
Bagaikan sekuntum bunga mawar yang selama ini hanya menguncup karena tidak mendapatkan air yang cukup, dan malam ini ia bisa bermekaran dengan sangat indah karena mendapatkan siraman air sekaligus mendapatkan pupuk. Demikianlah gambaran ini berlaku pada hati Cheril malam ini. Ia terlihat sangat bahagia.
Cheril turun dari mobil dengan riang gembira sambil menyanyikan lagu favoritnya.
Ia melangkah dengan penuh semangat menuju ke arah rumah Jimmy.
Ketika tiba di depan rumah ia pun membuka tasnya untuk mencari kunci rumah yang tersimpan di dalam sana.
Setelah menemukan kunci itu ia pun segera membuka pintu. Namun baru saja ia memegang gagang pintu, pintu sudah terbuka dengan sendiri.
Sesosok yang sangat tidak asing muncul dari balik pintu.
Ekspresi Cheril pun berubah seketika, Wajahnya yang riang berubah pucat ketakutan.
Ternyata apa yang ditakutkan Cheril tadi sungguh telah terjadi, Jimmy sudah lebih dulu pulang sebelum dirinya.
"Darimana saja kau?" ucap Jimmy masih dengan suara pelan.
Biasanya Jimmy sepulang dari kantor ia tidak pernah langsung pulang kerumah, ia selalu mampir lebih dulu ke apartemen kekasih gelapnya yang bernama Sari. Namun karena Sari sedang pulang ke rumah ibunya tadi sore, Jimmy pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Dan sialnya Ia justru mendapati Cheril sedang tidak ada di rumah.
"JAWAB AKU!" bentak Jimmy karena Cheril hanya diam saja.
"Oh, sekarang kamu sudah mulai berani ya?" murka Jimmy sambil mengangkat dagu Cheril karena Cheril sudah menundukkan wajahnya saat itu.
HAH? JAWAB AKU!" bentak Jimmy sekali lagi dengan jarak yang sangat dekat tepat di depan wajah Cheril, membuat wanita itu memejamkan matanya karena hujan lokal yang terjadi.
"Lihat saja dandananmu ini. Kamu mau tunjukkan pada siapa berdandan seperti ini?"
Diam sesaat lalu melanjutkan kembali.
"Oh ... Aku tau sekarang. Kamu pasti bertemu dengan lelaki miskin itu kan? Siapa namanya?" ujar Jimmy dengan suara nyaring sambil berusaha mengingat kembali nama lelaki itu.
Jimmy sudah memutar badannya ke arah yang berlawanan dengan Cheril, masih terus berusaha mengingat nama laki-laki yang sudah di ujung lidahnya itu.
"Van-Van, Elvano ... Iya itu namanya ... Kamu bertemu dengan Lelaki itu, iya kan?" curiga Jimmy.
Deg
Jantung Cheril berdegup semakin kencang tak beraturan ketika mendengar nama Elvano disebut oleh Jimmy sambil memperlihatkan senyum seringainya.
Jimmy pun sudah semakin murka melihat Cheril yang diam saja tak menjawabnya sepatah kata pun.
"Sudah berapa kali kamu melakukan itu di belakangku? HAH? Dasar wanita JAL**G.!" murka Jimmy
PRAK!!
Satu tamparan keras mendarat pada pipi kiri Cheril yang membuat Cheril jatuh tersungkur ke bawah lantai. Cheril pun mengangkat tangannya reflek memegang wajahnya yang terasa sangat panas, dan sedikit dar*h segar juga mengalir dari sudut bibirnya karena terkena gesekan giginya. Luka lebam yang belum juga hilang total kini sudah menjadi luka terbuka kembali.
Air mata Cheril pun sudah mulai berjatuhan.
Hik hik hik!
Belum puas dengan tamparan itu, Jimmy kembali meneriaki Cheril.
"Berdiri kamu! Berdiri!!" bentak Jimmy sambil memegang kerah baju Cheril menyuruh nya berdiri.
PRAK!!
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi sebelah kanan Cheril ketika ia sudah berdiri tegak, tamparan yang tak kalah keras dengan tamparan pertama itu juga berhasil membuat Cheril tersungkur kembali ke bawah lantai. Kali ini Cheril sudah hampir kehilangan kesadarannya.
"Inilah akibatnya jika kau berani melawan ku!" teriak Jimmy sekali lagi ke arah Cheril yang sudah tak berdaya.
Jimmy sama sekali tidak memiliki belas kasihan melihat Cheril yang sudah tersungkur tak berdaya. Seperti inilah perlakukannya terhadap Cheril setiap kali ia marah. Namun perbedaannya kali ini jauh lebih parah karena Cheril yang mencari masalah lebih dulu.
