Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 92


Di sepanjang koridor rumah sakit menuju ruangan perawatan Kenan, Diva terus menggenggam tangan Kenan, ia takut jikalau suaminya itu akan kenapa-napa. Wajah panik Diva sangat jelas terlihat di iringi deraian air mata yang terus saja turun membasahi wajahnya. Diva berjalan begitu cepat tenpa peduli dengan kehamilannya, mengikuti brangkar Kenan yang cukup cepat karena melihat kondisi Kenan yang kritis.


"By', kamu harus bertahan, aku yakin kamu pasti kuat, bertahanlah demi calon anak kita !" Diva mencium tangan Kenan penuh kesedihan, dan takut Kenan akan benar-benar meninggalkannya, sampai air matanya jatuh di punggung tangan Kenan.


Dokter Chen menghampiri mereka, dan memberi arahan kepada perawat yang membawa Kenan, agar Kenan langsung di bawah ke ruang ICU.


Saat hendak masuk ICU, Diva di hentikan oleh salah satu perawat, karena Diva ingin ikut masuk menemani suaminya.


"Biarkan saya masuk, saya ingin menemani suami saya ! Pinta Diva mengatupkan kedua tangannya, memohon kepada perawat tersebut agar mengizinkannya masuk.


"Maaf nona, ini sudah menjadi prosedur rumah sakit, biarkan dokter memeriksanya, dan Anda tidak di izinkan untuk masuk, silahkan tunggu di luar !" Terang perawat tersebut kemudian masuk lalu menutup pintu ruangan ICU.


Diva tak lagi bisa berkata apa-apa, Diva hanya memperhatikan Kenan dari kaca pintu ICU, sedang di tangani oleh dokter dan beberapa perawat memasangkan berbagai alat di tubuh Kenan.


"Ya Allah selamatkan suami hamba ! Gumam Diva menengadah ke atas.


Setelah sekitar 30 menit Bunda Vivian datang dan langsung memeluk tubuh Diva yang sedang berdiri di depan pintu, sambil melihat dokter menangani Kenan. Diva sudah menghubungi bunda Vivian 20 menit yang lalu.


"Sabar sayang, sekarang duduk dulu, kasian baby kalian !" Ujar Bunda Vivian menuntun Diva untuk duduk di kursi tunggu yang berada tak jauh dari ruangan tersebut.


"Sayang bagaimana keadaannya ?" Tanya Bunda Vivian khawatir.


"Dia masih di periksa Bun." sahut Diva lirih.


"Bunda sudah menghubungi Ayah, dan mungkin malam nanti baru bisa sampai." Ucap Bunda Vivian menghapus air mata menantunya, Bunda Vivian selalu terlihat lebih kuat, namun tidak ada yang tau selain Pak Salman Bunda Vivian selalu menyendiri, menumpahkan kesedihannya, memikirkan anak semata wayangnya, yang berjuang melawan penyakitnya, berjuang demi hidupnya. Ibu mana yang tidak sakit saat melihat anak yang ia kandung selama sembilan bulan, dan ia perjuangkan saat melahirkannya, harus melawan penyakit mengeringkan seperti yang di derita Kenan memperjuangkan antara hidup dan matinya.


Tapi Bunda Vivian tidak mau menampakkan kesedihannya kepada Diva, karena ia tidak mau menantunya itu larut juga dalam kesedihan memikirkan Kenan, sehingga berpengaruh pada calon cucunya.


Tak berselang lama, pintu ruangan ICU terbuka, Diva yang melihat itu langsung melepaskan pelukannya dari bunda Vivian, kemudian menghampiri dokter Chen.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok ? Tanya Diva sudah tak sabar mendengar penjelasan dari Dokter.


"Sel kanker di tubuhnya sudah menyebar, dan jika kita harus menunggu proses sel punca stem Cell, akan memerlukan banyak waktu, dan itu sangat terlambat, kita harus segera melakukan transplantasi sumsum tulang belakang, namun kita membutuhkan pendonor yang cocok." Jawab Dokter menjelaskan.


"Baiklah dok, suami saya akan segera tiba malam nanti, dan kami bicarakan hal ini kepadanya." Ucap Bunda Vivian.


"Dan sekarang bagaimana keadaannya ? Tanya Bunda Vivian.


"Sekarang dia masih kritis, dan dalam keadaan koma.


"Apa kami boleh menemuinya ?" Tanya Diva.


"Silahkan, tapi harus memakai pakaian khusus !" Ujar Dokter Chen kemudian pamit meninggalkan mereka.


🍀🍀🍀


Diva dan Bunda Vivian masuk keruangan ICU dimana Kenan di rawat.


Bunda Vivian membiarkan menantunya itu duduk di kursi yang berada di samping brankar yang Kenan tempati, karena bunda Vivian tidak mau menantunya yang sedang hamil kecapean.


