
Pagi ini Kia terbangun, karena ketukan pintu kamarnya yang terus-menerus mengganggunya. Ya jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi namun Kia masih saja asik dalam mimipi indahnya, bersama dengan pangeran hatinya.
"Ki.... Kia....Dek...bangun ini sudah jam berapa, ayah sudah nungguin kamu buat sarapan dibawah !" Teriak diva dari luar sambil memutar-mutar knop pintu yang terkunci dari dalam.
Tak lama Kia membuka pintu dengan rambut yang masih berantakan, dan wajah bantalnya.
"Ada apa sih Bun, ini masih pagi tau." Ujar Kia lalu menguap.
"Astagafirullah, ini sudah jam 7 loh dek, buruan mandi !" Jengah Diva melihat sikap dan tingkah putrinya itu.
"Iya... bunda sama yang lainnya sarapan duluan aja !" Seru Kia.
"Cepat mandi, nanti kamu telat !" Seru Diva mengingatkan sebelum pergi dari sana.
"Iya, lagian jam pertama sampai jam ke empat di kosongkan Bun, katanya ada acara seminar gitu." Jelas Kia kemudian masuk ke dalam kamarnya tanpa menutup pintu kamarnya terlebih dahulu.
...----------------...
Sementara di meja makan, sudah ada Khay, Enzy, dan Kenan duduk disana sambil menunggu tuan putri rumah itu.
"Bun, adek mana, apa dia baik-baik saja ?" Tanya Kenan setelah melihat istrinya.
"Dia baru bangun Yah, kalau saja bunda gak bangunin mungkin putri kamu itu masih ngebo, kebiasaan." Oceh Diva kemudian menyajikan sarapan pada piring suaminya itu.
"Dia sama seperti kamu dulu Bun." Sahut Kenan tanpa melihat istrinya.
"Bunda heran aja gitu yah, kita punya dua anak laki sama perempuan, tapi kok sikap mereka kebalik gitu sih." Ujar Diva tak habis pikir, dengan sikap kedua buah hatinya, Khay yang laki selalu saja bersikap manja, sedangkan Kia yang cewek selalu saja bersikap bar-bar, dan kesannya laki banget gitu.
"Sudahlah, gak usah bahas itu lagi Bun, mending kita sarapan !" Seru Kenan.
Sedangkan Khay dan Enzy hanya diam mendengarkan pembicaraan kedua orangtua tersebut, Enzy sudah tak lagi merasakan mual yang teramat seperti seminggu belakangan ini, Enzy hanya akan mual saaat ia bangun pagi saja, tapi setelah itu ia sudah tak merasakan apa-apa lagi, bahkan tak ada makanan yang membuatnya enek, malahan sekarang nafsu makannya sangat bertambah. sehingga membuat berat badannya naik drastis.
"Sayang, makannya pelan-pelan aja !" Seru Khay melihat cara makan istrinya.
"Aku laper banget, Yank, perut aku dari tadi udah keroncongan banget." Sahut Enzy masih tetap melanjutkan makannya.
"Sudahlah bang, kamu maklum aja, wajar aja ini hamil makannya seperti itu, Enzy kan gak hanya makan sendiri, tapi baby dalam perutnya juga." Timpal Diva.
Saat sedang makan tak lama Kia ikut bergabung, namun Kia tak ikut duduk buat sarapan, gadis itu hanya meminum susu yang sudah disiapkan untuknya.
"Dek, kalau mau minum itu duduk !" Seru Kenan.
"Aku buru-buru yah, aku harus mampir ke bengkel dulu, soalnya motor aku yang kemarin sedikit ada masalah." Jelas Kia.
"Kamu pakai yang lainnya aja dulu, nanti mang Diman yang bawa." Ucap Kenan.
"Gak usah yah, biar aku aja, lagian itu bentar doang kok, habis dari bengkel aku langsung ke sekolah." Jelas Kia mengambil sepotong roti isi.
"Aku pergi dulu yah, Bun." Pamit Kia menyalami tangan kedua orangtuanya lalu ia cium pipi mereka bergantian.
"Bangkhay, kak Enzy aku duluan ya." Pamit Kia pada kakak dan kakak iparnya.
"Dek, kamu hati-hati !" Teriak Kenan.
"Ok yah." Sahut Kia juga sedikit berteriak karena sudah menjauh dari meja makan.
"Kalau gitu aku sama Enzy juga berangkat, Yah, Bun." Pamit Khay beranjak dari kursinya di ikuti Enzy.
"Iya, kalian hati-hati, dan satu lagi bang, perhatikan istri kamu, jangan sampai ada apa-apa, pokoknya saat di kampus kamu harus merhatiin dia !" Seru Kenan memperingatkan.
"Iya yah itu pastilah." Sahut Khay.
...----------------...
