Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 130 Season 3 (Next Generasi)


Setibanya di rumah sakit, Khay langsung mengangkat tubuh Enzy yang sudah sejak tadi tak sadarkan diri, bahkan darah dari jalan lahirnya tak hentinya keluar, sehingga pakaian yang digunakan Khay penuh dengan darah.


"Dokter, siapapun, tolong selamatkan istri saya !" Teriak Khay sambil menggendong Enzy ala bridal style.


Tak lama beberapa perawatan menghampirinya sambil membawa brangkar.


"Buruan selamatkan istri saya !" Seru Khay membaringkan tubuh Enzy pada brangkar.


"Pasti tuan muda, kami akan melakukan semaksimal mungkin, tuan tenanglah !" Sahut salah satu dari perawat tersebut.


Enzy di bawah ke UGD di ikuti Khay, saat tiba di depan penanganan, Khay di hentikan.


"Tuan muda, Anda tidak diberikan izin untuk ikut masuk, silahkan tunggu diluar saja." Ujar perawat.


"Tapi saya ingin melihat keadaan istri saya, saya ingin menemaninya." Khay berusaha menerobos untuk masuk, namun di tahan oleh perawat.


"Tapi tuan, anda tidak boleh masuk, ini sudah ketentuan dari rumah sakit, agar dokter bisa lebih kompetitif memeriksa pasien." Perawat tersebut berusaha untuk menjelaskan agar Khay mengerti.


"Khay, tenanglah, biarkan dokter menangani Enzy, percayalah dan do'akan agar dia tetap baik-baik saja." Ucap Leo yang baru saja masuk bersama Doni karena sebelumnya ia memarkirkan mobilnya.


Khay akhirnya mengalah, kemudian Leo menuntun Khay untuk duduk disalah satu kursi yang tersedia disana. Khay menundukkan wajahnya menjadikan telapak tangannya menjadi tumpuannya.


Tak lama Kenan, Diva juga Ray beserta Lani datang dengan tergesa-gesa, terlihah jelas raut kekhawatiran diwajah mereka.


"Bang, bagaimana keadaan Enzy, bagaimana dengan kandungannya ?" Diva langsung memberondong Khay dengan pertanyaan tanpa duduk terlebih dahulu.


Khay yang mendengar suara bundanya, ia langsung memeluk wanita paru baya tersebut yang kini berdiri dihadapannya, menyandarkan kepalanya di perut sang bunda. Khay meluapkan kesedihannya, ia menagis sejadi-jadinya namun tak mengeluarkan suara, hanya punggungnya yang terlihat turun naik.


"Bun, ini semua salah aku Bun, aku tidak bisa menjadi suami yang baik, suami bertanggungjawab juga suami yang bisa menjaga istri juga calon anak kami, aku sudah gagal Bun, gagal." Racau Khay dalam pelukan sang bunda.


"Bang, tenang bang ! Bunda tahu kamu terpukul dengan semua yang telah terjadi, tapi tenanglah, do'akan istri dan calon anak kamu akan baik-baik saja !" Sahut Diva terus mengusap punggung putranya itu.


"Bang, lihat ayah !" Titah Kenan yang kini ikut berdiri dihadapan putranya sambil mengusap punggungnya juga.


Khay melepaskan pelukannya dari sang bunda lalu beralih menatap sang Ayah.


"Bang, ayah percayakan semuanya padamu soal masalah ini, ayah harap kamu dapat mengambil keputusan yang terbaik buat kamu dan juga semua orang, ayah yakin kamu bukanlah pria seperti yang kamu katakan tadi, kamu sungguh pria yang sejati, hanya saja kamu masih butuh banyak pelajaran, Hem ?" Ucap Kenan pada putra sulungnya itu sambil memberikan semangat.


"Tapi Yah."


"Gak ada kata tapi Bang, kamu harus yakin pada dirimu sendiri, ingat istri kamu sedang berjuang di dalam, jadi ayah harap kamu disini tetap kuat, doakan istri kamu juga calon anak kamu, agar mereka tetap baik-baik saja, jika kamu lemah seperti ini, apa kamu yakin bisa menyamangati istri kamu ?" Kenan kembali memberikan nasihat pada putranya itu.


Tampak Khay diam mencerna semua yang dikatakan ayahnya, kemudian mulai angkat bicara.


"Yah, masalah Priska aku yang akan turun tangan langsung." Ucap Khay menyeringai.


"Bagus ! Sekarang lebih baik kamu bersihkan diri kamu, bunda sudah membawa pakaian untukmu !" Seru Kenan menepuk pundak putranya itu bangga.


Kenan tidak akan lagi mau memanjakan putranya itu, mulai sekarang Kenan ingin putranya itu tidak selalu tergantung padanya dan bisa mengambil keputusan sendiri dan tentunya keputusan yang bijaksana dan tegas.


Setelah kepergian Khay untuk mengganti pakaiannya, Kenan dan Ray berbicara dengan serius mengenai permasalahan Priska.


"Jadi, Nan apa rencana kamu selanjutnya ?" Tanya Ray.


