
"Hay, apa kau mendengarku, kau tidak aka pernah berhasil mengalahkan ku !" Serunya lagi kemudian mengikuti Enzy lalu menarik lengan Enzy kasar, sehingga Enzy langsung berbalik kepadanya.
Priska langsung mendaratkan tamparan keras ke wajah Enzy, sehingga Enzy terjatuh, untung saja Enzy dengan sigap menumpuhkan tangannya sehingga ia tak sampai terjatuh langsung ke tanah, sehingga bisa membahayakan kandungannya.
Baru saja Enzy bangun, Priska kembali menarik lengan Enzy dengan sangat kasar lalu kembali menamparnya. Belum sempat Enzy menahannya, Priska kembali menamparnya hingga berkali-kali.
"Dia milikku, selamnya dia hanya akan menjadi milikku." Teriak Priska memegang kuat kedua lengan Enzy, semua mahasiswa atau mahasiswi hanya dapat menonton kejadian tersebut.
"Aku telah berada di sisi Khay selama bertahun-tahun." Geram Priska kembali ingin menjatuhkan tamparan pada Enzy, namun Enzy dengan cepat menahannya.
"Bertahun-tahun tidak akan ada gunanya, karena ulah kamu sendiri !" Enzy ikut meninggikan suaranya.
"Diam dan tutup mulutmu ! Bentak Priska menarik rambut Enzy.
"Khay tidak akan pernah mencintaimu." Ucap Enzy menahan tangan Priska yang masih menarik rambutnya.
"Ingat itu !" Peringat Enzy.
"Diam, jika kau tidak tau apa-apa ! Aku tidak seperti kau ataupun Sita, yang mudah kehilangan kepercayaan kepada Khay, hanya aku yang selalu percaya padanya, karena hanya akulah satu-satunya yang mencintainya." Ujar Priska semakin menggila menarik kuat rambut Enzy.
"Tidak ada seorangpun yang sempurna untuk Khay, kecuali aku." Tambah Priska.
"Tapi kau tidak pernah berhak untuk menyakiti seseorang, terutama Sita." Sahut Enzy berhasil melepaskan tangan Priska dari rambutnya.
"Aku tidak peduli !" Ucap Priska meneriaki Enzy.
"Kau benar-benar wanita iblis, picik, Khay tidak akan pernah mencintaimu." Ucap Enzy geram.
Priska tersenyum miring.
"Maka dari itu kau harus mati, jika bukan karena dirimu, Khay tidak akan pernah berubah seperti ini, sejak kamu hadir di sisinya, Khay selalu mengabaikan ku, itu semua karena mu, kamu harus mati !!" Priska mencekik Enzy dengan sangat tiba-tiba.
"Walaupun kau membunuhku, maka kau akan tetap kalah, kau tidak akan mendapatkan apapun, terutama cinta dari Khay, yang ada kamu hanya akan membusuk di penjara dengan kasus kejahatan yang begitu banyak." Tantang Enzy.
"Dan ini ! Enzy merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi merekam pembicaraannya dengan Priska.
Priska yang mengetahui kalau sejak tadi Enzy merekamnya, sangat terkejut, Priska tak bisa lagi berpikiran jernih, Priska melihat ke arah tangga, kemudian langsung mendorong Enzy, hingga Enzy terjatuh.
"Enzy.....!" Teriak Khay berusaha menyelematkan istrinya, namun Khay tidak dapat menolongnya.
Enzy terjatuh hingga ke bawah, dengan cepat semuanya menghampirinya. Enzy meringis memegangi perutnya dan mengeluh sakit.
"Sayang, apa kamu tidak apa-apa, mana yang sakit ?" Khawatir Khay melihat istrinya itu meringis kesakitan.
"Aku tidak apa-apa, bagaimana kamu bisa disini ?" Jawab Enzy kemudian balik bertanya.
"Nanti aku jelaskan, sekarang ikutlah bersama Rendra, biar dia membawamu kerumah sakit, aku harus menyelesaikan ini dulu !" Ujar Khay mengelus lembut wajah Enzy.
"Tidak ! Aku tidak apa-apa, aku mau disini bersamu." Tolak Enzy berusaha bangun.
"Tapi sayang, kam....
"Biarkan aku disini." Mohon Enzy menyela perkataan Khay.
"Ya sudah tapi tunggulah disini !" Khay menuruti permintaan istrinya, kemudian meminta Rendra menjaganya.
Kemudian Khay menoleh melihat Priska yang masih diam membisu di atas sana,
"Khay tenanglah !" Kata Leo.
Khay berbalik sejenak sembari mengangguk.
"Tolong jaga istri gue sebentar !" Seru Khay kemudian Khay mulai menaiki anak tangga satu persatu dengan tatapan tajam menatap wanita itu.
"Khay, gue ikut bersama lo." Ujar Alex mengikuti langkah Khay.
Sedangkan Priska sudah mulai ketakutan melihat tatapan Khay kepadanya, begitupun dengan Alex menatap Priska tak kalah tajamnya.
"K...Khay...Aku bisa jelaskan." Ucap Priska gugup.
Khay tak menghiraukan ucapan Priska, kemudian Priska beralih pada Alex.
"Lex...." Ucapnya.
Alex yang sejak tadi tersulut emosi, mempercepat langkahnya, dan langsung mendaratkan tamparan keras di wajahnya, sampai sudut bibirnya berdarah.
"Lex..." Priska tak menyangka Alex yang terkenal tak akan menyakiti seorang wanita, tiba-tiba saja menamparnya.
