
Sepulang dari kampus, Enzy dan Rendra berencana jalan-jalan ke mall, karena Nendra masih ada nilai yang harus ia selesaikan sebelum ujian.
"Nzy, kemarin kamu kemana aja, enggak jalan sama suami kamu ?" Tanya Rendra saat keduanya menuju perkiran, dimana mobil Rendra berada, karena hari ini Enzy tidak membawa mobil karena Khay yang katanya ada urusan lewat depan kampus Khay kekeh ingin mengantar istrinya itu. Walaupun sebelumnya Enzy menolak tapi Khay tetap kekeh, akhirnya Enzy mengalah karena ia juga hampir telat, tapi dengan syarat tidak mengantar Enzy sampai masuk, hanya sampai depan kampus aja.
"Kagak ada, lagian bunda sama aunty Jova datang ke apartemen." Jawab Enzy seadanya.
"Terus sebelum mereka datang, jadi kalian berdua doang dong." Ucap Rendra kepo.
"Makasudnya aku sama Khay ? Ya enggak lah, orang dia ada jadwal kuliah kemarin." Sahut Enzy.
"Bagaimana kalau kita hubungi Khay aja, siapa tau dia bisa ikut gabung kita." Usul Rendra.
"Enggak usah, dia sibuk !" Tolak Enzy.
"Coba hubungi dulu aja." Rendra mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Khay, walaupun Enzy melarangnya.
📞 "Hallo brother, kamu dimana ?" Tanya Rendra setelah panggilannya tersambung.
📞 "Gue baru mau pulang ke apartemen, habis ngecek ke kantor, ada apa ?" Jawab Khay lalu balik bertanya.
📞 "Gue mau ngajak kamu makan, ketemu di mall tak jauh dari kampus ya !" Seru Rendra.
📞 "Ada acara apa emang ?" Tanya Khay.
📞 "Dateng aja, ada yang mau traktir !"
📞 "Siapa sih ?"
📞 "Menantunya tuan Kenan istri dari tuan muda Khay, ya udah buruan kita ketemu disana, gue sama nyonya muda OTW sekarang." Seru Rendra langsung mengakhiri panggilannya tanpa menunggu persetujuan dari Khay.
"Apaansih, lagian siapa juga yang mau teraktir." Ucap Enzy kesal dan langsung masuk kedalam mobil.
...----------------...
Enzy dan Rendra tiba lebih dulu, Keduanya tampak sibuk memilih-milih makanan yang kiranya cocok untuk makan siang mereka sambil menunggu Khay datang.
"Maaf telat, tadi ada sedikit kendala di jalan." Ucap Khay tiba-tiba datang kemudian langsung duduk di samping Enzy.
"Udah lama ?" Tanya Khay Enzy.
"Enggak juga." Sahut Enzy dingin, Khay tersenyum melihat sikap istrinya.
"Ekkmmm..." Rendra berdehem karena merasa di abaikan.
"Kamu kenapa, keselek ?" Tanya Khay.
"Keselek palamu ! Gue ada disini sejak tadi, kalau kalian lupa." Ucap Rendra jengah.
"Oh iya kalian mau pesan apa ? Gue bingung mau pesan apa sejak tadi, kayaknya enak-enak semua." Ucap Rendra sambil terus membuka lembar demi lembar buku menunya.
Sementara Rendra sibuk memilih menu, Khay sibuk menggoda Enzy dengan mengedipkan matanya lalu memajukan bibirnya seolah ia mencium istrinya itu, membuat Enzy menajamkan matanya menatap suaminya itu, karena takut kepergok Rendra.
"Sebentar aku ke toilet dulu, kalau mau pesan sekalian aja buat aku juga." Pamit Khay kemudian pergi menuju toilet.
"Mesum...!" Gumam Enzy setelah Khay pergi dari sana.
"Apa yang kamu katakan ?" Tanya Rendra karena sedikit mendengar gumaman Enzy namun tak jelas.
"Tidak ada, cepat mau pesan apa ?" Seru Enzy.
