Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Hari pertama kerja 2


Setelah aktivitas pengenalan karyawan sekaligus pengelanalan isi kantor, Elvano melirik jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 7.30 saat itu. Kemudian ia pun masuk kembali ke ruang jahit dimana para Desainer sedang mengerjakan tugasnya.


Sebenar nya ia tidak begitu suka dengan tugasnya yang satu ini, karena ia sudah tau pasti para karyawan wanita disana pasti akan menggoda nya.


Benar saja, ketika melihat nya didepan pintu, sebagian dari mereka sudah saling berbisik, kira-kira yang mereka katakan,


"Heh.... Itu anak baru yang tadi, kepala gudang itu... Ganteng sekali."


Diantara mereka banyak yang menatap nya dengan tatapan terpesona, ada juga meletakkan kedua tangannya dikedua pipinya menatapnya tanpa berkedip.


Hmm


"Saya memohon kerjasamanya untuk semua nya, Silahkan kerjakan kembali pekerjaan anda semua dengan benar !" Ucap Elvano dengan tegas, dengan ekspresi wajah datar dan dingin.


Dalam hatinya ia sudah berteriak.


'Heh...kalian ! Jangan menatap ku terus ! Sana lanjutkan pekerjaan kalian ! Aku bisa mendapat masalah jika kalian terus menatapku tanpa meggerakkan tangan kalian.'


Melihat sikap dingin yang dilemparkan oleh Elvano justru menambah rasa penasaran bagi sebagian karyawan yang mulai berharap lebih dari nya, mereka merasa sifat dingin Elvano itu malah sangat menggemaskan.


Namun mereka juga mengerti dan taat terhadap perintah Elvano. Kali ini mereka kembali menundukkan kepalanya fokus pada mesin jahit yang ada di meja masing-masing.


Di kantor ini semua penjahit memang para Desainer muda, bisa disebut calon Desainer juga sih, karena sebagiannya masih belum bisa disebut sebagai Desainer juga karena mereka bahkan masih sedang menempuh pendidikan dibidang itu.


Ada beberapa diantaranya hanya bisa di katakan sebagai penjahit biasa yang tidak pernah menempuh pendidikan dibangku kuliah, namun bakatnya sangat baik. Ini juga yang menjadi pertimbangan Perusahaan mempekerjakan karyawan spesial ini.


Yang jelas di Perusahaan Indos Perkasa, semua karyawan dan karyawati dibidang jahit-menjahit mereka sebut sebagai Desainer.


Elvano berjalan mengelilingi mereka semua satu per satu, matanya kemudian tertuju pada satu mesin jahit yang kosong, disamping meja Desainer senior yang dibilang Jenika tadi, penjahit yang satu ini adalah yang paling handal diantara semuanya. Dan ia juga terlihat lebih dewasa dari yang lainnya. Ia sama sekali tidak terusik dengan ketampanan laki-laki yang ada dihadapannya ini.


Elvano mencoba mengingat nama senior itu. Iya, 'Cindi' Elvano bisa mengingat nya dengan baik karna ia merasa sedikit lebih nyaman dengan orang ini yang bisa memperlakukan dirinya sebagaimana adanya tidak kecentilan seperti yang lain.


"Nona Cindi !" Elvano memanggil


"Iya Pak, Ada apa?"


Cindi menjawab dengan tenang.


"Maaf mengganggu pekerjaan anda, Apakah meja disamping mu ini memang kosong atau ada karyawan yang tidak masuk hari ini?" Elvano bertanya karena sedikit penasaran


Kebetulan ruangan Desainer yang digunakan karyawan siff satu dengan siff dua memang berbed. Disini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Jenika tadi, setiap Desainer akan miliki satu mejanya sendiri dengan peralatan lengkap miliknya sendiri.


Dan kata Jenika lagi, sebelumnya belum pernah ada kepala gudang di siff malam. Kepala gudang hanya ada satu saja, dia hanya bertugas disiang hari.


Lagipula ia juga tidak pernah diminta mengawasi para Desainer, tanpa diawasi pun mereka sudah pasti akan melakukan yang terbaik karena mereka dibayar berdasarkan hasil karya mereka masing-masing. Jenika merasa sedikit heran mendengar Elvano mendapat tugas mengawasi para Desainer.


"Eh, maksudnya meja ini Pak?" Tanya Cindi sambil memegang meja disebelahnya.


"I-iya, memangnya masih ada yang kosong selain yang ini?


Elvano memasang wajahnya yang sedikit bercanda, sedikit menaikan alis matanya.


Ternyata dia bisa bercanda juga. Ia bahkan tadinya sudah sangat mirip Manager Billy yang sangat dingin itu.


