
Hari ini dimana Kia dan Kavi melakukan foto prewedding mereka, mereka memang sangat terlambat melakukan itu, di karenakan Kavi baru saja pulang dari luar negeri karena urusan pekerjaan yang mesti dia yang turun tangan langsung, mereka melakukan foto frewed di -5H.
Sebenarnya Kia tidak mempermasalahkan jika mereka tidak melakukan foto seperti itu, namun Kavi tetap kekeh ingin melakukannya, katanya ia ingin mengabadikan momen sebelum Kia melepaskan masa lajangnya begitupun dengan dirinya.
"Makan dulu yuk om, aku udah lapar banget." Ujar Kia setelah mereka keluar dari tempat mereka melakukan frewed.
"Duhhh kasian." Kavi mengacak rambut calon istrinya itu dengan gemes.
"Kamu mau makan apa sayang ?" Tanyanya kemudian.
Kia menepis tangan Kavi dari atas kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mau makan nasi Padang, kayaknya enak deh om." Ujar Kia.
"Yakin mau makan itu, gak takut berat badan kamu bertambah sebelum hari H ?" Ucap Kavi menatap Kia.
"Yakinlah, walaupun aku gendut aku yakin om masih mau sama aku, om kan bucin banget." Sahut Kia percaya diri.
"Siapa bilang aku bucin, ya ada itu kamu." Ujar Kavi tak mau kalah.
"Mana buktinya coba aku bucin ? Perasaan enggak tuh, aku cuman terpaksa menerima om, kasian aja lihat om setiap hari datang memohon kepadaku, apalagi di depan ayah." Ujar Kia lalu masuk kedalam mobil tanpa menunggu Kavi membukakan pintu untuknya.
"Kamu mau bukti kalau kamu itu emang bucin, hah ?" Tanya Khay sambil menumpuhkan kedua lengannya di jendela mobil yang sudah Kia turunkan sebelumnya.
"Mana ?" Kia menaikkan kedua alisnya meremehkan.
"Kalau kamu tidak bucin, mana mau kamu sama orang yang jauh lebih tua dari kamu, bahkan kamu sering bilang kalau aku ini aki-aki bau balsem kan ? Apa coba itu, kalau bukan bucin." Terang Kavi balas menaik turunkan alisnya.
"Sudah ku katakan aku cuma kasihan sama aki-aki yang terus menerus mengemis cinta, makanya aku terima." Sahut Kia mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
"Ngeles aja kerjanya, macam bajai aja." Ujar Kavi kemudian menyusul masuk kedalam mobil.
Mobil Kavi menuju ke salah satu warung makan Padang yang di inginkan Kia, setelah sampai disana keduanya langsung masuk dan memesan menu apa yang diinginkan. Saat sedang menunggu pesanan mereka tiba-tiba seorang wanita dewasa bersama seorang anak perempuan kira-kira berumur 8 tahunan datang menghampiri Kavi.
"Hay, Kav kebetulan banget kita ketemu disini, apa kabar ? Sepertinya udah lama kita gak ketemu ya ?" Sapa wanita tersebut.
Kavi menaikkan kedua alisnya menatap wanita yang baru saja menyapanya itu, Kavi berusaha mengingat-ingat siapa wanita dihadapannya itu, sedangkan Kia masih diam menatap wanita itu bergantian dengan anak perempuan di sebelahnya.
"Maaf, tapi siapa ya ?" Tanya Kavi tak berhasil mengingat siapa wanita tersebut.
"Astaga sekarang kamu sombong ya Kav, saya Rita teman sekelas kamu dulu saat kuliah, masa kamu lupa sih, bahkan kita sempat dekat loh dulu, sebelum kamu ke luar negeri." Terang wanita yang bernama Rita itu sambil terkekeh kecil.
"Astaga kamu Rita, istrinya Fikar kan ? Astaga Rit, sekarang kamu benar-benar berubah banget, kamu lebih cantik soalnya." Kavi tak sadar dengan ucapan terakhirnya yang memuji wanita di hadapannya, membuat raut wajah Kia berubah memerah menahan kekesalannya.
"Bisa aja kamu, emang dulu saya gak cantik ? Kalau aja saya gak cantik gak mungkin kamu sama Fikar hampir bertengkar, iya kan ?" Ucapan Rita barusan membuat Kia semakin kesal.
"Kamu masih ingat aja, sekarang kamu sudah bahagia sama Fikar, walaupun saya lebih tampan darinya tapi kamu tetap memilih dia." Ujar Kavi.
"Ehh...Kav kamu bareng siapa ? Ponakan ?" Tanya Rita melihat ke arah Kia.
Kavi langsung menoleh kearah Kia yang sejak tadi duduk di sebelahnya. Dari raut wajah Kia, Kavi sudah bisa menebaknya kalau calon istrinya itu sedang kesal.
"Oh, kenalin dia Kia ca....