Setelah duduk, Diva terus menatap tubuh suaminya yang kini tak sadarkan diri, dan di bantu banyak alat medis, menatapnya dengan tatapan nanar. Kemudian ia meraih tangan Kenan ia usap kemudian ia cium punggung tangan suaminya, cukup lama ia mencium tangan suaminya itu, hingga terlihat punggung Diva bergetar tanda ia sedang menangis. Bunda Vivian yang melihat itu langsung mengusap punggung menantunya itu.


"Sabar sayang, dan berdoalah supaya ia segera sembuh ! Ujar bunda Vivian dengan suara serak menahan tangis.


Seketika tangis Diva pencah, terdengar sangat pilu, memenuhi ruangan tersebut. Diva menundukkan kepalanya tepat di samping pinggang Kenan.


"Nak, kamu tidak boleh berkata seperti itu, istighfar sayang, tidak ada cobaan yang tidak bisa di lalui Nak." Bunda Vivian mencoba menenangkan menantunya itu.


"Tapi Bun, kenapa harus cobaannya seperti ini ? Aku benar-benar sudah tidak sanggup Bunda, melihat orang yang sangat aku cintai terbaring seperti ini, terbaring tak berdaya melawan maut."


"Pokoknya kamu yang sabar sayang, bunda juga merasakan hal yang sama, apa yang kamu rasakan, saya ini ibunya, jelas Bunda sangat merasa bersedih, sama seperti dirimu, tapi sebisa mungkin bunda tabah menerimanya ini semua, karena bunda yakin, semua akan ada hikmahnya, dan jauh lebih indah dari sebelumnya." Bunda Vivian memberi pengertian kepada menantunya.


"Dan kamu juga harus memikirkan nyawa yang masih berada di dalam kandungan kamu, jika kamu terus seperti ini maka kamu juga akan membahayakan nya." Tambah Bunda Vivian.


Di tatapnya wajah suaminya yang pucat, tangannya pun terangkat membelai wajah pucat Kenan.


"Kamu harus bisa bertahan, ingat kami yang selalu menunggumu, apa kamu tidak mau melihat anak kita lahir hemm ? Dan aku mau kamu yang akan menyematkan nama yang telah kau siapkan untuk anak kita nanti ! Ujar Diva sambil terisak. Diva beranjak dari kursinya, kemudian memeluk tubuh suaminya itu.


🍀🍀🍀


Tepat jam 21:00 waktu Singapore Pak Salman tiba di rumah sakit, dengan jalan yang tergesa-gesa untuk segera menemui istri dan menantunya yang kini sudah berada di ruangan perawatan Kenan, karena tidak mungkin Diva terus-terusan berada di depan ruang ICU, Diva juga harus banyak istirahat.


"Assalamualaikum." Ucap Pak Salman saat baru masuk ruangan.


"Walaikumsalam." Jawab Bunda Vivian dan Diva hampir bersamaan.


"Bagaimana keadaannya sekarang ?" Pak Salman langsung menanyakan keadaan Putranya, terlihat jelas kekhawatiran di wajah pria paru baya itu namun masih terlihat gagah dan tampan.


"Saat ini dia sedang koma, dan secepatnya harus mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang." Terang Bunda Vivian. Seketika bunda Vivian berhambur memeluk suaminya sambil terisak, ia tidak bisa lagia menahan kesedihannya.


"Kamu yang sabar Bun, dan untuk pendonornya, biar aku yang melakukannya, aku yakin, aku dapat menjadi pendonor yang cocok untuknya." Ujar Pak Salman mengusap bagian belakang kepala istrinya.


"Sebaiknya aku menemui dokter Chen sekarang, dia sudah menungguku diruangannya, tadi aku sudah buat janji saat aku perjalanan kesini." Ucap Pak Salman melepaskan pelukan istrinya, kemudian menghapus air mata yang membasahi wajah istrinya itu.


"Aku ikut !" Sahut Bunda Vivian saat Pak Salman baru akan keluar.


"Tidak Bun, kamu temani saja menantu kita, Ayah liat dia sangat kelelahan.!" Tolak Pak Salman, kemudian keluar dari ruangan tersebut dan langsung menemui Dokter Chen.


"Selamat malam Dokter ?" Sapa Pak Salman kepada dokter Chen, kemudian menjabat tangan dokter yang menangani anaknya.


"Malam, silahkan duduk !"


Dokter Chen pun langsung menjelaskan keadaan Kenan sekarang, dan ayah Salman melakukan beberapa tes untuk melihat kecocokan, apakah dia bisa menjadi pendonor untuk Kenan, karena jarang sekali pendonor yang cocok dari orangtua pasien, dan biasanya yang lebih cocok sampai 80% adalah saudara kandung dari pasien.


Setelah melakukan serangkaian tes, Pak Salman kembali ke ruangan perawatan yang biasa di tempati Kenan, dan hasil tesnya akan di ketahui besok, apakah cocok atau tidak.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan dukungan dari kalian Like


Vote


Favorit


Rate 5


Jika ada kritikan dan saran, mohon di berikan di kolom komentar.


Terimakasih 🙏🙏🙏❤️❤️❤️