
Kenan tampak memasuki perusahaan Ayah Salman saat ia pulang sekolah, sebelumnya ia telah berganti pakaian formalnya di apartemennya yang tak jauh dari perusahaan. Ia sengaja ingin menemui ayahnya diperusahaan untuk membicarakan masalah Disti.
Kenan melangkahkan kakinya langsung masuk lift khusus Presdir, menuju lantai 30 dimana ruangan Presdir berada.
Setelah sampai Kenan terlebih dahulu mengetuk pintu sebelum masuk, Kenan segera masuk setelah mendapat sahutan dari dalam untuk masuk.
"Kenan." Sahut Ayah Salman kaget saat Kenan masuk diruangannya.
"Kenapa Ayah sekaget itu melihatku." Ujar Kenan langsung duduk di depan meja kerja ayahnya.
"Masalahnya kau tidak biasanya datang ke kantor ayah." Ucap Ayah Salman menutup berkas yang sedari tadi ia baca lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Ada yang ingin saya bicarakan, ini masalah karyawan baru Ayah, anaknya buat masalah dengan ku." Terang Kenan terlihat kesal karena mengingat kejadian kemarin.
"Maksudnya Pak Dinitra ?" Tanya Ayah Salman menaikkan kedua alisnya.
"Iya, anaknya yang bernama Disti mencoba untuk mendekati ku, bahkan kemarin ia datang di kantorku, dan nekat memelukku, disaat bersamaan kak Arka masuk keruangan ku." Terang Kenan
"Ada kepentingan apa dia datang dikantormu, tidak mungkin juga dia datang hanya untuk melakukan itu." Sahut Ayah Salman menatap Kenan meminta penjelasan.
Kenan pun menceritakan kalau Disti salah satu klaiyennya, dan juga Arka yang sempat salah paham.
Kenan juga mengatakan kalau ia sudah mengurus soal kesalahpahaman Arka.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Ayah Salman setelah mendengar cerita Kenan, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Aku ingin, Ayah memberhentikan Pak Dimtri, dan masalah pengobatan Istrinya biar aku yang tanggung, dan juga aku akan mengirim mengirim mereka jauh dari kota ini." Ujar Kenan menatap ayahnya.
"Pengobatan ?" Sahut Ayah Salman menaikkan kedua alisnya.
"Iya, istri Pak Dimitri sedang sakit parah dan butuh biaya pengobatan." Terang Kenan.
"Terus setelah kamu melakukan ini, bagaimana nasib mereka, kenapa harus orangtuanya juga kau seret, bukankah hal ini cuma anaknya saja yang bersalah." Ujar Ayah Salman.
"Aku tidak mau, wanita itu kembali lagi di kota ini, jika orangtuanya masih disini, dia pasti akan kembali lagi, lagian aku akan memberikan mereka modal buat usaha."
"Baiklah jika itu sudah jadi keputusan mu." Sahut Ayah Salman lalu menelpon pihak HRDnya untuk segera keruangannya.
"Baiklah Yah, aku pamit dulu, aku harus kembali ke Office masih banyak yang harus aku kerjakan." Pamit Kenan setelah Ayah Salman meletakkan kembali gagang telepon di sisi sudut meja kerjanya, Lalu beranjak untuk menyalami tangan ayahnya itu.
"Memangnya kamu tidak ada niat buat membantuku menyelesaikan pekerjaanku di sini." Ayah Salman berujar sambil menepuk punggung putranya itu saat Kenan menyalami tangannya.
"Untuk sekarang aku belum bisa Yah, aku harus fokus untuk mengembangkan usaha aku dulu."
"Assalamualaikum, Yah aku pergi dulu." Ucap Kenan lalu keluar dari ruangan Ayahnya.
Ayah Salman menghela nafas, Ia tak habis pikir dengan putranya itu, yang lebih mengembangkan usahanya sendiri, di bandingkan meneruskan perusahaan keluarganya.
sedikit cerita.
Sebenarnya Ayah Salman sempat tidak menyetujui dengan usaha Kenan, dan tidak memberikannya modal, tapi Kenan yang dari dulu emang selalu menyisihkan uang bulanannya, Kenan juga menjual mobilnya dari situlah Kenan mendapatkan modal untuk memulai membuka sebuah distro kecil-kecilan, setelah 8 bulan usahanya itu meningkat pesat, hingga mambuka satu cabang lagi, hingga sampai sekarang meningkat sangat pesat dan mampu membangun Office Satu tahun lalu.
Di sebuah rumah sakit di kota Xx, Arka tak henti-hentinya tersenyum bahagia saat baru keluar dari ruangan poli kandungan, dengan terus menggandeng tangan Vara, sesekali ia mencium punggung tangan Istrinya itu.
Sedangkan Vara tak kalah bahagianya, walaupun sedikit merasa sedih, karena ia takut di gunjing dengan orang-orang, karena pernikahnya baru satu bulan lebih, dan kandungannya sudah memasuki Tiga bulan.
Sekarang Vara telah melakukan pemeriksaan saat dari kemarin Vara terus merasa mual, dan ia baru mengingat bahwa ia tidak pernah lagi menstruasi setelah melakukan hubungan badan dengan Arka tiga minggu sebelum mereka menikah.
Saat ini mereka sampai di parkiran dan Arka masih saja menggenggam tangan Vara.
"Pi, lepasin dong, ini tangan aku sudah sangat berkeringat dari tadi di genggaman terus." Rengek Vara.
"Tidak Mi, sebelum sampai mobil." Sahut Arka.
Vara hanya pasrah dengan perlakuan Arka.
Suaminya ini pasti akan sangat protektif banget, Pikir Vara.
Saat sampai mobil Arka langsung membukakan Pintu buat Vara, sampai Arka juga memasangkan seatbeltnya, Arka tidak mau Vara terlalu banyak gerak.
Setelah Arka masuk mobil langsung melajukan mobilnya menuju hotel tempatnya menginap.
"Pi, Pengen makan di restoran Korea." Ujar Vara menampilkan puppy eyes nya.
Karena Vara tau kalau Arka tidak akan mengijinkannya, dengan alasan Vara tidak boleh makan makanan pedas.
Arka melihat istrinya begitu menggemaskan tidak tega untuk menolaknya, dan mungkin itu keinginan bayi yang ada di dalam perut Istrinya, karena tidak biasanya Vara meminta hal itu. Pikir Arka.
Dan Arka hanya mengangguk pertanda mengiyakan keinginan Istrinya, setelah ia berpikir sejenak.
"Terimakasih Papi ku sayang." Ucap Vara dan langsung memeluk lengan Arka, dan menyandarkan kepalanya di bahu Arka yang sedang menyetir, saat Arka mengiyakan keinginannya itu.
"Iya Sayang, Aku akan menuruti semua keinginanmu, karena sudah mau mengandung anakku." Ucap Arka sedikit menoleh dan menunduk dan mencium pucuk kepala Istrinya itu.
Saat sampai di restoran Arka langsung turun untuk membukakan pintu mobil untuk Vara, dan segera berjalan masuk sambil memeluk pinggang Istrinya.
Saat sampai di meja, Arka langsung memesan makanan yang tidak bercita rasa pedas.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Arka saat melihat raut kekhawatiran diwajah Istrinya.
"Pi, Nanti apa kata orang, kandungan aku sudah masuk usia tiga bulan, sedangkan Pernikahan kita baru lebih satu bulan." Ucap Vara menatap Nanar Arka.
"Kamu jangan khawatir sayang, kamu tidak usah mendengar apa perkataan orang-orang, dan aku juga minta maaf atas semua ini, kalau saja waktu itu aku bisa menahan diri kamu tidak akan mengalami seperti ini." Ucap Kenan lalu mengusap pelan punggung tangan Vara yang duduk didepannya.
Vara hanya mengangguk, lalu sedikit tersenyum.
Tak lama pesanan mereka datang, saat Arka ingin memakannya, Vara menepis tangan Arka, hal itu membuat Arka kebingungan.
"Ada apa Mi?" Tanya Arka.
"Diam dulu Pi, aku mau fotoin kamu, kamu hadap sini Pi." Sahut Vara lalu memotret Arka.
"Sudah?" Tanya Arka.
Vara hanya mengangguk, dan sekarang memulai makan, sesekali Arka memperhatikan Istrinya sedang makan dengan lahapnya lalu tersenyum saat Vara melihatnya.
"Pantesan aja akhir-akhir ini nafsu makan kamu nambah Mi, taunya ada yang anak kita diperut kamu, dan kamu juga tambah lebih berisi, dan membuat tidur aku tambah nyenyak jika meluk kamu sayang." Ujar Arka tersenyum menggoda kearah Vara.
"Kamu bisa aja, Pi', tidur kamu sudah dari dulu selalu nyenyak, kayak kebo, walau tidak sedang tidur denganku." Cibir Cara.
"Kamu ngatain suami kamu Kebo Mi'." Sahut Arka dengan tatapan datarnya.
"Hehehe ... Maaf." Ucap Vara terkekeh."
Setelah mereka makan, Arka maupun Vara meninggalkan restoran tersebut, lalu menuju hotel untuk bersiap-siap ke bandara, untuk segera kembali ke kota Z.
Sekitar kurang lebih 40 Menit mereka sampai di hotel dan langsung kekamar untuk bersih-bersih dan berganti pakaian, karena satu jam lagi pesawat mereka akan berangkat, sedangkan perjalanan kebandara bisa memakan waktu sekitar 30 menit.
Mereka segera menelepon sopir hotel untuk mengantarkan mereka kebandara, karena mobil yang Arka pakai selama di kota Xx, ia memakai mobil hotel, tentu saja dengan bayaran, tak sedikit.
"Ayo sayang, kopernya biar saya yang bawa." Ucap Arka Saat mereka sampai di Bandara, dan langsung masuk ke bagian keberangkatan, karena pesawat mereka akan segera berangkat.
Semua penumpang sudah masuk kedalam pesawat, sambil menunggu pesawat akan takeof, Arka mengecek beberapa e-mail pekerjaannya.
"Pi balik sini." Panggil Vara.
Saat Arka menoleh Vara memotret Arka.
Arka hanya geleng-geleng kepala saat melihat tingkah Istrinya yang menurutnya aneh, akhir-akhir ini, yang hobi memontret segala sesuatunya, apalagi fotoin Arka.
Bersambung.....
Maaf kalau alurnya sedikit berantakan, soalnya aku ngeblank.
Mohon masukan, dan saran dari kalian.
Jangan lupa juga buat semangatin Author dengan memberikan
Like
Coment
Vote
🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