
Dua bulanpun berlalu begitu cepat, hubungan Kenan maupun Diva kini semakin harmonis walaupun mereka tinggal berjauhan, selama itu juga Kenan tidak pernah mengunjungi Diva di kota Z, karena kesibukannya juga karena Kenan tidak lagi diberi Izin dari sekolah, Kenan pun tidak mungkin lagi untuk bolos, karena bisa-bisa ia tidak di ikutkan ujian.
Begitu pun dengan hubungan Ray dan Lani, Ray semakin yakin untuk serius dengan Lani. Sekarang Ray juga sudah membantu Papanya untuk mengurus perusahaan, Ray juga sudah berniat untuk melamar Lani setelah mereka ujian seminggu lagi, Papa Ray pun sudah setuju, tapi berbeda dengan mamanya, mama Ray tidak setuju karena ia tidak menyukai Lani yang berpenampilan Urakan dengan motor besarnya. Mama Ray beranggapan bahwa gadis seperti itu adalah gadis yang tidak baik.
Saat ini Ray dan keluarganya sedang berkumpul di ruang tegah kediaman keluarga Regan.
Mama Ray sudah menyuruh Ray meninggalkan Lani saat Ia melihat Lani di acara nikahannya Arka, Ray sudah mengenalkan Lani pada saat itu.
"Tapi Ma, dia itu Wanita yang baik." Ucap Ray mencoba untuk meyakinkan Ratna Mamanya, supaya di beri restu untuk melamar Lani.
"Pokoknya Mama tidak setuju Ray, mama ingin kamu mendapatkan wanita yang baik, bukan wanita urakan seperti dia itu." Ujar Ratna.
"Makanya mama kenal dia dulu lebih dekat, bagaimana mama bisa mana beranggapan kalau dia tidak baik, sedangkan mama sendiri tidak mau memberikan Ray kesempatan untuk mengenalkan dia lagi kepada mama untuk lebih mengenalnya lebih dekat." Ucap Ray sedikit kesal karena setiap ia ingin mengenalkan Lani walaupun hanya sekedar lewat telepon mamanya itu selalu menolak.
"Mau kenal lebih dekat bagaimana, hanya lewat telepon maksud kamu, aku tidak akan percaya jika hanya seperti itu." Sahut Ratna menatap Ray.
"Pokoknya, mama setuju atau tidak aku akan tetap melamarnya, aku percaya kalau dia wanita baik-baik." Sahut Ray lalu pergi meninggalkan mereka, dengan perasaan kesal.
"Ma, Apa salahnya jika mama memberi Ray kesempatan untuk mama lebih mengenal wanita pilihannya itu, kamu tau sendiri kan bagaimana keras kepala anak itu, jika kemauannya tidak dipenuhi, kamu mau dia meninggalkan rumah lagi." Ucap Regan Papa Ray dengan lembut untuk membantu anaknya untuk meyakinkan Istrinya.
Regan yakin jika pilihan putranya itu adalah wanita baik-baik.
"Tapi Pa, Mama tidak yakin kalau dia itu wanita yang tepat, dan bisa merawat Ray, tampilannya saja urakan seperti itu, tidak ada cocoknya untuk menjadi istri yang bisa melayani suaminya." Ujar Ratna.
Regan Membalikkan badan Istrinya supaya menghadap kepadanya.
"Ma, Kamu tidak liat penampilan menantu Salman, dia juga sama seperti Lani, tapi nyatanya dia mampu menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik.
Penampilan bukanlah hal yang akan menjamin kepribadian seseorang. Banyak diluaran sana, wanita yang berpenampilan seperti itu yang mampu menjalani kehidupan rumah tangganya dengan baik, bahkan lebih baik dari wanita yang Anggun dan cantik. Sedangkan wanita yang Anggun dan cantik belum tentu ia bisa menghargai dan menjalankan kewajibannya, bahkan bisa saja ia hanya memikirkan dirinya sendiri." Regan sengaja menjelaskan panjang lebar supaya Istrinya itu bisa membuka hatinya, dan tidak hanya melihat seseorang dari penampilannya saja.
"Tapi Pa." Sahut mama Ray terlihat masih ragu.
"Mama ingat tidak, Kenan bahkan memiliki kekasih yang anggun dan juga cantik, tapi Salman tidak pernah menerima gadis itu, lalu mama tau tidak, apa yang dilakukan gadis itu saat Kenan sudah menikah." Regan belum menyerah untuk meyakinkan Istrinya itu.
Regan atau Papa Ray menceritakan tentang Sarla yang telah menjebak Kenan dikamar hotel, bahkan sampai menanggalkan pakaiannya, lalu memotret dirinya sedang memeluk Kenan di dalam sebuah kamar hotel.
