Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Sandi?


Hallo kakak-kakak yang setia dengan cerita 'Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran'


Pertama-tama saya ingin mengucapkan:


"Selamat merayakan hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin " buat semua kakak-kakak yang merayakan.


Berhubungan hari ini sedang lebaran, saya hanya bisa up 1 episode saja ya, dan untuk besok belum tau up apa tidak, setelahnya baru akan normal kembali up 2-3 episode seperti biasanya dan bisa juga lebih dari itu. Harap di maklumi ya 🙏


Terimakasih banyak untuk kakak-kakak yang masih terus setia dengan karya saya, dan saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila tulisan saya adalah kata-kata yang salah, dan masih banyak kekurangan.


Oiya, kakak boleh loh memberikan masukan pada saya dengan memberikan coment dikolom komentar supaya saya bisa memperbaiki tulisan saya yang masih banyak kurangnya ini.


Dan saya juga ingin berterimakasih buat kalian yg sudah memberikan comen, like dan vote nya🥰🥰🥰, jangan lupa untuk terus dukung saya yah dengan cara like,coment,memberikan rate juga vote nya sebanyak-banyaknya.


Selamat membaca kembali ya.😊😊


***********


Tanpa terasa air mata Bibi Jum pun mengalir membasahi pipinya setelah mengingat kembali masa-masa yang sangat suram itu.


Cheril yang sudah melepaskan pelukannya sedikit kaget melihat wajah Bibi Jum yang penuh dengan air mata, ia tau Bibi Jum pasti teringat akan anaknya.


Cheril juga sudah mendengar cerita tentang Devi, Bibi Jum pernah menceritakan semuanya pada Cheril beberapa tahun yang lalu ketika Cheril menanyainya tentang keluarganya. Jadi ia sudah bisa menebak pasti Bibi Jum menangis pasti karna teringat Devi.


"Bibi, kenapa Bibi menangis? Bibi teringat Devi ya?" Cheril yang sudah melepaskan pelukannya kembali memeluk Bibi Jum.


"Iya Non." Bibi Jum menjawab pelan sambil menganggukkan kepalanya dan mengusap air matanya yang sudah semakin deras.


"Bibi jangan sedih lagi ya, Bibi boleh kok memeluk Cheril sepuas Bibi jika sedang kangen dengan Devi. Anggap saja Cheril adalah pengganti Devi." Kata Cheril melepaskan pelukannya dan ikut mengusap wajah Bibi Jum dengan lembut membuat Bibi Jum tersenyum kecil.


"Terimakasih ya Non, Non Cheril sudah memperlakukan Bibi dengan sangat baik. Non Cheril memang sudah Bibi Jum anggap seperti anak Bibi sendiri."


"Sama-sama Bi, Cheril juga sangat menyayangi Bibi, Bibi juga sudah seperti Ibu kedua bagi Cheril."


Mereka pun kembali saling berpelukan sesaat sebelum benar-benar melepaskan pelukan mereka untuk melanjutkan kembali aktivitas mereka masing-masing.


------------------------------


Awalnya Cheril sangat ingin menceritakan semua yang sedang ia pikirkan saat itu pada Bibi Jum, namun ia berubah pikiran ketika melihat Bibi Jum malah menangis karena teringat pada Devi, Cheril pun akhirnya harus mengurungkan niatnya karna tak ingin menambah beban pikiran Bibi Jum.


Saat ini matahari mulai menampakkan diri pertanda pagi hari telah benar-benar tiba, Cheril yang sudah tidak lagi melanjutkan tidurnya itu pun memutuskan untuk mandi lebih awal. Hari baru jam 6 pagi Cheril pun sudah rapi dengan pakaian santainya dan duduk diruang keluarga menonton siaran televisi yang ia gonta-ganti sejak tadi.


"Cheril? Pagi sekali kamu sudah rapi begini?" Kata Ibu Cheril heran melihat anak gadisnya yang tidak biasa itu ketika baru keluar dari kamarnya.


Kamar utama milik Tuan Besar dan Nyonya Besar keluarga tsb memang terletak tepat disamping ruang keluarga tempat Cheril bersantai saat itu.


"Eh, Ibu sudah bangun?" Jawab Cheril memutar kepalanya melirik ke arah pintu kamar tempat Ibunya sedang berdiri.


"Iya Ril, Ibu baru saja bangun. Kamu kok pagi-pagi sudah rapi begini? Tumben?!"


"Iya Bu, tadi Cheril terbangun pengen pipis, tapi setelah itu tidak bisa tidur kembali, jadi ya Cheril bangun saja terus mandi." Jawab Cheril menjelaskan.


Ibu Cheril kemudian berjalan ke arah Cheril dan duduk di sebelah Cheril.


