
Sudah seminggu lebih Kavi masih merasa mual, membuat seluruh keluarga khawatir.
"Mas, apa mas yakin akan pergi ke kantor ?" Tanya Kia mengkhawatirkan suaminya karena sejak bangun Kavi terus muntah dan merasa mual, bahkan Kavi tak ikut sarapan.
"Iya sayang, mas harus pergi karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan." Jawab Kavi mengancing kemejanya.
"Apa perlu aku ikut mas, takut mas kenapa-napa nanti." Tawar Kia.
"Gak usah sayang, lagian aku sudah
merasa lebih baikkan." kemudian Kavi memakai jasnya dibantu Kia.
"Ya sudah kalau begitu." Sahut Kia.
...----------------...
Saat melakukan rapat dengan para petinggi perusahaan dan beberapa investor terutama Kenan mertuanya bingung melihat Kavi yang sejak tadi mengenakan masker.
Setelah lebih dari satu jam akhirnya rapat selesai, semua meninggalkan ruangan tersebut satu persatu kecuali Kenan yang masih tetap tinggal.
"Kavi kamu kenapa memakai masker seperti itu ?" Tanya Kenan.
"Sebelumnya maaf yah aku kurang sopan jika seperti ini, tapi aku mengenakan ini karena aku merasa sangat mual mencium aroma parfum ayah." Ucap Kavi membuat Kenan menatap tajam menantunya itu.
"Apa maksudmu Kav, apa secara langsung mengatai saya ini bau, hah ?" Ucap Kenan kesal.
"Bukan seperti itu Yah, tapi sumpah farfum ayah benar-benar membuatku mual." Sahut Kavi takut-takut.
"Benar-benar menatu kurang ajar kamu Kav, untung pernikahan kalian terbilang masih baru, coba kalau tidak sudah ku pecat kamu sebagai menantuku." Kesal Kenan lalu pergi begitu saja dari ruangan tersebut.
Huffft..... Kavi menatik nafasnya kasar lalu ikut pergi meninggalkan ruang rapat tersebut menuju ruangannya.
"Bawakan saya makan siang, saya ingin makan bakso yang ada di pinggir jalan depan kantor." Ujar Kavi pada asisitenya lewat telepon yang ada diatas mejanya.
Belum sempat asistennya itu menjawab Kavi langsung menutup telponnya sepihak membuat Rio asistennya merasa aneh, tumben-tumbenan bos sekaligus sahabatnya itu mau memakan makanan seperti itu, yang dikata tidak sehat, apalagi ini yang dijual di pinggir jalan.
Tok....Tok....Tok....
"Masuk !" Seru Kavi.
Rio masuk membuat Kavi mengeryitkan keningnya.
"Kenapa kau malah kesini, bukannya tadi saya menyuruhmu membelikan saya bakso ?" Tanya Kavi.
"Ini saya kesini untuk memastikan itu, saya pikir salah dengar tadi." Jawab Rio.
"Tapi apa benar kau ingin memakan makanan yang katamu tidak sehat itu, apalagi ini di jual digrobak pinggiran jalan loh." Rio sekali lagi memastikan, sekarang pria itu tidak lagi berbicara formal layaknya atasan dan bawahan.
"Ya sudah jika kau tidak ingin membelinya untukku, biar saya menyuruh orang lain saja, tapi jangan harap kau mendapatkan bonus bulan ini." Ujar Kavi menatap tajam asisitenya itu.
"Baiklah tuan, saya akan membelinya untuk Anda sekarang juga." Ucap Rio kembali berbicara formal lalu segera pergi dari ruangan bosnya tersebut.
Di saat sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka, dan menampakkan Kia sedang tersenyum lebar, sambil membawa paper bag ditangannya.
"Sayang, kok kesini ?" Tanya Kavi berdiri dari kursi kebesarannya kemudian berjalan mendekati Kia, lali mengecup keningnya.
"Aku khawatir mas, dari tadi aku kepikiran terus sama kamu." Jawab Kia kemudian keduanya berjalan menuju sofa.
"Itu apa yang kamu bawah ?" Tanya Kavi melihat paper bag yang Kia letakkan di atas meja.
"Aku bawakan kamu makan siang, tadi bunda masak SOP, juga ada beberapa lauk lainnya."
"Kamu sudah makan belum mas ?" Lanjut Kia bertanya sambil mengeluarkan beberapa kotak makan.
"Belem, tapi aku sudah menyu.....
"Bos, sorry lama." Ucap Rio masuk begitu saja diruangan bos sekaligus sahabat itu.
"Apa kau tidak punya sopan santun, hah ?" Bentak Kavi pasalnya entah kenapa bawaannya ia selalu emosi dikala melihat asisitenya itu.
"Astaga bos galak amat, minta terimakasih kek, saya sudah capek-capek ngantri di pinggir jalan buat beli bakso ini." Ujar Rio tak menghiraukan bentakan atasannya itu, kemudian ikut duduk di Sofa berhadapan dengan pasangan suami istri di depannya itu.
"Ehh...Ehh... Siapa yang menyuruhmu duduk di situ, keluar kau dari sini !" Seru Kavi.
"Astagafirullah, Kav kau kenapa sih, dari tadi bawaannya sensi mulu, mana aneh lagi." Ucap Rio menatap sahabatnya itu aneh.
"Gak usah banyak bica.....
"Mas, udah, kayak anak kecil aja, udah tua juga." Sela Kia jengah melihat perdebatan antara dua sahabat itu.
