
Pagi ini Kavi benar-benar tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya, kepalanya terus dirasa pusing dan mual terus saja menyerangnya, bahkan perutnya terasa di aduk-aduk, membuat Kia semakin khawatir.
"Ya sudah lebih baik sekarang suami kamu kita bawa ke rumah sakit, ayah takut terjadi sesuatu padanya." Ucap Kenan sudah sangat khawatir melihat menantu laki-lakinya itu terkulai lemas di atas tempat tidur dengan wajah yang pucat.
"Baik Yah, aku akan siapkan semuanya terlebih dahulu." Sahut Kia beranjak lalu berjalan menuju walk in closed untuk menyiapkan beberapa pakaian, siapa tahu saja suaminya itu perlu dirawat inap.
"Kav, bangun biar saya bantu kamu ke bawah !" Seru Kenan menarik lengan Kavi agar bangun.
Ueeekkk.....
Kavi langsung membekap mulutnya sendiri saat mencium, aroma ayah mertuanya itu yang membuatnya sangat mual.
"Yah, menjaulah !" Seru Kavi dengan kurang ajarnya.
"Kurang ajar kamu, saya mau membantu mu, malah kau menyuruhku menjauh, dan apa maksudmu membekap mulut seperti itu, apa aku bau, hah ?" Geram Kenan menatap tajam pria di hadapannya itu.
"Iya ayah bau banget, membuatku mau muntah." Jawab Kavi, dan jawabannya itu membuat mertua laki-lakinya itu sangat geram dan menimpuknya dengan bantal.
"Bun urusin menantu kurang ajarmu itu, jika tahu begini, dulu aku tidak akan merestuinya dengan putriku." Kesal Kenan.
"Yah, astaga bukan begitu maksudku." Sahut Kavi lemes.
"Lalu apa ? Beberapa hari yang lalu saat kita rapat di kantormu, kamu juga mengatakan kalau aroma aku bau, dan membuatmu mual, sepertinya kamu benar-benar harus diperiksa, kali aja kamu punya penyakit yang sangat serius." Ucap Kenan emosi.
"Sabar Yah, Kavi tidak bermaksud seperti itu." Sahut Diva menenangkan suaminya itu sambil mengusap lengannya.
"Sudah cepat bawa dia ke rumah sakit, periksa dia secara menyeluruh, aku tidak mau putri kesayangan ku, menjadi janda diusianya yang masih sangat muda." Ujar Kenan.
"Sepertinya aku benar-benar telah salah besar menikahkan putriku dengan pria berumur sepertinya, mana berpenyakiatan lagi " Lanjut Kenan benar-benar kesal dikatai bau oleh menantunya sendiri.
"Ayah sadar gak sih, apa yang ayah ucapkan itu ?" Tegur Diva memukul lengan suaminya.
"Lagian." Sahut Kenan.
"Sudah-sudah biar aku panggil mang Diman dulu buat bantuin Kavi ke mobil." Ucap Diva kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar tersebut.
"Awas aja kamu !" Ancam Kenan menatap Kavi dengan sengit.
"Gak usah marah-marah yah, nanti darah tinggi ayah kumat, keok, bunda pasti bakal nikah lagi deh, orang bunda masih muda." Ucap Kavi membuat Kenan semakin kesal dengan menantu gak ada akhlaknya itu.
"Benar-benar menantu durhaka kamu !" Lagi-lagi Kenan menimpuknya dengan bantal.
"Ayah, apa yang ayah lakukan ?" Pekik Kia saat melihat ayahnya menimpuk Kavi dengan membabi buta dengan bantal.
"Tanya saja apa yang dilakukan suamimu kepada ku ?" Kesal Kenan.
"Mas ?" Kia beralih pada Kavi.
"Ayah menyiksa ku yank, katanya dia menyesal punya menantu sepertiku, juga kata ayah dia akan memisahkan kita." Jawab Kavi drama.
"Ayah, ayah mau membuat aku janda di usia muda ?" Kia menatap tajam ayahnya itu.
"Iya, lagian ayah bosan melihat menantu kurang ajar seperti dia, udah tua gak tau diri lagi, mending dia mati aja sekalian." Kesal Kenan di saat ia melihat drama yang dibuat menantunya dan mengatakan yang tidak-tidak pada Kia.
"Ayah kok ngomong gitu ? Dia suami aku loh yah, kalau ayah gak suka kami bisa pergi kok dari sini." Ucap Kia, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
Kenan yang melihat itu menjadi panik sendiri, dengan cepat ia berjalan mendekati putrinya itu lalu memeluknya.
"Gak sayang, tadi ayah hanya bercanda, lagian mana bisa ayah melihat putri ayah ini bersedih, jangan nangis lagi ya sayang, dan tetaplah di samping ayah." Ucap Kenan lalu mencium pucuk kepala Kia dengan sayang.