Rendra pun memanggil pelayan lalu memesan makanan yang di inginkan.
"Mbak saya pesan, chicken katsu dua, Bulgogi satu, es jeruk sirup lemon dua,."
"Nzy Khay minumnya apa ?" Rendra beralih bertanya pada Enzy soal minuman untuk Khay.
"Fruit tea." Sahut Enzy.
"Iya, mbak fruit tea nya satu." Jelas Rendra pada pelayanan.
Chicken katsu
Bulgogi
Es jeruk sirup lemon
Fruit tea
Setalah mencatat pesan yang Rendra pesan tadi, pelayan itu pun pergi.
"Khay emang suka fruit tea ya ?" Tanya Rendra, setelah pelayan itu pergi.
"Iya, aku sering liat dia minum itu pas dirumah utama, selain susu kocok coklat." Jelas Enzy lalu memainkan ponselnya sambil menunggu pesanan mereka di antar.
"Benar-benar istri idaman, tau aja apa kesukaan suaminya." Ujar Rendra.
"Entar kalau gue nikah, gue juga mau cari istri yang pengertian katak kamu, tapi aku enggak mau yang cudes dan angkuh sepertimu." Tambah Rendra, membuat Enzy menatapnya tajam karena perkataan terakhirnya.
"Istriku benar-benar pengertian banget dah, tau aja yang dipikirkan suaminya." Ujar Khay tiba-tiba duduk di samping Enzy.
"Kamu jangan ke geeran itu hanya kebetulan." Sargah Enzy.
"Siapa yang ke geeran, orang aku denger kamu ngomong, sering liat aku minum itu pas di rumah utama." Ujar Khay gemes sambil menarik hidung istrinya.
"Lama-lama aku cium juga kamu, gemes banget sih istriku ini." Tambah Khay gemes mengeratkan giginya.
"He...hey...sabar bro, ini kita lagi di tempat umum, bukan di apartemen kalian, jika mau mesra-mesraan jangan disini, pulang sana ;" Seru Rendra.
"Sana minggir, kamu duduk sama Rendra sana !" Seru Enzy mendorong bahu suaminya itu agar pindah tempat.
"Satu lagi, harusnya kamu jangan galak-galak sama suami sendiri, atau benci sampai segitunya, entar kamu kena karma, jadi cinta mati sama dia, dan enggak bisa jauh." Tambah Rendra, lagi-lagi Khay mengangguk.
"Cakep !" Seru Khay lagi-lagi menaikkan kedua jempolnya ke arah Rendra.
"Benar-benar saudara gue paling pengertian !" Ucap Khay lalu bertos ria dengan Rendra.
"Maka dari itu kamu harus mulai dari sekarang, jangan suka galak-galak, entar cinta beneran lagi, seperti kata Rendra tadi." Ucap Khay menatap istrinya itu sambil senyum-senyum.
"Hehehe..." Enzy pura-pura tertawa mendengar perkataan suaminya itu.
"Hehehe." Balas Khay melakukan hal yang sama.
"Pasangan aneh." Ujar Rendra melihat ke konyolan pasangan suami istri dihadapannya itu.
Tak lama pesanan mereka di antar oleh pelayan, ketiganya makan dengan di selingi candaan Rendra dan juga Khay, sedangkan Enzy lebih memilih banyak diam karena sering kali ia menjadi bahan godaan kedua pria itu.
"Habis ini kemana lagi kita ?" Tanya Khay setelah makanan di depan mereka habis tak tersisa.
"Terserah nyonya muda ajalah tuan muda, gue mah nurut aja." Sahut Rendra dengan candaannya.
"Aku capek mau pulang." Sahut Enzy.
"Tadi dikampus kamu bilang mau jalan-jalan, enggak jadi lagi nih ?" Tanya Rendra.
"Enggak, udah enggak mood." Jawab Enzy ketus.
"Bilang aja kamu mau cepat pulang buat berduaan sama aku ya sayang ?" Timpal Khay dan tanpa sengaja memanggil Enzy sebutan sayang membuat Rendra membulatkan matanya kaget dengan panggilan Khay barusan.
