
"Oma ?" Ucap Enzy pelan saat ia sadar dan mendapati Oma Hani duduk di sebelahnya.
"Sayang kamu sudah sadar ?" Tanya balik Oma Hani membantu cucu menantunya itu bangun dan bersandar.
"Iya Oma." Jawaba Enzy sembari mengagukkan kepalanya.
"Sekarang kamu makan dulu ya sayang, kata dokter kamu sedikit dehidrasi akibat belum makan sejak kemarin." Jelas Oma Hani.
"Sayang kamu sudah bangun Nak ?" Tiba-tiba Oma Vivian muncul dari kamar mandi.
"Oma Vivian juga disini ?"
"Iya sayang, tadi dokter nelfon kami, katanya kamu pingsan di depan ruangan Khay di rawat." Jawab Oma Vivian mendekati brangkar Enzy.
"Emmm...." Enzy hanya berdehem matanya kembali berkaca-kaca mengingat Khay yang seolah-olah mengusirnya tadi.
"Sayang, kamu kenapa ? Apa ada yang sakit, Hem ?" Tanya Oma Hani khawatir.
"Gak ada apa-apa kok Oma." Jawab Enzy kemudian tersenyum sedikit di paksakan.
"Ya sudah, sarapannya di makan dulu ya sayang ! Setelah itu kamu kembali beristirahat kata dokter kamu juga butuh istirahat yang cukup, agar kamu kembali fit." Ujar Oma Hani yang di jawab anggukan Enzy.
Enzy kemudian makan bubur yang sejak tadi kedua Oma itu siapkan untuknya, dengan telaten Oma Hani menyuapinya.
"Oma, aku mau melihat Khay sekarang ! Apa dia sudah baikan ?" Ucap Enzy setelah menuguk air yang di sodorkan Oma Vivian padanya.
"Sayang, lebih baik kamu istrirahat dulu ya, disana sudah ada ayah juga bundamu yang menjaganya." Ucap Oma Vivian.
"Apa dia masih marah denganku Oma, apa Khay belum mau aku menemuinya ?" Pertanyaan Enzy membuat kedua Oma itu mengeryitkan keningnya lalu saling menatap, pasalnya mereka belum tahu kalau tadi Khay tidak ingin ditemani Enzy.
"Apa maksudmu nak ?" Tanya Oma Hani.
"Saat Khay sadar tadi, dia menyuruhku keluar Oma, bahkan dia tak mau menatapku." Terang Enzy menundukkan wajahnya air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.
"Sabar ya sayang, biar nanti Oma yang bicara padanya, anak itu sungguh keterlaluan." Geram Oma Hani.
"Benar kata Oma Hani sayang, biar nanti kami yang memberinya pelajaran, sekarang kamu lebih baik istirahat dulu, setelah lebih baik kami janji akan membawamu menemuinya." Timpal Oma Vivian.
"Tapi Oma apa Khay sekarang baik-baik saja, bagaimana kead....
"Aku baik-baik saja..." Sahut Khay tiba-tiba masuk keruangan dimana Enzy dirawat, di temani Diva dan Kenan.
"Khay, kenapa kamu kesini, kamu butuh istirahat, kata dokter kam....
"Berhenti bicara !" Seru Khay menyela ucapan Enzy datar.
Enzy langsung terdiam saat Khay menyelanya, Enzy menundukkan wajahnya tak berani menatap suaminya itu yang kini menatapnya datar.
"Maaf...." Cicit Enzy serak menahan tangisannya.
"Apa kamu sengaja mencari perhatian seperti ini, agar semua orang mengkhawatirkan mu, hah ?" Ucap Khay mendekati brangkar Enzy.
"Ti...Tidak Khay, aku sungguh....
"Berhenti mencari alasan !" Khay kembali menyela ucapan Enzy.
"Apa kamu sengaja tidak makan sejak kemarin bahkan sampai tidak tidur karena menemaniku semalaman, sampai kamu dehidrasi seperti ini, apa kamu pikir aku akan mengasihanimu dengan keadaan kamu yang sekarang lalu memaafkanmu begitu muda ?" Ujar Khay menatap Enzy masih menundukkan wajahnya.
"Tidak Khay, bukan begitu maksudku ! Dan aku juga sadar kalau aku tidak bisa dimaafkan." Sahut Enzy terisak.
"Apa kamu benar-benar tulus meminta maaf padaku, dan ingin di maafkan ?" Tanya Khay dan langsung di angguki Enzy, Enzy hanya bisa menaggukkan kepalanya karena dadanya begitu sesak mendengar cara bicara Khay dingin, sehingga tidak mampu mengeluarkan kata apapun, seolah tercekat di tenggorokannya.
"Baiklah aku akan memaafkan mu, tapi kamu harus berjanji terlebih dahulu !" Ujar Khay.
Enzy yang mendengar penuturan Khay memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap pria yang berdiri tepat disampingnya juga sedang menatapnya, namun tatapannya tak lagi datar seperti tadi.
