Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Keputusan ibu Anita yang mengejutkan


Sehabis gelap terbit lah terang. Hari yang telah berganti sekaligus menggambarkan kehidupan Elvano. Hari ini, hari yang baru, kehidupan yang baru akan segera dimulai.


Pukul 7 pagi Elvano sudah siap dengan setelan jasnya, ia terlihat begitu gagah dengan pakaian formal yang harganya sangat fantastis itu. Ini merupakan kali pertama bagi Elvano menyentuh sekaligus mengenakan pakaian di dalam lemari ruang gantinya yang telah disediakan oleh Ibu Winda untuk dirinya.


Ketika Elvano turun dari kamar dan menuju meja makan sudah ada Winda dan William di sana. Mereka terkagum-kagum melihat Elvano. Ia memang tampak sangat gagah.


Sudah ku duga, pakaian itu pasti sangat cocok untuk nya. Syukur lah Vano mau mengenakan itu.


Ujar Winda di dalam hati, mengingat selama 1 minggu ini Elvano memang belum pernah mengenakan pakaian yang tersimpan di dalam ruang gantinya itu.


Hari ini adalah hari pertama bagi Elvano menginjakkan kaki di gedung milik Astra Investama Group, sekaligus akan menjadi hari penobatan dirinya sebagai Presdir di perusahaan milik ayahnya, tentu saja Elvano harus tampil sempurna. Ia juga tidak ingin mempermalukan kedua orangtuanya, makanya ia memutuskan mengenakan pakaian yang telah disediakan oleh ibunya.


"Selamat pagi Ayah, selamat pagi Ibu!"


Elvano memberi salam.


"Eh, pagi sayang!" balas Winda


"Selamat pagi Vano!" Tuan William ikut membalas sapaan Elvano.


" Bagaimana? Kamu sudah siap untuk ke kantor?" sambung Tuan William.


Belum sempat Elvano menjawab, Elvano baru saja membuka mulutnya untuk menjawab, tapi Winda sudah lebih dulu memotong.


"Ah ayah ... Vano kan belum sarapan, sudah main ngajak pergi aja," Ujar Winda dengan wajah ngambek.


"Maksud Ayah juga sarapan dulu Win, habis sarapan baru pergi," tanggap William sambil tersenyum, jawaban itu juga berhasil membuat Winda kembali tersenyum.


Elvano juga ikut tersenyum melihat kedua orangtuanya begitu harmonis.


"Oh ya, Ibu Anita kok tidak ikut sarapan Bu?" tanya Elvano sambil menarik kursi untuk duduk. Ia sedikit heran karena biasanya pagi-pagi begini Ibu Anita juga sudah berada di meja makan.


Kalau kedua adiknya, memang mereka sarapan lebih pagi karena biasanya pukul 6.30 mereka sudah berangkat ke sekolah mereka, Valen juga sudah menuju kampus mengingat jalanan yang macet mereka selalu berangkat lebih pagi dari rumah.


"Eh, iya ya, entahlah pagi ini Ibu juga belum melihat nya. Apa mungkin dia masih tidur?" Winda yang ikut merasa heran.


"Ah, tidak mungkin Bu, biasanya Ibu selalu bangun pagi," jelas Elvano singkat.


"Kalau begitu coba Ibu meminta Pak Didi untuk memanggil nya di kamar,"


Baru saja Ibu Winda akan berteriak memanggil Pak Didi, Anita sudah berjalan ke arah meja makan.


"Eh, itu Anita ...," Kata Tuan William ketika melihat Ibu Anita.


Elvano dan Ibu Winda pun melemparkan pandangan ke arah Ibu Anita.


"Lho, Bu, Ibu mau ke mana?" tanya Elvano kaget melihat Ibu Anita datang dengan membawa tas besar yang ia bawa waktu datang ke rumah ini bersama Elvano.


Elvano sampai kembali berdiri dari tempat duduknya.


"Ibu mau pulang ke rumah kita yang dulu Vano," jawab Ibu Anita sambil tersenyum.


"Loh kok pulang? Kamu di sini saja An," Timpal Ibu Winda.


"Benar Bu, Ibu di sini saja," Elvano juga tidak setuju dengan keputusan Ibu angkatnya itu yang hendak kembali ke rumah yang mereka tempati selama ini.


Mendengar perkataan Elvano dan Winda, Ibu Anita tersenyum lalu berkata,


"Sekarang tugas saya sudah selesai Nona, Tuan, Elvano sudah kembali kepada Nona Muda dan juga Tuan Muda ... Sekarang saya hanya ingin menghabiskan masa tua saya di rumah itu," jelas Ibu Anita yang tetap pada keputusannya. Ia memang sudah merasa sangat nyaman dengan tempat itu.


Seketika suasana pun menjadi tegang.Tentu saja Winda dan William takut Elvano akan pergi bersama Anita lagi.


"Vano, kamu dengarkan Ibu, ini adalah rumahmu yang sebenarnya. Dan mereka adalah kedua orangtuamu yang asli. Sudah cukup bagi kita untuk bersama Vano, sudah saatnya kamu kembali keluargamu yang sebenarnya,"


"Vano, jika kamu merindukan Ibu, kamu bisa berkunjung ke rumah itu kapan pun kamu mau,"


"Tapi Bu ...," Elvano masih belum menyetujui keputusan Ibu Anita yang memutuskan sepihak itu.


"Benar An, kamu tetap tinggalah di sini! Kenapa kamu harus kembali ke sana An?Bukankah Elvano ada di sini?" pinta Winda yang ikut membujuk Anita.


Ibu Anita kembali tersenyum,


"Nona, terimakasih untuk kebaikan Nona dan juga Tuan ... Tapi saya sudah merasa sangat nyaman di tempat itu. Jadi saya ingin menghabiskan masa tua di rumah itu," Ibu Anita masih tetap pada pendiriannya.


"Apa kamu tidak akan merasa kesepian sendirian di tempat itu An?" tambah Winda


"Nona tenang saja, saya sudah terbiasa kok. Elvano biasanya juga tidak setiap hari di rumah, ia hanya di rumah pada saat akhir pekan, jika hari biasa malah setiap hari waktunya dihabiskan di kampus dan tempat kerjanya. Jadi saya sudah terbiasa sendiri," jelas Ibu Anita lagi.


"Bu, Vano mohon, tetaplah di sini!" bujuk Elvano yang masih belum rela jika Ibu Anita benar-benar akan pergi.


"Vano, Ibu sudah memikirkan semuanya dengan matang. Kamu jalanilah hidupmu dengan baik bersama keluargamu. Jangan pikirkan soal Ibu ya!"


"Ibu hanya ingin menghabiskan waktu Ibu di tempat itu sambil mengingat semua kenangan kita.


Ibu janji, Ibu akan hidup dengan baik,"


Elvano menundukkan wajahnya, ia merasa berdebat dengan Ibu Anita memang tidak ada habisnya. Jika ia memaksa untuk ikut dengan nya juga Ibu Anita tidak akan mengijinkan. Elvano memang tidak memiliki sifat untuk membangkang, dari dulu ia sangat menghormati setiap perkataan ibunya itu.


"Vano, kamu mengerti kan maksud Ibu? Berjanjilah kamu juga akan hidup dengan baik," nasehat Ibu Anita.


"Baiklah Bu, jika itu memang sudah menjadi keputusan Ibu,"


Ibu Anita pun tersenyum puas mendengar jawaban Elvano.


"Bu, Ibu juga harus janji pada Vano, Ibu juga harus hidup dengan baik!" pinta Elvano lagi sambil menatap Ibu Anita lekat.


"Iya Vano, ibu janji!" tanggap Ibu Anita dengan penuh keyakinan untuk meyakinkan Elvano.


"An, jika memang ini sudah menjadi keputusanmu, kami juga tidak dapat berbuat apapun. Namun sarapanlah terlebih dahulu dengan kami untuk yang terakhir kalinya!" pinta Winda.


"Baiklah Nona!" jawab Ibu Anita singkat.


Akhirnya mereka pun sarapan bersama untuk yang terakhir kalinya bersama dengan Ibu Anita di kediaman keluarga Setiono.


Elvano terlihat sangat sedih dengan keputusan Ibu Anita, ia bahkan sangat tidak menikmati perjamuan pagi ini. Semuanya terasa hambar bagi nya tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun lagi.


Sebelum Ibu Anita pergi, Winda menyelipkan. sebuah amplop untuk nya, isinya adalah 1 buah kartu debit atas nama Ibu Anita yang isinya senilai 1 milyar ripuah. Ibu Anita sendiri tidak mengetahui tentang jumlahnya yang sebesar itu.


Tuan William memang sudah menyiapkan kartu itu sejak beberapa hari yang lalu ketika dia meminta semua data pada Ibu Anita waktu itu. Rencananya memang akan ia berikan pada Anita hari ini karena kartu itu baru selesai kemaren.


Mereka memang sengaja tidak memberikan uang tunai pada Ibu Anita, mereka sengaja membuatkan kartu debit untuk nya supaya apabila uang dalam rekeningnya habis, mereka masih bisa menambahkan untuk nya.


Awalnya Ibu Anita tidak mau menerima itu, tapi Winda terus memaksa nya hingga ia tidak dapat menolak.


Elvano pun merasa lebih tenang ketika Ibu Winda memberitahukan isi amplop itu berupa kartu debit, Elvano juga berpikir nanti ia bisa mentransfer uang untuk Ibu Anita setiap bulan dengan adanya kartu debit itu. Jadi ibunya juga tidak akan kekurangan lagi pikir Elvano. Padahal jika Elvano tau jumlah yang tertera di dalamnya Elvano pasti tidak akan secemas ini. tanpa transferan dari nya pun uang itu sudah sangat cukup untuk menghidupi Ibu Anita seumur hidup.


Begitulah akhirnya Ibu Anita meninggalkan rumah keluarga Setiono kembali ke tempat tinggalnya yang penuh kenangan. Sebenarnya ia juga memiliki alasan khusus dengan keputusan ini yang tidak ia ceritakan pada siapapun.