Setelah puas melampiaskan emosinya, Jimmy pun pergi meninggalkan Cheril begitu saja. Ia mengambil kunci mobilnya lalu berlalu pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan Cheril begitu saja.
BRAK!!!
Jimmy membanting pintu lalu menguncinya dari luar.
------------------
Sementara Jimmy, ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju ke arah apartemen Sari. Berharap kekasih gelapnya itu sudah kembali ke apartemen. Ia masih terlihat sangat kesal mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi. Ia masih belum puas karena Cheril belum juga mengakui perbuatannya.
"Aaargh!!! Dasar wanita JAL**G!!" maki Jimmy sembari memukul setir keras yang tepat mengenai tombol klakson yang kemudian menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
TIIIIINNN!!!
Bunyi klakson mobil Jimmy pun mengejutkan pemilik mobil di depannya yang juga sedang melaju dengan kecepatan tinggi yang berada sangat dekat dengan mobil Jimmy.
Pak sopir pemilik mobil melirik ke arah mobil Jimmy mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi, padahal ia tidak merasa melakukan kesalahan sama sekali. Pak sopir itu pun memaki dengan kesal.
"Dasar orang gila! Baru belajar nyetir apa?"
maki pak sopir dengan suara pelan yang masih bisa didengar oleh majikannya yang ada di belakang.
"Pemilik mobil itu memang agak kurang waras kok pak," Majikannya pun memberikan komentar.
Yup, mobil yang ada di depan mobil Jimmy adalah mobil milik Elvano. Elvano juga tidak kalah kagetnya dengan pak sopir ketika mendengar suara klakson dari mobil Jimmy.
Ia pun juga ikut melirik ke arah belakang dan ia masih bisa mengingat dengan jelas pemilik plat nomor yang terdapat pada mobil itu.
"Eh, ternyata dia. Dia pikir jalan ini milik Nenek Moyangnya apa?"
Elvano berpikir Jimmy sengaja menekan klakson karena ingin memotong mobil mereka.
"Sudah pak, kurangi kecepatan kita!" perintah Elvano.
"Ehm?"
Pak sopir terlihat sedikit kebingungan. Jika ia tiba-tiba memperlambat laju mobilnya sudah pasti mobil di belakangnya akan sangat kaget dan mungkin akan menabrak mereka.
"Tidak apa-apa, saya yang akan bertanggung jawab," bujuk Elvano ketika melihat keraguan pada pak sopir.
"I-iya Tuan Muda ... Baiklah!" jawab pak sopir yang akhirnya menyetujui ide yang diberikan oleh Elvano.
Sepertinya gendang perang sedang ditabuh.
Akhirnya pak sopir pun memperlambat laju kendaraan mereka. Melihat kendaraan di depan yang melambat sontak Jimmy pun merasa sangat kaget. Sesegera mungkin ia menginjak rem mobilnya dan untung saja ia masih berhasil menghentikan mobilnya.
"Brengs*k!! Mau cari mati apa?" Jimmy memaki kesal.
Kekesalannya pada Cheril masih belum reda, sekarang ditambah lagi dengan masalah baru.
Sesaat kemudian Jimmy pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mendekati mobil yang ada di depannya.
Melihat mobil Jimmy yang melaju kembali dengan kecepatan tinggi Elvano pun tersenyum sinis.
"WOI! Mau cari mati ya?" teriak Jimmy setelah mobilnya sudah berada tepat di samping mobil milik Elvano.
Elvano kemudian menurunkan kaca mobilnya, membuat Jimmy melemparkan pandangan ke arah nya yang sedang duduk dengan pandangan lurus ke depan.
"Eh, itu kan?" Jimmy seperti tidak percaya dengan penglihatannya.
Itukan lelaki miskin itu ....
Batin Jimmy tak percaya.
Ia sudah memperlambat laju mobilnya saat ini.
"Ah ... Tidak mungkin ... Aku pasti salah lihat. Pasti karena aku terlalu terbawa perasaan karena kejadian di rumah tadi. Iya, pasti karena itu." Jimmy berusaha meyakinkan dirinya.
Sementara karena dirinya yang memperlambat laju mobil, kini Mobil yang ditumpangi Elvano pun telah berlalu sangat jauh dari hadapannya.
Elvano juga sudah kembali menaikkan kaca mobil setelah mobil Jimmy sudah tak terlihat lagi.
Dan pak sopir juga sudah melajukan kembali mobil mereka dengan kecepatan yang cukup tinggi setelah mendapatkan instruksi dari Elvano untuk melaju normal kembali.