"Mama pikir wanita seperti itu wanita baik-baik, dia ini seorang wanita cantik dan anggun loh Ma, yang mama anggap wanita seperti itu baik." Ucap Regan setelah menceritakan semuanya.
Ratna mama Ray tampak diam mencerna semua ucapan Suaminya itu, yang memang benar.
"Baiklah Pa, Jika itu sudah menjadi keputusan Ray, Mama akan merestui mereka." Sahut Ratna setelah lama berpikir.
Sedangkan di kediaman keluarga Salman terlihat Ayah dan Bunda Vivian duduk santai di kursi taman belakang rumahnya.
Kenan menghampiri kedua orangtuanya, sudah berganti pakaian rumahnya, Kenan hanya mengenakan kaos oblong putih, dengan topi hitam dibalik kebelakang.
"Bang, baru pulang?" Tanya bunda Vivian saat Kenan ikut duduk di salah satu kursi kayu.
Disana terdapat sebuah meja dengan empat kursi, tempat mereka santai saat seperti ini.
"Iya, Bun." Jawab Kenan lalu memainkan ponselnya.
"Assalamualaikum ... " Sahut seorang wanita membuat Kenan kaget, karena ia sangat mengenal suara itu, seketika Kenan menghentikan permainannya di ponsel dan langsung menoleh.
"Yank." Sahut Kenan membelalakkan matanya seolah tak percaya ketika melihat istrinya itu berdiri dekat pintu, taman belakang.
"Kenapa tidak bilang, kalau kamu mau datang?" Tanya Kenan.
"Kalau aku bilang tidak jadi kejutan dong." Jawab Diva membalas pelukan Kenan.
Kemudian Kenan melepaskan pelukannya, lalu kembali duduk begitupun dengan Diva.
"Ayah sama Bunda kok biasa-biasa aja Diva datang tiba-tiba, atau kalian memang sudah tau soal ini." Tanya Kenan menatap curiga kepada kedua orangtuanya.
"Iya, kami sudah tau, kalau Diva akan datang, dua hari yang lalu Diva menelpon Bunda." Jawab Bunda Vivian.
"Maka dari itu juga, ayah pulang cepat." Sambung Ayah Salman.
"Kenapa ayah sama bunda tidak bilang, aku kan bisa jemput." Ujar Kenan.
"Bunda suruh sopir buat jemput, lagian kalau kami bilang, kami tidak akan liat wajah datar kamu itu terkejut hehehe." Terang Bunda terkekeh.
Sedangkan Kenan mendengar penuturan Bundanya hanya merasa jengah.
"Sayang lebih baik sekarang kamu bersih-bersih gih, sebelum magrib, habis segeralah turun untuk makan malam." Ucap Bunda Vivian dan di angguki oleh Diva.
"Yah, kalau begitu Diva pamit bersih-bersih dulu." Pamit Diva kepada ayah mertuanya, lalu mengambil tasnya yang ia letakkan di meja tadi, lalu segera masuk kedalam rumah. Sedangkan kopernya sudah diantar sopir tadi ke kamarnya.
"Yank .... Tungguin." Panggil Kenan saat Diva masuk dan meninggalkannya dan langsung mengejarnya masuk kedalam rumah.
"Bang, jangan macam-macam dulu, istri kamu masih capek." Teriak Ayah Salman saat Kenan sudah agak jauh.
"Liat nanti Yah, kalau tidak khilaf." Sahut Kenan ikut berteriak tanpa menoleh kepada ayahnya.
Sedangkan kedua orangtuanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Kenan yang sudah sangat bahagia melihat kedatangan istrinya yang sudah sangat ia rindukan.
"Mau kemana Bun.?" Tanya Ayah Salman saat melihat istrinya itu beranjak dari duduknya.
"Mau masuk kamar Yah, mau bersih-bersih juga, bentar lagi magrib." Jawab Bunda Vivian.
"Mau di khilafin juga." Ujar Ayah Salman menaik turunkan kedua alisnya menggoda Istrinya.
"Ingat Umur Yah, entar encok ayah kambuh, baru tau rasa kamu." Sahut Bunda Vivian dan segera melangkah masuk.
Ayah Salman yang mendengar ucapan Istrinya, Ia segera mengejar Istrinya, lalu memeluknya pinggang Istrinya itu dari samping.
"Enak saja aku encok, aku masih umur 40an loh Bun, aku masih bisa buatkan adik untuk Kenan." Ujar Ayah Salman tak terima dengan ucapan Istrinya.
Bunda Vivian yang mendengar perkataan Suaminya itu hanya memutar matanya bola matanya malas.
Bersambung.....
Jangan lupa dukungan kalian dari para readers dengan
Like
Coment
Vote
Salam sayang dari Aku, dan terimah kasih atas semua dukungan kalian.
🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️