"Untuk saat ini, biarkan Khay yang melanjutkan dan menentukan apa yang seharusnya dilakukan, tapi jika seandainya nanti kita harus turun tangan, maka kita melakukan seperti rencana sebelumnya." Jawab Kenan.


"Baiklah, tapi untuk mengeluarkan Priska dari universitas, Khay sama sekali tak ada wewenang, jadi itu terpaksa saya yang turun tangan langsung." Ujar Ray.


"Baiklah, mengenai akan hal itu saya serahkan semuanya padamu, Ray, dan sebelumnya terimakasih." Ucap Kenan.


"Kamu tidak perlu berterimakasih, kita ini semua saudara, bukan ? Jadi sudah sepantasnya kita saling membantu." Sahut Ray menepuk pundak sahabatnya itu.


...----------------...


Di dalam ruangan penanganan, dokter tampak memeriksa keadaan Enzy.


"Sepertinya kita harus melakukan operasi sekarang juga, bayinya sudah tak bisa lagi di selamatkan." Terang dokter.


"Baik dok, saya akan siapkan semuanya." Sahut sang perawat.


"Emm, sambil menunggu mempersiapkan operasinya, saya akan menemui keluarga pasien terlebih dahulu." Ujar dokter kemudian keluar dari ruangan tersebut.


Khay yang sudah kembali mengganti pakaiannya, ia duduk sambil terus menundukkan wajahnya, saat mendengar pintu ruangan terbuka ia langsung beranjak, dan menemui dokter, di ikuti Diva, Kenan dan Lani juga Ray.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya dan calon anak saya Dok ?" Tanya Khay memegang lengan dokter tersebut.


"Sebelumnya saya minta maaf tuan muda, kami harus melakukan operasi, calon bayi kalian tidak bisa terselamatkan, karena keadaannya memang sangat lemah, di tambah lagi sebuah benturan sehingga menyebabkan keguguran." Jelas dokter.


Khay yang mendengar itu langsung terkulai lemas, dunianya serasa runtuh seketika, saat mendengar anak yang selama ini ia tunggu-tunggu kelahirannya, tidak dapat ia lihat untuk selama-lamanya.


"Bang, tenang bang ! Kamu harus kuat, ingat istri kamu didalam, ia masih berjuang, jangan sampai kamu terlihat lemah di depannya, ayah yakin dia akan lebih terpukul saat mengetahui anak kalian telah tiada, jika kamu lemah seperti ini, apa kamu yakin dia bisa kuat menerimanya." Ucap Kenan terus memotivasi putranya.


"Benar yang dikatakan ayahmu sayang, kamu harus bisa tatap tenang, bunda mengerti bagaimana perasaan kamu saat ini, karena tidak ada ayah yang tidak merasa sedih jika kehilangan seorang anaknya, tapi kamu juga harus pikirkan istrimu, dia sudah sakit karena kejadian ini, di tambah lagi dia harus menerima kenyataan kalau anak kalian sudah tidak ada lagi." Diva ikut menimpali menasehati putranya.


Setelah mendengar semua nasehat dari kedua orangtuanya, juga pamannya Ray juga Lani yang ikut menasehati dan menyamangatinya Khay sudah merasa lebih sedikit tenang.


"Baiklah, tuan Kenan ataupun tuan muda Anda bisa menandatangani surat persetujuan untuk operasinya, karena harus segera di tindak." Ujar dokter.


"Bang,..." Seru Kenan.


"Yah, apa ayah bisa mewakili ku dulu." Ujar Khay sendu menatap ayahnya.


"Baiklah, dok biar saya yang mewakili putra saya." Ujar Kenan pada dokter.


"Baiklah tuan, silahkan ikut ke ruangan saya, mari !" Ajak dokter tersebut.


...----------------...


Kurang lebih dua jam akhirnya lampu ruangan operasi menyala tanda operasi selesai dilakukan, Khay yang sejak tadi memperhatikan mondar-mandir di depan ruangan langsung berdiri di depan pintu, untuk menunggu dokter keluar.


"Dok, bagaimana ?" Tanya Khay tak sabaran setelah dokter keluar masih mengenakan pakaian operasinya.


"Alhamdulillah tuan muda, istri anda sudah melewati masa kritisnya, mungkin setelah beberapa jam dia akan sadar kembali." Jelas dokter.


"Dok, apakah istri saya masih bisa hamil, saya takut istri saya akan merasa....


Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Khay, dokter tersebut mengerti bagaimana perasaan Khay dan kekhawatirannya saat ini.


"Anda jangan khawatir tuan muda, istri Anda masih bisa hamil, keadaan rahimnya alhamdulilah baik-baik saja, walaupun mendapatkan benturan yang cukup keras." Jelas dokter.


Khay dan yang lainnya sudah bisa bernafas lega.


"Dokter apa saya sudah bisa menemui menantuku dok ?" Tanya Diva.


"Untuk saat ini masih belum bisa nyonya, nanti setelah di pindahkan di ruang rawat, baru akan bisa." Jawab dokter.


"Baiklah kalau begitu dok, terimakasih." Ucao Diva.


"Sama-sama nyonya, kalau begitu saya permisi." Pamit dokter di angguki Diva dan yang lainnya.


Bersambung.........


Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....


Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...