
Saat ini Cheril dan Elvano sudah berada dirumahnya masing-masing. Setelah kejadian di taman tadi, seusai ciuman panas yang sudah mereka lakukan, Elvano kemudian mengantarkan Cheril pulang kerumahnya dengan menggunakan taksi yang telah ia pesan melalui telpon.
Sesampainya di rumah Cheril waktu itu tidak ada orang yang melihat kedatangan mereka selain satpam yang sedang berjaga. Saat itu Ibu Cheril masih berada diluar bersama dengan teman sosialitanya, sedangkan Ayah Cheril juga baru saja keluar karna mendapat telpon dari rekan bisnis nya yang mengajak nya makan malam bersama secara mendadak.
Setelah Cheril turun dari taksi ia pun langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kekamarnya untuk membersihkan diri.
Saat ini Cheril sudah selesai mandi dan mengenakan baju tidur, ia pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya yang sangat nyaman.
Dan pikirannya pun mulai melayang pergi meninggalkan jasadnya.
Pertama-tama pikiran Cheril pun tertuju pada ciuman panas yang baru saja terjadi, ia masih bisa merasa degup jantungnya yang sangat tidak beraturan saat itu, membuat wajahnya memerah seketika. Cheril mulai menyadari ada perasaan aneh yang muncul didalam hatinya.
Sepertinya laki-laki itu sudah berhasil masuk dalam relung hatiku.
Namun apakah baik begini? mungkinkah Elvano juga menyimpan rasa yang sama denganku.
Dan bagaimana jika Ibu juga tidak menyetujui hubungan kami jika tau Elvano sama sekali bukan berasal dari keluarga yang berada.
Cheril mulai merasa ketakutan, mengingat besok adalah hari yang sangat mendebarkan karna ia sudah memutuskan untuk mempertemukan Elvano pada Ibunya. Cheril sudah menyampaikan kepada Elvano tentang hal ini ketika sedang berada dalam perjalanan menuju rumah Cheril.
Pikiran Cheril saat itu sungguh seperti benang kusut yang sulit untuk diurai, hingga membuat nya lelah dan akhirnya ia pun tertidur dengan sendirinya dan masuk kedalam ruang mimpinya.
*********
Elvano
Elvano baru saja tiba didepan rumahnya, Ibu Anita yang sudah sedari tadi menunggu nya segera membukakan pintu ketika menengar suara ketukan. Ibu Anita memang merasa sedikit cemas karena Elvano tidak pulang-pulang, padahal awalnya Elvano memang hanya ijin untuk mengantar Cheril pulang. Bagaimana Ibunya tidak khawatir coba? Mereka kluar dari rumah Elvano sejak pukul 4 sore, sedangkan saat ini sudah hampir menuju jam 9 malam.
"Vano, kamu kenapa?" Ibu Anita sangat syok melihat wajah Elvano yang babak belur
"Eh.." Elvano terdiam, ia melupakan wajah babak belurnya dan saat ini ia belum tau harus menjawab apa pada Ibunya.
"Ibu tanya kamu Vano, kenapa dengan wajah mu ini?" Ibu Anita mengangkat tangan sambil memegang pipi Elvano mengusapnya lembut. Elvano masih belum menjawab, ia hanya diam saja.
"Ayo masuk dulu Nak !"
Ibu Anita pun kemudian mengajak Elvano untuk masuk ke dalam lebih dulu. Dan menuntun nya untuk duduk di ruang tengah.
Setelah itu ia segera menuju ke arah kotak P3K yang tergantung pada dinding ruang tengah dan mengambilnya untuk mengobati Elvano yang terluka. Tidak lupa Ibu Anita juga menyediakan air hangat untuk mengompres sudut bibir putranya yang masih terlihat bekas bercak darah menempel disana.
"Aku gapapa kok Bu !" Kata Elvano pelan, Namun Ibu Anita sama sekali tidak memperdulikan ucapan Elvano, ia hanya terus mengompres dan mengobati luka Elvano dengan kotak P3K yang ada dihadapannya.
Usai mengompres dan mengobati luka Elvano, Ibu Anita pun kembali bertanya perihal yang menyebabkan luka diwajah putranya itu, tentu saja Ibu Anita sangat mengkhawatirkan Elvano.