Kavi yang mendengar dikatai tua langsung menatap istrinya itu datar, Kavi benar-benar sangat menolak tua.
"Keluar !" Seru Kavi melemparkan majalah ke wajah Rio.
"Hahahaha, maaf tuan Kavi yang sudah tua." Ucap Rio kemudian dengan cepat ia ngacir meninggalkan ruangan atasannya itu.
"Mas mau kemana ?" Kia menahan lengan Kavi saat pria itu akan beranjak dari duduknya.
"Kerja, kerjaan aku banyak, aku gak punya waktu buat santai-santai disini." Ucap Kavi datar.
"Gitu aja ngmbek, makan dulu gih !" Ujar Kia menyodorkan sendok berisikan nasi beserta lauk pauk di depan mulut suaminya itu.
Ueeekkk.... Tiba-tiba saja Kavi merasa mual saat mencium aroma makanan yang di sodorkan Kia di depannya, membuat Kia panik dan khawatir.
"Mas, kamu kenapa ?" Tanya Kia mengusap-usap punggung Kavi karena Kavi terus merasa mual sambil memegangi perutnya.
"Jauhkan makanan itu sayang, aku mual mencium aromanya." Sahut Kavi.
"Ueeekkk...." Kavi berlari masuk ke kamar mandi sambil membekap mulutnya.
"Mas, kita kedokter ya, liat muka kamu udah pucat banget." Ajak Kia sambil menyeka peluh yang ada di kening Kavi.
"Gak perlu sayang, mungkin karena aku telat makan aja, makanya mual, mag aku mungkin kambuh." Ucap Kavi.
"Tapi mas...
"Aku gak apa-apa sayang, kamu gak usah khawatir gitu ! Ayo kita keluar, sejak tadi aku ingin sekali makan bakso yang di beli Rio barusan." Ajak Kavi setelah merasa rasa mualnya sedikit berkurang.
"Ya sudah ayo, tapi kamu yakin makan bakso pinggir jalan, bagaimana kalau itu tidak sehat ?" Tanya Kia saat keduanya berjalan menuju sofa tempat mereka duduk semula.
"Yakin sayang, entah kenapa aku sangat ingin mencicipi bakso yang di jual depan kantor itu, setiap hari aku lihat pengunjungnya banyak." Jelas Kavi mendudukkan dirinya di Sofa.
"Sayang, itu makanan yang tadi kamu jauhkan dulu sayang, aku benar-benar mual mencium aromanya.!" Seru Kavi dan langsung dituruti Kia, Kia pun membereskan makanan tersebut lalu kembali ia masukkan kedalam paper bag.
Setelah itu Kavi memakan baksonya, Kia bingung mihat suaminya itu makan dengan sangat lahap, bahkan dalam waktu sekejap Kavi mengahabiskan bakso tersebut hingga tak tersisa bahkan kuahnya juga dia habiskan hingga tandas.
"Mas, kamu kok akhir-akhir ini aneh banget ya." Ucap Kia membuat Kavi langsung menautkan alisnya mendengar penuturan istrinya.
"Aneh kenapa sih sayang ?" Tanya Kavi.
"Pokoknya kamu aneh, akhir-akhir ini kamu banyak makan, apalagi jika sudah makan bakso, kamu juga mengganti semua sabun yang biasa aku gunakan." Jelas Kia.
"Kalau soal makan mungkin karena aku bahagia sama kamu, makanya nafsu makan aku bertambah, dan soal sabun aku tidak suka aja dengan aromanya, makanya aku ganti." Jelas Kavi.
"Sayang, kamu gak makan ?" Tanya Kavi karena sejak tadi istrinya itu hanya sibuk memperhatikannya.
"Aku sudah makan tadi, aku masih kenyang." Jawab Kia.
"Ya sudah kamu lanjutin lagi kerjaan kamu mas, aku mau pulang dulu." Seru Kia.
"Kok pulang sih sayang, aku masih ingin seperti ini." Ujar Kavi bersandar di bahu Kia, sambil mencium aroma leher Kia.
"Mas jangan aneh-aneh deh, ini dikantor loh, kalau ada yang masuk bagaimana ?" Ucap Kia mendorong kepala suaminya itu agar menjauh.
"Ishhh..." Decak Kavi cemberut.
"Gak usah ngambek gitu mas, malu sama umur, lagian kok aneh, bukannya aku yang harusnya bersikap seperti itu, aku kan jauh lebih muda dari mas, bahkan aku bisa jadi anaknya mas." Ucap Kia beranjak dari duduknya mengabaikan Kavi yang sudah sangat kesal mendengar ucapannya.
"Aku gak setua itu sayang." Ucap Kavi.
"Terserah apa kata mas, asal mas bahagia, by mas aku pulang dulu !" Ucap Kia mencium pipi suaminya itu lalu pergi dengan cepat dari sana.
"Sayang kamu kesini naik apa ?" Tanya Kavi sedikit meninggikan suaranya karena Kia sudah berada di ambang pintu.
"Naik motor kesayangan aku mas." Jawab Kia lalu dengan cepat pergi dari sana.
"Sayang sudah aku bilang gak usah bawa-bawa motor lagi !" Teriak Kavi namun sepertinya Kia sudah tidak lagi mendengarnya.
"Aisssshhh..... Kenapa harus pakai motor sih, bar-bar banget punya bini." Ucap Kavi.
Bersambung.........
Jangan lupa cerita Khay dan Enzy dilapak satunya berjudul DAMBAAN.....
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...