
Ke esokan harinya, Pak Salman dan Bunda Vivian kini berada di ruangan Dokter Chen, untuk mengetahui hasil tesnya, apakah mereka bisa menjadi pendonor buat Kenan, Bunda Vivian juga sudah melakukan tes kecocokan buat Kenan. Sedangkan Diva pergi keruang ICU di mana Kenan di rawat.
"Bagaimana Dok ? Apa salah satu dari kami bisa menjadi pendonor buat anak kami ?" Tanya Pak Salman saat dokter Chen memeriksa hasil tes yang di berikan oleh seorang perawat.
"Dari hasil pemeriksaan dari Ibu Vivian, sama sekali tidak bisa untuk mendonorkan, karena kecocokannya hanya sampai 50%, Untuk Pak Salman masih bisa, Tapi...! Terang Dokter Chen kemudian menggantung ucapannya, sambil menatap Pak Salman dan Ibu Vivian bersamaan.
"Tapi Apa Dok ? Tanya Pak Salman penasaran.
"Tapi tingkat kecocokannya hanya sampai 70%, sedangkan tranplantasi sum-sum tulang belakang lebih baik jika memiliki tingkat kecocokan 80%." Terang Dokter Chen.
"Tapi apa masih bisa saya menjadi pendonor?"
"Itu bisa saja di lakukan, jika sudah tidak ada cara lain, namun butuh lebih banyak waktu untuk Pasien akan menerima sum-sum tulang belakang yang baru, dan mungkin akan mengalami koma." Dokter Chen kembali menjelaskan.
"Dok, apakah kami tidak bisa mencari pendonor yang cocok ?" Kini Bunda Vivian ikut bertanya.
"Sepertinya itu sangat sulit Bu, jikapun ada kita butuh waktu lama untuk mencarinya, sedangkan kita tidak punya waktu banyak, melihat kondisi pasien yang semakin menurun." Ucap Dokter Chen.
"Tapi jika pasien memiliki saudara, itu mungkin bisa membantu, karena biasanya saudara kandung akan memiliki kecocokan 80% bahkan pernah ada pasien saya memiliki kecocokan dengan saudaranya sampai 95%." Tambah Dokter Chen.
"Tapi dia sama sekali tidak memiliki saudara Dok." Cicit Bunda Vivian sedikit tertunduk.
"Baiklah Dok, lakukan saja apa yang menurut dokter baik ! Dan saya sudah siap untuk melakukan operasinya hari ini juga." Ucap Pak Salman.
"Baiklah Pak, Jam 11 siang nanti kita lakukan Operasi, dan saya akan siapkan prosedurnya terlebih dahulu, untuk administrasinya silahkan selesaikan di bagian administrasi Pak ! Ujar Dokter Chen.
"Dan satu lagi buat bapak, sebaiknya bapak beristirahat dan usahakan jangan dulu makanan yang berat ! Tambah Dokter Chen.
"Baiklah Dok, kalau begitu kami permisi." Ucap Pak Salman kemudian beranjak dari duduknya menjabat tangan dokter di ikuti Bunda Vivian.
🍀🍀🍀
Tepat Jam 11:00 Waktu Singapore, Pak Salman sudah di masukkan ke ruang operasi, dan di berikan obat anastesi terlebih dahulu, dan setelah itu kini brangkar Kenan terlihat di dorong oleh beberapa perawat dari ruang ICU menuju ruangan operasi.
Diva menahan berankar Kenan, Diva mencium kening suaminya, cukup lama sambil berbisik.
"Kamu harus kuat, dan bertahanlah demi keluarga dan juga demi calon anak kita ! Diva kembali mengecup kening Kenan setelah berbisik di telinga suaminya itu.
Setelah itu Bunda Vivian juga ikut berbisik di telinga putranya itu, membisikkan doa agar operasinya bisa berjalan dengan lancar dan mereka bisa selamat, setelah itu bunda Vivian ikut mencium kening putranya itu.
Setelah itu, barulah para perawat mendorong kembali brangkar Kenan, masuk keruang operator, dan menutup pintu tersebut rapat-rapat, tak berapa lama lampu ruangan operasi menyala, pertanda operasinya telah di mulai.
Sekitar 30 menit berjalannya operasi Pak Fikram dan Bunda Hani datang. Tadi malam Diva memberi kabar kepada mereka bahwa Kenan kritis, malam itu juga Pak Fikram memesan tiket Pak Fikram memutuskan untuk kembali ke Singapore padahal baru tadi sore mereka tiba di tanah air. Setelah tadi Pak Fikram dan Bunda Hani berangkat ke Singapore dan baru tiba ke Singapore dan langsung menuju rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya Kenan ?" Tanya Pak Fikram saat baru tiba di dekat Diva.
"Sekarang dia di operasi transplantasi sumsum tulang belakang." Jawab Diva.
"Kenapa bisa, bukannya kemarin dia baik-baik saja ?"
