
Rendra berjalan menyusuri parkiran menuju lobi kampus.
"Khay...." Panggil Rendra melambaikan tangannya saat melihat Khay baru saja memasuki lobi.
Khay menghampirinya dengan malas.
"Ada apa rend ?" Tanya Khay malas.
"Ada apa denganmu, apa kalian belum berbaikan juga ?" Tanya Rendra.
"Emm.. Ada apa kau memanggilku ? Gue lagi buru-buru."
"Gue mau tanya sama kamu ? Apa Enzy benar-benar sakit ?" Tanya Rendra memastikan.
Khay mengernyitkan keningnya, pasalnya ia tak tau kalau istrinya itu sakit.
"Sakit ?" Tanya Khay balik.
"Jangan bilang kalau kamu kagak tau istrimu sedang sakit ?" Tanya Rendra penuh selidik.
"Gue beneran enggak tau kalau dia lagi sakit, dia tak bilang apa-apa kepadaku tadi." Sahut Khay.
"Kamu tahu dari mana kalau dia sakit ?" Tanya Khay kemudian.
"Gue menelfonnya tadi, dan menanyakan apa dia akan masuk kerena kelas akan segera dimulai, mana kita ada ujian lagi, tapi dia bilang dia tidak akan masuk, katanya dia sedang sakit kepala." Jelas Rendra.
Khay melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebentar lagi kelasnya akan masuk, tapi ia juga mengkhawatirkan Enzy yang sendirian di apartemen.
"Apa kamu juga ada kelas hari ini ?" Tanya Rendra Khay hanya menjawab dengan anggukan.
"Apa boleh gue pergi, memeriksanya soalnya gue khawatir takut terjadi apa-apa dengannya jika di tinggal sendirian di apartemen. Tidak mungkin juga kan kita beritahu orangtua kita untuk pergi melihatnya, takutnya mereka akan memarahiku habis-habisan karena meninggalkan istrimu sendirian disana." Rendra meminta persetujuan kepada Khay agar dia pergi ke apartemen melihat keadaan Enzy, dia tidak bermaksud apa-apa, pasalnya ia sangat mengerti masalah hubungan keduanya yang tak akur.
"Kalau begitu gue akan meminta ijin pada dosen, dan meminta ujian susulan nantinya." Ujar Rendra karena melihat Khay tak menanggapinya.
"Ok, kalau gitu gue pergi dulu." Rendra memutuskan untuk segera pergi, tapi baru saja dua langkah tiba-tiba Khay menarik ranselnya, sehingga langkahnya terhenti.
"Ada apa ?" Tanya Rendra berbalik menatap Khay.
"Kamu bisa masuk ke kelasmu ! Biar aku yang pergi memeriksanya." Seru Khay.
"Bukannya tadi kamu bil....
"Sudah buruan masuk, kamu ada ujian kan ?" Seru Khay menyela ucapan Rendra.
"Tapi, kalian sedang tak akurkan ?"
"Kamu enggak usah pikirkan itu, gue akan merawatnya dengan baik, dia istriku gue tidak akan tega juga menyakitinya." Ujar Khay lalu pergi dari sana.
"Dasar pasangan aneh...!!
...----------------...
Setibanya di apartemen Khay langsung menuju kamarnya dengan terburu-buru, ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya itu, Khay masuk ke kamarnya saat masuk ia melihat Enzy sedang menggigil kedinginan, ia segera meletakkan tasnya di sembarang tempat, kemudian meraih remote AC, ia menurunkan suhunya agar Enzy tak lagi kedinginan, ia menarik selimut hingga hampir menutupi sebagian wajah Enzy.
"Enzy, badan kamu panas banget Nzy." Seru Khay saat merasakan suhu badan Enzy sangat panas.
"Kamu tunggu sebentar aku akan mengambil air komoresan !" Khay keluar dari kamar langsung menuju dapur mengambil air dan kain untuk ia gunakan mengompres badan Enzy agar suhu tubuhnya kembali normal. Tak lama ia kembali ke kamar, dan langsung mengopres seluruh tubuh istrinya itu dengan sangat telaten, dan lembut.