"Baiklah, aku harus berjanji apa, agar kamu mau memaafkanku ?" Tanya Enzy.
"Kamu harus berjanji, tidak akan lagi membicarakan atau menyinggung soal anak, dan jangan pernah sekalipun kamu mengatakan perkataan kamu kemarin itu yang menyuruhku menikah dengan wanita lain." Jelas Khay.
Enzy menaggukkan kepalanya, sembari mengusap air matanya yang terjatuh dengan kasar sambil mengangguk.
"Aku janji !" Tangisan Enzy pecah langsung memeluk pinggang Khay sambil menggelapkan wajahnya di perut prianya itu.
"Maaf...." Ucap Enzy masih di posisinya.
Khay balas memeluk istrinya tersebut, sambil mengusap punggungnya.
"Emmm.... sekarang berhentilah menangis ! Kamu terlihat begitu jelek jika punya mata sembab seperti itu." Ucap Khay.
"Bilang dulu kalau kamu memaafkanku !" Ucap Enzy mengeratkan pelukannya.
"Iya aku memaafkanmu sayang, sekarang sudah ya nangisnya, dan lebih baik kamu istrirahat !" Ujar Khay.
"Tapi kamu benar sudah memaafkanku kan ?" Tanya Enzy mendongak menatap Khay.
"Iya sayang, aku sudah memaafkanmu." Sahut Khay menegaskan.
Enzy tersenyum mendengar ucapan suaminya tersebut lalu kembali mengeratkan pelukannya.
"Istirahat ya !" Seru Khay menarik lengan Enzy yang melingkar di pingganya.
"Emmmm....Kamu juga ! Kemarin kata dokter kamu juga butuh istirahat ! Karena kondisi pencernaan kamu sekarang tidak baik-baik saja." Ujar Enzy.
"Iya, aku nunggu brangkar aku dulu di pindahkan ke sini." Sahut Khay.
"Kesini ?" Beo Enzy menatap sumainya.
"Iya Sayang, tadi ayah sudah mengurus semuanya, kalau kalian akan di rawat di ruangan yang sama." Sahut Diva yang sejak tadi menonton drama anak dan menantunya itu.
"Kok bisa ?" Enzy sepertinya lupa, kalau mertua laki-lakinya itu tidak ada yang tidak bisa ia lakukan.
"Sayang kamu lupa siapa ayah mertua kamu ?" Tanya Khay.
Enzy menatap pria paruh yang berada di depan brangkar sedang berdiri menatapnya.
"Sekarang kamu istirahat, tidak perlu memikirkan apapun lagi, pikirkan masa depan dan kebahagiaan kalian nantinya, jalani semuanya dengan apa yang sudah digariskan oleh Allah, karena tidak akan ada jalan yang buruk jika Allah sudah menentukan, hanya saja kita butuh sabar dan berserah diri atas semuanya, jika itu sudah ada pada diri kalian maka yakinlah semuanya akan indah pada waktunya." Ucap Kenan.
"Baik Yah." Sahut Enzy.
"Maaf karena aku Khay sampai seperti ini, dan aku juga telah merepotkan ayah juga semua keluarga kita, dan beberapa orang." Lanjut Enzy meminta maaf.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, dan untuk ke adaan Khay, itu bukan salah kamu nak, salah dia sendiri yang tidak pernah berpikir rasional, dia selalu saja bertindak bodoh, sampai membahayakan kesehatannya sendiri." Ujar Kenan menatap sinis Khay.
"Maaf, aku akui, aku salah." Ucap Khay.
"Bagus kalau kamu sadar." Sahut Kenan.
"Dan ini terakhir kalinya ayah mendengar kamu mabuk-mabukan seperti ini." Tambah Kenan.
"Iya yah, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Khay.
"Jangan cuma janji !" Seru Kenan sebenarnya masih kesal dengan tindakan putranya, mungkin karena dulu ia terlalu memanjakan pria itu.
"Khay ingatlah, sekarang kamu sudah dewasa, kamu sudah punya tanggung jawab sendiri, berpikirlah seperti yang ayah selalu katakan padamu, minum boleh, karena ayah mengerti di lingkungan sosial kita pasti tak pernah jauh dari kata itu, tapi ketahuilah jangan pernah mencoba hal itu menjadi kebiasaan kamu, ayah juga sering minum, tapi ayah lakukan itu jika di suatu perjamuan atau di pesta, tapi ayah tidak pernah meminum lebih dari segelas, ayah melakukan itu hanya menghormati beberapa kolega dan relasi bisnis, itu saja, tak pernah ada alasan lain, atau hanya melampiaskan emosi, karena itu sama sekali tak membantu kita, melainkan hanya menambah beban atau masalah apapun itu." Ucap Kenan panjang lebar memberikan nasehat-nasehat yang tidak seberapa hanya saja memberi pelajaran dan makna yang luas dan baik tentunya.
Khay hanya menaggukkan kepalanya, mencerna baik-baik semua nasehat di berikan ayahnya itu.
Bersambung........
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...