"Oh, ini mejanya Cheril !" Cindi menjawab sambil tersenyum.


Deg


Elvano seketika menjadi tegang.


'Jadi Cheril juga seorang calon Desainer?'


Berkata dalam hati


Melihat reaksi Elvano sepertinya Cindi tau Elvano mengenal anak dari Bosnya itu.


"Maaf, Bapak mengenal Nona Cheril?" Cindi kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


"Eh.. Ah... Iya saya kenal dia !" Elvano menjawab sedikit berantakan karena gugup.


"Yasudah, Silahkan kerjakan kembali pekerjaan anda Nona Cind !" Elvano kembali pada sikap dinginnya


"Baik pak !" Cindi kembali fokus pada mesin jahitnya.


Cindi tentu saja menyimpan rasa penasarannya, dalam hati ia bertanya-tanya,,


'Ada hubungan apa Kepala Gudang itu dengan Nona Cheril?'


'Apakah Nona Cheril yang mempekerjakannya dibidang ini?'


'Jelas-jelas memang belum pernah ada kan kepala gudang di siff malam, apalagi pengawas Desainer.'


*Flash back Manager Billy 2 hari yang lalu*


"Nona Cheril tiba-tiba mempekerjakan orang seenaknya saja,!memangnya ada posisi apa lagi yang bisa dikerjakan oleh karyawan baru?"


"Nona juga meminta orang ini diberi posisi yang sedikit lebih tinggi dibanding karyawan lain nya. Padahal di sini semua karyawan begitu setia. Apalagi dibagian posisi tinggi, mereka semua bekerja dengan sangat baik tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluhkan pekerjaaannya dan mengundurkan diri."


Manager Billy benar-benar berpikir keras harus memberikan posisi seperti apa pada Elvano saat itu.


"Ah.. Iya..!"


Billy akhirnya mendapat ide yang bagus.


"Mungkin ia bisa mengisi posisi ini, saya akan menempatkan nya sebagai kepala gudang di siff malam"


Billy sudah bulat dengan keputusannya.


Iya, awalnya Elvano memang hanya akan duduk manis didalam ruangan kosong disamping Sekretaris Jenika. Sebagai Kepala Gudang ia hanya harus menunggu laporan dari Sekretaris Jenika. Dan memasukkan semua data yang diberikan Jenika kedalam pembukuan yang sudah diatur pada program komputer yang ada didalam ruangannya.


Namun ketika bertemu dengan Elvano, rencana awal Billy pun berubah.


Ia berpikir Nona Cheril sepertinya menyukai laki-laki ini, dan pikirnya sepertinya mereka cocok. Satunya cantik seperti bidadari, satunya tampan seperti seorang pangeran.


Billy pun merestui kedua insan itu. Ia pun mencari cara, bagaimana supaya Elvano bisa memiliki waktu yang banyak bersama-sama dengan Cheril, tapi bukan di ruangan tertutup seperti ruangan yang Elvano tempati saat ini. Billy berpikir nama baik Nonanya bisa menjadi taruhannya jika ia berduaan dengan laki-laki di sebuah ruangan tertutup.


Ide inilah yang kemudian muncul,


'****pengawas** Desainer**'


Jadi nanti Elvano dan Nona Cheril tetap akan sering bertemu, jika di ruang terbuka bersama dengan banyak karyawan lainnya tidak akan ada yang berpikiran yang bukan-bukan kan.


Begitulah akhirnya Elvano memiliki jabatan kepala gudang yang merangkap sebagai pengawas Desainer.


Manager Billy ada-ada saja ya.


hehehe


^Hallo kakak, ini aku selaku Author.


Aku ingin mengucapkan Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah setia mengikuti karya ku ini.


Semoga kalian merasa terhibur ya dengan cerita ini.


Oh iya, Jangan lupa dukung aku ya kakak, dengan cara like,coment dan vote sebanyak-banyaknya.😘


Jangan lupa juga untuk menekan tanda ❤️ (favorit) supaya Kaka-Kaka semua tetap bisa mendapat notif ketika karya saya ini sedang up.


Tanpa dukungan anda, karya ini tidak akan memiliki ranking Kakak, jadi aku tuh sangat membutuhkan vote dari anda supaya karya ini setidaknya bisa memiliki ranking supaya saya bisa semakin semangat untuk menulis.🤗


Sekali lagi Terimakasih Kaka. Semoga kalian tidak pernah bosan ya dengan ceritaku ini.


Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk memuaskan hati kalian semua.


Love you.. muach muach..😘😘


Nantikan up selanjutnya ya.. 👋