Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 19 Season 3 ( Next Generatoin )


Khay terlihat sedang duduk di sofa sambil menonton televisi di temani beberapa cemilan dan minuman kaleng kesukaannya, tak lama berselang Rendra dan Nendra turun dari atas.


"Kenapa kalian turun ?" Tanya Khay saat Rendra dan Nendra duduk di dekatnya.


"Enzy masih tertidur, gue khawatir dia kenapa-napa, dia tidur apa mati ya ?" Ujar Rendra ngelantur.


"Huss sembarangan aja kamu ngomong ! Kamu doain dia mati ?" Tegur Nendra memukul kepala bagian belakang saudara kembarnya itu.


"Dari tadi emang dia seperti itu terus." Sahut Khay tak beralih dari layar datar di depannya.


"Khay main PS yuk !" Ajak Nendra.


"Malas ah." Sahut Khay.


"Apaan sih, membosankan banget, coba kalau ada Kia." Ucap Rendra.


"Iya, gue lupa kabari dia, tunggu ! Gue hubungi dulu." Ujar Nendra mengeluarkan ponselnya ingin segera menghubungi gadis itu, namun baru saja Nendra ingin menekan nomornya buru-buru Khay merampas ponsel Nendra.


"Kamu enggak usah menghubungi dia, kalau dia tau, Enzy sedang sakit bunda pasti akan tahu juga, dan dia pasti kesini, enggak tahu deh bagaimana nasib gue kalau sampai bunda tahu Enzy sedang sakit, dan lebih parahnya lagi dia pasti tau masalah gue dengan Enzy." Jelas Khay.


"Oh, Ok !" Ujar Nendra.


"Rend main yuk !" Ajak Nendra kepada Rendra.


"Ok, daripada suntuk juga kan." Rendra dan Nendra pun bermain PS hingga sore.


Selama permainan PS si kembar Khay beberapa kali ke kamar untuk melihat keadaan Enzy, yang masih saja tertidur.


"Kalian mau makan apa ? Biar gue pesan." Tanya Khay.


"Terserah kamu aja deh." Sahut Nendra di angguki setuju oleh Rendra.


"Kalian kalau udah ketemu PS aja." Ujar Khay memesan makanan lewat aplikasi.


Saat asik bermain tiba-tiba ponsel Nendra berdering tanda panggilan masuk.


"Rend, dari mami." Ucap Nendra saat melihat nama siapa yang tertera di ponselnya.


"Angkat aja, kalau mami bertanya bilang aja kita lagi main di apartemen Khay juga Enzy.


Nendra menggangguk, lalu menjawab panggilan dari maminya.


📞 "Assalamualaikum mi." Ucap Nendra.


📞 "Kamu dimana, Rendra juga, kenapa kalian belum pulang juga, ini sudah sore bahkan sudah mau magrib." Oceh Lani dari seberang telepon.


📞 "Maaf mi, kami lupa ngabarin kalau kami sekarang berada di apartemen Khay juga Enzy, kami lagi main." Jawab Nendra.


📞 "Lain kali kalau mau pergi kabari mami dulu, mami khawatir tau enggak ! Terus Enzy nya mana, mami mau bicara ?" Ujar Lani kemudian menanyakan Enzy.


"Mami mau bicara sama Enzy, bagaimana ini ?" Nendra berucap tanpa mengeluarkan suara.


"Siniin biar gue yang bicara." Ujar Khay mengabil alih ponsel Nendra.


📞 "Assalamualaikum aunty, ini aku Khay, Enzy lagi di kamar, lagi mandi." Ucap Khay berbohong.


📞 "Aunty apa kabar ?" Tanya Khay.


📞 "Oh, kirain Enzy nya ada di dekat kalian, aunty baik-baik aja sayang, kapan-kapan main kerumah aunty dong, sekalian bareng Enzy juga !" Ucap Lani.


📞 "Iya Aunty, nanti kapan-kapan aku sama Enzy main kesana." Sahut Khay.


📞 "Ya sudah bilang sama si kembar, jangan pulang kemalaman !" Pesan Lani.


📞 "Iya aunty nanti aku sampaikan, kalau gitu aku tutup ya aunty, assalamualaikum." Ucap Khay.


📞 "Iya walaikumsalam sayang, salam sama istri kamu !"


📞 "Iya aunty entar aku sampaikan." Sahut Khay lalu sambungan telepon pun berakhir.


