
Sejak berangkat bekerja hingga sore Kenan masih belum mengabari Diva, baru kali ini Kenan tak memberi kabar sampai seharian, kemarin-kemarin sesibuk apapun dia, Kenan pasti menyempatkan memberi kabar kepada istrinya walaupun hanya sekedar berbasa-basi lewat pesan singkat.
Kini Diva sedang menemani baby Khay yang tengah asik berguling-guling di karpet berbulu di ruang tengah, karena kini usia baby Khay sudah 3bulan dan sudah mulai bisa membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap.
Di tengah lamunannya tiba-tiba baby Khay menangis karena mungkin ingin meraih salah satu mainan khusus bayi yang berada sedikit jauh darinya, tangisan baby Khay pun membuyarkan lamunan sang Bunda.
Diva yang peka akan keinginan saya babynya langsung memberikannya, dan benar saja baby Khay langsung terdiam membuat Diva sedikit tersenyum melihat perkembangan babynya.
"Assalamualaikum." Sapa bunda Vivian yang sepertinya baru pulang dari suatu tempat.
"Walaikumsalam.." Jawab Diva kemudian mencium punggung tangan ibu mertuanya yang sudah ikut duduk melantai di alasi karpet berbulu.
"Kamu habis nangis ?" Tanya bunda Vivian saat melihat mata Diva sembab.
"Ah...Ini Bun, tadi aku nonton Drakor romansa Ceritanya sedih banget Bun, eh... Tau-taunya aku ikutan baper." Ucap Diva berbohong.
"Benar seperti itu ? Kamu tidak sedang bertengkar dengan suamimu kan ?" Bunda Vivian sedikit menaruh curiga, karena setaunya Diva bukan tipe wanita yang gampang menangis, apalagi hanya karena sebuah Drakor.
"Benar Bun, lagian kami baik-baik saja." Sahut Diva.
"Oh iya Bun, apa kata dokter ?" Diva mengalihkan pembicaraan, menayangkan kesehatan ibu mertuanya yang akhir-akhir ini sering mengelus pusing.
"Kata dokter, kolesterol sama darah tinggi bunda sedikit naik." Jelas bunda.
"Apa baby Khay rewel ?" Tanya bunda.
"Tidak Bun, tapi dia lebih suka jika di letakkan seperti ini." Sahut Diva.
"Ya sudah kalau begitu, bunda balik ke unit sebelah dulu, sebentar lagi ayah pasti pulang, setelah ayah datang bunda balik lagi kesini buat menyiapkan makan malam." Ucap bunda kemudian beranjak dari duduknya.
"Iya Bun, saya sama baby Khay juga sudah mau bersih-bersih juga."
Setelah kepergian bunda Vivian, Diva mengangkat baby Khay kemudian membawanya masuk ke kamar. Setelah sampai kamar Diva membaringkan baby Khay di boxnya kemudian masuk ke kamar mandi menyiapkan air buat baby Khay mandi. Setelah itu Diva menyiapkan pakaian untuk baby Khay juga untuk Kenan, walaupun ia tak mengetahui Kenan bakal pulang cepat atau pulang larut lagi.
🍀🍀🍀
"Kenan belum pulang ?" Tanya bunda Vivian saat keduanya sedang memasak di dapur, sedangkan baby Khay bersama pak Salman di ruang tengah.
"Belum Bun." Sahut Diva sambil memotong-motong wortel.
"Apa dia sering pulang telat seperti ini?"
"Tidak kok Bun, baru dua hari ini ia pulang telat, mungkin lagi banyak kerjaan." Diva membela suaminya, takut bunda Vivian memarahinya.
"Kerajaan boleh banyak, tapi bisakah di kerjakan di rumah, ayahmu juga seperti itu, ngapain tinggal di kantor sendirian." Omel Bunda Vivian.
"Kemarin-kemarin juga gitu Bun, mungkin saja kalau di kantor lebih bisa konsentrasi, kalau di rumahkan ada kami, apalagi kalau baby Khay rewel pasti Kenan nggak tega kalau nggak memanggilnya."
"Kamu tidak usah belain anak itu, dasar Kenan nya saja yang gila kerja." Kesal Bunda.
Mertua dan menantu itu memasak sambil mengobrol berbagai hal, sampai masakan mereka selesai, dan sudah tersaji di meja makan.
"Lebih baik kita sholat magrib dulu baru kita makan !" Ujar Bunda.
Ketiganya pun langsung menunaikan sholat magrib berjamaah dengan di imami pak Salman. Sekitar 15 menit mereka menyelesaikan sholat nya kemudian melanjutkan dengan makan malam tanpa menunggu Kenan.
"Kenan lembur lagi ?" Tanya Pak Salman.
"Sepertinya Yah." Sahut Diva, ia bingung harus menjawab apa, karena memang sedari tadi Kenan tidak memberikan kabar, bakalan lembur atau tidak.
"Sepertinya ? Memangnya dia tak mengabarimu ?" Tanya Ayah Salman langsung mengalihkan perhatiannya kepada Diva yang tertunduk karena merasa sudah salah bicara."
"Tadi, Ken...."
"Assalamualaikum...." Tiba-tiba Kenan masuk langsung menghampiri mereka yang sudah berada di meja makan.