"Vano, sekarang kamu bisa menceritakan pada Ibu. Apa yang sudah terjadi pada mu Nak? Kenapa kamu bisa terluka seperti ini?"
"Tadi ada yang iseng godain Cheril Bu, karna Vano ga tahan melihat nya jadi Vano memukul nya, Dan ia pun membalas Vano." Jawab Elvano asal
"Memangnya bagaimana ceritanya bisa ada yang menggoda Cheril? Bukannya tadi kalian berada didalam taksi?" Tanya Ibu Anita heran
"Eh, iya Bu, tadi Elvano dan Cheril tidak langsung pulang, tadi Elvano mengajak Cheril untuk mampir makan malam terlebih dahulu, disanalah laki-laki itu menggoda Cheril."
" Baik Bu, lain kali Vano akan lebih berhati-hati. Ibu jangan khawatir lagi ya ! Terimakasih banyak ya Bu sudah mengobati luka Vano." Ucap Elvano kemudian.
Elvano kemudian memeluk Ibunya. Dan Ibu Anita pun mengelus-elus punggung laki-laki gagah itu, diam-diam Ibu Anita meneteskan air mata dibelakang Elvano.
Pikiran Ibu Anita mulai berlarian, ia merasa sangat bersalah melihat Elvano terluka,
Ibu sudah gagal menjagamu dengan baik Nak.
Ibu Anita bergumam dalam hatinya.
Air mata Ibu Anita sudah semakin banyak hingga membasahi pipinya dan sebagian juga menetes pada punggung Elvano, membuat laki-laki itu menyadari ada sesuatu yang telah terjadi, ia pun melepaskan pelukannya itu.
"Ibu, Ibu kenapa menangis?" Tanya Elvano sedikit syok melihat air mata sudah membasahi pipi Ibunya. Reflek ia pun segera mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
"Bu, Ibu jangan menangis lagi ya, Vano tidak apa-apa kok Bu. Liat ni, Vano masih bisa tersenyum manis !" Ucap Elvano sambil memperlihatkan senyuman lebar nya pada Ibu Anita. Ibu Anita pun tergelak, ia juga ikut tersenyum.
"Gitu donk Bu ! Ibu lebih cantik ketika tersenyum. Jadi ibu jangan nangis lagi ya !" Tambah Elvano masih memperlihatkan senyuman diwajahnya.
Ibu Anita pun mengangguk pelan.
"Yasudah ! Sekarang kamu bersihkan dirimu sana ! Ibu sudah menyediakan air panas untuk mu barusan." Ucap Ibu Anita kemudian. Ia sudah menghentikan tangisnya saat itu.
" Baik Bu !" Jawab Elvano singkat sambil berlalu menuju kamar mandi.
Sedangkan Ibu Anita hanya menatap punggung anak nya yg berlalu itu lekat.
Ia masih memilih duduk di ruang tengah menunggu Elvano selesai membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Elvano pun menjumpai Ibunya di ruang tengah karna ia melihat Ibunya masih duduk disana ketika keluar dari kamar mandi yang letaknya memang dekat ruang tengah itu.
"Ibu kok belum tidur?" Tanya Elvano
"Eh, kamu sudah selesai Nak? Ibu sedang menunggu mu !" Ibu Anita menjawab sambil tersenyum.
"Ibu tidak perlu menunggu Vano, Vano kan bukan anak kecil lagi." Hehehe. Jawab Elvano cengengesan.
"Iya iya, anak Ibu memang sudah dewasa, bahkan sudah bisa pacaran. !" Kata Ibu Anita mengejek sambil tersenyum.
Padahal dalam hatinya,
'Sampai kapanpun kamu tetap saja anak kecil bagi Ibu.'
Mendengar ejekan Ibunya itu, seketika wajah Elvano pun memerah, ia mengusap rambut bagian belakangnya kasar. Tiba-tiba ia jadi teringat dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Cheril. Ia pun diam-diam tersenyum mengingat ciumannya yang sudah dibalas oleh Cheril. Sepertinya gadis itu sudah mulai ada perasaan lebih pada nya, pikir Elvano.
"Yasudah, sekarang kamu istirahat sana !"
"Baik Bu, Ibu juga beristirahat !"
Kedua Ibu dan anak itu pun beranjak menuju kamar masing-masing.