amati, saya sudah mencurigai seseorang, dan orang ini sudah melakukan penggelapan Investasi klaiyen di perusahaan kita, maka dari itu banyak klaiyen meminta investasinya di kembalikan, bahkan mereka menuntut agar keutungan yang harusnya mereka dapatkan dari sekian investasi mereka, agar segera di berikan." Jelas pak Jey memberikan beberapa berkas yang sudah ia periksa dan selidiki.


"Jadi apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan bukti-buktinya ?" Tanya Kavi setelah membaca baik-baik berkas yang diberikan pak Jey.


"Seperti yang saya katakan tadi, kita melakukan pengauditan ulang, kita cocokkan semua data-datanya, dan berapa harusnya klaiyen itu dapatkan, dan juga berapa penghasilan yang kami dapatkan, dan berapa kas kita sekarang." Jelas pak Jey.


"Baiklah, mulai besok lakukan apa yang harusnya dilakukan, saya mau ini secepatnya diselesaikan !" Seru Kavi sedikit memijit pangkal hidungnya.


"Bagaimana jika kas kita tidak cukup menutupi kekurangan-kekurangan yang diminta klaiyen kita ?" Tanya Kavi setelah mereka cukup lama terdiam.


"Mau tak mau kita harus mencari penanam saham baru, atau sebagian penghasilan perusahaan pertelevisian tuan yang ada di Indonesia di investasikan di perusahaan ini, tapi saya rasa itu akan berakibat buruk dengan kedua perusahaan, apalagi saya dengar-dengar salah satu investor terbesar di Chanel Line menarik investasinya." Ujar pak Jey, membuat Kavi semakin pusing memikirkan permasalahan perusahaannya, permasalahan dengan hatinya saja belum selesai, malah di tambah lagi dengan permasalahan ini.


Bersambung..........


Jangan lupa selalu budayakan Like, Komen, dan Vote setelah membaca setiap episodenya.


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...