"Tapi tadi......
"Jangan dengar kata suami kamu sayang, dia hanya bercanda begitupun dengan ayah." Sela Kenan.
"Ya sudah ayo kita pergi, ayah bantuin mas Kavi turun kebawah." Ucap Kia.
"Gak sayang, jangan sama ayah." Sahut Kavi cepat.
"Kok gitu ?" Tanya Kia menautkan alisnya.
"Ayah bau sayang, aku mual tiap dekat-dekat sama ayah." Terang Kavi.
"Bukan begitu maksud aku sayang, tapi entahlah aku sangat tidak suka dengan aroma parfum ayah." Jawab Kavi ia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri.
...----------------...
Di rumah sakit
"Sebenarnya ada apa dengan Kavi dok ?" Tanya Kenan duduk di depan meja dokter yang menangani Kavi bersama Diva, sedangkan Kia dan Kavi duduk pada brangkar yang ada di ruangan dokter tersebut.
"Menurut hasil pemeriksaan secara menyeluruh tuan Kavi tak ada gejala sakit apapun tuan." Jawab dokter memperhatikan dengan seksama hasil pemeriksaan Kavi.
"Maksud dokter bagaimana saya kurang mengerti."
"Begitu tuan, nyonya, hasil pemeriksaan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, dan tidak temukan gelaja penyakit apapun." Jelas dokter menyerahkan hasil pemeriksaan Kavi kepada Kenan agar melihatnya sendiri.
"Tapi sebulan terakhir ini Kavi selalu saja merasa pusing, mual bahkan beberapa aroma yang membuatnya semakin mual, contohnya aroma badan suami saya dokter." Jelas Diva.
"Kalau begitu kita coba nona Kia yang melakukan pemeriksaan." Sahut dokter membuat semuanya menjadi semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan dokter tersebut, yang tak lain dokter Bagas.
"Apa hubungannya dok, putri kami baik-baik saja." Tanya Kenan.
"Iya dok, aku merasa baik-baik saja." Timpal Kia.
"Mungkin saja nona sedang hamil." Jawab dokter Bagas membuat ketiganya membelalakkan matanya.
"Hamil ?" Beo Kia dan Kavi bersamaan lalu saling menatap.
"Maaf tuan, sebaiknya tuan terlebih dahulu pindah, biar kami memeriksa nona Kia terlebih dahulu." Ucap suster kepada Kavi sesopan mungkin.
"Ah... baiklah." Sahut Kavi kemudian turun dari brangkar.
"Tunggu dulu dok, saya masih belum mengerti, ada hubungan apa dengan Kavi seperti itu dengan Kia yang mengandung." Ujar Kenan masih belum mengerti.
"Ngidam tidak hanya dirasakan oleh ibu hamil, suami yang istrinya sedang hamil bisa saja ikut merasakan ngidam. Bahkan tidak hanya ngidam, suami bisa saja merasakan keluhan-keluhan yang biasanya dirasakan ibu hamil. Hal itu disebut dengan sindrom couvade atau sering disebut kehamilan simpatik." Jelas dokter.
"Sindrom couvade biasanya terjadi saat usia kehamilan istri memasuki trimester pertama dan trimester ketiga." Lanjut dokter.
"Seorang suami yang mengalami sindrom couvade bisa mengeluhkan gejala yang bermacam-macam. Kadang keluhannya bisa melebihi istrinya yang sedang hamil. Mulai dari morning sickness atau mual-mual pagi hari, sakit perut dan ulu hati, perubahan nafsu makan, moodian, sulit makan, bahkan ada beberapa aroma yang biasa membuat orang tersebut mual, sama halnya yang dialami tuan Kavi saat ini." Tambah dokter Bagas menjelaskan panjang lebar.
"Tapi apa bisa disembuhkan dok, atau apa ada yang biasa di lakukan untuk mengatasinya ?" Tanya Kenan.
"Cukup mengurangi rasa stres yang berlebihan, dan istirahat yang cukup saja, karena itu sudah biasa terjadi dikhayak umum, walaupun itu tidak semua pasangan seperti itu." Jelas dokter.
"Baiklah dok, sampai disini kami mengerti, silahkan putri saya diperiksa, dan kami berharap dugaan dokter itu benar." Ujar Kenan
"Berdoa saja tuan." Sahut dokter kemudian beranjak dari kursinya untuk memeriksa Kia yang sudah berbaring di atas brangkar dengan di temani dengan seorang suster.
Bersambung......
...Hamil gak ??? Hamil gak ???...
...Yaaaaa...
...🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔...
...Tetap pentengin terus aja jalan ceritanya...
...Jangan lupakan kisah Khay dan Enzy di lapak author lainnya yang berjudul DAMBAAN, atau langsung klik aja profil authornya...
...Tetap dukung author dengan memberikan...
...LIKE...
...KOMENT...
...VOTE...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...