
Setelah pulang sekolah Kia langsung menuju kantor Kavi, menggunakan motor jenis trailnya. Setelah tiba di salah satu gedung pencakar langit, terdapat nama stasiun TV di bagian paling atas gedung tersebut CHANEL LINE yang tak kalah besar dari gedung perusahaan milik ayahnya.
Kia memasuki gedung tersebut dengan berpenampilan masih memakai seragam sekolahnya, sedangkan roknya sudah ia ganti dengan jeans hitam dengan sedikit robek di bagian lututnya, tak lupa sweaternya ia ikat di bagian pinggangnya.
"Selamat siang nona, Anda mencari siapa ?" Tanya salah satu security yang berjaga di pintu lobi sambil memperhatikan penampilan Kia dari atas hingga bawah.
"Oh iya, saya ingin ketemu dengan Om Kavi, apa dia ada ?" Jawab Kia kemudian balik bertanya.
"Apa nona sudah membuat janji sebelumnya ?" Tanya security itu masih memperhatikan penampilannya, membuat Kia menjadi risih terus di perhatikan seperti itu.
"Sudah ! Apa bapak ini tidak pernah melihat orang seperti ku sebelumnya ?" Imbuh Kia.
"Maksud nona apa ?"
"Sudahlah, sekarang tunjukkan dimana ruangan Om Kavi !" Seru Kia mengabaikan pertanyaan security tersebut.
"Nona langsung saja ke recepsionis sebelumnya, disana nona akan di beritahukan." Imbuh security tersebut.
"Emm...." Sahut Kia dingin.
"Ponakan bos, benar-benar bar-bar, mana naik trail lagi, ckckck, beda banget sama omnya." Ucap security masih memperhatikan Kia yang berjalan menuju recepsionis.
"Selamat siang nona, ada yang bisa kami bantu ?" Tanya resepsionis disana, juga memperhatikan penampilan Kia dari atas sampai bawah.
"Emm, saya mau ketemu sama Om Kavi." Jawab Kia cuek memainkan ponselnya sambil bersandar di meja resepsionis.
"Apa sudah buat janji sebelumnya, nona ?"
"Sudah, buruan tunjukkan ruangannya, saya lagi buru-buru !" Seru Kia memasukkan ponselnya di saku celana jeansnya.
"Tunggu sebentar nona, saya hubungi dulu, soalnya tuan sedang meting." Imbuh resepsionis lalu menghubungi sekertaris Kavi.
"Silahkan nona, Anda sudah ditunggu oleh tuan, ruangannya berada di lantai 20, Anda bisa menggunakan lift khusus sebelah kiri." Seru resepsionis setelah menelfon.
Kia hanya menggunakan kepalanya lalu menuju lift seperti resepsionis itu katakan.
Setelah beberapa menit Kia tiba di lantai 20 disana hanya ada meja mirip seperti di resepsionis bawah, dan bertuliskan sekertis CEO.
"Siang nona, Anda sudah di tunggu sejak tadi, mari saya antar." Sapa wanita sekitar seumuran Diva, lalu mengantarkan Kia masuk ke sebuah ruangan yang ada di lantai tersebut.
Setelah masuk Kia melihat Kavi duduk di kursi kebesarannya sambil mengerjakan beberapa dokumen yang berada di atas mejanya.
"Tuan, tamunya sudah datang." Ucap sekertaris tersebut.
"Emmm, ya sudah kamu sudah boleh keluar !" Sahut Kavi datar tanpa beralih dari dokumen-dokumen di depannya.
"Baik Tuan, nona silahkan duduk !" Imbuh sekertaris tersebut, mempersilahkan Kia duduk di salah satu kursi yang ada di hadapan meja kerja Kavi.
Cukup lama Kia duduk disana tanpa ada sepatah katapun, karena Kavi masih saja sibuk dengan pekerjaannya, membuat Kia memberenggut kesal karena sudah lama menunggu, dan dia juga enggak tahu apa maksud dan tujuan Kavi memanggilnya ke kesini.
Sementara Kavi sengaja buat lama-lamain pekerjaannya, dan berusaha menahan senyumnya melihat Kia sudah kesal namun ia tahan.
Hingga hampir satu jam Kia menunggu Kavi masih saja fokus pada pekerjaannya, membuat kesabaran Kia habis.
"Maaf Om, saya tidak tau apa maksud Om memanggil saya kesini, tapi jika tidak ada yang perlu dibicarakan saya pamit pergi saja, om sudah membuang-buang waktu saya." Kesal Kia berdiri dari duduknya.
Kavi yang melihat itu tersenyum meremehkan.
"Kamu berani meninggalkan tempat ini tanpa perintah dari saya, saya akan adukan masalah kemarin pada ayahmu." Ancam Kavi.
"Silahkan saya tidak takut sama sekali !" Tantang Kia.
