
Setelah acara pesta selesai kini keluarga Pak Salman dan pak Fikram makan malam bersama.
Selesai makan malam mereka kembali berkumpul di ruang tengah sambil menikmati teh hangat dan beberapa cemilan untuk menemani mereka mengobrol.
Kediaman Kenan menjadi sangat ramai karena kedua keluarga berkumpul, ditambah lagi terdengar suara Raydan, Khay, juga dedek Kia yang asik main di karpet depan sofa yang orang tua duduki. Sesekali Arka menggoda Khay dengan mengganggunya bermain, merecoki permainan Lego, membuat bocah laki-laki itu teriak-teriak karena tindakan pamannya itu.
Arka memang suka menggoda ponakannya itu, beda lagi dengan Raydan yang tampak cuek dengan sekitarnya, anak semata wayang Arka itu lebih tampak tenang dan seolah tak mempedulikan sekitarnya, jika Raydan sudah serius dengan mainannya maka bagaimanapun Arka menggodanya ia akan tetap diam bahkan cuek.
Sedangkan dedek Kia tak pernah mau diam bocah perempuan itu sangatlah aktif, ia tak pernah betah dalam satu permainan saja, bahkan ia suka sekali mengganggu Raydan dan Khay bermain.
"Abang Khay, tuh ayah kamu di ambil noh sama dedek Kia, pasti ayah kamu lebih sayang dedek Kia daripada kamu, dedek Kia kan pricesnya ayah kamu, anak kesayangan, apalagi dedek Kia itu perempuan.!"Arka sengaja mengompori Khay yang sibuk menyusun legonya.
Benar saja Khay terpengaruh oleh Arka wajahnya terlihat sangat kesal langsung menoleh kearah ayahnya yang sedari tadi duduk tak jauh dibelakangnya.
"Dedek Kia..." Teriak Khay saat melihat adiknya itu duduk anteng di pangkuan Kenan sambil memainkan ponsel Kenan, di tambah lagi Kenan terlihat mengusap-usap kepala putrinya itu.
"Bang ! Kenapa teriak-teriak gitu sih ?" Tanya Kenan.
"Ayah dedek Kia nya tulunin dari pangkuan ayah, aku mau di pangku ayah !" Seru Khay berjalan kearah Kenan, dan langsung menarik lengan adiknya itu agar segera turun.
Dedek Kia tanpa berkata apapun langsung turun dari pangkuan ayahnya, lalu duduk di samping Raydan.
"Bang, baru tadi siang ayah bilang, kalau Abang tidak boleh kayak gitu sama adiknya." Ucap Kenan lembut setelah memangku putra posesifnya itu terhadap dirinya.
"Tapi kata papi Alka, kalau dedek Kia mau merebut ayah dariku, ayah lebih sayang dedek Kia daripada aku." Oceh Khay merajuk pada ayahnya itu.
"Jangan dengerin papi Arka sayang, papi Arka bercanda kok, iya kan papi Arka." Ujar Bunda Hani kepada cucunya itu kemudian beralih kepada Arka.
"Siapa bilang aku bercanda sih Bun, emang bener kok kalau Kenan lebih syang dedek Kia dari pada Abang Khay." Arka masih saja membuat kesal ponakannya itu.
"Arka...." Sahut Pak Fikram dengan nada menegurnya karena sudah melihat Khay sudah memerah dan akan menangis.
"Iya Yah, bercanda kok.." Sahut Arka.
"Maafin papi Arka ya bang, papi hanya bercanda tadi." Arka beralih kepada Khay, sedangkan Khay hanya mengangguk lalu memeluk ayahnya dengan posesif.
"Dasar POSESIF." Ujar bunda Vivian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Anaknya siapa dulu Bun, kata pepatah lama buah tidak akan jauh jauh dari pohonnya." Timpal pak Salman.
"Perasaan aku tidak posesif Yah ?" Sahut Diva.
"Bukan kamu sayang, tapi bapaknya." Ucap bunda Vivian.
"Aku posesif karena aku sayang dan cinta, aku enggak mau apa yang sudah menjadi milikku di ganggu gugat dengan orang." Ucap Kenan.