Khay kalau gitu aku Ijin liat Enzy dulu ya, udah malam banget ini, takut nyokap gue ngomel-ngomel kalau kita telat pulangnya." Rendra meminta izin untuk melihat Enzy ke kamar.


"Emm...." Sahut Khay sembari menganggukkan kepalanya pokus dengan ponselnya.


...----------------...


Sementara di kamar Enzy terbangun perlahan ia membuka matanya, kemudian dengan susah payah ia berusaha bangun dan menyandarkan dirinya di kepala tempat tidur.


"Kenapa kau begitu baik kepadaku, apa yang sebenarnya kau inginkan ?" Ucap Enzy lemas melihat ke arah foto Khay yang terpajang di dinding.


"Kau sudah bangun ?" Tanya Rendra tiba-tiba saja masuk dan menghampiri Enzy dan langsung duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur, sedangkan Nendra duduk di sofa yang ada dikamar tersebut.


"Bagaimana, apa sudah enakan ?" Tanya Nendra dari arah sofa.


"Biar aku periksa ! Seru Rendra meletakkan punggung tangannya di atas kening Enzy.


"Kami bela-belain bolos kuliah hanya untuk merawatmu, tau enggak ?" Seru Nendra.


Enzy kebingungan melihat Rendra dan Nendra berada disana, bahkan mereka mengaku kalau merekalah yang merawatnya, karena Enzy merasa kalau Khay lah yang sejak tadi merawatnya.


"Apa bubur dan obat itu kalian juga yang siapkan." Tanya Enzy masih belum percaya kalau mereka yang merawatnya, karena ia benar-benar yakin kalau sebenarnya yang merawatnya adalah Khay.


"Iya, gue sendiri yang buat buburnya spesial buat kamu" Sahut Rendra.


"Tapi jika kamu tidak mau, biar gue aja ya memakannya, kelihatannya enak." Timpal Nendra berjalan kearah tempat tidur.


"Jadi yang tadi itu kalian ?" Gumam Enzy namun masih bisa di dengar jelas oleh si kembar.


"Kami apa ?" Tanya Nendra bingung.


"Bu...Bukan apa-apa." Sahut Enzy.


"Ya sudah sekarang lebih baik kamu makan buburnya, setelah itu segera minum obatnya !!" Seru Rendra.


"Aku enggak nafsu makan." Sahut Enzy ingin kembali merebahkan tubuhnya namun dengan cepat Rendra menahannya.


"Kamu harus makan dulu, wlaupun sedikit, setelah itu minum obat." Ucapnya Rendra.


"Makanlah, karena kami harus segera pulang, dari tadi mami menghubungi kita terus, katanya disuruh cepat pulang." Jelas Rendra.


"Kalian pulang aja, aku bisa sendiri !" Seru Enzy memasukkan satu sendok bubur kedalam mulutnya.


"Kami akan pergi setelah kamu makan dan minum obat." Sahut Rendra.


"Kemana dia ?" Tanya Enzy.


"Dia, maksud kamu Khay ?" Tanya balik Nendra di angguki Enzy.


"Dia ada dibawah, sepertinya dia baru pulang, gue juga tanya dia habis kemana !" Jelas Nendra.


"Kenapa kamu menanyakannya ?" Tanya Rendra penuh selidik.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Enzy.


"Itu bubur kenapa enggak kamu makan lagi ?" Tanya Nendra bingung, karena melihat Enzy hanya mengaduk-aduk buburnya.


"Ini benar kamu yang buat ?" Tanya Enzy menatap Rendra.


"Iya emangnya kenapa, enak banget ya ?" Jawab Rendra tersenyum bangga.


"Kamu coba aja cicipin !" Seru Enzy menyodorkan sesendok bubur ke mulut Rendra, saat bubur itu masuk ke mulutnya dengan cepat Rendra memuntahkannya.


"Terlalu asin." Ucapnya sambil menaik turunkan kedua bahunya merasakan rasa bubur itu yang sangat asin itu.


"Apa kamu ingin meracuniku,hah ?" Enzy menyerahkan kembali mangkok buburnya.


"Sorry...Sorry....


" Khay Kamu masak bubur apa masak garem sih ?" Batin Rendra masih sangat terasa asin di mulutnya.


"Lebih baik sekarang kamu minum obat !" Ucap Nendra memberikan beberapa bukti obat, dan juga segelas air. Enzy pun menerimanya dan langsung meminumnya.