Di sekolah
Kia dan Sahabatnya Prilly ikut bergabung di aula yang ada disekolah tersebut, untuk mengikuti suatu seminar yang akan di mentori salah satu pengusaha ternama di kota Xx. Kia mengambil tempat duduk yang berada di depan, karena hanya tinggal bangku itu masih terlihat kosong, karena Kia dan Prilly datang sedikit terlambat, dan untungnya acara belum dimulai, karena pengusaha yang akan menyampaikan materi seminar datang sedikit terlambat, kata panitia pengurus.
Sekitar lima belas menit, akhirnya orang yang ditunggu sejak tadi datang, dengan beberapa orang yang mengawalnya.
"Om Kavi ?" Gumam Kia, namun masih bisa di dengar Prilly.
"Kamu kenal dengan pria itu Ki ?" Tanya Prilly. menujuk Kavi dengan lirikan mata saat Kavi baru saja masuk di ruangan tersebut.
"Iya, dia sahabat sekaligus parner kerja bokap gue." Jelas Kia tak berani menatap di atas panggung dimana Kavi tengah duduk disana bersama beberapa guru, dan orang yang akan menyampaikan materi juga.
Sedangkan Kavi, sejak ia masuk ia langsung melihat keberadaan Kia, namun tetap berusaha cuek dengan situasi ini, jantung Kavi terus saja berdegup lebih cepat dikala ia melihat gadis kecil yang tak jauh di hadapannya itu.
"Tapi kok dia kelihatan jauh lebih muda dari bokap lu sih Ki ?" Tanya Prilly melihat Kavi masih sangat muda.
"Emang dia jauh di bawah bokap gue, umurnya baru sekitar 30an gitu deh, dia juga seorang duda, istrinya udah meninggal kecelakaan pesawat gitu." Terang Kia mendetail.
"Tunggu... Tunggu kok kamu tahu sampai sedetail itu sih Ki, apa kamu dekat dengannya ?" Prilly langsung kepo.
Kia merutuki dirinya dalam hati, kenpa juga ia harus menjelaskan sedetail itu pada Sahabatnya itu.
"Ki...Kia...." Teriak Prilly nyaring membuat seluruh yang ada di ruang tersebut beralih menatap keduanya, tanpa terkecuali Kavi yang memang sejak tadi memperhatikan Kia dan Sahabatnya itu.
"Maaf....Maaf...." Ucap Prilly salah tingkah.
"Makanya jangan suka teriak-teriak kagak jelas, malu kan ?" Ujar Kia, sebenarnya ia juga malu menjadi pusat perhatian.
Tak lama acara pun berlangsung, Prilly tak pernah lepas memandangi Kavi saat menyampaikan isi seminarnya, Prilly terpesona melihat ketampanan pria itu, walaupun sudah dewasa tapi Kavi malah tak kalah tampan dan gagah dari pria-pria seumurannya.
"Oh.... Tampannya." Ucap Prilly membuat Kia memutar bola matanya jengah.
Kia tak pernah memperhatikan sedikit pun ke arah panggung, ia tetap fokus pada ponselnya, sebentar Kia melakukan itu hanya karena ia menghindari tatapan Kavi yang sesekali melihatnya, membuat Kia sedikit risih.
"Maaf, nona yang duduk di depan yang sambil memainkan ponselnya, apa ada hal yang ingin ditanyakan atau apakah sudah mengerti dengan apa yang saya sampaikan, karena sejak tadi saya perhatikan anda hanya fokus dengan ponsel anda, kalau ingin berbalas pesan dengan kekasih anda, nanti saja !" Seru Kavi yang ditujukan untuk Kia, namun Kia tetap fokus tak menyadari seruan Kavi itu ditujukan untuknya.
Kavi yang melihat Kia tak ada respon apa-apa, turun dari panggung, dan menghampiri Kia dan langsung merampas ponselnya, membuat Kia kaget, dan langsung mengangkat wajahnya melihat siapa yang berani merampas ponselnya.
"Kalau mau main game silahkan keluar ! Saya tidak suka jika saya menyampaikan meteri saya tapi ada orang yang tak memperhatikan sama sekali." Ucap Kavi datar.
"Ok baiklah, aku akan keluar." Ujar Kia beranjak dari kursinya, kemudian merampas ponselnya secara kasar dari tangan Kavi, lalu pergi begitu saja.
Karena sikap Kia itu, banyak siswa maupun siswi menatap heran padanya, baru kali ini ada seorang yang berani melawan pemateri, apa lagi orang itu jauh lebih dewasa darinya.
"Maaf pak, saya harus menyusul sahabat saya." Pamit Prilly kemudian menyusul Kia.
Kavi hanya bisa mengehembuskan nafas lelahnya, kemudian kembali naik ke atas panggung melanjutkan materi yang ia sampaikan.
"Apa segitu bencinya kamu, kepadaku Kia, tapi aku janji dan tekad aku udah bulat, mulai saat ini aku akan memperjuangkan cinta aku, sudah cukup selama ini aku menahannya." Batin Kavi.
Bersambung......
Jangan lupa budayakan like komen dan vote sebanyak-banyaknya, setelah membaca setiap episodenya.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