Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Cheril dibawa ke tempat hiburan


Setelah orang suruhan Erik keluar dari ruangannya, Erik segera meraih ponselnya yang ada diatas mejanya dan segera menghubungi Elvano.


Bib bib bib


Elvano yang saat itu juga sedang berada diruang kerjanya pun segera meraih ponselnya. Niko juga sedang ada disana saat itu. Ia sedang duduk di sofa ruang kerja Elvano sementara Elvano sedang duduk dikursi kebesarannya.


'Erik memanggil...'


Kalimat tersebut tertera dengan jelas dilayar ponsel milik Elvano.


Elvano merasa sedikit heran Erik tiba-tiba menghubunginya, Erik memang tidak pernah menghubunginya jika tidak sedang ada perlu apapun. Elvano pun melemparkan pandangannya ke arah Niko yang membuat Niko ikut merasa heran.


"Siapa yang nelfon?" Tanya Niko


"Erik !" Jawab Elvano singkat


"Eh, tumben dia nelfon, padahal selama disini ia pernah nelfon kemari." Ujar Niko


"Ntah lah, dia memang tidak pernah menghubungi ku jika tidak Edang ada perlu sih." Ucap Elvano kemudian.


"Kalau begitu jawablah ! Mungkin memang penting. Ucap Niko pada akhirnya memberi saran pada Elvano untuk segera menjawab panggilan itu.


Akhirnya Elvano pun segera menjawab panggilan itu.


"Hallo Rik, ada apa?" Jawab Elvano sekaligus melempar pertanyaan.


"Eh, No, kamu apakabar?" Erik memilih lebih dulu menanyakan kabar sahabatnya itu sebelum mengatakan tujuannya menelpon.


"Baik. Kamu juga gimana kabarnya?" Elvano balik bertanya.


"Aku baik juga." Hehehe


Jawab Erik sedikit cengengesan.


Elvano bisa mengartikan ekspresi yang diperdengarkan Erik padanya. Ia sangat yakin kali ini, pasti Erik ada perlu dengannya.


"Ada perlu apa Rik kamu menghubungi aku?" Elvano akhirnya kembali melemparkan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Erik tadi.


"Eh, ini No, ini tentang Cheril."


Mendengar nama Cheril disebut Erik, Elvano pun melemparkan pandangannya ke arah Niko.


"Ada apa dengan Cheril?" Tanya Elvano lagi dengan sikap yang sangat tenang tapi penuh dengan rasa penasaran.


Niko yang mendengar pertanyaan yang dilemparkan Elvano pun segera melangkah mendekati Elvano. Dan Elvano pun membuka speaker ponselnya untuk memperdengarkan juga pembicaraan Erik pada Niko.


"Jadi begini No,...."


Erik pun menceritakan semua yang ia dengar dari orang suruhannya tadi. Sementara Elvano dan Niko menyimak dengan seksama.


"Nah, begitu No, ceritanya. Sekarang Cheril sudah dibawa oleh Baron ke kota X, apa kamu bisa menolongnya?"


Elvano tidak menjawab apapun, ia masih terdiam. Ntah perasaan seperti apa yang ia rasakan saat itu. Elvano terlihat sangat marah, tapi rasanya juga enggan. Ntah lah.. Niko pun juga diam saja menunggu jawaban dari Elvano.


"No, jadi gimana? Apa kamu bisa membantu Cheril?" Tanya Erik lagi mengurangi pertanyaan nya yang belum dijawab.


"Eh, i-iya, nanti aku akan minta Niko mengurus nya." Jawab Elvano kemudian sambil melirik kearah Niko.


Erik pun merasa cukup lega kali ini.


"Makasih ya No !" Ucap Erik dengan suara yang sangat girang.


Mendengar suara Erik yang sangat girang itu Elvano malah merasa sedikit murka, ntah perasaan apa yang sedang ia rasakan saat itu. Ia merasa sepertinya Erik sedikit berlebihan.


"Heh, jangan bilang kamu masih menyimpan perasaan pada Cheril !" Ucap Elvano tiba-tiba.


"Eh...."


Erik sangat salah tingkah mendengar itu. Ya tidak bisa dipungkiri, ia memang masih menyimpan sedikit perasaan kan pada Cheril.


Sementara Niko, melihat ekspresi Elvano yang seperti itu ia bisa melihat Elvano seperti nya sedang cemburu pada Erik.


Isi hati Elvano malah kalimat itu.


"Heh, ingat tuh Tania ! Kamu kan sudah punya Tania." Lanjut Elvano lagi tanpa menunggu jawaban Erik.


"Ah, kamu No, tenang saja, aku tidak akan merebut Cheril darimu kok. Sekarang kamu bisa mengambilnya No, lagian dia juga sudah tidak dengan Jimmy lagi." Jawab Erik menanggapi pernyataan Elvano sekaligus sedikit menggoda sahabatnya itu. Yang justru membuat Elvano sedikit tersentak mendengar apa yang diucapkan oleh dirinya.


Kali ini Elvano yang terdiam untuk sesaat sebelum melanjutkan kembali pembicaraannya yang sekaligus pembicaraannya berikut juga akan mengakhiri pembicaraannya dengan Erik ditelpon.


"Masih ada yang ingin kamu bicarakan? Kalau tidak aku akan menutup telpon sekarang juga !" Ucap Elvano kembali dengan ekspresinya yang dingin.


"Eh, jutek amat Bro ! Hanya itu saja kok yang ...."


Tut tut tut


Belum selesai Erik berbicara panggilan itu sudah terputus begitu saja.


"Yaela Tuan Muda, sekarang kamu sudah bisa bersikap semaumu ya !" Gumam Erik pelan setelah panggilan itu berakhir begitu saja.


Ia sedikit kesal memang dengan sikap Elvano yang satu ini. Sebenarnya jauh sebelum Elvano berada diposisinya sekarang ini juga ia sudah memiliki sifat yang sangat dingin seperti ini. Erik pun tau itu. Ia hanya merasa kesal saja jadinya ia pun berkata demikian.


Tapi Erik sudah cukup lega. Yang penting Elvano masih mau membantu Cheril, itu sudah cukup. Erik tau Elvano pasti masih menyimpan perasaan pada Cheril, namun luka yang tertoreh pada hatinya juga sangat dalam. Jadi ia pun bisa mengerti jika Elvano masih berpikir 2x untuk menolong Cheril.


---------------


Jadi ceritanya, setelah kejadian semalam, dimana Cheril menggigit pipi Bos Baron, laki-laki itu menjadi sangat marah. Ia pun ingin memberikan pelajaran pada perempuan itu dengan membawanya ke sebuah tempat hiburan malam milik nya di kota X yang dikelola oleh seorang perempuan bernama Madam Jelita.


Kebetulan keesokan paginya Bos Baron memang berencana ingin mengunjungi tempat itu. Jadinya ia pun membawa serta Cheril bersamanya.


Rencananya sebelum Cheril diperjualbelikan, ia lebih dulu akan menikmati tubuh Cheril di tempat itu nantinya. Ia sudah mempersiapkan rencananya yang sangat matang kali ini supaya kejadian malam itu tidak terulang kembali.


Jam 9 pagi Bos Baron dan Cheril beserta rombongannya sudah tiba di kota X. Mereka pun segera menuju ke tempat hiburan itu.


Setibanya disana Cheril sudah merasa ada yang tidak beres dengan tempat itu.


Walaupun belum pernah pergi ke tempat seperti itu, namun Cheril bisa mengerti tempat seperti apa itu setelah melihat aktivitas yang sedang terjadi disana.


"Hai Bos... Sudah lama sekali tidak kemari !" Ucap Madam Jelita menyambut Bos Baron.


Mereka pun cupika cupiki didepan Cheril.


"Siapa gadis ini? Sepertinya lumayan juga. mangsa baru ya Bos?" Ucap Madam Jelita lagi membuat Cheril merasa sedikit ketakutan.


"Ah kamu, memang paling pintar melihat benda bening." Hahaha. Ucap Bos Baron sambil tertawa keras.


Mendengar itu Cheril pun menelan air ludahnya.


Madam Jelita pun bisa memahami maksud dari jawaban Bos nya itu.


"Oh... Pipi mu ini pasti ulah nya kan?" Hahaha. Ujar Madam Jelita sembari memegang pipi Bos Baron yang masih tertempel perban. Juga disertai tawa keras.


Hahahahaha


Bos Baron juga ikut tertawa.


"Kamu memang yang paling pintar. Biasalah, barang masih tersegel memang lebih sulit untuk ditaklukkan." Hahahaha. Ucap Bos Baron lagi masih dengan tawa kerasnya.


Kali ini Madam Jelita hanya tersenyum mendengar apa yang ia ucapkan sambil melemparkan pandangannya ke arah Cheril. Ia memang mengakui tubuh Cheril yang sangat sempurna itu. Ia juga masih bisa melihat dara perawan dari aura wajah Cheril. Pantas saja sepertinya Bos Baron sangat menginginkan wanita itu sekalipun wanita itu sudah menyakiti nya.


'Eh, kenapa wanita ini terus menatapku seperti itu?' Gumam Cheril didalam hati.


Cheril merasa sedikit tidak nyaman dengan pandangan Madam Jelita. Lagian ia juga sudah sangat risau ketika mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua orang ini dihadapannya.


"Baiklah, bawa dia ke kamar lantai paling atas, dan kunci dia. aku akan mengurusnya malam ini !" Ucap Bos Baron pada Madam Jelita.


"Baik Pak Bos !" Jawab Madam Jelita sekaligus mengintruksikan pada anak buahnya untuk membawa Cheril menuju tempat yang dimaksudkan oleh Bos Baron. Mereka pun sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan.


Kemudian anak buah Madam Jelita pun segera membawa Cheril ke kamar itu dan menguncinya.