"Dasar !!" Ucap Pak Salman jengah.
"Abangnya sudah tidur by' ?" Tanya Diva saat keluar dari kamar mandi, dan menghampiri suaminya itu duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Sudah yank, Abang kok makin prosesif yank ?" Sahut Kenan memperhatikan wajah lelap putranya.
"Enggak tahu juga sih by', lagian dia sama aja seperti kamu." Ujar Diva ikut naik di tempat tidur lalu bersandar pada dada bidang suaminya, karena posisi mereka Kenan berada di tengah-tengah, karena Khay yang meminta seperti itu.
"Aku posesif karena aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu Yank." Ucap Kenan mengusap bahu istrinya lalu mengecup pucuk kepalanya.
"Mungkin Abang juga kayak gitu by'." Sahut Diva membuat pola abstrak di dada Kenan membuat Kenan kegelian.
"Jangan seperti itu Yank !" Ucap Kenan memegang tangan Diva.
Diva mendongak menatap wajah suaminya begitupun Kenan menatap Diva dengan tatapan sendu.
"Kamu Kenapa by', apa yang kamu pikirkan ?" Tanya Diva mengusap pipi kanan Kenan.
"Maaf." Hanya kata maaf yang Kenan ucapkan.
"Maaf untuk ?" Diva kembali bertanya.
"Maaf karena kesalahan yang aku buat dan aku belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan anak-anak kita, aku hanya bisa menyakiti perasaan kalian." Ucap Kenan beralih melihat kearah jendela.
"By'." Diva mengubah posisinya dan naik kepangkuan Kenan lalu menangkup wajah milik suaminya itu kemudian menatapnya dalam-dalam.
"Sudah ku katakan lupakan semuanya, apa kamu ingin aku dan anak-anak benar-benar akan pergi darimu, aku sudah tidak ingin mendengar kata maaf dari mulut kamu by', jauh sebelum kamu meminta maaf aku sudah memaafkanmu, hanya saja aku tidak sanggup menemuimu dan memilih untuk pergi waktu itu, karena kesalahpahaman ini, aku juga salah dalam hal ini, seandainya dulu aku bisa bersabar untuk tetat berada di sampingmu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini, dan terimakasih banyak karena kamu sudah melindungi ku, walaupun aku anggap itu dengan cara tidak benar karena kamu tidak mengatakan yang sejujurnya." Diva berucap panjang lebar kemudian menjeda ucapannya karena melihat suaminya sudah berkaca-kaca.
"Kamu tahu by ? Kamu adalah suami dan ayah yang hebat dan baik yang pernah aku temui, aku sangat bersyukur memiliki suami seperti mu." Lanjut Diva lalu mencium bibir Kenan sekilas.
"Terimakasih karena sudah mau menjadi istriku, berada di sampingku, walaupun dengan keadaan aku yang sekarang, selalu mensupport ku." Ucap Kenan balas mencium bibir Diva namun bukan sekejap, tapi ia malah memperdalam ciumannya. Tampak keduanya sangat menikmati ciuman mereka, menumpahkan rasa kerinduan yang sudah lama mereka tak seperti ini.
"I Love You more my wife." Ucap Kenan setelah melepaskan ciumannya, lalu menangkup wajah Diva dengan kening saling bersentuhan.
"I Love You To my husband." Balas Diva lalu memeluk erat tubuh suaminya.
Setelah bercerita panjang lebar Diva dan Kenan mulai berbaring dengan Diva yang menjadikan lengan Kenan sebagai bantalnya, lalu ia memeluknya dengan erat.
"Good night bundanya Abang." Ucap Kenan lalu mencium pucuk kepala Diva.
"Good night to ayah." Balas Diva kemudian memejamkan matanya begitupun dengan Kenan.
Bersambung......
Maaf karena baru bisa Up, soalnya author baru sehat setelah beberapa di rawat, jangan lupa terus berikan dukungan like, komen dan Vote. sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya karena membuat readers menunggu kelanjutannya dalam waktu yang cukup lama.
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️