
Saat pulang kampus, Enzy mengendarai mobilnya sendiri, karena hari ini Enzy tak bersama Khay, karena Khay ada urusan yang harus ia selesaikan di kantor yang baru ia rintis karena ada sedikit masalah.
Enzy tak langsung pulang ke apartemen, ia mampir dulu ke supermarket yang tak jauh dari kampus untuk membeli beberapa keperluan dapur, karena persediaannya sudah hampir habis.
Saat Enzy mendorong pintu supermarket tiba-tiba seorang laki-laki bertabrakan dengannya, membuat barang belanjaan laki-laki tersebut jatuh berantakan.
"Maaf...maaf saya tidak sengaja." Ucap Enzy membantu laki-laki itu mengambil belanjaannya.
"Tidak apa-apa, saya juga salah dalam hal ini, karena jalan saling memainkan ponsel." Ucap laki-laki itu.
Setelah beres Enzy kembali berdiri, begitupun dengan laki-laki itu.
"Enzy....
"Baim...
Ucap keduanya hampir bersamaan.
"Kamu sama siapa ?" Tanya Baim.
"Sendiri." Jawab Enzy.
"Ya udah gue masuk duluan ya." Pamit Enzy langsung masuk.
Tapi baru saja beberapa langkah tiba-tiba Baim menahan lengannya.
"Nzy, bisa bicara sebentar, pleaseee sebentar doang, ada yang mesti aku luruskan ke kamu." Mohon Baim.
Enzy menghela nafas beratnya, kemudian berucap.
"Baiklah, tapi gue mau belanja dulu sebntar." Imbuh Enzy di angguki Baim dengan cepat.
"Aku tunggu di cafe depan sana." Ucap Baim menunjuk cafe yang ada di depan supermarket tersebut.
"Emmm...." Sahut Enzy kemudian menuju tempat keranjang belanjaan berada, sedangkan Baim keluar dari supermarket, menuju Cafe.
Setalah semua belanjaan di dapat, Enzy kemudian membayarnya di kasir, kemudian menuju cafe, dimana Baim sedang menunggunya.
"Eh, Nzy silahkan duduk, aku udah pesenin minuman kesukaan kamu." Ucap Baim melihat Enzy sudah berada di hadapannya.
"Iya, terimakasih." Sahut Enzy duduk di hadapan Baim.
"Ya sudah to the poin aja Im, kamu mau ngomong apa, gue buru-buru." Imbuh Enzy tak mau berlama-lama bersama pria itu.
"Nzy, sebelumnya aku mau minta maaf soal masalah kita dulu, gue dan Raisa tidak memiliki hubungan apa-apa, hanya saja aku menemuinya di cafe katanya ia terus di ganggu sama mantan pacarnya, sebagai sahabatnya sejak kecil aku tak tega membiarkannya terus menerus di ganggu, makanya aku pura-pura mengaku sebagai pacarnya di hadapan mantan pacarnya." Jelas Baim mencoba untuk memegang tangan Enzy yang ada di atas meja, namun buru-buru Enzy menepisnya.
"Gue udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf Im, kamu tidak perlu menjelaskan semuanya karena gue juga sudah tau soal itu." Ucap Enzy.
"Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu terus menghindar dariku Nzy, apa kamu sudah tidak lagi memiliki perasaan denganku ?" Tanya Baim.
"Maaf Im, jujur saat gue liat kamu di cafe gue benar-benar kecewa sama kamu, gue sakit melihat kamu mengaku sebagai pacarnya, tapi setelah gue berpikir gue salah, perasaan itu bukan karena gue mencintaimu, tapi gue hanya merasa nyaman didekat kamu, karena kamu sering memberiku perhatian-perhatian kecil, dan entah kenapa gue seneng liat kamu bersama Raisa, Im, Raisa baik, gue rasa Raisa juga benar-benar suka kamu, bukan hanya sekedar sahabat, tapi dia menyukaimu sebagai laki-laki yang ia cintai." Jelas Enzy panjang lebar memegang tangan pria yang pernah menjadi pacarnya saat SMA.
"Tapi aku tidak mencintainya Nzy, wanita yang aku cintai itu kamu." Sahut Baim menatap lekat manik mata Enzy.
"Maaf Im, gue tidak bisa, kamu juga tahu sendirikan, kalau gue udah nikah." Ucap Enzy.
"Tapi Nzy,...
"Enggak Im, Gue juga mencintai suami ku." Sela Enzy.
"Bisa." Sahut Enzy sembari mengagukkan kepalanya.