"Baiklah, sekarang juga saya akan menelpon beliau." Ujar Kavi lalu mengambil ponselnya yang ia letakkan sejak tadi di atas mejanya.
📞 "Assalamualaikum Nan, lagi sibuk ?" Tanya Kavi setelah Kenan menjawab panggilannya.
📞 "Lagi di kantor, enggak sibuk banget sih, emang ada apa ?" Tanya balik Kenan, Kavi sengaja melouspeker ponselnya dan ia letakkan di atas meja.
📞 "Ini, saya cuma mau bilang, kalau yang menabrak saya kemarin, sepertinya dia sekolah di yayasan milik Ray." Jelas Kavi.
📞 "Sudah, namanya....."Ucapan Kavi terhenti saat Kia langsung mendekatinya dan mematikan sambungan telepon tersebut.
"Apa-apaan ini ?" Tanya Kavi pura-pura marah.
"Maaf Om, ok saya tidak akan pergi dari sini, dan sekarang om katakan saja apa maksud Om memanggil saya kesini." Ucap Kia berdiri di samping kursi kebesaran pria itu sambil memegang lengannya.
"Sebagai ganti kerusakan mobil saya, saya tidak ingin kamu membiayai kerusakannya, karena saya yakin, itu akan membuat uang jajan kamu habis." Ucap Kavi.
"Om jangan meremehkan saya, om lupa siapa ayah saya, saya mampu membayarnya."
"Kamu lupa kalau orangtua kamu tidak mengetahui akan hal ini, dan saya juga tahu kalau kamu tidak di berikan kredit card sebelum kamu lulus sekolah, kamu hanya di berikan uang jajan setiap bulannya, dan saya rasa itu tidak akan cukup buat ganti rugi." Ujar Kavi tersenyum mengejek.
"Tapi saya akan minta bantuan sama Abang saya." Kia masih belum mau kalah.
"Silahkan aja, dan dia pasti menanyakannya perihal apa kamu meminta uang sebanyak itu."
"Emang berapa sih kerugiannya ?" Tanya Kia mulai kesal kemudian berjalan menuju kursi di depan meja kerja Kavi.
"40 juta, apa kamu sanggup ?" Seru Kavi.
"Apa, sebanyak itu ?" Seru Kia kaget mendengar nominalnya.
"Itu baru perkiraan saya, tapi itu bisa saja lebih dilihat dari kerusakannya, dan tentu kamu juga harus memperbaiki motor kamu, dan saya yakin itu juga tak sedikit." Sahut Kavi.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan ?" Tanya Kia.
"Kamu harus menggantikan asisiten saya selama, saya mendapatkan pengganti Asisiten saya yang lama." Jawab Kavi.
"Apa ? Tapi saya harus sekolah, bagaimana saya bisa lakukan itu, dan pastinya saya akan sering pulang terlambat, apa kata orangtua saya nantinya.
"Kamu tenang saja, kamu bisa bekerja setelah pulang dari sekolah, dan untuk orangtua kamu, mereka tidak akan curiga, saya yang akan mengatur semuanya, jadi kamu tidak perlu khawatir." Terang Kavi.
"Ya sudah terserah om saja lah, kalau begitu saya pamit dulu om." Pamit Kia malas, lalu beranjak dari kursinya.
"Ehh tunggu ! Siapa yang ngijinin kamu pulang dulu, mulai sekarang kamu sudah bekerja." Seru Kavi sambil bersandar di kursinya.
"Apa ? Tapi saya ada tugas sekolah, saya harus selesaikan hari ini juga." Bohong Kia.
"Kamu kerjakan disini saja ! Sekarang kamu Asisiten saya, jadi jangan membantah.!" Ucap Kavi tegas dan dingin.
"Tap....
"Saya tidak mau mendengar kata tapi, sekarang kamu kerjakan dokumen-dokumen ini, jika ada yang tidak kamu mengerti tanyakan pada saya." Imbuh Kavi memberikan beberapa dokumen.
"Sebanyak ini, apa enggak salah ?" Tanya Kia melihat tumpukan dokumen.
"Ini belum seberapa, karena kamu masih belajar, jadi kamu kerjakan segini saja dulu." Jelas Kavi lalu beranjak dari duduknya.
"Ehhh... Om mau kemana ?" Tanya Kia melihat Kavi meninggalkan meja kerjanya.
"Saya mau ke toilet, apa kamu ingin ikut, hah ?" Goda Kavi.
"Enggak, ngapain juga saya ikut om ketoilet." Sahut Kia mencebikkan bibirnya.
"Terus ngapain kamu nanya ?"
"Sudah sana pergi, entar om pipis di jelana, kasian juga Cleaning nya bersihinnya." Seru Kia tanpa melihat Kavi.
Sedangkan Kavi tersenyum mendengar ucapan Kia, lalu berjalan menuju toilet yang ada di ruangan tersebut.
Bersambung.........
Jangan lupa like, Komen, dan Vote, .....
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