"Ini belum seberapa dibandingkan apa yang telah kau lakukan pada adik gue, bahkan gue bisa langsung melenyapkanmu saat ini juga." Geram Alex mencengkram kuat lengan Priska.
"Khay...." Priska memohon berharap Khay menolongnya dari kemarahan Alex.
Namun Khay hanya diam menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, dan amarah.
"Khay....Jang..." Ucapan Priska terhenti saat Khay menariknya paksa dari cengkraman Alex, kemudian menamparnya tak kalah kuat dari yang dilakukan Alex.
Semua orang yang melihat itu terkejut, melihat itu.
"Khay, jangan ! Hentikan Khay, jangan sampai kamu mendapatkan masalah karena memukulnya." Seru Enzy mengingatkan, walaupun terdengar meringis karena menahan sakit dibagian perutnya.
"Apa yang telah kau lakukan ? Bentak Khay.
"Khay....
"Jangan menyebut namaku, gue tidak sudi memiliki sahabat seperti dirimu."
"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku, Pris ?" Tambah Khay.
"Khay, aku...aku tidak melakukan apapun, dia yang telah memprovokasi ku, sehingga aku tidak sengaja mendorongnya." Elak Priska.
"Percaya padaku, tolong Khay, percayalah !" mohon Priska meraih lengan Khay.
"Percaya padamu ? Apa kau ingin, gue percaya pada orang yang telah tega menghancurkan dan melukai orang-orang disekitarku, begitu ?" Bentak Khay.
"Khay, apa kamu percaya orang lain daripada aku, sahabatmu, sahabat yang sudah bertahun-tahun bersamamu ? Akulah Khay, aku, hanya aku yang selalu berada di dekatmu saat kamu tersakiti, akulah telah melakukan segalanya untukmu." Ujar Priska berusaha meyakinkan Khay.
"Untukku ? Apa ini ? Apa ini yang telah kau lakukan untukku ? Kau bahkan menyakiti orang-orang yang aku cintai, apa ini maksudmu, hah ?" Emosi Khay, lalu menghempaskan tangan Priska yang sejak tadi menggenggam tangannya.
"Karena tidak ada yang cukup baik untukmu Khay, hanya aku yang lebih pantas untukmu." Jawab Priska percaya diri.
"Bukan kamu yang memutuskan dengan siapa aku pantas, karena bukan kamu yang merasakannya."
"Khay, apa tidak pernah sedikitpun kamu merasakan perasaanku ?" Priska mulai memelankan suaranya sambil mentap Khay.
"Khay, apa kamu tahu selama ini aku menyukaimu, sejak kita mulai saling dekat, dan memperhatikan satu sama lain, di hatiku, di pikiranku, juga dimataku bahkan setiap hari, segala sesuatunya dalam hidupku hanya ada kamu.." Lanjut Priska mengutarakan perasaannya.
"Khay, aku tak seberuntung mereka, yang mendapatkan perhatian rasa suka, dan cinta darimu, padahal aku lebih dulu mengenalmu." Tambahnya lagi setelah menjeda sejenak.
"Priska, perasaan seperti itu tak akan bisa bersatu dengan persahabatan, jadi, perjuanganmu selama ini sama sekali tak berarti, kamu hanya menghancurkan dirimu sendiri." Sahut Khay.
"Dan perlu gue takankan, gue sama sekali tak pernah memiliki perasaan lebih seperti dirimu, selama ini gue hanya menganggap mu sebagai sahabatku." Tambahnya.
"Tapi kenapa kamu begitu baik kepadaku ?"
"Bukannya Doni, Leo, bahkan dulu Alex juga bersikap seperti itu padamu, bersikap seperti yang gue lakukan."
Priska terdiam sejenak, air matanya sudah jatuh membasahi wajahnya, namun ia masih belum menyerah.
Priska langsung memeluk Khay dengan sangat erat.
"Lepaskan !" Seru Khay.
"Tidak Khay aku tidak akan melepaskanmu, aku sangat mencintaimu Khay, aku janji akan selalu percaya dan tidak akan meninggalkanmu, tidak seperti dengan mereka." Ucap Priska semakin mengeratkan pelukannya.
"Enzy, Enzy kamu kenapa ?"Panik Rendra saat melihat Enzy mulai melemah dan mulai kehilangan kesadarannya.
"Enzy...." Pekik Rendra, Nendra, Doni dan Leo bersamaan saat melihat Enzy terjatuh tak sadarkan diri, untung saja Rendra dengan sigap menahan tubuhnya sehingga sampai tak terjatuh ketanah.
"Don, ,darah." Kaget Leo saat melihat darah keluar dari dalam rok yang digunakan Enzy.
Khay yang mendengar itu, langsung menoleh begitupun dengan Alex yang sejak tadi berada di samping Khay, Khay langsung melepas kasar pelukan Priska, sehingga Priska terjatuh.
"Sayang...." Khay langsung menghampiri Enzy yang kini tak sadarkan diri dipangkuan Rendra.
"Khay, lebih baik secepatnya bawa istri lo dirumah sakit, lihat ada darah yang keluar !" Seru Leo.
Khay yang panik melihat itu langsung mengangkat tubuh istrinya.
"Bawah wanita itu ke kantor polisi, sepertinya ayahku sudah menyiapkan semuanya disana." Seru Khay kepada Rendra sebelum ia membawa Enzy ke parkiran dimana mobilnya berada.
"Baik." Sahut Rendra.
Rendra, Nendra dan juga Alex langsung menyeret Priska ke kantor polisi, sedangkan Leo dan Doni ikut kerumah sakit, keduanya tidak akan membiarkan Khay membawa mobil dengan keadaan seperti itu.
Bersambung.......
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...