"Nzy, apa bisa aku memelukmu, aku ingin memeluk sahabatku, sahabat yang aku cintai, aku janji cinta ini hanya sebatas persahabatan kita." Ujar Baim.
"Iya, kita sahabat." Sahut Enzy.
Baim berdiri dari kursinya begitupun dengan Enzy, kemudian mereka berpelukan.
Dari kejauhan seseorang mengepalkan tangannya dengan wajah memerah menahan emosinya, melihat Enzy dan Baim berpelukan.
...----------------...
Dengan langkah gontai Enzy memasuki kamarnya, sambil memijit pelan tengkuknya, Enzy tak menyadari keberadaan Khay yang sejak tadi duduk di sofa menunggunya, ia terus berjalan menuju nakas samping tempat tidur dan meletakkan tasnya disana, saat berbalik ingin ke kamar mandi, tiba-tiba ia di kagetkan dengan Kenan yang duduk di sofa menatapnya tajam, sambil bersedekap dada menyandarkn tubuhnya di Sofa.
"Khay ada apa, kenapa kamu melihatku seperti itu ?" Tanya Enzy berjalan mendekati suaminya itu.
Dari mana saja kamu ?" Tanya Khay dingin mengabaikan pertanyaan istrinya.
"Aku habis belanja keperluan dapur, soalnya aku liat persediaan kita udah menipis, jadi sepulang dari kampus sekalian aku singgah buat belanja." Jelas Enzy duduk di samping pria yang sedang berusaha menahan emosinya.
"Belanja atau kamu habis ketemu dengan mantan kamu itu, hah ?" Khay mulai menaikkan nada bicaranya tanpa melihat Enzy yang duduk disampingnya.
"Oh, maksud kamu Baim, tadi pas di supermarket aku enggak sengaja ketemu, dan dia minta ingin bicara, makanya habis belanja aku dan dia ke cafe." Jelas Enzy.
Khay tersenyum miring, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Bicara seperti ini maksudmu ?" Khay memperlihatkan ponselnya, disana terlihat jelas foto Enzy sedang memegang tangan Baim, dan juga saat mereka berpelukan di Cafe.
"Khay, it...
"Itu apa, hah ? Kamu enggak usah nyari-nyari alasan lagi, semuanya sudah jelas, kamu dan pria itu bermain di belakang ku." Tuduh Khay.
"Khay aku bisa jelaskan semuanya, apa yang kamu lihat itu....
"Salah ? Kamu mau bilang seperti itu kan, dan tidak ada lagi yang perlu kamu jelaskan, semuanya sudah jelas." Sela Khay lalu berdiri dari sana membelakangi Enzy.
Enzy sudah merasa emosi mendengar tuduhan Khay, ia benar-benar marah dan kecewa dengan pria yang kini menjadi suaminya itu, katanya ia mencintainya, tapi masalah seperti ini saja Khay sudah tak ingin mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
"Ok, kalau aku benar masih berhubungan dengan emang Kenapa, kamu tidak perlu mencampuri urusan kami." Ujar Enzy emosi, matanya bahkan sudah memerah menahan tangisannya.
"Ok, aku benar-benar salah karena mencampuri urusanmu, sedangkan aku hanya seorang suami yang berharap di cintai dari Istrinya, tapi aku benar-benar salah telah berharap, mulai saat ini kita urus saja urusan kita masing-masing, dan jangan salahakan aku jika aku kembali menjadi Khay yang seperti dulu lagi, Khay yang sangat kamu benci." Teriak Khay lalu pergi meninggalkan Enzy sendirian menangis di kamar.
"Kamu jahat Khay, jahat bahkan aku tak pernah sedikitpun berpikir ingin mengkhianati mu, aku dan dia benar-benar sudah berakhir, tapi kenapa kamu tidak ingin mendengar penjelasan ku, aku mencintaimu Khay, sangat mencintaimu...." Ucap Enzy sambil terisak, Enzy luruh di atas sofa menagis sejadi-jadinya sambil meringkuk, memeluk kedua lututnya.
Sementara Khay, dia pergi meninggalkan apartemen, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menuju kesalah satu bar yang biasa ia kunjungi dengan sahabat-sahabatnya, disana Khay minum sebanyak-banyaknya, hingga mabuk, untung saja pemilik bar tersebut sudah sangat mengenal Khay dan sahabat-sahabatnya, pemilik bar tersebut menghubungi Leo agar segera menjemput Khay.
Bersambung.......
Jangan lupa terus dukung berikan like, Komen, dan Vote sebanyak-banyaknya.
Dan tetap terus pantengin jalan ceritanya, dan di season ini aku sengaja menceritakan kisah dua saudara tersebut yaitu Khay dan Kia....
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