"Pa.... Ma... !" Gumam Enzy masih dengan mata terpejam, bahkan air matanya ikut keluar.
Hal tersebut membuat Khay begitu khawatir.
"Pa....Papa... Jangan pergi Pa !" Kini Enzy terisak sambil memeluk erat lengan Khay.
Khay menarik Enzy masuk dalam pelukannya, dan tanpa ia duga Enzy balas memeluknya bahkan sangat erat, Enzy menelusupkan wajahnya di celuruk leher Khay, sehingga Khay merasakan deru nafas Enzy yang begitu panas.
"Jangan tinggalkan aku !" Ucap Enzy.
"Aku tidak akan pergi meninggalkan mu, Maaf karena telah lancang merawatmu." Ucap Khay sambil mengusap lembut punggung Enzy.
"Jangan pergi !"
"Iya aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap disini menjagamu." Sahut Khay.
Keduanya pun saling memeluk dengan Khay yang terus mengusap punggung Enzy berusaha untuk membuatnya lebih rileks, sampai akhirnya Enzy benar-benar sudah terasa lebih tenang, Khay berusaha melihat Enzy dan ternyata sudah tertidur kembali, dengan perlahan Khay membaringkan Enzy kembali, kemudian merapikan selimut Enzy hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya. Khay kembali meletakkan kain kompresan di atas kening istrinya itu.
Karena Khay melihat Enzy sudah lebih tenang, ia bergegas menuju ke dapur membuat bubur untuk Enzy, sekitar dua puluh menit bubur buatan Khay sudah selesai ia buat, ia menyajikannya di mangkuk, setelah itu ia membawanya ke kamar, dan meletakkannya di atas nakas.
Khay membuka kain komoresan lalu memeriksa suhu tubuhnya, namun masih terasa sangat panas, ia kembali mengompresnya.
"Aku akan keluar membelikan obat untukmu, kamu baik-baik ya !" Ucap Khay pelan karena takut mengganggu istrirahat istrinya itu.
...----------------...
Sementara di bawah sana, terlihat Rendra dan Nendra memasuki lift menuju unit apartemen Khay dan Enzy.
"Kamu tidak menghubungi Khay dulu ?" Tanya Nendra pada saudara kembarnya itu.
"Tadi gue sudah menghubunginya, tapi dia tak menjawabnya." Sahut Rendra.
"Benar juga sih, gue juga kagak ngerti jalan pikiran Enzy." Sahut Rendra.
Saat pintu lift terbuka, Rendra dan Nendra langsung keluar dari sana, di saat bersamaan juga terlihat Khay baru akan memasuki lift yang satunya lagi.
"Woii Khay mau kemana ?" Tanya Rendra menahan lengan Khay.
Khay menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke asal suara.
"Eh... Kalian, apa kelas kalian sudah selesai ?" Tanya Khay balik setelah melihat si kembar berada disana.
"Sudahlah, kalau belum mana mungkin kita kesini." Sahut Rendra.
"Btw, kamu mau kemana ?" Tanya Nendra mengulang pertanyaan Rendra tadi.
"Gue mau ke apotik depan, gue mau beli obat penurun panas buat Enzy." Jawab Khay.
"Tidak perlu ! Aku sudah membawanya, karena gue tahu di apartemen kamu pasti kagak ada stok obat iya kan ? Lagian gue juga tahu kamu pasti lupa membelinya tadi, karena kamu terlihat sangat khawatir pas tau kalau Enzy sedang sakit." Goda Rendra sambil mengangkat peperbag kecil yang ada ditangannya.
"Gue enggak khawatir ya." Sangkal Khay.
"O iya keadaan Enzy bagaimana ?" Tanya Nendra.
"Dia sedang tertidur, sejak pagi ia terus saja tidur." Jawab Khay berjalan mendahului keduanya menuju unitnya.
Rendra dan Nendra saling pandang lalu mengejar langkah Khay kemudian menghalangi langkah laki-laki itu.