"Oo... O iya Ril, gimana soal pertemuan yang kita bicarakan kemaren? Kamu sudah memberitahukan pada Sandi Ibu mengundang nya sore ini?"


Deg


'Sandi?'


"Eh, Sandi siapa Bu?"


"Ya Sandi pacar kamulah. Ibu sudah tau tentang pacar kamu yang mengantarmu pulang saat itu, Ibu sudah mencari tau semuanya." Ucap Ibu Cheril dengan penuh keyakinan.


Wajah Cheril mulai berubah sedikit pucat mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu itu.


Melihat wajah Cheril yang sudah berubah pucat itu Ibunya berpikir ia sedang gugup, jadi ia pun mencoba menenangkannya.


"Cheril, Ibu sudah tau semuanya, Sandi adalah seorang dokter jantung kan? Kamu tidak perlu segugup itu. Ibu sudah merestui kalian kok, dan Ibu percaya Ayah kamu juga pasti akan merestui kalian."


Cheril masih terdiam, ia sama sekali tidak menanggapi penjelasan Ibunya. Ia bingung harus bagaimana menjelaskan semua pada Ibunya.


"Sudahlah Ril, kamu tidak perlu cemas lagi ya, jika Ayahmu tidak merestui hubungan kalian, Ibu yang akan berbicara pada ayahmu." Kata Ibu Cheril sambil mengelus lengan Cheril lembut sambil tersenyum.


'Bagaimana aku tidak cemas Bu? Orang yang akan aku kenalkan pada Ibu itu bukan Sandi !'


"Jadi kamu sudah memberitahukan pada pacarmu itu kan bahwa sore ini Ibu mengundang nya untuk makan malam?" Ibu Cheril kembali bertanya.


"Eh, i-i-iya Bu. Su-sudah." Jawab Cheril terbata-bata.


"Baguslah kalo begitu. Ibu akan meminta Bibi Jum untuk mempersiapkan semuanya."


Ibu Cheril sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh Cheril, sebentar lagi ia akan bertemu dengan calon menantunya, demikianlah pikirnya.


Tidak lama kemudian ayah Cheril pun keluar dari kamar.


"Eh, tumben ni Ibu dan anak pagi-pagi begini sudah duduk berduaan ! Mesra sekali kalian." Kata ayah Cheril mengejek Cheril dan Ibunya yang sedang duduk berdampingan diatas sofa yang terletak di ruang keluarga.


Mendengar suara Ayah, mereka berdua pun membalikkan kepala mereka menujukan pandangan mereka ke arah ayah.


"Eh, Ayah. Selamat pagi yah !" Cheril menyapa Ayahnya sopan.


"Sini Yah, duduk sini !" Kata Ibunya sambil menunjuk sofa satu dudukan yang masih kosong disampingnya.


Ayah pun melangkah ke arah sofa satu dudukan yang ditunjuk oleh Ibu Cheril dan merebahkan tubuhnya diatasnya, kemudian mengambil koran terbaru yang sudah tersedia diatas meja untuk dibaca.


"Yah, sore ini Cheril akan mengundang pacarnya untuk makan malam bersama kita. Ayah ada waktu kan?" Ibu cheril memulai pembicaraan.


"Hmmm." Ayah Cheril hanya mengangguk sambil terus membaca koran.


"Ibu yakin Ayah pasti akan menyukai nya, dia adalah seorang Dokter Spesialis Penyakit Jantung loh Yah." Lanjut Ibu Cheril penuh semangat.


Cheril hanya memilih diam saja sambil menundukkan kepalanya.


Mendengar apa yang di lkatakan istrinya itu Ayah pun menurunkan korannya dan melemparkan pandangannya ke arah istrinya, setelah itu bergantian melirik ke arah Cheril yang masih menunduk. Kemudian ia pun kembali fokus pada korannya.


'Ayah kok di ajak ngomong malah diam saja si?' Gumam Ibu Cheril dalam hati.


"Yah, ayah dengar tidak Ibu sedang mengajak Ayah ngomong?"


"Ya dengarlah, Ayah kan tidak tuli Bu." Jawab Ayah dengan santainya.


"Terus kenapa Ayah diam saja?"


Ibu Cheril mulai kesal.


"Terus ayah harus jawab apa?"


Ah ayah, dia malah balik nanya.


"Sudah ah. Ibu mending mandi aja, tiba-tiba ini jadi merasa panas begini."


Ibu Cheril kemudian berlalu meninggalkan anak dan suaminya menuju ke arah kamar utama. Ia sudah merasa kesal dengan jawaban dari suaminya itu.


Sedangkan Cheril, ia tersenyum kecil melihat Ibunya dikerjai oleh Ayahnya.