Sedangkan Enzy menatap tajam suaminya itu.
"Gue enggak salah denger kan ?" Tanya Rendra.
"Denger apa ?" Tanya Khay pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Tadi kamu panggil dia sayang, apa benar ?" Jelas Rendra.
"Emang kenapa kalau gue panggil sayang, emang gue sayang sama dia, apalagi dia istri gue, udah halal juga, iya kan sayang ?" Ujar Khay lalu beralih menatap Enzy yang terus menatapnya dengan tatapan tajamnya.
"Tapi enggak tahu kalau dia, dia sayang juga enggak sama gue." Lanjut Khay.
"Malas sama kalian berdua, aku mau pulang !" Seru Enzy lalu pergi meninggalkan kedua pria itu.
"Nzy, tungguin aku, woi..." Teriak Khay lalu pergi meninggalkan Rendra sendirian di restoran.
"Woi, Khay, Nzy, ini belum dibayar woii, katanya mau teraktir, woi..." Teriak Rendra tanpa ia sadari banyak pengunjung lain yang memperhatikannya.
"Aaiisssshhh... Jadinya gue juga yang teraktir mereka, benar-benar apes idup gue..." Gumam Rendra kemudian meminta bill pada pelayan.
...----------------...
Dalam perjalanan pulang Enzy hanya terus diam, sambil melihat jalan di sampingnya melalui kaca jendela mobil.
"Sayang..." Panggil Khay menoleh sejenak lalu kembali fokus melihat jalan di depannya.
"Kamu kenapa diam sejak tadi ?" Tanya Khay masih tetap fokus mengemudi, karena hari itu kendaraan lagi padat.
"Kamu ngapain sih bersikap seperti tadi di depan Rendra." Ucap Enzy setelah lama terdiam mengabaikan panggilan dan omongan Khay.
"Emang kenapa, orang dia Rendra enggak apa-apa sih menurut aku." Sahut Khay melirik istrinya itu yang kini ikut melihat jalanan di depannya.
"Tapi, aku malu tau." Ujar Enzy membuat Khay tertawa mendengar perkataan istrinya itu yang dirasa lucu.
"Ngapain malu sih sayang, orang dia Rendra sahabat kita sekaligus sebagai saudara kita juga kan."
"Tapi, tetap aja aku malu, bagaimana kalau besok dia goda aku terus."
"Jangan khawatir dia enggak akan ngelakuin itu !" Ucap Khay tersenyum lalu mengulurkan tangan kirinya mengusap pucuk kepala istrinya itu. Setelah itu ia menariknya agar Enzy bersandar di bahunya.
"Sayang !" Panggil Khay setelah terdiam selama beberapa menit, bahkan Enzy sudah memejamkan matanya ingin tidur.
"Emmm...."
"Sayang...."
"Emmmm..."
"Tuh kan emm...emmm... doang, kamu sih suka gitu kalau di panggil." Ucap Khay.
"Lagian aku capek, pengen seperti ini." Sahut Enzy sedikit mendongakkan kepalanya menatap Khay yang sibuk mengemudi.
"Itu kamu masih sakit enggak ?" Tanya Khay.
"Masih sih, emang kenapa ?" Tanya Enzy.
"Tunggu ! Jangan bilang kalau kamu...." Enzy buru-buru menyela saat Khay akan menjawabnya, dan langsung menebak apa maksud suaminya bertanya seperti itu.
"Emmm..." Khay hanya berdehem sambil mengangguk.
"Enggak, aku masih sakit." Ucap Enzy.
"Bentar doang sayang, pleaseee...." Mohon Khay menoleh menatap istrinya itu sambil menaik turunkan alisnya.
"Enggak Khay !" Tegas Enzy.
"Fokus nyetir entar nabrak yang lain !" Seru Enzy cepat saat melihat Khay akan berujar kembali.
Khay hanya menghela nafas lelahnya, kemudian fokus dengan kemudinya.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan Vote.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