"Walaikumsalam." Jawab ketiganya hampir bersamaan. kemudian Diva beranjak dari duduknya meraih tas kerja suaminya, lalu mencium punggung tangannya seperti biasa yang di lakukan saat Kenan baru pulang bekerja.
"Iya yah, pekerjaan lagi numpuk banget, ini juga ada beberapa yang aku bawa pulang buat di kerjakan dirumah." Sahut Kenan.
"Saran saya lebih baik kerajaan kamu jangan terlalu di porsir, kamu jangan lupa kamu baru saja si nyatakan sehat, bahkan kamu masih mengonsumsi beberapa jenis obat-obatan." Peringat Pak Salman.
"Iya Yah."
"Jangan iya iya saja ! Dan satu lagi bukan cuma pekerjaan yang butuh perhatian kamu, tapi kamu punya istri dan anak yang juga butuh perhatian kamu." Omel Pak Salman.
Kenan hanya menganggukkan kepalanya, mendengar Omelan ayahnya itu.
"Kalau begitu aku permisi dulu Yah, Bun, aku mau mandi terlebih dahulu." Pamit Kenan.
"Iya." Sahut Bunda, sedangkan Pak Salman tidak menghiraukan Kenan.
Kenan berjalan masuk ke kamarnya, sambil melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya kemudian melepaskan kancing kemeja atasnya, sedangkan Diva mengikuti suaminya di belakang.
Saat tiba di kamar tanpa bekata apapun Diva langsung masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air untuk Kenan mandi. Diva pun kembali keluar dari kamar mandi setelah menyiapkan perlengkapan mandi Kenan.
"Airnya sudah siap, Mandilah !!" Ucap Diva ingin segera kembali ke ruang makan.
Kenan yang duduk di tepi tempat tidur menarik tangan Diva untuk duduk di pangkuannya.
"Maaf..." Ucap Kenan memluk pinggang sambil membenamkan wajahnya di pundak Diva.
"Maaf dengan sikap ku tadi pagi yank." Kenan kembali berucap saat tak mendengar sahutan dari istrinya itu.
"Iya aku ngerti kok." Sahut Diva dengan suara serak menahan tangis, Diva mengalihkan perhatiannya kearah lain menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Liat aku Yank ! Kenan menarik dagu Diva agar ia mengahdanya.
"Aku benar-benar telah membuatmu kecewa dengan perlakuanku tadi yank, aku telah menyakitimu, dan membuatmu bersedih pastinya, dan aku juga tidak pernah memberimu kabar seharian tadi, Maaf !!" Kini keduanya berhadapan dengan Kenan menangkup wajah istrinya, seketika air mata Diva tak bisa lagi ia bendung.
"Maaf juga karena masalah perusahaan juga office aku jadi kurang memperhatikan Kalian." Tambah Kenan lagi-lagi dengan permintaan maafnya.
"Iya aku ngerti, tapi kamu jangan lagi pernah bersikap seperti itu, bahkan kamu sampai membentak ku, jika aku salah tegurlah aku secara baik-baik !!" Ucap Diva.
"Iya, aku janji tidak akan lagi membentak, sudah jangan nagis lagi ! Tidak malu apa keluar dengan mata sembab seperti ini ? Nanti kedua orangtua di luar mengira aku menyakitimu !" Ucap Kenan mengusap air mata istrinya itu kemudian mengecup kedua matanya.
"Emang tadi kamu nyakitin aku kok." Sahut Diva ingin segera turun dari pangkuan suaminya, tapi lagi-lagi Kenan menahannya.
"Jangan seperti ini ! Ayah sama bunda nunggu kita di luar." Ucap Diva berusaha melepaskan pelukan Kenan yang berada di pinggangnya.
"Lepasin ih..." Ucap Diva masih berusaha terlepas.
"Cium dulu dong !!" Kenan memajukan bibirnya minta di cium.
"Tidak ada ciuman malam ini, itu hukuman karena tadi pagi kamu tega sama aku, dan seharian tidak memberiku kabar !!" Ucap Diva.
"Ya sudah, jadi pelukannya tidak akan aku lepas." Ucap santai Kenan semakin mengeratkan pelukannya sambil membenamkan wajahnya di pundak Diva.
"By', jangan becanda deh ! Nanti kita di tungguin."
"Siapa yang bercanda ?" Sahut Kenan masih dengan posisi seperti tadi.
Diva tak kehabisan akal, Diva mencubit lengan Kenan dengan sekuat tenaga, sehingga pelukan Kenan terlepas, saat pelukan Kenan terlepas Diva tidak mau ketinggalan kesempatan, dengan cepat ia melarikan diri keluar dari kamar.
"Yank .." Teriak Kenan namun Diva sudah berada di ambang pintu kamar.
"Buruan mandi !" Sahut Diva tanpa menoleh lalu membuka pintu kamarnya dan keluar meninggalkan Kenan yang masih merasakan sakit di bagian lengannya bekas cubitan keras dari Diva.
Bersambung....
Jangan lupa Klik LIKE, beri KOMENTAR, juga VOTE untuk mendukung author agar tetap semangat nulisnya 😊😊😊
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️