"Kenapa kau menghalangi ku, dan kenapa juga kalian menatapku seperti itu ?" Tanya Khay bingung melihat sikap si kembar menyebalkan itu, apalagi dengan tatapan keduanya yang seolah mengejeknya.
"Tidak apa-apa, kita hanya mengagumi seseorang yang berhati bak malaikat pelindung bagi seseorang." Goda Rendra.
"Dan...." Tambah Nendra menggantung ucapanya membuat Khay penasaran.
"Dan apa, hah ?" Tanya Khay mulai kesal dengan sikap kedua sahabat sejak kecilnya itu.
"Dan bahkan kamu rela tidak masuk kampus hanya karena ingin merawat istrimu itu, yang gue tahu kamu ada ujian juga kan hari ini." Jelas Nendra sambil menaik turunkan alisnya hal yang sama di lakukan oleh Rendra.
"Apalagi kamu tahu betul kalau dia sangat membencimu, atau jangan-jangan...." Timpal Rendra ikut menggoda Khay.
"Jangan-jangan apa ? Jangan ngaco kalian !" Seru Khay kesal kemudian melanjutkan langkahnya hingga menabrak bahu si kembar yang menghalanginya.
"Atau kau mulai mencintainya, apa ini alasan kamu mau berubah, hah ?" Teriak Rendra.
Khay menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap keduanya dengan tajam, kemudian menghampiri mereka.
"Kami tinggal di tempat yang sama, aku tidak bisa membiarkannya seperti itu, jika ayah dan bunda gue tahu bisa mati gue dibuatnya, karena saat ini anak kesayangan mereka tuh dia, bukan gue, ngerti kalian, jadi jangan salah artikan perhatian gue padanya !" Ucap Khay penuh penekanan.
"Ngeles aja lu, kayak bajaj, kalau suka, cinta mah bilang, enggak usah mendem gitu lah Khay, toh sudah halal juga kan !" Sepertinya si kembar masih belum puas menggodanya.
"Terserah kalian aja, kalau kamu berniat untuk mengejekku lebih baik sekarang pergi dari sini, tapi kalau kalian ingin melihatnya lebih baik sekarang kalian masuk, atau gue lempar kalian dari gedung ini kebawah sana !!" Ancam Khay sudah geram dengan keduanya.
"Santai bro, ok...ok... kami masuk." Ucap Rendara dan Nendra kemudian melanjutkan langkahnya menuju unit dimana Khay dan Enzy tinggal.
Saat keduanya akan masuk, tiba-tiba Khay menghentikan mereka.
"Apa lagi tuan muda ?" Tanya Rendra.
""Aku minta, jika dia sudah bangun, tolong jangan katakan kalau aku yang telah merawatnya sejak tadi, dan tolong juga berikan buburnya sebelum ia meminum obatnya, buburnya sudah aku siapkan dikamar !!" Terang Khay.
"Kenapa harus seperti itu, bukannya seharusnya ia tahu kalau kamu yang merawatnya, supaya ia mengerti kalau kamu itu laki-laki yang baik." Ucap Nendra.
"Tolonglah Nend, kamu tahu sendirikan hubungan kami seperti apa, dia bahkan sangat membenciku, gue enggak mau dia tau kalau orang yang sangat ia benci sudah merawatnya." Ucap Khay sedikit memohon.
"Ok, jika kamu maunya seperti itu." Ucap Rendra.
"Ya sudah kalian masuk duluan aja, aku mau keluar sebentar !" Seru Khay.
"Kamu mau kemana ?" Tanya Nendra.
"Tidak ada, Kalian masuk duluan aja, entar aku nyusul !" Sahut Khay.
Keduanya pun masuk dan langsung menuju kamar Enzy.
Bersambung.....
Maaf kalau Upnya lama, soalnya lagi ada kesibukan di dunia nyatanya.
Terimakasih karena sudah setia menunggu lanjutan ceritanya.🙏🙏🙏🙏🙏
Like
Komen
Vote
Love you all ❤️❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗🤗