Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Elvano mau nikah?


Kisah kedua insan ini baru akan dimulai. Kehidupan baru yang penuh dengan cinta, kasih, juga penuh dramatis akan menghiasi hari-hari mereka. Sementara Cheril masih belum mengetahui sama sekali apa yang menjadi rencana Elvano saat ini. Yang ada juga Cheril sedang menangisi hidupnya karena merasa Elvano telah memberikan harapan palsu baginya.


"Katanya cinta, tapi malah meninggalkan aku tanpa kabar yang jelas. Ketika ditanya dirimu ada di mana, kamu tak pernah membalasnya. Kamu selalu menghindari ku. Apa ini yang kamu sebut dengan cinta?"


"Kenapa kamu memberikanku harapan palsu seperti ini Vano? Kamu pasti juga memiliki wanita lain kan di luar sana?"


Hu hu hu hu hu


Begitulah caranya Cheril menangisi kisah cintanya yang menurutnya sangat menyedihkan itu.


Cheril bahkan sudah membulatkan tekad, jika hari ini Elvano masih tidak mengunjungi nya, maka ia akan pergi dari apartemen malam itu juga.


------------


Hari ini merupakan H-1 menuju kehidupan baru itu.


Betapa kagetnya kedua orangtua Elvano yang baru saja pulang dari liburan mereka, mendapati kediaman mereka dihias dengan berbagai aksesoris seolah-olah akan ada pesta mewah yang akan segera digelar dalam waktu dekat.


"Eh, Pak Didi, ada apa ini? Kenapa rumah kita dihias seperti ini?" Tanya Ibu Winda dengan ekspresi bingung. Tuan William juga terlihat mengerutkan dahinya ikut merasa bingung.


Tentu Pak Didi juga ikut bingung mendengar pertanyaan ini, ia tidak menyangka Elvano belum memberitahukan pada kedua orangtuanya akan menggelar acara pernikahan pada keesokan harinya.


"Maaf Nyonya, apa Tuan Muda tidak memberitahukan bahwa ia akan menikah besok?" Pak Didi ikut melemparkan pertanyaan yang membuat kedua majikannya itu melototkan mata mereka.


"APA?"


Tuan William dan Ibu Winda mengucap serentak. Kemudian saling melemparkan pandangan mereka satu sama lain dan kembali lagi fokus pada Pak Didi.


Jadi Tuan Muda sungguh tidak memberitahukan soal ini....


Di dalam hati Pak Didi sudah menggeleng-gelengkan kepalanya. Jelas Pak Didi bisa mengerti Ekspresi kedua majikannya ini. Elvano memang belum memberitahukan hal ini pada mereka. Ia merasa Elvano sungguh sudah sangat keterlaluan kali ini.


"Pak Didi, kami tidak salah dengar kan? Apa yang Pak Didi bilang ini sungguhan?"


Ibu Winda masih belum bisa mempercayai semua itu. Dan memilih melemparkan pertanyaan lagi.


Belum sempat Pak Didi menjawab, tiba-tiba Elvano muncul entah darimana.


"Iya Bu, Vano dan Cheril akan menikah besok." Ucap Elvano dengan sangat santai.


"Eh....


"Vano.... Kamu sungguh keterlaluan Vano... kenapa tidak memberitahukan pada Ayah Dan Ibu sebelum ini? Dan kapan kamu melamar Cheril? Terus bagaimana jika Ayah dan Ibu tidak pulang hari ini?" Ibu Winda melempar pertanyaan bertubi-tubi.


Sedangkan Elvano masih menanggapi dengan sangat santai seperti tidak terjadi apapun.


"Yang penting kan kalian sudah di sini sekarang." Jawab Elvano singkat.


Ah.... Kamu sungguh keterlaluan Vano.... Bahkan kamu masih bisa menjawab dengan ekspresi sesantai ini.


"Vano, apa kamu sudah mendatangi kediaman kedua orangtua Cheril untuk meminta restu?" Tuan William ikut angkat bicara.


"Sudah Yah!" Jawab Elvano masih dengan kata yang sangat singkat.


"Kapan kamu melakukan itu? Dan dengan siapa kamu ke sana?" Timpal Ibu Winda.


Rasanya ia masih belum bisa mempercayai Elvano melakukan hal sepenting ini tanpa sepengetahuan mereka.


Sebenarnya Ibu Winda merasa sedikit kecewa, ia merasa Elvano sangat tidak menghargai dirinya sebagai seorang Ibu. Mungkin Ayah William juga merasakan hal yang sama. Elvano juga bisa melihat raut kekecewaan itu dari sorot mata yang ditampilkan oleh kedua orangtuanya. Karena itu, Elvano segera memberikan sedikit penjelasan supaya mereka tidak salah paham lebih jauh.


"Ayah, Ibu, Vano minta maaf! Vano bukannya tidak ingin memberitahukan pada Ayah dan Ibu, Vano hanya tidak ingin mengganggu waktu liburan Ayah dan Ibu. Selain itu, Vano juga ingin memberikan kejutan bagi Ayah dan Ibu. Jadi Vano pun merahasiakan semua ini.


Lagian Vano juga sudah menyelidiki kapan Ayah dan Ibu akan pulang, jadi Vano pun memilih untuk tetap merahasiakan ini semua supaya bisa menjadi kejutan bagi Ayah dan Ibu." Jelas Elvano panjang lebar.


Walaupun rasanya tidak masuk akal, Namun Ibu Winda dan Ayah William berusaha untuk mengerti maksud dari Elvano. Di satu sisi, mereka juga belum begitu mengerti tentang sifat kepribadian Elvano yang memang tidak mereka besarkan itu. Di sisi lain, harusnya ini merupakan kabar gembira. Jadi tidak perlu lagi memperbesar masalah ini.


"Baiklah! Ayah dan Ibu bisa mengerti maksud mu. Jadi, Apa masih ada persiapan lainnya yang belum selesai? Mau Ibu bantu?" Ujar Ibu Winda akhirnya.


"Seharusnya sudah selesai semua Bu. Niko yang membantu Vano mengurus semuanya. Sore ini kedua orangtua Cheril dan Ibu Anita juga akan datang kemari. Vano sudah meminta Niko untuk mengirim pesawat jet menjemput mereka." Jawab Elvano menjelaskan.


"Oh.. Begitu ya.. Baiklah! Kalau semuanya sudah siap Ayah dan Ibu istirahat dulu ya Vano.. Jika kamu memerlukan bantuan apapun, kamu bisa memanggil kami."


Kata-kata Ibu Winda kali ini sekaligus mengakhiri pembicaraannya.


"Baik Bu!" Elvano kembali menjawab singkat.


Kedua orangtua itu kemudian berlalu dari hadapan Elvano menuju kamar untuk beristirahat.


Apakah iya mereka masih bisa beristirahat dengan tenang? Yang ada juga kedua orangtuanya ini terlibat dalam perbincangan rumit di dalam kamar. Karena saat itu Ibu Winda malah tiba-tiba menangis di hadapan Ayah William karena merasa belum bisa menerima Elvano yang mengajak Ibu Anita untuk datang melamar ke keluarga Cheril. Bagaimana pun Ibu Winda masih merasa sangat kecewa karena Elvano tidak mengajak dirinya.


"Heh! Kenapa kamu menangis Win?" Tanya William ketika melihat Winda mulai terisak.


"Aku sedih Wil...." Hik hik hik


"Aku tidak habis pikir, kenapa Vano bisa mengajak Anita datang melamar Cheril, bukan mengajak kita...." Hik hik hik hik


Tangisan Ibu Winda sudah semakin menjadi.


Tuan William pun merasa terenyuh. Lalu ia melangkah mendekati istrinya.


"Win, tadi kan Vano sudah menjelaskan alasannya. Kamu tidak boleh begini...." Ucap Tuan William sambil memeluk tubuh istrinya erat.


"Win, bagaimanapun, kita sudah bersalah pada Vano selama ini. Kamu tidak boleh merasa iri pada Anita. Karena kenyataannya, selama ini memang Anita yang sudah membesarkan Vano. Masih untung Anita tidak merebutnya dari kita, lagian Vano kan kan sudah bilang, dia tidak ingin menggangu liburan kita." Tambah Tuan William memberikan pengertian pada Nyonya Winda.


Hik hik hik


Ibu Winda masih menangis, namun juga berusaha mencerna ucapan suaminya.


"Iya Will.... Aku mengerti.... Tapi tetap saja aku merasa sangat bersedih...." Hik hik hik


Akhirnya Tuan William pun hanya bisa membiarkan Ibu Winda menangis.


"Baiklah! Menangis lah Win, menangis lah jika ini bisa membuat mu merasa lebih baik. Tapi setelah ini, berjanjilah untuk tidak memikirkan hal ini lagi." Ucap Tuan William akhirnya.


Ibu Winda menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Ayah William hingga cukup lama. Setelah merasa puas baru ia menghentikan tangisan itu. Dan memang setelahnya Ibu Winda bisa merasa lebih baik.


Kalimat terakhir yang diucapkan Ayah William adalah;


"Win, percayalah, apapun yang sudah dilakukan oleh Elvano ia tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu mau pun aku. Dia pasti memiliki alasan tersendiri untuk semua ini. Hanya kita yang belum begitu mengerti tentang dirinya saja."


Dan ditanggapi Ibu Winda dengan anggukan.


Lalu keduanya kemudian memilih beristirahat setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan. Apalagi mereka juga harus mempersiapkan stamina yang baik untuk acara pernikahan Elvano dan Cheril pada keesokan harinya.