Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 65 Season 3 ( Next Generatoin )


Setelah acara makan malam selesai, Semua kembali berkumpul di ruang tengah menikmati beberapa hidangan makanan ringan dan minuman, sambil mengobrol santai, sesekali Enzy dibuat kesal dengan sikap Clarie yang selalu saja bersikap manja pada suaminya itu. Hingga jam menunjukkan pukul 9 malam Khay dan Enzy memutuskan untuk pulang ke apartemen seperti rencana mereka tadi.


"Yah, Bun, sepertinya malam ini kami tidak bisa menginap." Ucap Khay pada kedua orangtuanya.


"Kok gitu sih bang ? Lagian ini juga sudah larut bang." Ujar Diva.


"Enggak Bun, setelah dari sini, aku sama Enzy ada acara." Ucap Khay membuat Diva dan Kenan saling tatap, lalu tersenyum, kedua orangtua itu mengerti.


"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati, dan cepat berikan kami cucu." Imbuh Diva, membuat Enzy tersipu malu mendengar perkataan ibu mertuanya itu.


"Bunda tenang aja, berapapun yang bunda inginkan putramu ini sangat sanggup memberikan." Ucap Khay dan langsung mendapat cubitan keras di pinggangnya dari Enzy.


"Sayang sakit loh ini." Ringis Khay mengusap pinggangnya, melihat kearah istrinya itu.


"Lagian, sembarang aja kamu ngomong." Cibir Enzy.


"Jika kalian ingin pergi, lebih baik pergi sekarang, ini sudah sangat larut !" Imbuh Kenan.


"Ayah ngusir kita ?" Khay beralih menatap ayahnya.


"Iya, ini rumah ayah, jadi terserah ayah dong." Sahut Kenan santai tanpa beralih dari ponselnya.


"Sayang, ayo kita pergi sekarang, ayah sudah mengusir kita." Ucap Khay merajuk.


"Ya sudah sana pergi." Sahut Kenan semakin membuat Khay memberenggut kesal, lali beranjak dari duduknya, tak lupa pula ia menarik tangan Enzy agar ikut bersamanya.


"Bunda, aku pamit." Pamit Khay mencium kedua pipi kanan dan kiri bundanya, di ikuti Enzy, kemudian Enzy beralih menyalimi ayah mertuanya, tapi berbeda dengan Khay, yang langsung pergi dari ruangan itu.


"Sayaaanggg, buruan !!" Teriak Khay dari ruang tamu.


"Ishh...Iya..." Kesal Enzy.


"Yah, Bun, Ki, Cla, aku pamit ya." Pamit Enzy.


"Iya buruan sayang, entar suami kamu tambah ngmbek." Ujar Diva


"Iya Bun, Assalamualaikum." Ucap Enzy kemudian menyusul suaminya yang sudah duluan.


"Walaikumsalam." Sahut semua yang ada diruangan tersebut.


Setelah sampai di halaman, Enzy langsung masuk ke dalam mobil, disana sudah ada Khay menunggunya dengan wajah di tekuk, pria itu merajuk dengan perkataan ayahnya.


"Jelek banget tuh muka." Ucap Enzy tersenyum lucu melihat ekspresi suaminya, sambil memasang seatbeltnya.


"Udah kamu jangan ikut-ikutan, aku kesal banget nih sama ayah." Sahut Khay kemudian mulai menjalankan mobilnya.


"Iya deh..., jangan kesal-kesal gitu dong, hari ini ulangtahun kamu loh." Ujar Enzy.


"Iya sayang, aku udah gak kesel kok." Sahut Khay tersenyum menoleh sejenak kepada Enzy yang duduk di sampingnya, kemudian fokus ke depan jalan.


"Ngomong-ngomong, aku gak dapat hadiah nih, dari istri aku yang cantik ?" Ujar Khay.


"Sabar, nanti kamu juga bakal dapat, tapi setelah kita sampai di apartemen.


"Btw, di paperbag itu isinya apa ?" Tanya Khay melihat paper bag yang diletakkan Enzy di kursi belakang.


"Ada deh...." Sahut Enzy kemudian merangkul lengan Khay sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


Saat melihat ke arah dasboard, Enzy tak sengaja melihat kotak kado berukuran sedang disana.


Enzy memperbaiki posisi duduknya lalu mengambil kotak tersebut.


"Ini apa ?" Tanya Enzy memperlihatkan kotak kado tersebut.


"Kado !" Jawab Khay singkat.


"Aku tahu, maksud aku ini dari siapa ?" Tanya Enzy penuh selidik.


"Dari Clarie." Jawab Khay lagi-lagi hanya menjawab singkat.


Enzy membuka bungkusan kado tersebut, dan setelah ia buka Enzy membelalakkan matanya saat melihat isi kado tersebut, disana terdapat jam tangan mewah dari merk terkenal, dan Enzy tahu betul harga jam tangan tersebut yang mencapai ratusan juta.


"Nih..." Enzy menyerahkan jam tersebut di atas pangkuan Khay, kemudian beralih menatap diluar jendela.


Khay yang melihat perubahan wajah Enzy hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala, Khay tak berniat untuk membujuknya, biarkan saja dulu seperti itu, Khay akan membujuknya dan menjelaskan semuanya saat tiba di apartemen nanti.


Setelah beberapa menit mobil yang dikendarai Khay tiba di basemen apartemen, Khay langsung memarkirkan di samping mobil milik Enzy, setelah terparkir Enzy langsung turun sambil membawa paperbag yang tadi, lalu pergi begitu saja menuju lift yang akan membawanya ke unitnya, meninggalkan Khay disana.


Khay mengejar istrinya itu, sampai pintu lift hampir tertutup, untung saja dengan cepat Khay menahannya kemudian ikut masuk. Saat tiba di unit mereka, Enzy langsung menuju kamar di ikuti Khay dari belakang, Enzy langsung menyimpan paperbag itu dengan kasar di dalam lemari pakaiannya, ia mengurungkan niatnya untuk memberikan hadiah pada suaminya.


"Sayang..." Panggil Khay namun Enzy tak menghiraukan panggilan suaminya itu, ia tetap diam mengambil pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi. Sementara Khay menghembuskan nafasnya kasar melihat keras kepala istrinya saat sedang marah.


Karena penasaran dengan isi paperbag tersebut, Khay diam-diam membuka lemari milik Enzy dan melihatnya, saat membukanya Khay kaget kemudian tersenyum senang melihat isinya, sebuah lingerie berwarna biru muda, dengan bahan yang sedikit transparan.


"Sepertinya dia sengaja mempersiapkan ini." Ucap Khay tersenyum lalu mengambil lingerie tersebut lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang..." Panggil Khay dari depan pintu karandi sambil mengetuk pintu tersebut.


"Sayang...." Khay kembali mengetuk pintu sambil memanggil. Namun masih tak ada jawaban Khay mengetuk pintu dan memanggil lebih keras.


"Apaan ?" Teriak Enzy dari dalam yaitu kedengaran sedang kesal.


"Sayang buka dulu dong, aku mau perlihatkan sesuatu, ini sangat penting sayang !" Seru Khay.


"Aku lagi mandi Khay, nanti aja setelah aku mandi." Teriak Enzy lagi dari dalam.


"Tidak bisa sayang, please !" Enzy yang mendengar teriakkan Khay yang memohon, penasaran, ia langsung keluar dari bethup, dan menyambar handuknya, kebetulan Enzy sedang berendam untuk merelaksasikan pikiran dan tubuhnya.


"Ada ap...Khay ngapain kamu ikut masuk ?" Ujar Enzy membuka pintu kamar mandi. kemudian memekik karena Khay langsung mendorongnya masuk ke kedalam kamar mandi kembali.


"Aku mau kamu memakai ini, hadiah ulangtahunku kan, sayang ?" Imbuh Khay menyandarkan Enzy di tembok kamar mandi tersebut.


"Siapa bilang ? Mana ada hadiah ulangtahun seprti itu." Elak Enzy memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Aku yakin bilang, dan aku sangat yakin." Sahut Khay menarik dagu Enzy agar menatapnya.


"Kamu sengaja kan beli ini, dan mengajak aku menginap di apartemen." Tebak Khay.


"Tidak, saat aku jalan ke mall, untuk membeli perlengkapan ku, tapi aku dapat bonus itu, makanannya aku ambil." Jelas Enzy berbohong.


"Bohong !" Ucap Khay.


"Siapa yang bohong, lagian kamu udah dapat hadiah lebih bagus dan lebih mahal, jadi aku rasa kamu sudah tak lagi menginginkan hadiah dariku." Ujar Enzy mendorong sedikit keras agar Khay menjauh darinya.


"Cemburu ya ?" Tanya Khay menggoda Enzy sambil menaik turunkan alisnya.


"Jangan harap ! Kamu pikir aku akan cemburu padamu ?" Ujar Enzy sinis.


"Jadi, apa kamu tidak akan ada masalah jika aku menerima hadiah itu, padahal aku sudah menolaknya hanya saja Clarie memaksa dan ingin membuangnya tadi, kan sayang barang semahal begitu dibuang begitu saja, jadiau tak mau aku terima, dan berniat ingin memberikan itu pada bang Raydan atau si kembar, atau kesiapa saja, tapi kalau kamu beneran tidak ada masalah, biar aku saja yang memakainya, kan lumayan tuh, dapat jam sebagus dan semahal itu." Jelas Khay panjang lebar.


Enzy diam sejenak menatap kesal suaminya itu.


"Aku tidak ada masalah sama sekali, kamu mau terima, buang atau berikan ke siapapun, bahkan kamu pakai setiap hari pun aku tak ada masalah tuh, agar kamu bisa teringat terus sama dia." Ujar Enzy kesal.


"Dan jangan harap, kamu mendapatkan hadiah dari ku !" Tambah Enzy lalu keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kamu gak lanjutin mandi kamu." Teriak Khay sambil menahan tawanya melihat sikap cemburu wanitanya itu namun sepertinya wanita itu terlalu gengsi mengakuinya.


"GAK !" Sahut Enzy menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras, membuat Khay terlonjat kaget.


"Dia benar-benar marah." Ucap Khay geleng-geleng kepala, kemudian ikut menyusul istrinya.


Bersambung.......


Jangan lupa like, Komen, dan Vote.


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