"Hay, tante saya Kia, ponakannya om Kavi." Kia menyela ucapan Kavi, memperkenalkan dirinya sebagai ponakan pria disampingnya itu.
"Ki...."
"Om aku jadi gak selera makan, aku capek, kita pulang aja yuk, takut ayah sama bunda nungguin." Kia kembali menyela ucapan Kavi.
"Tapi makanannya belum kamu makan, katanya kamu lapar ?" Ujar Kavi, dalam pikiran Kavi sekarang ia harus memikirkan cara untuk membujuk calon istrinya itu.
"Di bungkusin aja om, entar dirumah baru aku makan." Jawab Kia berjalan lebih dulu keluar dari tempat tersebut.
"Mari tante, aku duluan." Pamit Kia sebelum ia benar-benar keluar dari sana.
"Maaf ya Rit, lain kali kita ngobrolnya, jangan lupa datang kenikahan saya lima hari lagi, ajak Fikar juga, nanti saya kirim undangannya kerumah kalian." Ujar Kavi kemudian buru-buru menyusul Kia yang mungkin saja sudah tiba di mobil.
Namun tak mau ambil pusing Rita kembali mengajak putrinya masuk, untuk makan makanan yang di inginkan gadis kecil tersebut.
Sementara di parkiran.
"Kok gak masuk ?" Tanya Kavi melihat Kia berdiri di sisi mobil sambil menyandarkan tubuhnya dengan ekspresi yang tidak enak di pandang karena sedang merajuk.
"Ke kunci." Jawab Kia singkat tanpa melihat kearah Kavi yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Maaf..." Ucap Kavi.
"Untuk ?" Sahut Kia sengaja menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel.
"Untuk tadi di dalam, aku tidak bermaksud....
"Aku tahu, om pasti seneng kan ketemu mantan, mana dia semakin cantik lagi, kata om tadi." Ujar Kia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam slingbag nya.
"Buka pintunya, panas !" Seru Kia.
Kavi kemudian menekan salah satu tombol pada kunci mobilnya untuk membuka kunci.
"Aku bisa sendiri." Ucap Kia saat Kavi ingin membukakan pintu untuknya.
"Sayang, jangan ngambek dong !" Kavi memperlihatkan wajah memelasnya.
"Tidak ! Buruan gih masuk, aku udah capek banget soalnya !" Ujar Kia menghiraukan Kavi yang masih berdiri di dekat mobil sambil menahan pintu mobil sebelum Kia menutupnya.
"Aku tidak akan masuk sebelum kamu gak marah lagi, aku tahu kamu kesel karena obrolan aku tadi, sayang aku dan Rita benar-benar gak pernah berhubungan." Kavi masih saja tetap pada posisinya, berusaha menjelaskan.
"Gak ada hubungan, tapi aku dengar sendiri tadi, kalau kalian pernah dekat." Sahut Kia mencebikkan bibirnya.
"Sayang, aku akui aku dan Rita pernah dekat karena kami berteman sejak masuk universitas, lagian bukan aku aja, tapi juga teman aku yang namanya Fikar, pria yang kini jadi suaminya." Jelas Kavi.
"Tapi kamu pernah suka kan ?"
"Iya aku memang pernah suka, bahkan saat itu aku dan Fikar bersaing untuk mendapatkannya, namun pada akhirnya Rita tetap memilih Fikar, hingga sekarang mereka sudah menikah dan di karuniai dua orang anak." Kavi kembali menjelaskan.
"Ya sudah ya, sekarang berhenti merajuk, kamu kelihatan jelek tahu kalau merajuk kek gini." Lanjut Kavi menoel-noel pipi calon istrinya itu gemas.
"Iya aku tahu, aku jelek, gak seperti wanita yang bernama Rita tadi, dia cantik bahkan jauh lebih cantik sekarang." Bukannya membaik, tapi Kia samakin kesal mendengar ucapan Kavi.
"Ya Allah sayangku." Kavi mencubit gemas hidung Kia.
"Sakit !" Kia memukul tangan Kavi yang mencubit hidungnya.
"Makanya, maafin ya...ya..., gak usah ngambek lagi ya ?" Ujar Kavi.
"Mmmm." Kia hanya berdehem.
Kavi menarik nafasnya kasar kemudian menutup pintu mobilnya, kemudian menyusul masuk di belakang kemudinya.
Dalam perjalanan pulang, Kia tak pernah merespon apa yang dikatakan Kavi, bahkan saat Kavi bertanya Kia hanya menjawab seadanya saja, membuat Kavi frustasi dibuatnya.
Bersambung.........
Sepertinya author bakal lanjut season 4, di Season 4 nanti author berencana menceritakan kehidupan Khay dan Enzy dalam menjalani kehidupan rumah tangganya yang hangat. Jika reader gak bosan tetap ikutin ya, insyaallah di season berikutnya sudah tidak bakal ada lagi konflik berat, hanya ada ke uwauaaannn pasangan Khay dan Enzy.
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...