"Dia sedang tidak baik-baik saja, dia mungkin selalu menahannya, karena penjelasan dokter, saat ini sel kankernya sudah sangat berbahaya, dan harus di lakukan transplantasi sumsum tulang belakang." Terang Bunda Vivian.
"Jadi Salman yang menjadi pendonornya ?" Tebak Pak Fikram karena dia tidak melihat sahabatnya itu.
"Iya." Jawab Bunda Vivian singkat.
🍀🍀🍀
Di ruangan operasi, Dokter Chen beserta timnya melakukan operasinya, detak jantung Kenan sempat tidak stabil, sehingga dokter Chen melakukan kejut jantung beberapa kali, barulah detak jantung Kenan kembali normal.
"Apa sudah selesai semua ?" Tanya Dokter Chen pada rekannya, yang menjahit sayatan pada Pak Salman.
"Sudah Dok." Jawab rekan dokter tersebut, sambil merapikan alat-alat yang ia gunakan.
"Bagaimana keadaan keduanya ?" Dokter Chen kembali bertanya kepada rekannya yang bertugas memeriksa kestabilan detak jantung dan nadi keduanya.
"Pendonornya baik Dok, hanya saja penerima donornya kurang stabil." Terang Rekan tersebut.
"Itu sudah saya tebak, dan kita liat perkembangannya setelah 24 Jam ! Sekarang kita keluar ! Ucap Dokter Chen.
Di depan ruangan operasi Diva dan keluarganya masih harap-harap cemas menunggu jalannya operasi, Diva terus melihat arah pintu ruangan operasi.
Diva dan yang lainnya langsung beranjak dari duduknya saat melihat lampu yang berada tepat di atas pintu ruang operasi mati, pertanda operasi telah selesai. Tak lama Dokter Chen dan satu rekannya keluar masih menggunakan pakaian operasinya, sambil melepas kaos tangan yang ia gunakan tadi.
"Bagaimana keadaan keduanya Dok ?" Tanya Pak Fikram.
Dokter Chen melepaskan maskernya yang masih terpasang di wajahnya, kemudian mengambil nafas, sebelum menyampaikan hasil operasinya.
"Operasinya berjalan lancar, untuk Pak Salman dia baik-baik saja, dan akan segera sadar mungkin malam nanti, tapi masih harus beristirahat total dan butuh perawatan untuk pembentukan sel-sel baru, setelah melakukan transplantasi sumsum tulang belakang." Terang Dokter Chen.
"Tapi....
"Tapi apa Dok ?" Tanya Pak Fikram penasaran dan bercampur rasa khawatir.
"Saudara Kenan kita liat saja dalam waktu 24 jam, kalau ia belum juga sadarkan diri mungkin ia mengalami koma, seperti yang sudah saya jelaskan sebelum menjalani operasi mungkin ini bisa saja terjadi karena tingkat kecocokannya tidak sempurna, dan itu butuh waktu untuk tubuh pasien menerima sumsum yang baru, Dan juga segeralah meminta pertolongan pada Tuhan !" Dokter Chen menjelaskan sedetail mungkin.
"Kira-kira berapa lama ia koma seperti ini ?" Tanya Pak Fikram.
"Kami tidak bisa memastikan, tergantung bagaimana pasien merespon sumsum yang baru, dan saran saya sering-seringlah ajak pasien berinteraksi ! Hal itu juga bisa membuat pasien bisa segera siuman, karena biarpun ia koma, tapi biasanya orang yang sedang koma bisa mendengar sekelilingnya.
Brangkar Kenan dan Pak Salman di dorong keluar dan segera di bawa menuju ruang perawatan yang sama.
Diva langsung menghampiri brangkar Kenan, menggenggam tangan suaminya itu, sambil mengusap kepalanya yang mulai membotak.
"By', pokoknya kamu harus bisa Melawati ini semua, dan segeralah bangun, kami semua mengharapkan itu, kami kangen denganmu !" Ucap Diva kemudian mengecup kening suaminya.
"Sayang sudah, biarkan Kenan nya dibawa keruangan dulu ! Ujar Bunda Hani menarik tangan Diva yang masih memegang brangkar Kenan.
Kenan pun dibawa ke ruangan perawatannya yang biasa ia gunakan selama masa pengobatannya, dengan berbagai alat medis yang melekat pada tubuhnya, yang hanya di tutupi selimut khas rumah sakit.
Bersambung.....
Maaf Readers 🙏🙏🙏 Kemarin nggak bisa Up, soalnya ada urusan lain yang harus saya selesaikan di dunia nyata, dan tidak bisa melanjutkan dunia perhaluan atau dunianya Kenan dan Diva 🤭🤭🤭
Beberapa Episode lagi lanjut Season 2 dan mohon beri dukungan kalian supaya saya juga tambah semangat buat nulis dan bisa Up setiap hari
Like
Vote
Favorit
Rate 5
Dan jika ada kritik dan saran berikan di kolom komentar 🤗🤗🤗
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