"Terimakasih Nend." Ucapnya kembali memberikan gelas bekas minumnya.


"Sama-sama." Sahut Nendra meletakkan gelas di atas nakas.


Sebelum Enzy kembali berbaring, ia ingin memastikan lagi, apa benar yang merawatnya adalah Rendra dan Nendra, karena ia sangat jelas merasakan kalau orang itu adalah Khay.


"Jadi, apa benar kalianlah yang.....


Belum juga ia menyelesaikan ucapannya tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dan menampakkan sosok Khay berdiri disana dengan raut wajahnya yang dingin.


"Oh... Khay kebetulan kamu udah disini, gue mau pulang, Enzy juga sudah bangun." Ucap Rendra.


"Emmm.... Pulang aja." Sahut Khay dingin lalu berjalan menuju lemari pakaiannya.


"Oh iya Nzy, tadi kamu mau bilang apa" Rendra berbalik menatap Enzy.


"Tidak ada apa-apa." Sahut Enzy lalu berbaring menutup dirinya dengan selimut sampi tidak terlihat, sambil memunggungi Rendra juga yang lainnya.


"Baiklah, sepertinya kami memang harus pulang sekarang, kamu baik-baik, semoga cepat sembuh !!" Ucap Nendra dan di angguki Rendra.


"Iya, makasih ya sudah mau merwatku, kalian hati-hati !!" Sahut Enzy dari balik selimutnya.


"Iya sama-sama, Khay kami pamit ya." Ucap Rendra kepada Khay yang masih berdiri di depan lemari pakaiannya.


"Iya, hati-hati !!" Seru Khay.


Rendra dan Nendra pun pergi, hanya tinggal mereka berdua yang ada diruangan itu, Khay melihat kearah Enzy lalu masuk ke kamar mandi.


Sekitar 10 menit Khay keluar dari kamar mandi, dan mendapati Enzy sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Siapa yang merawatku ?" Tanya Enzy masih lemas.


"Kamu tidak mau kalau itu aku kan ?" Khay malah balik bertanya, sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil menghadap cermin yang ada di lemari.


"Iy...Iya itu benar." Sahut Enzy gugup, ia tak tau kenapa juga ia harus segugup itu.


"Emm... Kalau begitu kamu tidak perlu khawatir, karena aku juga tidak punya waktu untuk merawat gadis angkuh seperti dirimu, gadis yang tak tau terimakasih." Ucap Khay dingin.


"Jadi, itu benar kalau yang merwatku mereka ?"


"Iya, apa kamu berharap kalau itu aku ?" Tanya Khay berjalan menyimpan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya pada tempat yang semestinya.


"Tidak !" Seru Enzy berbaring lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Khay hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Enzy lalu berjalan keluar dari kamarnya.


Pukul 11 malam Khay masuk ke kamarnya, ia langsung berjalan mendekati Enzy, meletakkan punggung tangannya dikening istrinya itu, untuk mengecek suhu tubuhnya. Khay terus memandangi wajah lelap gadis berstatus istrinya, ia memberanikan diri untuk merapikan anak rambut Enzy yang menutupi sebagian wajahnya, saat itu Enzy sedikit bergerak, karena mungkin terasa terusik, tak lama Enzy kembali terlalap, setelah memastikan Enzy benar-benar sudah terlelap Khay mengecup kening istrinya itu, sambil berucap.


"Cepat sembuh !"


Khay pun beranjak lalu berjalan menuju sofa, dan membaringkan tubuhnya disana, kemudian memejamkan matanya mencoba untuk tidur.


Enzy membuka matanya, ia merasakan semua yang dilakukan Khay padaya barusan, bahkan ia mendengar Khay berucap agar cepat sembuh. Karena sebenarnya saat Khay masuk ke kamar Enzy sudah terbangun, namun ia sengaja berpura-pura tidur, ia ingin memastikan kalau yang merawatnya sebenarnya adalah Khay, dan ia sudah yakin setelah apa yang ia rasakan dan dengar, bahwa benar kalau yang merawatnya adalah pria bersatus suaminya itu.


Enzy pun melihat kearah Sofa, sambil memperhatikan Khay yang sedang memejamkan matanya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Bersambung.......


Terimakasih karena sudah mendukung karya author 🙏🙏🙏🙏


Jangan lupa....


Like


Komen


Vote


Love you all ❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗🤗