
Kavi membaringkan tubuh lelahnya di samping istri kecilnya saat setelah melakukan pergulatan panas mereka hingga tengah malam, nafas Kia masih terdengar jelas ngos-ngosan, karena entah setan mana yang merasuki Kavi, pria dewasa itu benar-benar menggempur istri kecilnya sampai lupa diri, tak memikirkan kalau istrinya sesekali meringis karena rasa ngilu dibagian bawahnya.
"Maaf." Ucap Kavi membawa tubuh kecil Kia kedalam dekapannya.
"Maaf untuk ?" Tanya Kia masih berusaha menetralkan nafasnya.
"Maaf karena telah kasar melakukannya bahkan aku tak mempedulikan kamu ketika meringis tadi." Terang Kavi kemudian mencium kening istrinya cukup lama.
"Emm... gak apa-apa, tapi besok-besok kita tidak melakukannya dulu ya mas, itu aku masih ngilu banget soalnya." Ujar Kia.
"Tapi jangan lama ya sayang, nanti aku gak bisa tahan." Ucap Kavi memelas.
"Paling juga seminggu atau bisa lebih, tunggu sampai aku membaik dulu."
"Lama banget itu sayang, mas bisa pusing atau bahkan mati jika terlalu lama menahannya."
"Lebay ! Gitu aja masa bikin pusing sih mas, gak ada hubungannya kali, lagian mas juga lama menduda tapi buktinya mas baik-baik aja kan ?"
"Ada hubungannya sayang, lagian sekarang mas udah ada kamu, berada di dekat kamu terus, dan itu bisa membuat aku tegak terus sayang kalau dekat-dekat kamu."
"Pokoknya enggak mas, kalau tahu sakit begini aku gak mau nikah aja."
"Mas gak salah dengar ? Tadi juga kamu desahnya seksi banget, seperti kamu juga menikmati sekali." Goda Kavi membuat wajah Kia sangat memerah karena mengingat bagaimana tadi ia mendesah di bawah permainan suaminya itu, juga sesekali meringis karena rasa ngilu atau perih yang bercampur nikmat.
"Lebih baik mas tidur !" Seru Kia semakin menenggelamkan wajahnya dibawah ketiak pria yang mendekapnya erat itu yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Iya, selamat malam istriku, happy nice dream." Ucap Kavi lalu mendaratkan ciuman di pucuk kepala Kia.
Keduanya pun mulai tidur memasuki alam mimpinya masing-masing, saling memeluk dibawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
...----------------...
Saat Enzy menunaikan sholat subuh di ruangan rawat Khay, Khay yang sejak kemarin tak sadarkan diri akhirnya tersadar. Khay mengedarkan pandangannya menelisik ruangan yang bercat abu-abu itu, saat netra miliknya menangkap Enzy sedang sholat Khay perlahan membangunkan dirinya, sedikit ringisan karena masih sedikit merasa pusing.
Khay berhasil menyandarkan tubuhnya di sandaran brangkar miliknya, menatap istrinya yang tampak khusyuk menjalankan kewajibannya.
Tak ada satupun keluarganya yang lain disana kecuali Enzy istrinya. Karena semalama Kenan dan Diva juga kedua opa Oma itu pulang atas permintaan Enzy, karena melihat mereka sedikit kelelahan, biar bagaimanapun mereka belum cukup istirahat karena pernikahan Kia dan Kavi kemarin.
"Khay kau sudah bangun ?" Ujar Enzy kemudian dengan segera beranjak lalu menghampiri suaminya itu yang hanya menjawabnya dengan anggukan dan tatapan datar.
"Bagaimana ? Apa kamu sudah lebih baik ? Kamu perlu apa ? Minum, atau mau makan ?Enzy tampak sangat khawatir sambil memberondong Khay pertanyaan.
"Aku baik-baik saja, dan aku tidak ingin apa-apa." Jawab Khay dingin.
"Maaf...." Enzy menundukkan wajahnya tanpa terasa bulir bening jatuh dari matanya.
Khay memilih diam, sebenarnya ia masih sangat kesal dengan sikap dan pikiran sempit istrinya itu, Khay merasa kecewa, apa cuma segitu rasa sayang wanita itu padanya sampai ia menyuruhnya menikah kembali dengan wanita lain, apa sampai sekarang wanita itu masih tak mengerti bagaimana besar rasa cinta dan sayangnya padanya, bahkan Khay bisa menerima semua kekurangan dan kelebihan yang ada pada wanitanya itu.
"Lebih baik kamu pulang, istirahatlah !" Sahut Khay setelah cukup lama terdiam.
"Maaf, aku tahu aku salah, karena telah membuatmu kecewa dengan sikapmu kemarin, tapi please jangan menyuruhku pergi dari sini, aku sangat khawatir padamu, jika kamu tidak bisa memaafkanku, tapi aku memohon dengan sangat biarkan aku disini merawatmu." Ucap Enzy dengan mata berkaca-kaca, sebisa mungkin wanita itu menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Aku butuh sendiri Nzy, please tinggalkan aku sendiri." Ucap Khay menekankan kata-katanya lalu memalingkan wajahnya ke arah lain tak ingin melihat wajah istrinya untuk saat ini.
Ucapan Khay itu berhasil membuat air mata Enzy yang sejak tadi ia bendung dengan susah payah akhirnya keluar tanpa aba-aba, dada Enzy terasa begitu sesak, sakit mendengarnya.
"Ba.... baiklah aku akan keluar, aku akan menunggu di depan, jika kamu butuh sesuatu, kamu panggil saja aku." Setelah mengatakan itu Enzy benar-benar keluar dengan perasaan hancur, ia mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang ada di depan ruangan tersebut sambil menangis, untung saja lorong tersebut sunyi karena masih sangat pagi, lagian tempat Khay dirawat jarang ada orang yang dirawat disana, kecuali dari kalangan VVIP.
"Maaf.... Maafkan aku..... Aku tahu aku salah, tapi saat itu aku sangat kalut, sampai kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja, bahkan aku juga merasakan sakit yang teramat saat mengatakan itu." Ucap Enzy kemudian membekap mulutnya sendiri takut suara tangisannya keluar.
Sementara di dalam kamar perawatan Khay juga terlihat menangis, sebenarnya ia juga tega melakukan itu pada wanita yang sangat ia cintai itu, tapi egonya jauh lebih dominan sehingga tega melakukan itu.
"Aku sungguh mencintaimu Nzy, tapi kenapa kau tega mengatakan itu padaku, aku memang sangat menginginkan seorang keturunan tapi bukan dari wanita lain, dan seandainya memang kamu tidak bisa dikaruniai untuk mengandung kembali aku tidak akan jadi masalah, aku akan menerima semuanya, dan aku sungguh ikhlas, apa aku memang terlihat sangat brensek dimatamu, mungkin dulu aku suka mempermainkan seorang wanita, tapi percayalah itu hanya masa laluku, tidak semuda itu aku membagi perasaan ku dengan wanita lain, semua rasa yang ada didalam hatiku hanya untukmu." Khay bermonolog sendiri dalam hatinya.
"Khay..." Panggil seseorang yang begitu Khay kenal dari arah pintu.
Khay menoleh ke arah pintu, menatap kedua orangtuanya yang juga menatapnya dengan tatapan tajamnya terlebih pada ayahnya.
"Apa yang kau lakukan ? Kenapa kau membiarkan istrimu diluar, apa kau tahu dia tak pernah istirahat dia terus di dekatmu menunggumu sampai sadarkan diri, ia terus menangis mengkhawatirkan mu." Omel Diva kesal ketika sudah berdiri disamping brangkar putranya itu.
"Tapi Bun, aku masih kesal dengannya, aku kecewa Bun, bisa-bisanya dia menyuruhku menikah dengan wanita lain, apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan ku, apa dia belum tahu juga bagaimana aku mencintainya." Ujar Khay.
"Tapi Bang, biar bagaimanapun kamu tidak boleh memperlakukan dia seperti itu, mungkin saja dia kalut, saat itu, kamu juga harus mengerti bagaimana posisi dan perasaannya." Ucap Diva mulai melembut.
"Aku gak tahu Bun, aku masih pusing, dan untuk sekarang ini aku belum bisa menemuinya." Sahut Khay memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Apa kamu tahu, sekarang istrimu dimana ?" Sahut Kenan dingin.
Khay menoleh lalu menggelengkan kepalanya.
"Palingan dia lagi jalan keluar cari udara segar, atau bisa jadi dia mencari sarapan." Ucapnya kemudian dengan santainya.
"Dia sekarang di UGD bersama Oma Vivian juga Oma Hani, dia pingsan di depan ruangan kamu, untung saja saat itu seorang perawat lewat dan segera membantunya lalu membawanya di UGD, setelah itu kami di telfon oleh pihak rumah sakit." Jelas Kenan kesal, sebenarnya Kenan sangat kesal kepada putranya itu yang masih saja bertindak bodoh dan kurang bijaksana dalam bertindak, putranya itu masih saja selalu memikirkan egonya, dan di tambah lagi saat Khay mabuk-mabukan sehingga mempengaruhi kesehatannya, itu membuat Kenan semakin geram.
Bersambung......
Readers maaf ya... untuk hari ini up-nya sedikit pendek soalnya author lagi sibuk dengan aktivitas pekerjaan, mungkin seminggu kedepan up-nya sering lambat karena kesibukan, maaf sebelumnya 🙏🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...